DENDAM 26

1924 Kata
Selepas kepergian Yayu, Enggar menyandarkan punggungya pada kepala ranjang. Dia meraih piring kue bolu di atas nakas. Matanya tertuju pada kue itu namun pikirannya melihat wajah Yayu dan bibirnya yang lembut dan terasa kenyal itu, pikiran Enggar benar-benar tidak fokus. Seolah seseorang yang sedang jatuh cinta dan untuk pertama kalinya dia bersentuhan dengan nya. Dia mengaduk kuenya lalu memakannya satu suapan. Kue itu terasa lembut dan manis namun, pikirannya masih membawanya pada bibir Yayu yang sedikit terasa gurih karena sup jagung yang tadi dia makan bercampur dengan rasa manis yang mengirimkan sinyal bertegangan tinggi ke sekujur tubuhnya. Dia benci dengan sensasi yang dia terima karena dia tau dia akan menjadi ketagihan karenanya. Dan dia semakin tidak terima, karena w*************a itu membuatnya merasakan sensasi yang meledak-ledak di dalam tubuhnya. Sensasi berbeda yang dia dapat dari Calista, model cantik dan mantan pacarnya yang licik itu. "Sialan kau benar-benar menggodaku secara terang-terangan," ucap Enggar kepada dirinya sendiri. Dia menaruh bolu pisang yang tidak dia habiskan itu lalu mengambil botol air minum di sampingnya, menegak semua isinya. Dia merasa emosi karena tidak bisa mandi sementara tubuhnya terasa panas dan membutuhkan guyuran air. Dan air minum itu sama sekali tidak membantunya. ***** Yayu melepas dan melipat mukena yang dia kenakan sehabis sholat subuh. Kemudian dia mengganti pakaiannya untuk segera beraktifitas. Dia memandang wajahnya pada cermin kecil yang dia punya. Tatapannya fokus pada bibirnya, dia memegang bibir itu sekali lagi lalu tersenyum simpul, sebelum suara hatinya membangunkan lamunan manisnya. Yayu ... Yayu, kamu pasti akan mendapat amukan dari bayi gedhe mu itu, karena kau telah berani mencium bibirnya, ia bibirnya tentu kamu ingat itu kan dan jangan lupa kamu tidak boleh meneruskan rasa cintamu itu padanya, ingat Yayu dia itu orang yang membunuh Ibumu dan sekarang kau lihatkan dia juga memperlakukanmu dengan buruk. Kamu ingatkan tujuanmu? Kamu harus fokus dan melupakan rasa yang bersemi di hatimu itu, dia tidak mencintai mu dan dia juga hanya menikahimu karena perjanjian. Aku tidak akan memaafkanmu bila kamu mengulangi lagi perbuatanmu itu, dan untuk kali ini aku memaafkanmu karena kamu menginginkan hadiah itu sejak lama. Namun, jangan coba-coba untuk bermimpi dan mengininkan hal lebih, aku peringatkan sekali lagi jangan kau mencoba hal yang akan membuatmu menyesal dan sakit. Yayu membuang pandangannya pada cermin kemudian berdiri dari duduknya, menggeleng pelan berusaha mencerahkan pikirannya yang telah terkontaminasi itu. Dia berjalan menuju dapur ingin mempersiapkan sarapan dan membersihkan ruangan sebelum suami sekaligus bayi gedhe nya itu bangun. "Kana ... Kanayu ... " suara Enggar memenuhi ruangan. Yayu menghentikan aktifitasnya yang sedang mengepel lantai ruang tamu. Dia bergegas ke ruangan Enggar. Dia tersenyum bahagia mendengar nama Kana, mengingatkannya pada almarhum ayahnya. Jangan lupa dia bukan ayah mu Yayu, hatinya mengingatkan. "Iya Tuan, apa Tuan butuh sesuatu?" Tanya Yayu dengan cepat. Dia takut apabila yang dia pikirkan itu benar-benar terjadi dan Enggar mengamuk padanya. Dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Dia memandang lantai dan memilin daster motif bunga-bunga yang dia pakai. Merasa tidak mendapat jawaban Yayu mendongakkan kepalanya, dia melihat Enggar mengerutkan dahinya. "Maaf, apa Tuan butuh sesuatu?" Kembali Yayu memberanikan diri bertanya pada Enggar. Kini wajah enggar semakin memberengut sebal mendengar kata Tuan yang di berikan padanya, dia tidak suka dan merasa marah. "Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, aku bukan majikanmu !" Protesnya. Yayu yang kini merasa serba salah menjadi bingung namun, dia kembali bertanya. "Lalu aku harus memanggilmu dengan nama apa? " "Terserah kamu!" Dasar bayi gedhe, di panggil Tuan gak mau trus kalo di tanya malah marah-marah dan bilang terserah, huft menyebalkan. Gumam Yayu dalam hati. "Bagaimana kalo aku memanggilmu dengan Kak?" "No." "Mmm ... Enggar, Akang, Brother atau Mas?" "No. No. No. No ... semuanya enggak, terutama Mas jangan berharap aku mau kau panggil Mas, ingat perjanjian kita! Kau dan aku hanya sebatas partner kerja selama 6 bulan kedepan tidak lebih, ingat itu!" Komentar Enggar dengan nada sarkasnya. "Apa kau lupa kemarin malam bahkan kau sudah mengambil hadiahmu lebih dulu," ucapnya sinis. Enggar memarahi dirinya sendiri dalam hati, dia tidak bermaksut untuk berkata sinis namun, mulutnya tidak dapat bersahabat entah kenapa dia sedari tadi memandangi bibir manis yang kemarin malam mendarat pada bibirnya itu dan ingin sekali merasaknnya lagi namun, egonya juga sangat besar hingga kata-kata makian itu terucap. Yayu yang ketakutan itu kembali menunduk, sesaat kemudian dia berkata." ETO, bagaimana kalau aku memanggilmu dengan nama ETO?" "... " bagaimana dia bisa tau nama itu, sudah lama aku tak mendengar orang lain menyebut nama ku itu. " mmm ... itu boleh," lanjutnya kemudian. "Bantu aku ke kamar mandi, lalu siapkan baju ganti ku, kita turun ke taman untuk jalan pagi dan menghirup udara segar di pagi hari!" Titahnya kemudian. Yayu mengangguk mengerti, membantu Enggar pindah ke kursi rodanya lalu mendorongnya ke kamar mandi. Manyiapkan sikat dan pasta giginya serta mengisi gelas untuk berkumur, mengambil ember kecil dan memenuhinya dengan air untuk membasuh mukanya. Kemudian dia kembali ke ruangan Enggar untuk menyiapkan baju gantinya. "Kana ... mana handukku?" Teriak Enggar, Yayu lari terbirit-b***t menuju kamar mandi dan mengambil handuk kecil untuk Enggar. "Maaf aku lupa, ini handuknya," ucap Yayu lirih dan mendapat plengosan dari Enggar. "Lain kali di check dulu lah, masak aku harus teriak-teriak," ucapnya protes." Kamu denger gak sih yang aku bilang, aku mau semuanya perfect dan aku gak mau kalau kau sampai membuang waktu, " terangnya mengingatkan. "Iya... mmm ... Bajumu sudah aku siapkan di ranjang mu, aku akan membereskan pel-pelanku dan kamar mandi ini lalu kita bisa turun," ucap Yayu menerangkan. Dia mendorong kursi roda Enggar dan menempatkannya di tepi ranjang kemudian menguncinya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. " mmm," jawab Enggar. ***** Rumah sakit Fajar Medikal ini memiliki taman yang sangat luas, bahkan di lenglapi dengan taman bermain untuk anak-anak dan arena olahraga ringan untuk para lansia. Arena jogging dan bersepeda juga tersedia di taman paling belakang. Jam 5.30 Yayu dan Enggar tiba di taman itu, udara begitu segar, semilir angin pagi menerpa pepohonan menyambut kedatangan mereka dengan lambaian daun-daunnya yang rindang dan jatuh beterbangan. Beberapa pasien lansia tengah bercengkrama dan duduk di kursi taman sambil sesekali menggerakkan tubuh mereka berolahraga. "Selamat pagi?" Sapa seorang lansia pada Yayu dan Enggar ketika berpapasan dengan mereka. "Selamat pagi ..." jawab Yayu dengan nada sumringah. Beberapa kali sapaan itu mereka terima. "Cepetan! Lelet banget sih!" Protes Enggar. Namun, Yayu tak menghiraukannya. " kita kemana?" Tanya Yayu kemudian. "Ke sana saja," perintah Enggar dengan menunjuk taman bermain anak-anak yang masih sepi. Yayu mendorong kursi roda itu menuju tempat yang Enggar mau. Enggar hanya diam diatas kursi rodanya sementara Yayu melemaskan otot-ototnya yang kaku. Mata Enggar menyipit melihat pesan masuk yang dia terima. Tidak biasa-biasanya Calista sepegi ini sudah menghubunginya, dia pasti membutuhkan sesuatu pikir Enggar. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya. Calista S4y4nggg... Good morning? Aku Kuuu4ngen ber4t s4m4 k4mu. K4mU l4gi dim4n4? Enggar Datanglah ke taman rumah sakit di arena taman bermain anak-anak secepatnya, dan belikan sarapan kesukaanku! Calista OK. Love you S4y4ngg. Enggar tersenyum puas, dia mengedarkan pandangannya dan melihat taman bermain yang mulai ramai dengan aktivitas olahraga pagi para balita, anak-anak dan lansia. "Hai Gar, tumben lo pagi-pagi udah berjemur disini?" Sapa sebuah suara dari arah belakang Enggar. Enggar menoleh, mendapati seorang laki-laki berkaca mata dengan kaos singlet putih bergambar huruf A besar di bagian dadanya dan celana pendeknya, peluh menetes membasahi tubuhnya. "Wah ... minggir sono lo bau kecut tau. Emang kenapa? aneh, pagi-pagi berjemur?" Jawabnya dengan nada bercanda. "Ye ... ya gak lah, itu malah menyehatkan, lagipula aku kan jarang-jarang juga lihat kamu berjemur disini, sama bini lo kan, mana bini lo?" Tanya Adi. Enggar mulai menampakkan raut muka tidak ramah pada Adi. "Tenang aja kenapa, gak bakal gue embat bini lo," ucap Adi dengan enteng, karena dia tau sahabatnya itu adalah pecemburu berat, meskipun Adi tau mereka menikah bukan karena cinta tapi Adi juga tau batasan. Lagipula sebentar lagi Adi juga akan di jodohkan oleh orang tuanya dengan wanita yang tidak dia kenal dan meski menolak Adi juga harus bernasib sama dengan Enggar yaitu menikah dengan orang yang tidak dia cinta. Adi menghela napas nya dengan berat dan dalam. "Lo jadi malam ini dinner dengan wanita pilihan Mama, Papa lo?" Tanya Enggar mengurai pikiran Adi yang sedang kalut. Adi mengangguk dengan pelan. "Selamat pagi dokter Adi?" Sapa Yayu dari kejahuan,dia mendekat dan menoleh ke pada Enggar. "Pagi Yayu." "Ada apa?" " ... " Yayu memilih kata. " mmm ... ada seseorang mencarimu," ujarnya kemudian dengan menoleh ke arah belakang dan melihat Calista dengan baju super sexy nya berlenggak-lenggok di atas high hill nya. "Lo ada tamu ya Gar, kalo gitu gue pinjem bini lo bentar ya? Cuma bentar aja aku akan ngobrol di depan sana," pinta Adi dengan ekspresi memelasnya. Sial rencanaku untuk membuat nya cemburu gagal gara-gara Adi. Batin Enggar berbicara. Ah ... apa pedulimu lagi pula dia juga hanya istri kontrakmu. Jawab hatinya yang lain. Enggar mengangguk menyetujui permintaan Adi. "Yayu, kemarilah sebentar Aku ingin berbicara penting padamu." Sambil menunjuk kursi kosong yang letaknya di seberang Enggar duduk. Yayu mengikuti Adi dan mendengarkan semua ceritanya sementara Enggar merasa sebal karena Yayu tertawa dan berbicara santai dengan Adi. Calista yang duduk di sampingnya yang sedang menyiapkan makanan paginya tidak dia pedulikan. "Sayang kamu mau makan sekarang kan? Aku suapi ya, bubur ayamnya masih panas, biar aku tiup sekalian ya?" Di liriknya wajah Enggar yang tidak berkedip memandang obrolan Adi dan Yayu. "Sayangg ... kamu kok gak jawab sih pertanyaan aku?" Ucap Calista kemudian, di raihnya wajah Enggar lalu di ciumnya bibir itu. Enggar murka dan marah, matanya memerah. "Calista apa-apaan sih kamu!" Sentaknya. Enggar tak tau kenapa tiba-tiba dia harus merasa emosi, padahal dulu dia selalu suka bila Calista menciumnya duluan karena hal itu sangat jarang terjadi kecuali Calista mengingin sesuatu, tapi kini dia merasa marah dan kesal. Yayu dan Adi sempat menoleh mendengar umpatan Enggar. Kemudian berlari ke arah Enggar berada. "Kenapa sih Gar, ada yang sakit?" Tanya Adi khawatir. Sementara Yayu memandangi Enggar dengan datar. Enggar semakin tidak suka karena Yayu tidak mengkhawatirkan dirinya. "Gak ada apa-apa cuma tadi kaget aja ada ulat di sana," ucap Enggar berbohong, dengan menunjuk lantai di belakang Yayu. Yayu yang mendengar kata ulat dan melihat arah telunjuk Enggar ke bawah kakinya sontak wajahnya berubah pucat dan kakinya lemas. Enggar tidak memperhatikan perubahan raut wajah Yayu dan terus berbicara." Itu tadi ulatnya kuning berbulu berjalan ke sana, udah gitu ulatnya besar dan beracun, " kata Enggar menambahkan. Sementara Calista yang sedang mengenakan dress one piece berwarna kuning cerah itu mengerucutkan bibirnya merasa tersindir. Yayu merasa tidak tahan dengan ucapan itu, spontan berlari ke arah Adi yang berdiri di sampingnya dan melompat ke arah punggungnya, memeluk leher Adi kuat hingga Adi terbatuk-batuk. "Haaaaaa ... haaaahaaaa ... " jerit Yayu dengan suara memekik. Sementara Adi yang tidak siap hampir saja tersungkur jatuh ke depan, untung saja Adi sigap dan segera membenarkan posisinya. "Yayu bahaya tau? Kamu kenapa sih?" Tanya Adi khawatir. "Ulat Di, ada ulat kan? Aku takut," ucapnya lirih namun dapat terdengar oleh mereka. Sementara kakinya masih dia kibas-kibaskan. Enggar yang tadinya ingin membuat Yayu cemburu, atau melihat reaksinya ketika dirinya bermesraan dengan Calista kini Enggar sendiri yang harus merasa kesal karena melihat Yayu berhambur ke pundak Adi. Enggar mengeraskan rahangnya dan membanting bubur ayam di depannya. Semua orang menoleh kepadnya penuh yanda tanya, hanya Adi yang taukenapa Enggar bisa seperti itu, dan ya sepertinya dia akan berurusan dengannya nanti. "Kana, cepat kita balik!" Perintahnya Yayu yang masih panik dan takut belum berani turun. "Kana cepet!!" Dengan langkah yang lemas Yayi turun dari punggung Adi lalu mendorong Enggar pergi sementar Calista cemberut dwngan sikap Enggar. Dan Adi tersenyum melihat perubahan sahabatnya itu. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN