"Kana, cepat kita balik!" Perintahnya.
Yayu yang masih panik dan takut belum berani turun. "Kana cepat!!" Dengan langkah yang lemas Yayu turun dari punggung Adi lalu mendorong Enggar pergi, sementara Calista cemberut dengan sikap Enggar. Dan Adi tersenyum melihat perubahan sahabatnya itu.
Sesampainya di dalam lift menuju lantai 20 suasana terasa begitu tegang, tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Mereka seperti sedang berada dalam satu ruangan dengan dua dimensi yang berbeda.
"Ulat ..." teriak Enggar dengan nada suara bercanda, dan menunjuk salah satu pojok lift di belakang Yayu. Sementara itu Yayu yang masih mengalami ketakutan sontak kaget dan wajahnya kembali pucat pasi, merasa tidak aman dan posisinya tidak menguntungkan tiba-tiba tubuh Yayu lemas dan luruh ke tanah.
Enggar yang masih menikmati keusilannya itu tersenyum dengan puas karena dia rasa telah berhasil mengerjai Yayu. Merasa aneh karena Yayu tak bersuara dan berteriak histeris atau bakal melompat ke pangkuannya Enggar memutar kursi rodanya, mendapati Yayu yang tengah tak sadarkan diri.
Kini Enggar merasa panik dan ketakutan karena dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di tekannya tombol speaker di lift untuk meminta pertolongan. Kemudian dia tekan kembali tombol lift G. Setelah pintu lift terbuka masuklah seorang perawat kemudian mendorong kursi roda Enggar untuk menjauh dan dua orang perawat lainnya memapah tubuh Yayu dan membaringkannya ke atas brankar.
Mereka membawa Yayu ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan dan perawatan lebih lanjut.
Enggar merutuki dirinya yang bersikap ke kanak-kanakan, puas lo sekarang melihat nya tergolek lemas di ruang UGD itu. Suara hatinya bertanya.
Seorang dokter jaga keluar dari ruangan UGD berjalan mendekati Enggar. "Selamat pagi pak?" sapanya, kemudian meneruskan bicaranya setelah mendengar jawaban Enggar. "Bapak tidak perlu khawatir, Kanayu baik-baik saja. Dia hanya mengalami sedikit shock dan kurang istirahat sehingga dia pingsan, dia sudah siuman dan sekarang sedang tertidur," jelasnya kemudian tersenyum ringan melihat wajah Enggar yang mulai rileks.
"Terima kasih dok, jadi dia tidak perlu rawat inap," tanyanya ingin tau.
"Oh, itu tidak perlu, jika dia bangun dia bisa pulang dan beraktifitas seperti biasa, dia hanya sedikit kecapekan dan kaget. Kalau begitu saya permisi dulu." Pak dokter itu pergi meninggalkan Enggar disana.
Enggar memacu kursi rodanya dan meminta bantuan suster untuk membawanya ke ranjang Yayu. Dia mengunci kursi rodanya dan memandang wajah Yayu yang tertidur pulas. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya namun dengan segera di tepisnya.
Ego dan kebenciannya pada makluk bernama wanita masih menguasainya, dia masih belum bisa menerima jika hatinya sangat tertarik pada Yayu. Meskipun, tubuhnya sudah lebih dulu bereaksi dan tidak mau menuruti perintah otaknya itu, dan sepertinya tubuhnya memiliki pemikirannya sendiri.
Mata Enggar yang senang berlama-lama menatap wajah Yayu dan mengaguminya terutama senyuman dan mata bulat nya. Kulit nya yang selalu menyalurkan gelenyar-gelenyar aneh ketika Yayu menyentuhnya meskipun dengan pakaian lengkapnya, hidungnya yang selalu terhipnotis dengan harum bunga melati yang tercium dari tubuh Yayu.
Bahkan bibirnya kini merasa ketagihan, dengan sensasi yang diperoleh dari kenekatan Yayu yang menciumnya kemarin.
Sudah lebih dari satu jam Enggar menemani Yayu disana dan diapun memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
*****
Dua jam kemudian Yayu terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat ringan dan tersadar jika dia tidak ada di kamarmya sendiri. Dia teringat jika dirinya tadi pingsan di dalam lift, tapi dia tidak menemukan Enggar berada di dekat ranjangnya. Dengan cepat dia bangun dari tidurnya lalu berlari menuju lift khusus dan menekan tombol 20.
Jantung Yayu berdetak lebih kencang, dia takut jika Enggar akan marah padanya. Sebelum dia membuka pintu ruangan di depannya, secara tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya, Enggar muncul dari balik pintu dan melihat Yayu berdiri mematung di depannya, wajah Yayu sudah kembali hidup tidak pucat seperti dua jam yang lalu.
Yayu yang melihat Enggar mengayuh kursi rodanya sempat tertegun dan berdiam diri ditempatnya, tidak tau harus melakukan apa.
"Ngapain malah bengong? Buruan bantuin gue?" Perintah Enggar, Yayu terkesiap dari ketakutannya. Melangkah ke belakang kursi roda Enggar dan mendorongnya keluar.
Selesai mengikuti sesi Psikologi Yayu mendorong Enggar keluar untuk kembali ke ruangan mereka. Langkahnya terhenti ketika Enggar bersuara." Aku ingin makan diluar, kita pergi ke restoran saja!" ucapnya, " Kamu bisa menyetir mobil kan? Ini kuncinya, kita ke basement sekarang!" Perintah Enggar kemudian.
"Mmm ... maaf aku gak bisa menyetir mobil," dengan nada gemetar Yayu menjawab perintah Enggar. Tangannya berkeringat takut jika dia akan di bentak, wajahnya dia tundukkan dalam. Enggar menoleh memandang wajah Yayu, melihat tepat pada ekspresi takutnya, dia mendengus lirih kemudian berbicara, "Baiklah, hari ini kita pesan antar saja kamu gak usah masak." Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan memesan makan siang untuk mereka berdua.
"Antar aku ke rooftop! Kita makan disana saja. Setelah itu kamu turun kembali ke lobby mengambil pesanan tadi, ini uangnya." Sembari menyodorkan lima lembar uang seratusan ribu.
Ketika di depan lift khusus mereka disapa oleh Adi dan Saino. "Hai Gar, sudah makan?" tanya Saino. Yayu menganggukkan kepalanya menyapa mereka.
"Belum, baru saja mau keluar gak jadi, ada gitu ya hari gini gak bisa nyetir mobil," sindir Enggar memandang Yayu yang menundukkan kepalanya.
Songong banget sih, dasar bayi gedhe. Batin Yayu mengumpat. Saino dan Adi saling pandang, seingat mereka Calista juga tidak bisa menyetir mobil tapi Enggar malah senang-senang saja. Keduanya tergelak dan membuat Enggar kesal.
"Apa sih kalian malah ketawa-ketawa aja, gue barusan pesan antar, kalian mau gabung sekalian? Ke rooftop aja," ajak Enggar.
Keduanya mengangguk sepakat. Yayu kemudian bersuara. "Aku nunggu disini aja ya kalo gitu? Kalian ke atas dulu," tanya Yayu.
"Hmm ..." ucap saino.
"Sini biar gue aja yang dorong pasien mu ini," ucap Saino menawarkan diri. Mengambil alih kursi roda Enggar dan memegangnya.
"Jangan sampai keliru, aku tadi pesan Pizza," suara Enggar memperingatkan Yayu. Yayu mengangguk mengerti.
*****
Setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya Yayu menerima pesanan Pizza dan membayar biayanya, dengan cepat dia kembali ke rooftop. Dia sempat terpana melihat keakraban ke-3 laki-laki itu. Mereka saling tertawa dan bercanda sembari sesekali bertingkah seperti kanak-kanak.
Bayi gedhe nya yang biasanya terlihat galak itu, kini seolah anak kecil yang manja dan senyumannya membuat jantung Yayu bergetar, selama ini dia belum pernah melihat nya tersenyum sebebas itu. Satu hal lagi yang baru Yayu ketahui yaitu Enggar ternyata bisa melukis.
"Hallo ... makanannya sudah datang," sapa Yayu dengan kikuk, takut mengganggu keasikan mereka.
Seolah anak kecil yang sedang kelaparan, ke-3 nya spontan menghentikan aktifitas mereka dan menoleh melihat Yayu, Adi berlari ke arah Yayu dan membantu nya membawakan makanan itu.
"Bawakan aku ember untuk cuci tangan!" Suruh Enggar kemudian. Dengan cepat Yayu mengambil ember kosong dan mengisinya dengan air.
Ketika Yayu hendak pergi meninggalkan mereka ber-3 Enggar menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanya Enggar, menghentikan langkah Yayu. Saino dan Adi menoleh ke arah Yayu.
"Iya mau kemana sih, makan bareng disini aja!" suara Saino ikut menimpali. Sedang Adi mengangguk setuju.
Yayu pun tidak bisa menolak dan menuruti permintaan mereka. "Yu ... gimana permintaanku hari ini? Udah kamu pertimbangkan? Please!" pertanyaan Adi membuat Yayu menghentikan kunyahannya, mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Adi kemudian memandang ke arah Enggar dengan rasa takut.
Enggar melirik memandang Adi dan melirik Yayu dengan lirikan tajam. "Maaf Di, aku gak bisa bantu," jawab Yayu lirih. Tubuh Yayu seketika membeku mengetahui Enggar yang kembali mengerutkan dahinya.
"Permintaan apa sih Di, kayaknya asik banget ?" tanya Enggar ingin tau, suaranya yang bergetar menahan amarah berusaha dia sembunyikan namun tetap terbaca oleh Adi, dan Adi merasakan sebuah ancaman pada pertanyaan Enggar padanya barusan. Adi tersenyum simpul memandang Saino yang membalas senyumnya dan juga merasakan hal yang sama pada perubahan sikap Enggar, bahkan ketika dulu Enggar tidak semarah ini.
"Aku meminta bantuan kepada bini lo untuk menemaniku makan malam hari ini, kamu tau kan maksud ku, aku akan menolak wanita yang orang tuaku kirim itu dan meminta Yayu berpura-pura sebagai cewekku," terang Adi, "tapi bini lo itu nolak." Adi menyugar rambutnya kemudian menekan kacamatanya. Dia merasa frustasi.
Enggar tersenyum simpul. "Minta aja temen nya yang satu departemen sama lo itu kan bisa, bukankah kalian sudah kenal?" Usul Enggar.
"Bini lo bilang dia juga ada date malam ini, trus aku males aja kalo mau meminta tolong sama dia."
"Emang kanapa sih?" tanya Saino penasaran.
"Dia itu dari dulu sudah ngejar-ngejar gue, mmm ... gak banget lah gue."
"Jadi kamu tau kalo Chaca itu suka sama kamu selama ini?" Yayu kaget mendengarnya.
Adi mengangguk. "Siapa sih yang gak tau, semua orang juga bisa lihat kali, lagian banyak juga kan junior ku yang suka sama aku, aku rasa mereka cuma kagum dan sebatas seneng aja jadi aku rasa gak mungkin serius," terang Adi.
Yayu langsung saja marah dan merasa kesal dengan dokter ganteng di depannya itu. "Kamu bener-bener jahat Di, Chaca itu bener-bener tulus menyukaimu dia itu cinta sama kamu, aku kira kamu itu baik dan akan bisa melihat ketulusan seseorang, tapi ternyata aku salah menilaimu, aku salah." Napas Yayu memburu dia benar-benar tidak menyangka jika Adi tidak bisa melihat ketulusan dari sikap Chaca.
"Ingat Di, cinta yang tulus itu tidak akan selalu kamu dapat, jika kamu melukai ketulusan itu maka kamu akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan itu kembali, jangan sampai kamu menyesal." bentak Yayu dengan suaranya yang parau, dia merasa kasian dengan Chaca yang selama ini hanya dianggap sepele dan dia tidak terima. Dan semoga nasehat ini tidak terjadi padanya nanti
Saino dan Enggar saling pandang sementara Yayu berdiri dari duduknya lalu berlalu meninggalkan mereka bertiga. Sementara Adi seperti tersambar geledek ucapan Yayu seolah menyadarkannya jika yang selama ini tidak pernah serius adalah dirinya, dia tidak pernah melihat ketulusan dari para pengagumnya, dan yang sebenarnya terjadi padanya adalah dia hanya tidak ingin terluka jika harus ditinggalkan oleh orang yang dia cinta.
Yayu menangis sesenggukan di atas ranjang di kamarnya. Dia merasakan sakit padahal Chaca yang tersakiti. Dia hanya berdo'a dalam hati semoga Chaca sadar bahwa Adi tidak sebaik yang dia lihat, dan Chaca bisa menemukan seseorang yang bisa mencintainya dan yang dia cintai, karena tidak ada cinta yang lebih indah dari pada cerita cinta sepasang manusia yang saling mencintai dan bisa hidup bahagia bersama.
Cukup lama menangis dan lelah kehabisan tenaga Yayu tertidur dalam kamar dia bahkan melupakan Enggar yang bisa marah padanya sewaktu-waktu.
***
Bersambung...