DENDAM 28

2233 Kata
Setelah kejadian di rooftop siang itu Yayu menjadi sangat ketus terhadap Adi dan Saino. Dia masih bersikap baik dan melakukan apapun kewajibannya menjaga dan merawat Enggar, selain karena hutangnya juga karena Enggar adalah suami yang harus dia hormati, meskipun yang Yayu lihat adalah Enggar sendiri tidak menghargai dan memperdulikan Yayu. Baik Yayu ataupun Enggar tak pernah menyinggung kejadian di rooftop itu lagi. Setelah Yayu menandatangani kontrak yang di berikan oleh Enggar, maka dia hanya harus mematuhi setiap poin yang ada disana. Perubahan yang kentara pun terjadi pada diri Enggar. Yang kini lebih menjadi pendiam. Entah itu hanya perasaan Yayu atau memang benar adanya, tapi Enggar yang mulanya sangat pemarah dan sering membuang-buang barang atau makanan bahkan, Yayu hingga harus menerima jahitan di keningnya gara-gara dia terkena lemparan gelas yang dilakulan Enggar. Tidak hanya itu selama seminggu sebelum operasi Enggar, setiap hari Calista selalu berkunjung dan Yayu akan menerima imbas dari kemarahan Enggar, karena kelakuan Calista. Dua minggu setelah operasi Operasi ke dua Enggar berjalan lancar dan sukses. Gips yang membalut kakinya baru bisa di lepas dua minggu lagi. Selama dua minggu ini Yayu merasa tenang karena Calista tidak datang dan dia bisa fokus untuk merawat suaminya itu. Namun, sikap Enggar pada Yayu terbilang sangat dingin pasca operasi itu. Yayu tidak tau kenapa, mungkin karena Calista yang tidak datang menjenguknya atau ada masalah lain Yayu tidak tau dan tidak berani bertanya. Yayu merasa nyaman dengan perubahan Enggar yang menjadi lebih penurut dan mengikuti semua hal yang dia perintah namun, dia juga merindukan Enggar yang ceria dan banyak bicara sekedar mengomentari atau memarahinya. Kini dia tidak tau jika yang dia kerjakan itu benar atau tidak karena Enggar sama sekali tidak memberi komentar padanya. Dulu, Yayu selalu merasa Enggar yang senang jahil, banyak permintaan, suka berteriak, dan mengomel adalah sesuatu yang sangat dia benci. Namun, kini Enggar yang lebih pendiam dan penurut malah membuat Yayu semakin sulit. Kini, Yayu tak lagi merasa takut karena bentakan dan teriakan Enggar. Namun, Yayu menjadi lebih cerewet dan talk aktif, dia menceritakan apa yang dia lihat dan dia pelajari di sekolah mengemudinya. Dia juga bercerita banyak tentang teman barunya. Dia merasa nyaman bercerita meski ekspresi Enggar hanya datar-datar saja. Iya, sudah 2 kali pertemuan ,Yayu mengikuti pelajaran mengemudi yang di siapkan oleh Enggar. Masih ada beberapa pertemuan lagi hingga dia bisa mengikuti ujian dan mengkuti tes untuk mendapat kan SIM. Pada awalnya Yayu menolak belajar namun Enggar membujuknya agar dia bisa menyetir sendiri dan kini dia sangat menyukai kegiatan barunya itu. Kegiatan yang dia tunggu setiap minggunya di sela-sela kegiatan rutinnya menemani Enggar untuk check up dan Fisioterapy serta menjaga menu diet Enggar yang dia masak sendiri. Baginya belajar mengemudi menjadi me time nya. Mama Enggar yang beberapa kali sempat menelpon mereka merasa senang karena Yayu menjaga anaknya dengan baik. Bahkan mamanya selalu menagih seorang cucu dari mereka. ***** "ETO kamu makan sekarang apa nanti?" "Sekarang." "OK. Aku ambil dulu makanannya di dapur," sahut Yayu kemudian meninggalkan Enggar yang memberinya anggukan. Tok ... tok ... tok ... "Iya ... sebentar," teriak Yayu menjawab ketukan pintu di depan, di liriknya jam dinding menunjukkan pukul 7.00 malam. Siapa yang datang malam-malam gini, tumben. Gumamnya dalam hati Buru-buru dia mengambil nampan lalu berlari ke ruangan Enggar. Dan menaruhnya di nakas. "Mmm ... kamu ada janji sama seseorang ya hari ini?" tanya Yayu pada Enggar penasaran. Enggar mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan. "Trus siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Yayu lirih. Enggar mengedik ringan. "Tunggu sebentar ya! Aku lihat dulu siapa, nanti aku kembali lagi untuk nyuapin kamu," jelas Yayu kemudian, menatap Enggar yang memberinya anggukan sebagai jawaban. Kadang Yayu merasa kesal dengan perubahan itu, karena Enggar hanya memberinya bahasa isyarat dengan tubuhnya dan tidak menjawab pertanyaan nya. Yayu kembali berlari ke pintu utama membukanya dan menemukan Chaca berdiri menatap pemandangan kota melalui jendela besar di seberang pintu itu. "Chaca ... ," panggil Yayu dengan nada bahagia. Chaca menoleh pada Yayu kemudian berhambur ke arahnya dan memeluknya erat. Buliran air mata tak mampu ia bendung, perasaannya yang sedang kacau tumpah bersama air mata yang dia keluarkan, tubuhnya bergetar memeluk tubuh Yayu. Beberapa menit berlalu dan mereka berdua masih dalam posisi berpelukan di depan pintu. Merasa Chaca sudah lebih tenang Yayu mengurai pelukannya memegang pundak Chaca dan melihatnya dengan seksama. "Sssshh ... udah lebih baik?" tanya Yayu. Chaca mengangguk." Masuk dulu yuk!" ajak Yayu, kemudian menggenggam tangan Chaca dan membawanya masuk ke ruang tamu. Sementara Enggar merasa gelisah di dalam ruangannya, dia tidak tau apa yang terjadi hingga Yayu sangat lama meninggalkannya, dia khawatir. Dia tidak bisa bergerak karena kakinya yang di gips harus di sangga ke atas. Mendengar suara pintu yang di tutup dengan cepat Enggar memanggil Yayu." Kana ... kana ... kanayu ... ?" Yayu berlari masuk ke dalam meninggalkan Chaca yang sedang terisak menuntaskan tangisannya. Membersit hidungnya berkali-kali. "Iya ... maaf, bisa tunggu sebentar lagi gak?" Dia menatap Enggar dengan penuh permohonan. "Sedang ada Chaca di luar, sepertinya dia mau curhat," lanjutnya menjelaskan. Enggar mengangguk setuju. Yayu kembali menemui Chaca. "Yu ... hari ini aku mengundurkan diri dari pekerjaanku," suara Chaca terdengar serak memulai pembicaraannya. "Besok aku akan terbang ke Singapura, aku pasti akan kangen banget sama kamu." Kembali dia memeluk Yayu. Yayu yang mendengar cerita Chaca sempat kaget, mengelus punggung Chaca yang mulai terasa tegang. Yayu tau yang Chaca rasakan tentu dia akan merindukannya juga namun yang Yayu tau Chaca pasti akan sangat kehilangan Adi, dokter yang sudah menawan hati Chaca itu. "Kamu Yakin Cha mau pindah? Trus gimana dengan dr. Adi?" tanya Yayu ingin tau. "Aku tentu saja juga akan merasa sangat kehilangan dan merindukanmu," jawabnya kemudian. Chaca mengangguk pelan, mengurai pelukannya dan kembali bercerita." Aku sudah merelakan dr. Adi, aku tau dia tidak mencintaiku dan dia juga akan menikah sebentar lagi. Malam itu aku secara tidak sengaja berpapasan dengannya di restoran pada saat aku janjian makan malam dengan orang yang papa jodohkan padaku. Wanita itu sangat cantik dan mereka kelihatan sangat serasi." Chaca menutup mukanya mencoba menghindari tatapan Yayu. Yayu tau Chaca pasti sangat terluka saat ini, dan dia selalu mendukung keputusan apapun yang sahabatnya itu ambil. "Apa dr. Adi tau kamu menyukainya, maksutku apa kamu pernah bilang sama dr. Adi kalau kamu menyukai atau mencintainya?" Pertanyaan Yayu membuat Chaca memandangnya. "Mungkin dr. Adi juga menyukaimu Cha, bisa saja kan? Dan dia belum tau ungkapan kata cinta dari mu sehingga dia hanya menganggapmu tidak serius jadi, selama ini dia mendiamkanmu." Rasa penasaran itu tiba-tiba muncul dalam benak Yayu, mengingat kejadian di rooftop beberapa minggu yang lalu. "Memang dr. Adi bilang sama kamu kalo dia menyukaiku dan menungguku mengatakan cinta padanya, atau bahkan dia selama ini menganggapku tidak serius?" Kini giliran Chaca yang di buat penasaran dengan pertanyaan Yayu. Yayu jadi bingung karena dia salah ngomong, dia sebenarnya tak ingin menceritakan masalah itu tapi dia sudah lebih dulu keceplosan. "Enggak dia gak pernah bilang kalo dia cinta sama kamu Cha, maaf, aku gak sempat cerita sama kamu. Sebenarnya beberapa minggu yang lalu aku sempat adu mulut dengan dr. Adi dan hingga kini aku bersikap dingin padanya. Entah apa alasannya dia menganggap semua orang yang menyukainya itu hanya sebatas kagum dan tidak pernah serius padanya. Jadi, keputusanmu untuk melepasnya kali ini aku rasa sangat tepat Cha, aku gak ingin kamu tersakiti oleh dr. Adi suatu hari nanti." Chaca kembali menangis. "Aku sudah bilang sama dr. Adi kalo aku menyukainya dan mencintainya Yu, dan seperti katamu dia menolakku dan bilang aku tidak serius selama ini," ceritanya dengan isak tangis." Kamu tau yang lebih membuatku sakit yu? Bahwa, ketika kita tau cinta kita di tolak tetapi hati kita masih tetap mengharapkannya, dan itulah yang aku alami, meskipun otakku tau jika hal itu tak mungkin tapi hatiku yang lemah ini masih tetap mengharapkan cinta dari nya." "Chaca kamu itu kuat Cha, aku yakin setelah ini hatimu akan lebih kuat lagi dan akan sanggup menemukan cinta baru yang membahagiakanmu, kamu harus yakin bahwa hatimu itu sangat kuat hingga kau tersakiti tapi kau tetap mampu mencintai." Hibur Yayu dan kembali memeluk Chaca erat. "Aku pasti mendukungmu, biarkan saja dia yang tidak melihat ketulusan hatimu, kamu terlalu berharga untuk terus mengharap cinta dari orang yang tidak menghargaimu." "Makasih Yu, kamu memang bener-bener sahabat terbaik ku, kamu dan Mbak Tuti pasti akan selalu aku rindu." Dia tersenyum melihat wajah Yayu, mengelus pipi sahabatnya itu dan memandangnya lekat, seolah mereka akan berpisah dalam waktu yang lama, mereka memang sangat dekat dan saling mendukung, Chaca pun berharap Yayu menemukan cintanya dan hidup bahagia dengannya, serta melupakan dendam yang bergejolak di hatinya. "Yu ... kamu juga ya, kamu harus jujur dengan hatimu dan jangan menolak mengakui perasaanmu. Semoga kamu menemukan cinta mu dan hidup bahagia dengan nya, aku berharap suamimu adalah orang itu." Seulas senyum tersungging si bibir merah Chaca setelah mengutarakan harapan dan isi hatinya pada Yayu. Yayu mengangguk mengiyakan,sementara hatinya mengamini harapan baik Chaca namun tidak menyetujui bagian suaminya itu. "Iya Cha, makasih." "Oh ya, ada satu berita bahagia lagi, kamu sudah tau belum?" tanya Chaca ingin tau, Yayu menggeleng memasang wajah penasaran." Mbak Tuti sudah mendapatkan pacar baru," cerita Chaca kini tampak antusias. Mata Yayu berbinar mendengar berita bahagia itu. "Benarkah? Sejak kapan? Siapa dia? Apa aku kenal?" Yayu memberondong Chaca dengan berbagai pertanyaan. Chaca mengangguk. "Kamu juga kenal kok, tanya aja sama Mbak Tuti sendiri, aku cuma kebagian part ngabarin kamu aja," Chaca mengulas senyum menggoda membuat Yayu semakin penasaran. "Ayo lah ... jangan pelit, kasih tau aku!" Mata Yayu dia naik turunkan membujuk Chaca, sementara Chaca membalas dengan menirukan Yayu." Mmm .... OK deh aku tanya sendiri sama Mbak Tuti." Yayu menyebikkan mulutnya. Chaca membalas mengerlingkan mata, dan merekapun tergelak bersama. "Satu lagi, aku akan mencoba memulai hubungan baruku dengan laki-laki yang di jodohkan orang tuaku, dia sepertinya orang yang baik, aku akan mengenal nya lebih dekat, dia sudah tau ceritaku dan dia juga menerimanya dan akan menungguku hingga aku bisa menerima cinta dia." "Syukurlah Cha, aku senang mendengar berita ini, semoga kalian benar-benar jodoh ya. Aamiin ..." ucap Yayu mendoakan. Chaca mengangguk mengaminkan dalam hati. "Trus kamu ada berita baru gak buat aku?" goda Chaca, Sedang Yayu tidak tau maksudnya. Chaca malah terkekeh. "Aku juga ada berita bagus buat mu, aku sekarang sedang mengikuti khursus mengemudi," cerita Yayu antusias, sedang Chaca agak kecewa karena berita yang dia maksud adalah berita yang lainnya namun, Chaca tetap bahagia dengan kegiatan baru Yayu. "Oh ya ... selamat nanti kita bisa jalan bareng trus kamu yang nyetir," jawab Chaca tak kalah antusias, Yayu mengangguk menyetujui, Enggar yang mendengar suara jeritan dan curhatan mereka kali ini yang cukup keras ikut tersenyum, ada sedikit rasa bahagia menyelimuti hatinya, sesuatu yang sederhana itu bisa membuat Yayu begitu bahagia. Chaca merangkul Yayu sebentar lalu melepaskan pelukannya, dia tersentak kaget seperti mengingat sesuatu. "Yu ... suami mu sudah tidur ya, kok kamu sudah bisa santai?" tanya Chaca tiba-tiba. Yayu menepok jidatnya. "Ya ampun Cha, ETO belum makan, aku masih mau nyuapin dia Cha, duh ... dia pasti marah berat ," ungkap Yayu dengan penuh ketakutan. Dia sudah membayangkan wajah Enggar yang merah padam menahan amarah dan suaranya yang berteriak memakinya. "Cha, sorry ya bukanya aku ngusir, tapi aku ke dalam dulu ya, kamu bisa nunggu aku bentar kan disini nanti aku balik lagi," lanjut Yayu beranjak dari tempatnya. "Gak usah Yu ... aku pulang aja, aku bisa ketemu dengan Enggar bentar aja, aku mau minta maaf sudah mengganggu waktu mu," pinta Chaca. "Gak usah Cha, udah gak pa-pa kamu gak usah meminta maaf," Yayu menoleh menjawab pertanyaan Chaca, Yayu hanya khawatir jika Chaca dimarahi oleh Enggar. "Gak pa-pa, tenang saja dia gak bakalan sadis kok sama aku, percaya deh. OK." Chaca menepuk pundak Yayu meyakinkan. Yayu mengangguk menyetujui, meskipun hatinya dag dig dug. Mereka berdua melangkah beriringan menuju ranjang Enggar, Enggar terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya dan headset nya. Wajahnya tidak menunjukkan raut marah, tapi Yayu masih tetap khawatir. "Udah selesai curhatnya?" tanya Enggar dengan suaranya yang dalam dan terdengar berwibawa, Yayu mengangguk dan menunduk, Chaca tersenyum lebar dan mengangguk. "Makasih udah lo pinjemin bini lo buat gue bentar, aku sekalian pamit mau ke Singapura besok," ucap Chaca pada Enggar dengan santai, Yayu melihat dengan bingung. "Udah Yu, dia gak bakalan marah kok sama kamu, kalo dia marah bilang sama aku biar aku kasih bogem dia." Tangan Chaca mengepal dan memukul udara, Yayu masih belum paham sementara Enggar hanya terkekeh. "Sinting lo ... hati-hati di jalan, baik-baik di sono jangan nglayap aja!" ucap Enggar menasehati. Chaca mencebikkan bibirnya. " iya-iya bawel, jelasin sama Yayu dia masih bingung tu. Satu lagi jaga baik-baik bini lo, jangan lo sakiti, awas aja kalo dia nangis ngadu sama gue lo gak bakalan bisa ketemu lagi sama dia, bakalan gue cari cowok lain buat dia, dan jangan nyesel kalo dia di embat cowok lain." peringatan tajam Chaca terdengar tegas dan tidak main-main. Chaca merangkul Yayu sekali lagi. "Baik-baik ya Yu, aku pergi dulu maaf aku belum cerita Enggar adalah sepupuku juga, detailnya tanya dia saja. OK." Chaca tersenyum lebar setelah mengurai pelukannya. "Cepat sembuh ya Gar, Assalamu'alaikum ... " ucap Chaca kemudian melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan keduanya. Yayu masih terpaku ditempatnya.Enggar masih menatap Yayu," aku lapar," ucap Enggar kemudian. Yayu mengerjap dan tersadar dari kekagetannya. Dia segera mengambil nampan berisi makan malam yang sudah hampir dingin. "Aku panasi dulu ya nasinya sudah hampir dingin." Enggar mengerucutkan bibirnya merajuk, lalu mengangguk. Hal baru yang mulai dia suka merajuk pada Yayu dan Yayu akan menunjukkan ekspresi bersalahnya. Tok ... tok ... tok ... Keduanya saling berpandangan. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN