Satu bulan kemudian
Dua minggu yang lalu gips yang membalut kaki Enggar sudah dilepas hari ini dengan memaksakan kehendaknya Enggar meminta mereka pulang, keadaan Enggar sudah lebih baik, mood nya pun lebih stabil dan sesi Fisioteraphynya selalu dia ikuti tanpa absent begitu juga dengan sesi psikologi, diet yang Yayu berikan selalu dia terima dengan senang.
Dia kini hanya perlu check up selama 1 kali satu bulan dan mengikuti sesi Fisioteraphy selama 1 kali dalam satu minggu. Hari ini dia pindah dari kamar rumah sakit lantai 20 ke sebuah rumah sederhana di desa. Rumah dengan bilik bambu, dua kamar tidur dan satu kamar mandi di belakang rumah.
Rumah ini adalah milik Mbok Sumi, seorang pelayan di rumah Enggar. Mbok Sumi dan suaminya sudah bekerja dengan keluarga Pranoto sejak Enggar belum lahir. Mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi Enggar dan orang tuanya.
Enggar merasa jenuh dan butuh suasana baru, lebih dari empat bulan dia sudah mendiami kamar lantai 20 itu. Hari ini dia di bantu Saino, Adi, dan Tuti memindahkan semua barang-barang mereka ke rumah barunya. Perjalanannya cukup panjang karena harus di tempuh dengan berkendara mobil selama kurang lebih 2 sampai 3 jam.
Yayu masih belum mempunyai SIM dan kursus mengemudinya masih kurang beberapa kali pertemuan. Jadi, kali ini Enggar di temani Yayu berada satu mobil dengan Adi sebagai sopir dan Saino bersama Tuti berada dalam mobil yang lain membawa barang-barang mereka. Mereka pindah lebih cepat satu bulan dari rencana yang di tentukan.
Enggar merasa sudah tidak sabar untuk tinggal berdua saja dengan Yayu tanpa ada orang yang mengganggu. Enggar sekarang telah berubah menjadi sangat penurut, hingga kadang membuat Yayu aneh. Sepertinya Enggar sudah jatuh hati pada istri kontraknya itu. Walaupun hatinya sudah mengingatkan berkali-kali tapi kenyamanan yang dia peroleh dari Yayu beberapa bulan ini membuatnya percaya jika Yayu juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Sebenarnya Yayu juga sudah mulai merasakan hal yang sama, tapi dia selalu mengubur benih itu dalam-dalam dan selalu menyangkal kehadiran rasa itu.
Sebuah mobil SUV berhenti pada sebidang halaman yang tidak terlalu luas namun mampu menampung satu mobil disana. Terdapat bangunan rumah dengan bilik bambu ukir yang sangat cantik dan begitu sederhana.
Yayu dan Adi buru-buru turun dari dalam mobil dan merengganggkan otot-otot mereka, perjalanan dua setengah jam yang mereka tempuh dengan arus padat merayap itu membuat otot mereka kaku. Hal serupa juga dilakukan oleh Saino dan Tuti namun, mobil mereka terparkir di pinggir jalan.
"Kana ... masuklah dulu ini kuncinya!" seru Enggar dengan suara mesranya hingga membuat adi meliriknya dan merinding seketika, dia baru tau sahabatnya itu berubah drastis karena seorang Kana.
"Isss ... merinding oy, masih sore, belum waktunya berdua-duaan oy." Senyuman menggoda Adi mendapat pelototan Yayu sedang Enggar hanya terkekeh. Saino dan Tuti masih sibuk menurunkan barang-barang mereka.
"Woooe ... mata empat, buruan bantuin, omes aja lo!" omel Saino dengan menyeret dua koper besar. Tuti menyusul di belakang membawa kursi roda otomatis dan kursi roda dorongnya.
"Iya, iya, bawel," protes Adi, dengan setengah berlari menuju mobil Saino membawa bahan makanan dan peralatan lukis Enggar.
"Sudah semua?" tanya Enggar penasaran.
Mereka bertiga mengangguk ketika sudah kembali dan berdiri di dekat mobil SUV yang Enggar tumpangi. "Ayo kita masuk!" ajak Saino. "Kelihatannya bini lo bener-bener cekatan dan tau kesukaan lo," celetuk Adi dengan menunjuk Yayu yang telah membawa nampan dengan berisi empat gelas es teh manis dan beberapa irisan buah semangka, pisang, dan bolu pisang yang kemudian dia letakkan di atas meja.
"Ayo! Kalian masuk dan istirahat, minum es teh dulu setelah itu bisa jalan-jalan keliling Desa sepertinya Desa ini sangat asri dan nyaman." tambah Yayu kemudian.
Mereka berempat mengangguk setuju, ketiganya membantu Enggar naik ke atas kursi roda dorong nya. Berjalan memasuki ruang tamu yang terasa sangat sejuk, pintu belakang menuju dapur dan kamar mandi yang di buka membawa embusan angin semilir. Semua orang duduk di atas lantai keramik dan tak mau bersusah payah duduk di kursi. Mereka mengambil es teh yang Yayu sediakan dan meminumnya secara bebarengan.
"Coba kalo ada es jeruk pasti tambah segerr ... , " celetuk Adi yang di sambut dengan cengiran dari Yayu.
"Tu ada jeruk, pasti segerr ... ," goda Saino kemudian menunjuk pada pajangan dinding bergambar buah-buahan. Sontak semua orang terbahak menertawakan Adi.
Yayu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. "ETO, kamu mau langsung mandi sekarang atau cuci muka aja dulu?" tanya Yayu, membuat suasana hening sesaat sebelum Adi mulai menyerobot.
Entah kenapa jika di dekat mereka Adi seperti orang yang berbeda dan selalu berbuat hal aneh dan lucu kadang-kadang mengelikan, sementara jika melihatnya bekerja seperti melihat mayat hidup yang hanya berjalan tanpa ekspresi meski kadang tertawa tapi tidak bisa sehidup ketika bersama teman dekatnya.
"Wooi ... ingat tamu, disini masih ada kita ni udah mau maen-maen air aja lo. Tunggu lah bentar kenapa, tu yang di bawah di kondisikan dulu bro." Dia tergelak dengan omongannya sendiri sambil menunjuk bagian tertentu dari tubuh Enggar. Tentu saja hal itu membuatnya mendapat hantaman bantal sofa dari Enggar dan sebuah pisang mendarat tepat di pangkuannya karena lemparan Yayu," dasar semprul." Umpat Yayu. Kini giliran Saino dan Tuti yang hanya tertawa melihat mereka.
"Kita jalan-jalan dulu, bentar aja ya gak pa-pa kan?" Ucap Saino, Yayu dan Enggar mengangguk sedang Adi menimpali.
"Lama juga gak apa-apa we ..." kembali kini sebuah bolu pisang mendarat manis di bibir Adi, dengan paksa Saino menjejali mulutnya agar bisa diam. Yayu tertawa dan Tuti mencebik padanya.
Tuti dan Saino pergi jalan-jalan keliling desa mereka seperti pasangan anak muda yang masih malu-malu bila harus bergandengan tangan dan hanya berjalan beriringan, mungkin akan beda khasusnya bila di tempat sepi karena Saino juga bisa sangat posesif.
Sedang Yayu membantu Enggar untuk mencuci muka, Adi sendiri meratapi nasibnya yang masih terus menjomblo dan kedua sahabatnya sudah memiliki dambaan hati. Adi merebahkan dirinya di atas lantai, tidur terlentang menatap langit-langit rumah.
Sekelebat bayangan tersenyum manis padanya, gadis yang dia tolak dan telah dia sakiti karena kebodohannya, kini berada jauh dan telah memiliki pasangan, huh ... dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Rupa-rupanya dia merindukan gadis itu, namun tak punya cara untuk bisa mendapatkannya karena dia telah menyakitinya. Andai waktu bisa berputar tentu dia tidak akan sebodoh itu, benar apa kata Yayu. Hatinya bermonolog. Kemudian menutup matanya.
Yayu dan Enggar sedang berada di kamar, Yayu membantu Enggar membasuh muka. Cuaca yang panas membuat mereka berkeringat dan tidak nyaman, untung rambut panjang Enggar sempat di pangkas sehingga dia tidak perlu merasa sangat gerah.
Yayu berdiri dan membungkuk berhadapan dengan Enggar, seember air ia letakkan di atas kursi di sampingnya. Ia mengambil handuk kecil dan membasuhnya dengan air, memerasnya lalu mengibaskan handuk kecil itu baru kemudian menyeka wajah Enggar perlahan. Mata Enggar yang semula tertutup tiba-tiba terbuka membuat Yayu sedikit terkejut.
Tangan kanan Enggar meraih lengan kanan Yayu jemarinya yang berada tepat di bagian bawah rahang Enggar berhenti bergerak, wajah mereka saling bertatap beberapa saat. Hingga Yayu tersentak kaget karena Enggar meraih pinggang Yayu dan membawa tubuhnya lebih mendekat sedang wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal, tangan Yayu kini tidak lagi berada di rahang Enggar melainkan telah berpindah ke sandaran kursi Roda.
Entah setan mana yang membuat Enggar berani berbuat senekat itu, yang pasti hatinya sangat menginginkan istrinya saat ini, dan sepertinya Yayu juga diam dan tidak melakukan perlawanan. Ketika jarak mereka semakin dekat, deru jantung mereka seakan bisa terdengar oleh satu sama lain, dan hembusan napas mereka terasa berat dan hangat menyapu wajah tiba-tiba terdengar suara jeritan dari Luar. Keduanya salah tingkah, menepis jarak di wajah mereka, Yayu pun kemudian melangkah ke luar dengan membawa ember air.
"Sayanggg ... "
***
Bersambung ...