DENDAM 30

2306 Kata
"Sayangggg ..." Yayu keluar dari kamar dengan membawa sebuah ember dan handuk kecil. Dia tidak menemukan Adi di ruang tamu, cepat-cepat dia meletakkan ember tersebut di kamar mandi lalu berlari keluar menuju arah suara yang berisik tadi, di tengoknya halaman rumah yang kini telah berdiri Adi di samping kursi roda Enggar sedang berbicara dengan seseorang, setelah Yayu mendekat dia baru tau kalau tadi adalah suara Calista. Kurang lebih satu bulan tak mencari Enggar, Yayu sempat melupakannya dan terbuai dengan kehidupan barunya kursus mengemudi dan mengurusi Enggar yang lebih penurut dan mesra. Yayu lupa jika Calista sedang mengandung anak Enggar dan dia adalah wanita yang Enggar cintai. Yayu menertawakan dirinya sendiri karena sempat terbuai dengan kenyamanan yang dia terima, kini ŕealita itu telah menamparnya . Tanpa tau malu Calista bergelayut mesra pada lengan Enggar, mengerucutkan bibirnya." Sayang, kok kamu gak bilang sih kalo kamu mau liburan? jadi aku kan bisa bawa persiapan," oceh Calista dengan manjanya. Adi mendelik, mengangkat satu alis matanya memandang sikap Calista. "Sayang, kok malah diam aja sih, tau gak sih? Aku itu kangeeennn banget sama kamu," rajuknya bermanis manja. Adi kini mencebik menirukan kata-kata Calista dengan mimik muka yang jenaka membuat Yayu menahan tawanya. Merasa tak ingin mendengar pembicaraan mereka, Yayu memutar tubuhnya kembali ke dapur. Di ikuti oleh Adi yang berjalan di belakang Yayu. Enggar berdehem, mengurai tangan Calista yang bergelayut pada lengannya. "Kok kamu bisa tau aku ada disini?" sergah Enggar penasaran. Enggar menahan emosi, pasalnya dia mempercepat kepindahannya itu karena dia ingin berdua lebih lama dengan Yayu di tempat baru untuk membuat mereka lebih dekat, sepertinya rencananya kali ini juga harus gagal. "Ada deh ... Calista gitu lo," jawabnya menggoda. "Emang berapa lama rencananya kita akan tinggal disini sayang?" selidik Calista dengan raut wajah tak suka, memandang rumah dan keadaan sekitarnya. Yayu dan Adi geleng-geleng saling menandang, sekembalinya Yayu membawa air putih untuk Calista dan Adi membawa irisan semangka, Enggar membetulkan letak lengan bajunya yang di tarik Calista. "Seterusnya kita akan tinggal disini Ita, kita gak liburan, ini memang rumah orang tuaku dan mereka sedang berada di kampung," pungkas Enggar. Raut wajah Calista berubah, matanya melotot tidak percaya. "Apa?" hanya satu kalimat dengan nada yang meninggi itu yang keluar dari mulut Calista." Tapi, bukannya keluarga Pranoto kaya raya? Kenapa mereka tidak memberimu tempat yang lebih layak sih?" cerocos Calista, dia benar-benar tak ingin tinggal disana, menempati rumah di desa bukan impiannya, apalagi setelah tinggal lama di Jakarta dan mendapat fasilitas dari Enggar dan gebetannya. "Trus apartemen kamu gimana? Kenapa kita gak tinggal disana aja?" usulnya kemudian, dia sangat tidak berharap untuk tinggal di tempat itu apalagi rumahnya sangat tidak menusiawi baginya. Apa dia selama ini salah menerima informasi. Ah ... dia menghentakkan kakinya merutuki kebodohannya karena menerima informasi yang salah. Enggar mengedik pelan, membiarkan Calista berimajinasi, dia tau Calista akan membayangkan macam-macam. "Kamu bisa membawa kopermu masuk dan tinggal bersama kami disini, kamu pasti lelah, cepatlah masuk dan istirahat!" perintah Enggar tanpa mempedulikan ekspresi wajah Calista. ***** "Makan malam sudah siap," teriak Yayu dari arah dapur. Adi dan Saino menggelar tikar sebagai alas makan malam kali ini, karena ruang makan hanya memiliki 2 kursi sedangkan malam ini banyak orang berkumpul untuk makan malam, ke-2 nya berjalan ke dapur untuk membantu membawa makanan. Tuti dengan cekatan menyelesaikan masakan terakhir yang dia buat. Yayu membawa piring dan sebakul nasi, meletakkannya di atas tikar lalu beranjak menuju kamar Enggar yang terbuka. Dia mematung di depan pintu melihat pemandangan di dalam. Ini bukan kali pertamanya melihat Calista berciuman dengan Enggar, tapi kali ini hatinya terasa lebih sakit. Tidak ingin mengganggu waktu mereka, Yayu berbalik kembali ke dapur membantu ke-3 teman nya untuk membawa makanan ke dalam rumah. "Saino ... tolong panggilkan ETO sama Calista ya, mungkin mereka ada di kamar!" pinta Yayu pada Saino. Saino beranjak dari duduknya, pergi ke kamar Enggar. Tak berapa lama kemudian Saino kembali dengan mendorong kursi roda Enggar. Pandangan Enggar tak lepas dari kesibukan dan pergerakan Yayu. Yayu dengan telaten mempersiapkan makanan buat Enggar lalu mengambil nasi buat dirinya sendiri. Sementara Calista datang di belakang Enggar bersungut-sungut. Selama makan malam tidak terjadi banyak obrolan di antara mereka. Adi yang biasanya sangat cerewet dan suka membanyol kini lebih banyak diam dan konsentrasi pada makanannya. Hingga yang terdengar hanya suara dari sendok dan piring yang saling bersentuhan. Setelah makan malam "Gar, gue pamit ya? sekalian mau nganterin Tuti, kasian dia capek dari kemaren kerja lembur." "OK, hati-hati di jalan udah malem gini, mending lo cari penginapan deket sini aja lah, tapi kalo mau nyuruh kalian nginep juga gak ada tempat." Seringaian nakal Enggar menggoda Saino. "Makanya lain kali pindah ke rumah yang gedean dikit napa? Ni rumah udah kayak campfire aja. Biar kita bisa ngumpul rame-rame," balas Saino dengan nada protes. "Yang bener tu perkemahan Pak No, bukanya campfire," seloroh Adi penuh tawa. Saino tergelak, menoyor kepala Adi ringan. "Bodho amat, yang ada perkemahan jaman now itu lebih luas dan lapang dari tempat ini, makanya ini tempat lebih mirip camp fire alias perkemahan yang sudah di lalap api," celetuk Saino menghidupkan suasana, terlihat Calista semakin tidak senang dan kesal. "Hu ... kalo mau yang lebih luas dan lapang tu, ke stadion atau ke lapangan sono luas plus lapang," seloroh Adi menimpali. Enggar tertawa mendengar protes Saino dan jawaban-jawaban lucu Adi." Ini sengaja tau gak sih? Biar kalian gak pada rese dan selalu nginep disini," terang Enggar yang akirnya mendapat pukulan di kepala dari Saino. "Thank's ya buat makan malamnya, enak banget," ucap Enggar pada Tuti yang keluar dari arah dapur bersama Yayu. "Oh ya, makasih juga sudah ngebantuin pindahanku, jaga tu anak baik-baik ya dia kadang ceroboh juga, kalo perlu di rantein aja biar gak kemana-mana!" ejek Enggar menambahi. Saino melotot tajam pada Enggar. Tuti tersenyum geli, mengacungkan jempolnya." Siip, kamu juga jaga tu bini nya baik-baik jangan sampek di bully ama setan," ucap Tuti sambil melirik ke arah Calista yang sedang sibuk dengan ponselnya. Enggar tersenyum dan mengangguk ringan, "Di, lo beneran gak nebeng sama kita?" Saino menunjuk ke dalam mobilnya menawari Adi yang masih betah duduk bersila di dalam ruang tamu. "Ho oh, gue besok aja pulangnya sekalian nganterin mereka check up, lumayan lah di perkemahan sini ada tikar buat rebahan," sahut Adi mantap kemudian mengacungkan jempolnya. Saino dan Tuti mengangguk mengerti. "OK, kita balik dulu." "Take care," ucap Adi. "Hati-hati, telpon aku ya mbak Tuti kalo dah sampek rumah!" suara Yayu menimpali. "Hati-hati udah malem!" Enggar melambaikan tangannya diikuti oleh Adi, dan Yayu sementara Calista beranjak dari duduknya ke dalam kamar. Bagi Calista sangat tidak penting mendengar mereka berdiskusi dan semakin membuatnya keki mendengar keakraban mereka. Calista merebahkan diri di atas kasur di kamar Enggar menunggu nya kembali. ***** "Ta ... bangun! Calista bangun!" teriak Enggar membangunkan Calista yang tak terasa terlelap dalam tidurnya ketika menunggu Enggar di kamarnya. Calista menguap dan mengucek kedua matanya, melihat sekeliling mendapati Enggar duduk di kursi roda di samping ranjangnya, Yayu berjongkok di samping Enggar sedang mengunci kursi rodanya. "Kamu kembali ke kamar mu gih! aku mau istirahat, capek," perintah Enggar pada Calista namun, tak di tanggapi. Calista masih belum mau beranjak dari ranjang Enggar, takut Yayu akan tidur di sana. "Calista, minggir!" bentak Enggar. Calista merajuk, mengerucutkan bibirnya. "Fine, kamu tidur disini aku akan tidur di kamar sebelah," potong Enggar kemudian. "No!" Calista menggeleng pelan. "Aku maunya tidur di sampingmu, aku gak bisa tidur kalau gak deket-deket kamu,"rengeknya manja. Enggar geram, sedang Yayu hanya memutar bola matanya. "Please deh Ita, jangan berulah, jangan merengek, atau merajuk. OK! aku capek dan mau istirahat. OK?" Enggar mendengus dan meminta Yayu untuk memindahkan dirinya ke atas ranjang. Merasa malas untuk berdebat dengan Calista, Enggar mengizinkan Calista tidur di kamarnya. "Fine, aku ijinin kamu tidur di kamar aku, tapi sebagai gantinya kamu harus bantu aku ke kamar mandi bila malam hari aku kebelet pipis dan saat aku pengen makan sesuatu kamu harus masakin buat aku atau beliin aku di luar, OK?" terang Enggar malas. Dia tak tau lagi cara apa untuk mengusir Calista, sementara Yayu bersikap berbeda padanya saat ini, Enggar merasa Yayu lebih dingin dan cuek padanya. "OK. Tentu aku siap, aku kan juga sayang samu kamu." Seulas senyum terbit di bibir Calista dan seringaian nakal nampak pada ekspresi Enggar, sedang Yayu merasa lega, malam ini dia bisa tidur tanpa ada yang mengganggu. "Kana, kamu tidur di kamar sebelah aja beberapa hari ini biar Calista yang mengurus ku," Enggar menyuruh Yayu dengan perasaan kesal, niatnya ingin lebih dekat dan nyaman berdua bersama Yayu harus gagal gegara ulah Calista. Waktunya bermain bersama Calista, bisikan hatinya menghibur. Jam 1.00 pagi, Enggar terbangun dari tidurnya meminta Calista untuk mengambil air minum. Jam 3.00 pagi Enggar kembali terbangun meminta Calista untuk mengantarkannya ke kamar mandi, tapi karena kehamilan Calista, dia tidak bisa membantu Enggar bangun hingga akhirnya Enggar memintanya mengambil pispot untuk kencing. Jam 4.30 pagi Enggar kembali terbangun meminta Calista membangunkan Yayu karena sudah waktunya sholat subuh. Calista benar-benar di buat kesal bin sebal dengan kemauan Enggar, semalaman ini Calista hampir tak bisa tidur karena selalu terbangun menuruti keinginan Enggar. "Kana sudah siap? "tanya Enggar kepada Yayu yang tengah membenarkan sepatu nya, Calista masih saja menguap dengan malas di samping Enggar. Terlihat Adi yang masih tertidur pulas di atas tikar di ruang tamu. Yayu mengangguk pelan. "Iya, kita bisa berangkat sekarang mumpung masih pagi, udara masih segar,"ucap Yayu, melihat Calista yang masih berantakan. "Calista, kamu gak ikut? Udara pagi sangat baik lo buat kesehatan ibu hamil, sekalian yuk jalan pagi bareng-bareng!" ajak Yayu pada Calista. Calista tak menanggapi ucapan Yayu, mengedik ringan lalu menjongkokkan badannya pada Enggar. "Sayang cepet pulang ya! Nanti kita sarapan bareng, aku mau bobok lagi ,masih ngantuk banget ni," rajuk Calista, membuat Enggar kesal. Yayu mendorong kursi roda Enggar mengelilingi area sekitar rumah mereka, rumah penduduk tampak begitu asri, beberapa orang membersihkan halamañ dan membeli keperluan di tukang sayur, udara di kampung itu memang masih terbilang sejuk dan lingkungannya lumayan terawat. Enggar meminta Yayu menepikan kursi rodanya, ketika mereka melewati area persawahan yang luas, dengan pemandangan padi yang mulai berisi ditambah kabut pagi yang tebal menyelimuti membuat suasana pagi itu sangat romantis. Seluas mata memandang, hamparan padi yang hijau menyejukkan mata. Enggar memecah keheningan diantara keduanya dengan mencoba memulai pembicaraan. "Kana, kamu gak apa-apa kalau Calista tinggal bareng sama kita?" pertanyaan Enggar sempat membuat Yayu kelimpungan, Yayu tak tau harus menjawab apa. Nyatanya dia merasakan perasaan tidak suka melihat Calista berada disana namun, dia tak bisa berbuat apa-apa dia sadar dan tau apa tujuannya, tapi di satu sisi dia juga lega, karena Enggar akan ada yang menjaga dan akan lebih mudah baginya meninggalkan Enggar. Yayu bahkan semakin yakin jika Enggar tidak pernah benar-benar berbaik hati padanya, dan sikapnya selama ini hanyalah sandiwara saja. Yayu mengangguk. "Iya gak apa-apa kok, aku tau kalian masih saling mencintai dan Calista sedang mengandung anakmu," jawab Yayu dengan tenang, sedang hatinya tak tau kenapa merasakan sakit. Enggar tampak kecewa dengan jawaban Yayu, dia mencoba mencari jawaban lain dari mulut Yayu. "Kamu beneran gak masalah sama Calista?" tanyanya, memegang tangan Yayu lalu membawanya berdiri di hadapan Enggar. Enggar menatap ekspresi wajah Yayu, tetap datar seperti tanpa ekspresi. "Iya, kamu gak usah khawatir, aku pasti akan bersikap baik padanya," jawab Yayu. "Bukan itu maksudku." "Lalu?" "Jadi beneran kamu gak marah," tanyanya sekali lagi, Enggar masih berharap Yayu mengakui kalau dia marah dan tak suka dengan kehadiran Calista di antara mereka namun, harapannya tak terpenuhi, lagi-lagi Yayu mengangguk datar. Yayu berusaha menarik kedua tangannya dari genggaman Enggar, dia berhasil menarik pergelangan tangan kanannya, tapi tangan kirinya masih di genggam erat oleh Enggar seolah tak rela untuk melepaskannya. Sementara Yayu sudah merasa perih di pelupuk matanya, dia tidak tau kenapa tiba-tiba hatinya perih dan air matanya serasa ingin keluar. Tak ingin Enggar tau dia menangis. "Lepasin ETO! Lepas!" bentaknya kemudian namun, tak berhasil. Enggar malah menarik tangan Yayu kuat hingga tubuhnya kini berada diatas pangkuan Enggar. Tubuh Yayu seketika menegang, kaget dengan aksi Enggar, juga kaget bila keduanya terjatuh. Di pukulnya d**a bidang Enggar. "ETO, bahaya tau! Kau sudah gila apa?" teriak Yayu kencang. Dua bulir bening berhasil luruh di pipinya. Enggar terkekeh, dengan cepat dirangkulnya tubuh Yayu ke dalam pelukannya. "Maaf, kau memang telah membuatku gila," ucapan Enggar sangat lirih namun mampu tertangkap oleh indra pendengaran Yayu. Sesaat kemudian di raihnya kedua pundak Yayu lalu dikecup kening nya. Yayu masih diam membeku, perlakuan Enggar di luar dugaan. Enggar menatap wajah Yayu lalu menyeka bekas air mata yang tadi mengalir. "Aku tanya sekali lagi, apa benar kau tak merasa keberatan dengan kehadiran Calista?" "Iya, sudah aku katakan Calista tidak akan menjadi masalah buatku." Sekali lagi jawaban yang sama terlontar dari mulut Yayu. Kau benar Yayu, Calista akan bisa membantumu membalas rasa sakit hatimu, karena Enggar begitu menghawatirkan dirinya. Suara batinnya bermonolog. Enggar mendesah pelan, memandang Yayu dengan seksama, tak dia dapatkan kata-kata kebohongan di ekspresinya. Enggar sangat yakin jika Yayu juga menginginkan dirinya, tapi kenapa dia tidak mau jujur dengan perasaannya. Enggar kembali memeluk Yayu, menyalurkan hasrat yang sudah dia pendam sejak semalam, dia bahkan tidak bisa tidur hanya dengan memikirkan Yayu, dan sekarang Yayu berada di pangkuannya membuat adek kecilnya hendak meloncat kegirangan namun, sekali lagi dia harus menahannya, dia masih belum mau menunjukkan pengaruh yang Yayu sebabkan pada dirinya. Enggar masih belum tau apa yang membuat Yayu memendam rasa di hatinya itu. Enggar mengurai pelukan Yayu, di raihnya jempol tangan Yayu kemudian di usapnya bibir Yayu dengan jempol tangan nya secara perlahan seolah disana tengah menempel sesuatu, lalu di tempelkan jempol itu pada bibir Enggar. Enggar mencium dan menghisap jempol itu secara lembut dan lama seolah merasakan bibir Yayu yang sudah berani menggodanya itu dia cium, dia benar-benar menahan keinginan hatinya untuk tidak menyentuh bibir itu dengan tangannya. "Ayo kita pulang!" ajak Enggar, mengurai pelukannya, menurunkan Yayu dari pangkuannya. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN