DENDAM 31

1542 Kata
Enggar kembali memeluk Yayu, menyalurkan hasrat yang sudah dia pendam sejak semalam, dia bahkan tidak bisa tidur hanya dengan memikirkan Yayu, dan sekarang Yayu berada di pangkuannya membuat adek kecilnya hendak meloncat kegirangan namun, sekali lagi dia harus menahannya, dia masih belum mau menunjukkan pengaruh yang Yayu sebabkan pada dirinya. Enggar masih belum tau apa yang membuat Yayu memendam rasa di hatinya itu. "Ayo kita pulang!" ajak Enggar, mengurai pelukannya, menurunkan Yayu dari pangkuannya. Sesampai di depan halaman rumah, Enggar dan Yayu melihat Adi yang sedang sibuk mencuci mobil yang kemaren mereka kendarai. "Wuihh ... rajin bener Pak ngelap mobilnya? Jadi tambah kinclong mobil gue.Udah kayak pak sopir aja lo Di." Goda nya pada Adi, Enggar terkekeh geli mendengar penuturan jahilnya pada Adi yang dengan serius mencuci dan mengelap mobil miliknya, Yayu pun tertawa mendengar ocehan Enggar. Menyipratkan air kran pada Enggar dan Yayu. "Sialan lo ... rasakan tu!" Adi tergelak melihat kedua sahabatnya kini basah kuyup karena guyuran air kran. "Adi, Hentikan! Awas lo ya, kurang kerjaan aja. Gue bales lo." teriak Enggar kesal Adi mencebik dengan terus mengarahkan kran air ke Enggar. "Sekalian aja pemiliknya dimandiin biar sama-sama kinclong. Coba aja kalo bisa!" ucapnya meledek. Enggar yang tadinya tertawa kini bersungut-sungut marah, sementara Yayu dengan segera menuju ke arah handle kran air di samping rumah dan mematikan nya. Adi yang belum menyadari Yayu tidak berada di depannya menggoyang-goyangkan kran airnya yang tiba-tiba mati, lalu mengarahkan pada dirinya sendiri. Pada saat itu Yayu kembali membuka handle kran air itu, beberapa saat kemudian terdengar tawa Enggar yang meledak disusul dengan kekehan ringan Yayu melihat Adi basah kuyup terkena semburan air kran. "Tuh kan, air kran aja bisa membalas mu tanpa aku turun tangan," seloroh Enggar memanasi temannya yang kini membuka bajunya yang basah kuyup dan memerasnya. Adi hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar godaan Enggar. "Adi, Calista mana? Katanya mau bantu Enggar, kok malah gak kelihatan?" "Lagi mandi, makanya gue disini." "Oh, udah sarapan belum?" Adi mengegeleng. "Sarapan apaan? Orang gak ada makanan gitu di rumah." jawab Adi, sembari mengibaskan kaosnya. "Lagian ya, mana bisa tu tuan putri Calista masak, tanyain aja no sama mantan calon suaminya!" omel Adi sambil menunjuk Enggar. Enggar melotot tajam pada Adi, meraih topinya yang basah dan melemparkannya pada Adi. Sedang Adi mengaduh pura-pura sakit terkena lemparan topi. "Aduh ... kan di kulkas Ada pak makanan," gumam Yayu, kemudian berlalu menuju kamar mandi meninggalkan kedua laki-laki yang kini saling melempar topi dalam keadaan basah. Merasa tidak ingin melewati ruang tamu karena tubuhnya yang basah Yayu memilih berjalan di gang sempit di samping rumah, menuju ke arah kamar mandi di belakang rumah. Pintu kamar mandi tertutup. Yayu mengetok pintu itu dan memanggil nama Calista namun tidak ada jawaban dari dalam. Di dorongnya pintu itu pelan dan ternyata tidak terkunci, Yayu juga tidak menemukan Calista disana. Yayu mengambil handuk di atas jemuran kemudian mengeringkan rambut dan kakinya. Merasa sudah kering dia pun berjalan memasuki ruang tamu menuju kamar Calista. Yayu menghentikan niatnya mengetuk pintu karena dia mendengar Calista sedang mengobrol dengan seseorang melalui telepon. Tak ingin mengganggu obrolan mereka diapun berniat beranjak dari depan pintu menuju ke kamar Enggar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Belum sempat dia melangkah terdengar suara tawa Calista kemudian nama Yayu terdengar di sebut dengan jelas. Yayu semakin penasaran, dia memegang handle pintu dan membuka pintu itu dengan cepat. Matanya terbuka lebar melihat pemandangan di depannya. Calista yang terlihat santai berpatut pada cermin untuk memasang silikon perut ibu hamil. Sesaat dia menoleh kepada Yayu dan menyeringai ringan melihat ekspresi kaget Yayu, bahkan sepertinya Calista sama sekali tidak takut jika Yayu mengetahui bahwa dirinya tidak benar-benar hamil. Selesai mengikat erat tali silicon di belakang punggungnya diapun segera mengenakan kembali pakaiannya. Dia tersenyum melihat tampilan dirinya di cermin, lalu meraih ponselnya dan mematikan sambungan telepon tadi, menoleh pada Yayu dengan tatapan bertanya. Yayu masih terpekur dengan pikirannya, mengamati Calista yang dengan santai berjalan ke arahnya dan memelototi dirinya. "He, udah kan bengongnya?" sapanya. "Kalian udah lama pulang? Enggar mana? Kamu bikin sarapan ya, biar aku yang bantu Enggar mandi!" tuturnya seraya berlalu dari hadapan Yayu yang masih termangu di tempat. Calista berhenti sejenak, ketika suara Yayu memanggilnya lalu mengamati lengannya yang kini di cekal Yayu. "Tunggu! Jadi selama ini benar, kamu tidak hamil?" Tangan Yayu menggoyangkan lengan Calista ringan. Merasa tidak nyaman Calista menepis tangan Yayu, mendengus kesal kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Yayu yang masih menunggu jawabannya. Kembali Yayu menyuarakan pertanyaannya. "Apa kamu tidak takut aku akan memberitahu ETO tentang kebohonganmu?" Calista menoleh pada Yayu dengan tatapan tajam. "Huh, takut? Untuk apa? Karena tidak ada orang yang tau selain kamu dan aku yakin Enggar gak akan mudah percaya padamu." Kini giliran Calista menarik lengan Yayu dan membawanya masuk ke dalam kamar kemudian menguncinya. "Apa kamu tidak takut jika aku memberitahu ETO bahwa kamu tidak hamil dan kamu sudah berbohong padanya?" tanya Yayu kembali . Seulas senyum terbit dari sebelah sisi bibir Calista. Menurutnya pertanyaan Yayu sangat menggelikan. "Hei nona, jangan ikut campur! Ini bukan urusan mu." Bentaknya tajam. "Jika kau cukup pintar, sebaiknya kau tutup mulutmu rapat-rapat sebelum rahasia mu aku bongkar." Calista ikut mengancam Yayu. Yayu menyatukan alisnya, merasa bingung dengan pernyataan Calista. Sementara Calista meneruskan ucapannya dengan santai. "Apa kamu lupa dengan dirimu sendiri? Apa kamu tidak takut Enggar tau tujuanmu menikahinya, bukankah Enggar tidak tau dengan uang yang telah ibunya berikan padamu. Apakah kamu yakin, dia tidak tau kalau dia yang menabrak ibumu?" Pertanyaan Calista membuat Yayu terperangah. Bagaimana Calista tau tentang kejadian yang menimpa ibunya lalu mengenai uang yang mertuanya berikan padanya? "Jangan sok polos dan berpura-pura menjadi istri yang baik buat Enggar, itu sangat menjijikkan," hardik Calista dengan senyum sinis. "Lakukan saja misimu dan aku akan melakukan misiku, bermainlah cantik dan jangan ikut campur urusanku kalau kau juga ingin selamat, ingat kita berada dalam satu kapal dengan tujuan yang sama," lanjutnya lirih penuh penekanan, mensejajarkan tubuhnya dengan Yayu lalu berbisik lembut. "Mau tau satu rahasia lagi? Enggar mengalami kecelakaan karena aku yang menyuruh seseorang untuk membuat rem pada motornya blong," ucapnya lirih. "Apa?" pekik Yayu kaget. "Ya, kau tak salah dengar, akulah yang membuat rem motor Enggar blong hingga dia menabrak ibumu dan kini dirinya harus duduk manis di kursi rodanya." "Bagaimana mungkin?" Yayu masih tidak percaya, "bukankah kamu sangat mencintainya? Lalu kenapa kamu melakukan semua itu?" Huh. Calista tertawa sinis. "Cinta? Cinta ku sudah mati 5 tahun yang lalu," terangnya kemudian. Yayu semakin tidak percaya dengan berita yang baru dia dengar. Dia pikir dulunya Calista sangat mencintai Enggar, nyatanya tidak. Dan kecelakaan itu adalah ulah dari Calista yang sengaja membuat rem motor Enggar blong hingga akhirnya menabrak ibunya. Pupus sudah rencana Yayu untuk menjadikan Calista sebagai umpan sekaligus alat pembalasan dendamnya, ternyata Calista lebih berbahaya dari yang dia kira, dia tidak boleh bersekutu denganya, atau bermain-main dengan nya. Dan ternyata selama ini Yayu menyimpan dendam pada orang yang salah hingga berusaha menghancurkannya, walaupun belum sempat terjadi namun, tetap saja dia pernah berniat untuk menghancurkan Enggar. Seorang yang sebenarnya juga merupakan korban Calista. Ada sedikit rasa kasihan dihatinya karena Enggar pernah mencintai Calista dengan tulus. "Sudahlah jangan pura-pura kaget, aku tau kau juga menyimpan dendam pada Enggar karena dia telah menyebabkan ibumu meninggal." Yayu termenung, sekali lagi pernyataan Calista membuat Yayu kehabisan kata. Sejak kapan Calista tau bahwa dirinya menyimpan dendam pada Enggar. Padahal selama ini dia tidak menunjukkan sikap apapun di depan Calista. Ah ... kini Yayu mulai menanyakan dendam di hatinya itu. "Itu tidak mungkin, lalu kenapa kau masih ingin kembali mendapatkan Enggar?" "Seperti kataku tadi, kita tengah berlayar pada kapal yang sama jadi ...," Calista menghentikan ucapannya, " bukankah kerajaan Enggar yang jadi incaran kita, so, mari berkompetisi dengan adil. Yah, walaupun aku tau aku yang bakalan menang dan mendapatkan kembali Enggar dan cintanya. Kau tau sendiri kan Enggar masih mempercayaiku." Lanjutnya menantang. "Tidak. Kita tidak sedang berada dalam kapal yang sama. Aku tidak pernah sama denganmu dan tidak akan pernah." Yayu membantah dengan sengit meski hatinya masih bermonolog dan bertanya tentang perasaannya kini. "Oh ya? Baiklah kalo begitu, asalkan jangan kau membuang ranjau padaku maka, aku juga akan tetap membiarkanmu hidup untuk beberapa waktu, sebelum Enggar kembali padaku dan mencampakkanmu." Ucapnya kini lantang dengan penuh penekanan. Calista berlalu, membuka kunci kamar dan mendapati Enggar telah duduk di atas kursi roda di depan pintu kamarnya. Memandang Calista dengan raut wajah heran. Calista berhambur padanya." Sayang ... kamu udah rapi, Udah mandi ya? Kamu udah lama berada disini?" Calista memberondong Enggar dengan bermacam pertanyaan. Enggar tidak membalas hanya menyipitkan matanya. "Kana mana? Apa dia ada disini?" "Tu," Jawab Calista menunjuk pada Yayu yang kini berjalan keluar dari kamar. Enggar berdecak, menahan kelegaan hatinya karena Yayu baik-baik saja. Enggar merasa sedikit khawatir dengan keberadaan Yayu disana."Ngapain sih di kamar pakek kunci pintu segala, udah bikin sarapan, aku lapar, sejam lagi kita berangkat!" Omelnya panjang lebar. Yayu mengangguk mengerti dan segera berlari menuju dapur. Calista merasa lega karena Enggar tak sampai mendengar obrolan mereka. "Sayanģ ... nanti aku sekalian ikut ya, aku mau periksa kandunganku." Pinta Calista dengan merajuk. "Mmm ...," jawab Enggar dengan malas, mengayuh kursi rodanya menuju ruang tamu. Menemani Adi yang kini menghidupkan TV. Meresapi kata-kata yang barusan dia dengar. "Ada apa Gar?" tanya Adi, sedangkan Enggar masih larut dalam lamunannya. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN