DENDAM 32

1187 Kata
Enggar POV ~ Semuanya terlihat perfect dan berjalan sesuai dengan yang aku inginkan. Kana, gadis penggoda itu telah menandatangani surat kontrak yang aku berikan padanya. Tanpa pikir panjang dia menyetujui semua persyaratan yang tertera di sana. Awalnya aku merasa khawatir, jika dia tidak mau menandatangani surat perjanjian itu. Dan ternyata di luar dugaan, dia dengan mudah menyetujui syarat yang aku ajukan, namun dia meminta satu hadiah dariku. Aku sempat berpikir, ternyata tebakanku dulu memang benar, kalo dia menikahiku hanya demi kekayaan dan uang ku. Tapi, sepertinya tebakanku itu salah, dia tidak meminta harta atau benda. Siapa sangka hadiah yang dia inginkan membuatku semakin penasaran dan menginginkan dirinya, sial. Aku tidak mungkin akan semudah itu untuk jatuh cinta dan menyukai seorang wanita apalagi hatiku masih belum aku buka. Bukan, ini bukan perasaan cinta. Ini hanya sebuah hasrat laki-laki pada w*************a, ya hasrat setiap lelaki bila tergoda. Suara hatiku menyangkal. Ah ... masa bodoh, aku bener-bener gak tau apa yang terjadi pada diriku. Meski begitu aku juga tidak bisa mengelak dari pesonanya. Dia begitu lembut dan memperlakukanku dengan penuh perhatian, sikap yang aku kira tak bisa aku dapatkan selain dari Mama. Dia membuatku merasa sangat nyaman, aku mulai memiliki tujuan untuk segera sembuh dan bisa berjalan. Dia menjaga dan merawatku tanpa banyak protes. Mata beloknya selalu bisa membuatku terpana dan senyum manisnya itu mampu membuatku terlena sejak pertama kali aku melihat, entahlah senyuman itu membuatku terasa begitu dekat dengan nya dan mengingat kembali kehadirannya. Seorang wanita baik hati yang membuatku jatuh hati. Ah ... apa wanita itu masih mungkin aku temui? Tanyaku dalam hati. Tidak, dia bukan putri duyung itu. Mereka sama sekali berbeda, aku tak boleh lagi terbawa perasaan dan jatuh ke lubang yang sama. Semuanya sudah cukup bagiku. Lubang yang membawaku pada rasa sakit dan penghianatan karena cinta yang salah, cinta ku pada wanita bernama Calista, rubah licik dengan topeng wanita cantik. Ataukah topeng yang Kana pakai begitu sempurna, hingga aku tidak melihat adanya dusta di setiap sikapnya. Meski aku selalu memaki dan memarahinya bahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Hingga dia harus terkena jahitan di dahinya. Tapi, aku benar-benar yakin dia telah mendapatkan uang dari Mama untuk mau menjaga sekaligus menikahiku dan aku masih yakin dia hanya menginginkan hartaku saja. Disisi lain aku merasa dia tidak bersalah dan dia berbeda dari Calista. Ada ketulusan dalam dirinya yang bisa aku rasakan, meski aku belum mengenalnya lama, bahkan aku sama sekali tidak tau dengan kehidupannya. Hanya berapa hal yang aku tau dari biodata dan informasi yang aku terima dari San, dia anak yatim piatu, Ayahnya meninggal sejak dia SMP dan ibunya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia lulusan terbaik tahun ini dari UMP sebagai seorang dokter Fisioterapi. Awalnya aku bahkan tak percaya dia adalah seorang dokter. Pantas saja dia tahu kebutuhanku dengan baik dan memberikan perawatan yang terbaik buatku. Satu hal lagi yang aku tau, dia sangat takut dengan ulat dia juga pandai memasak, tapi aku tak tau apa dia juga pandai membuat kue atau cake, dia juga selalu menyatukan tangannya dan meremasnya ketika dia nerves untuk menahan rasa gugupnya, suatu kebiasaan yang juga aku lakukan, yang terkadang membuatku merasa ingin menggenggam tangan itu, lalu memberinya rasa aman. In your dream. Maki suara hatiku, dengan sarkas. Aku hanya tersenyum mendengar makianku untuk diriku sendiri, sebuah makian yang memang pantas aku terima, mengingat perlakuanku selama ini padanya. Kalo ditanya apakah aku membencinya? Seharusnya iya, tapi tidak. Perlakuannya selalu membuatku merasa nyaman dengan kehadiran dan keberadaannya. Dan hal itu yang selalu membuatku takut, aku takut jatuh cinta pada pesonanya itu hingga akhirnya aku memilih menolak. Seharusnya aku segera membuka topengnya namun tidak, sepertinya aku tidak rela untuk segera kehilangan dia. Kenapa? Jawabannya aku sendiri juga tidak tau, atau aku tau jawaban itu dan aku kembali menolaknya. Padahal aku lah orang yang sudah mengajukan kontrak pernikahan enam bulan itu dan dalam dua bulan lagi kontrak itu akan berakhir. Aku seharusnya merasa senang, tapi hatiku malah merasa kehilangan. Aku harus memberikan waktu pada diriku untuk memahami isi hatiku, agar aku tak kecewa nantinya. Ya, aku akan memberikan dia liburan untuk menata perasaan. Meski aku yakin aku tak mencintainya, tapi Adi, San dan juga Saino yakin jika aku sudah terjerat cinta nya. Aku sangat frustasi bila harus terus memikirkan dan menolak kehadiran rasa itu secara bersamaan. Aku tidak boleh kehilangan cinta itu jika memang benar. Seperti yang dikatakan Kana untuk Adi di rooftop waktu itu, bahwa cinta yang tulus itu tidak akan selalu bisa kita dapat dan jika kita sudah melukai ketulusan itu maka akan sulit bagi kita untuk mendapatkan kepercayaan itu kembali. Seperti halnya yang terjadi padaku. Dulunya aku sangat tulus mencintai Calista, menuruti semua keinginannya bahkan tidak pernah ada niatan untuk menduakannya. Namun, setelah penghianatan itu aku akhirnya tidak bisa lagi mempercayai dan mulai mencari tau identitas serta latar belakang hidupnya, hal yang selama ini tak pernah aku lakukan karena aku terlalu percaya, dan dibutakan oleh cinta palsunya. Apalagi dengan kembalinya Calista disini membuatku semakin paham dengan perasaanku pada nya, namun rupanya dia belum mau melepaskanku dan ingin terus melanjutkan aksinya. Aku berusaha melupakan dan memaafkan Calista, karena dia pernah menjadi orang yang sangat berharga dan aku cinta, meski dia hanya pura-pura. Tapi, kini dia kembali setelah rencana busuknya padaku gagal. Aku sempat shock dengan penyelidikan yang aku peroleh dari San, bahwa Calista mendekatiku dan pura-pura mencintaiku hanya demi dendamnya dan harta ku. Aku tidak berharap Calista akan berbuat hal serupa pada Kana, karena Kana tidak ada sangkut pautnya dengan dendamnya padaku. Kana hanya orang baru yang tiba-tiba masuk dan menjadi istriku. Istri? Betul aku lupa jika kini aku sudah mempunyai istri. Istri yang juga teman dari sepupuku Chaca. Dia sangat menyayangi Chaca hingga dia rela membentak dan bersikap ketus pada Adi demi membela temannya. Aku senang ternyata sepupuku memiliki teman yang begitu peduli padanya. Aku mengira dia juga akan bersikap ketus padaku, namun ternyata tidak. Sikapnya tetap lembut padaku bahkan dia kini lebih talk aktif dan banyak cerita mengenai aktifitasnya di tempat kursus mengemudi dan aku yang kini lebih banyak diam begitu menikmati setiap cerita yang dia bicarakan. Dia terlihat senang dan lebih rileks, apalagi beberapa hari pasca operasi kedua ku dan Calista yang tidak pernah datang lagi. Dan setelah gips yang membalut kakiku di lepas aku meminta pulang karena aku sudah sangat bosan berada di rumah sakit, aku ingin suasana baru yang lebih nyaman dan natural. Akhirnya aku pindah ke rumah simbok di kampung. Rumah yang dulu sering aku kunjungi bersama simbok, rumah sederhana dua kamar dan berbilik bambu. Aku tidak mengira Kana begitu senang dan bahagia tinggal di tempat barunya, dia seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Hari pertama kami sampai, aku tidak menyangka Calista juga menyusul kesana, padahal aku berniat untuk memberi kabar padanya satu bulan lagi. Entah siapa yang sudah membari tau kan informasi ini padanya. Dan lagi-lagi rencanaku harus gagal karena kedatangan Calista. Meskipun aku tau Calista sangat tidak suka dengan rumah ini tapi aku sudah bertekat untuk memberi waktu pada perasaan kami masing-masing dan akan mengirim Kana untuk liburan, apalagi setelah pagi ini aku mendengar sedikit pembicaraan mereka di kamar sangat serius dan bernada mengancam. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN