Yayu POV~
Sudah hampir tiga bulan aku menikah dengan ETO, mengurusi dan menjaganya layaknya Baby sitter. Semua keperluannya mulai dari mandi, makan, hingga berak aku yang mengurusi.
Sejauh ini aku terus mengamati dan mencari kesempatan untuk membalas kan dendam ku, aku masih mengumpulkan kepercayaan darinya, hingga dia tak kan sanggup lagi hidup tanpaku, dan akan ku hempaskan dirinya. Semoga Yayu sendiri tidak terluka dengan permainannya.
Aku sempat kaget ketika dia menyodorkan sebuah kontrak pernikahan padaku yang tentunya isinya sangat aneh bagiku, dan sangat menguntungkan dirinya, namun aku tak akan menyerah dan kalah begitu saja. Aku menuruti syarat yang dia ajukan dan akupun meminta hadiah dari dia. Hadiah yang selama ini hanya mampu aku pikir dan bayangkan dalam mimpiku. Aku tidak akan melepaskan kesempatan terakhirku jika aku ingin terus melanjutkan misiku.
Setiap hari Calista selalu datang menjenguk ETO, membawakan makanan, minuman, sup, atau cake-cake cantik buatannya. Ternyata selain cantik, Calista juga pandai memasak, namun sayang, ETO sama sekali tidak menyentuh makanan Calista dan selalu menyuruhku untuk memasak buatnya.
Aku merasa kasihan pada usaha Calista dan keadaannya, dia sedang hamil namun ETO malah harus dirawat di rumah sakit dan tidak bisa menemaninya.
Sampai pernah kening ku harus di jahit, karena Calista memaksa ETO untuk mencicipi coklat cake buatannya namun ETO menolak dan Calista marah kemudian memaki ETO.
Spontan aku mendekati mereka dan pada saat yang bersamaan ETO melempar bungkus coklat cake dengan tatakan kaca ke arahku, siapa sangka dalam bungkus cake itu terdapat pisau lipat. Pisau itu terbuka lalu menyayat dahiku dan harus mendapat jahitan disana, aku mengambil pisau lipat itu dan menyembunyikannnya, dan berkata jika aku terkena pecahan kaca tatakan kue.
Aku sempat sedih ketika Chaca memutuskan untuk pindah ke Singapura, tentu saja aku akan merasa kehilanga dirinya, apalagi dia adalah sahabat dekatku selama di kampus. Dan siapa sangka kini kami memiliki ikatan saudara karena dia adalah sepupu ETO.
Aku sedih melihat Chaca patah hati, apalagi cintanya yang tulus itu disepekan oleh dr. Adi. Dokter muda yang sudah dia idolakan sejak magang.
Aku mulai lebih ketus pada dr. Adi dan Saino, meski aku masih memperlakukan ETO dengan baik, namun aku belum melupakan tujuanku. Aku sempat merasakan perasaan sakit ketika melihat ETO dan Calista bersentuhan secara fisik, apalagi berciuman. Aku harus membiasakan pemandangan itu karena mereka memang sepasang kekasih, bahkan Calista telah mengandung anak ETO dan aku tidak boleh lupa. Satu lagi dalam pandangan Calista aku adalah perebut laki-laki yang dia cinta.
Dua minggu pasca operasi ETO bersikap sangat manis dan lebih penurut padaku, melakukan apapun yang aku perintah tanpa banyak membantah. Akupun tak tau kenapa, namun Calista sudah tidak datang lagi ke rumah sakit.
Satu bulan sudah gips yang membalut kaki ETO dilepaskan dan kini kamipun sudah berpindah tempat, dari sebuah ruangan Elite lantai 20 Rumah Sakit Fajar Medical ke sebuah rumah sederhana dengan dua kamar tidur sebuah dapur dan satu kamar mandi di bagian paling belakang rumah, rumah dengan halaman yang tidak begitu luas dan berbilik bambu.
Rumah ini mengingatkanku pada rumahku di kampung. Rumah sederhana dan penuh kehangatan keluarga. Aku langsung merasa nyaman dan jatuh cinta dengan tempat baru kami. Halaman kecil di belakang rumah terlihat bekas digunakan berkebun, aku berencana akan meneruskan perkebunan kecil itu dan merawat tanaman disana.
Seperti telah melupakan realita dan hidup dalam dunia mimpi beberapa hari setelah ETO operasi, aku yang lebih bawel dan bercerita dengan leluasa pada ETO tentang kesibukan baruku kursus mengemudi. Di lain sisi aku juga mulai terbiasa merawat ETO yang penurut, hari kepindahan kami ke rumah baru, aku kembali tersadar dan terjerembab ke alam nyata.
Calista kembali datang dan tinggal bersama kami. ETO menerima kehadiran Calista dengan terbuka dan aku mulai merasakan nyeri di d**a.
Namun ada satu hal yang membuatku bahagia, yaitu Mbak Tuti dan Saino kini resmi menjadi sepasang kekasih. Aku sangat bahagia mendengar cerita Mbak Tuti dan tatapan sayangnya pada Saino meski agak malu.
Aku juga senang Adi dan ETO bisa menerima Mbak Tuti dan tidak menghakiminya. Kasihan juga Adi karena aku melihat penyesalannya malam itu dan dia terlambat menyadari kesalahannya. Biarkan dia merasakan rasa sakit itu agar dia tau caranya menghargai.
***
Pagi ini ETO memintaku untuk menemaninya jalan pagi, dia memintaku untuk menepikan kursi rodanya dan menikmati pemandangan yang begitu asri. Aku sempat kaget ketika ETO meminta maaf padaku karena sikapnya yang berbahaya dan dengan seenaknya menarikku ke dalam pangkuannya lalu mengatakan bahwa, "kau memang telah membuatku gila!"
Aku sempat terlena namun segera tersadar dan mengingatkan diriku sendiri. Bahwa aku masih memiliki misi yang belum terlaksana dan ETO sudah memiliki cintanya. Aku haru ingat bahwa kontrak kami tinggal 2 bulan lagi, dan aku akan bebas dari pernikahan ini. Dalam 2 bulan aku harus bisa membalas sakit hatiku.
Satu hal lagi yang membuatku terkesima setelah pagi itu kami kembali ke rumah selepas jalan pagi. Aku berniat mencari Calista dan mengajarinya merawat ETO. Aku tidak menemukan Calista di kamar mandi seperti yang Adi bilang.
Aku mengambil handuk di atas jemuran kemudian mengeringkan rambut dan kakiku yang sempat diguyur Adi. Merasa sudah kering aku berjalan memasuki ruang tamu menuju kamar Calista. Aku menghentikan niat ku mengetuk pintu karena mendengar Calista sedang mengobrol dengan seseorang melalui telepon. Tak ingin mengganggu obrolan mereka aku pun berniat beranjak dari depan pintu menuju ke kamar ETO untuk mengambil handuk dan baju gantinya.
Belum sempat aku menjauh dari depan pintu, aku terdengar suara tawa Calista dan nama ku dia sebut dengan jelas. Aku menjadi penasaran, memegang handle pintu dan membuka pintu itu dengan cepat. Mataku terbelalak melihat pemandangan di depan ku. Calista yang terlihat santai berdiri di depan cermin untuk memasang silikon perut ibu hamil.
Sesaat dia menoleh kepada ku dan menyeringai ringan melihat ekspresi konyol ku, bahkan sepertinya Calista sama sekali tidak takut jika aku mengetahui bahwa dirinya tidak benar-benar hamil. Selesai mengikat erat tali silicon itu diapun segera mengenakan kembali pakaiannya. Dia tersenyum melihat tampilan dirinya di cermin, lalu meraih ponselnya dan mematikan sambungan telepon tadi. Menoleh pada ku dengan tatapan bertanya. Aku masih diam terpaku dalam pikiranku, memandang kosong Calista yang dengan santai berjalan ke arah ku dengan mata memelotot.
"He, udah kan bengongnya?" tanya Calista padaku. "Kalian udah lama pulang? Enggar mana? Kamu bikin sarapan ya, biar aku yang bantu Enggar mandi!" ucapnya kemudian sembari berlalu dari hadapan ku yang masih bingung.
Aku tersadar dari lamunan, memanggil Calista dan bertanya penasaran. Calista berhenti sejenak, ketika suara ku memanggilnya lalu mengamati lengannya yang kini aku cekal. "Tunggu! Jadi selama ini benar, kamu tidak hamil?" tanya ku dengan megoyangkan lengan Calista ringan.
Calista merasa tidak suka dengan sikapku dan menepis cekalan tanganku, mendengus kesal kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan diriku penuh tanda tanya."Apa kamu tidak takut aku akan memberitahu ETO tentang kebohonganmu?" gertakku kemudian.
Calista menoleh pada ku dengan tatapan tajam, gertakan itu sama sekali tidak membuatnya takut, bahkan terlijat kilatan kebencian dimatanya. "Huh, takut? Untuk apa? Karena tidak ada orang yang tau." Kini giliran Calista menarik lengan ku dan menarik masuk ke dalam kamar kemudian menguncinya.
"Apa kamu tidak takut jika aku memberitahu ETO bahwa kamu tidak hamil dan kamu sudah berbohong padanya?" tanya ku lagi tanpa basa basi .
Seulas senyum terbit dari sebelah sisi bibir Calista, aku tak tau apa maksutnya. "Hei nona, jangan ikut campur! Ini bukan urusan mu." Bentaknya tajam. "Jika kau cukup pintar, sebaiknya kau tutup mulutmu rapat-rapat sebelum rahasia mu aku bongkar." Pungkas Calista mengancam.
Aku menyatukan alis, merasa bingung dengan pernyataan Calista. Sementara Calista meneruskan ucapannya dengan santai. "Apa kamu lupa dengan dirimu sendiri? Apa kamu tidak takut Enggar tau tujuanmu menikahinya, bukankah Enggar tidak tau dengan uang yang telah ibunya berikan padamu. Apakah kamu yakin, dia tidak tau kalau dia yang menabrak ibumu?"
Deg.
Pertanyaan Calista membuat ku terkaget. Bagaimana Calista tau tentang kejadian yang menimpa ibuku, peristiwa kematian ibu dan uang yang diberikan mama padaku.
Kemudian dia menghardik ku dengan keras dan penuh peringatan. "Jangan sok polos dan berpura-pura menjadi istri yang baik buat Enggar, itu sangat menjijikkan. Lakukan saja misimu dan aku akan melakukan misiku, bermainlah cantik dan jangan ikut campur urusanku kalau kau juga ingin selamat, ingat! kita berada dalam satu kapal dengan tujuan yang sama."
Calista berjalan mensejajarjan tubuhnya dengan ku lalu berbisik lembut. "Mau tau satu rahasia lagi? Enggar mengalami kecelakaan karena aku yang menyuruh seseorang untuk membuat rem pada motornya blong," ucapnya lirih, namun sempat membuatku termangu.
"Apa?" Aku memekik kaget.
Calista menjawab santai, " ya, kau tak salah dengar, akulah yang membuat rem motor Enggar blong hingga dia menabrak ibumu dan kini dirinya harus duduk manis di kursi rodanya."
"Bagaimana mungkin?" Aku masih tidak percaya dengan kata-katanya.
"Bukankah kamu sangat mencintainya? Lalu kenapa kamu melakukan semua itu?"
Huh. Calista tertawa sinis. "Cinta? Cinta ku sudah mati 5 tahun yang lalu," terangnya kemudian.
Aku tak bisa mencerna cerita Calista dengan cepat. Berita ini terlalu mengguncang. Aku pikir dulunya Calista sangat mencintai ETO, nyatanya tidak dan kecelakaan itu adalah ulah dari Calista yang sengaja membuat rem motor ETO blong hingga akhirnya menabrak ibu ku. Apa benar ETO tidak bersalah seperti kata mama dan seperti pengakuan Calista yang baru aku dengar.
Tidak, aku tidak boleh mempercayai pengakuan Calista yang asal-asalan. Aku harus menyelidiki peristiwa itu dengan baik. Aku tak boleh salah melangkah dan merusak misiku. Bahkan aku sudah yakin dengan yang terjadi di depan mataku, atau aku hanya mengkambing hitamkan orang yang tidak bersalah.
Aku kira Calista akan bisa membantuku untuk menyelesaikan misiku, nyatanya berita heboh yang baru aku terima lebih membuatku tergoncang hebat. Namun ada sedikit rasa kasihan dihatiku, karena ETO pernah mencintai Calista dengan tulus, sebelum dia dipaksa oleh mama menikah dengan ku.
"Sudahlah jangan pura-pura kaget, aku tau kau juga menyimpan dendam pada Enggar karena dia telah menyebabkan ibumu meninggal."
Aku tercenung, sekali lagi pernyataan Calista membuat ku kehabisan kata. Sejak kapan Calista tau bahwa ku menyimpan dendam pada ETO. Padahal selama ini aku sangat perhatian pada ETO dan tidak menunjukkan sikap apapun di depan Calista. Dendam? Aku mulai menanyakan dendam dan gejolak amarah dalam hatiku.
"Itu tidak mungkin, lalu kenapa kau masih ingin kembali mendapatkan Enggar?" jawabku ketus, aku seperti terbawa emosi mendengar ceritanya.
"Seperti kataku tadi, kita tengah berlayar pada kapal yang sama so ...," Calista menghentikan ucapannya, membuatku penasaran lalu kembali berkata, " bukankah kerajaan Enggar yang jadi incaran kita, so, mari berkompetisi dengan adil. Yah, walaupun aku tau aku yang bakalan menang dan mendapatkan kembali Enggar dan cintanya. Kau tau sendiri kan kalau Enggar sepertinya masih mempercayaiku," lanjutnya menantang, dia bersuara dengan penuh percaya diri.
"Tidak. Kita tidak sedang berada dalam kapal yang sama. Aku tidak pernah sama denganmu dan tidak akan pernah," aku membantah dengan keras ucapannya, meski hatiku bertanya-tanya tentang perasaan itu kini.
"Oh ya? Baiklah kalo begitu, asalkan jangan kau membuang ranjau padaku maka, aku juga akan tetap membiarkanmu hidup untuk beberapa waktu, sebelum Enggar kembali padaku," ucapnya kini semakin lantang dengan penuh penekanan.
Calista berlalu, membuka kunci kamar dan berhenti sejenak melihat ETO yang telah duduk di atas kursi roda di depan pintu kamarnya. Memandang Calista dengan raut wajah heran.
Calista berhambur padanya." Sayang kamu udah rapi? Udah mandi ya? Kamu udah lama berada disini?" Calista memberondong ETO dengan bermacam pertanyaan.
ETO tidak membalas hanya menyipitkan matanya. "Kana mana? Apa dia ada disini?" Pertanyaan ETO membuatku sedikit senang, karena dia mengingatku meski Calista telah kembali. Tidak, aku tak boleh kegirangan dengan sikap manisnya, dia pasti hanya khawatir pada Calista, meskipun dia belum tau jika wanita yang dia cinta itu adalah wanita yang berbahaya.
"Tu," jawab Calista menunjuk pada ku, aku kini berjalan keluar dari kamar.
Enggar berdecak, kemudian bersuara," ngapain sih di kamar pakek kunci pintu segala, udah bikin sarapan, aku lapar, sejam lagi kita berangkat!" Omelnya padaku panjang lebar.
Aku tak menjawab sepatah katapun, hanya mengangguk dan segera berlari menuju dapur. Menyiapkan sarapan untuk kami berempat dan membuat bekal makan siang kami, aku mulai mengerjakan pekerjaanku dan menyelesaikan nya dengan cepat.
Aku sangat bahagia karena hari ini aku bisa kembali kursus mengemudi. Aku bisa sejenak bersantai dan melupakan hal-hal dan berita tak terduga yang baru aku terima, aku harus benar-benar menyelidiki kematian ibu dan kaitannya dengan Calista dan ETO. Aku harus meminta bantuan seorang yang ahli di bidangnya, dan aku tau harus meminta bantuan pada siapa.
***
Bersambung ...