DENDAM 34

1620 Kata
Setelah selesai sarapan, dan bersiap-siap mereka berangkat menuju rumah sakit. Yayu menaruh bekal mereka kedalam bagasi, kemudian kembali kedalam rumah untuk menjemput Enggar. Tubuhnya mematung di depan pintu kamar, karena mendengar Enggar dan Calista beradu argumen. "Ita, kamu sebaiknya tunggu dirumah aja! Aku akan memanggil dokter spesialis kemari untuk memeriksamu, aku tak mau kamu kecapekan!" tegas Enggar. Calista tidak mau dan menolak, tentu saja itu akan membongkar kebohongannya. "Gak usah sayang ... aku bisa ikut dengan mu dan pergi kesana sendiri, lagian aku ingin melihat hasil USG terbaru dari buah hati kita," jawabnya memaksa. Enggar menahan amarah, menggenggam kuat peleng pada kursi rodanya. Kemudian dia berkata," baiklah, kali ini aku mengizinkanmu, namun tidak untuk pemeriksaan selanjutnya, aku akan menyuruh dokter membawa peralatan kehamilan lengkap kemari." Enggar membuka rem yang mengunci kursi rodanya kemudian memutarnya untuk keluar, pergerakannya terhenti karena melihat Yayu yang berdiri mematung di tengah pintu. Pandangan tajam Enggar membuat Yayu tersadar dari lamunannya, kemudian dengan sigap mengambil alih untuk mendorong kursi roda Enggar. Calista kembali ke kamarnya, sebelum akhirnya keluar membawa tas tangan. Yayu kembali ke dalam rumah untuk memeriksa kompor di dapur, semua sakelar, dan cop-copan listrik apakah sudah dimatikan, kemudian memeriksa jendela dan pintu apakah benar-benar sudah terkunci. Dia sempat merasa aneh karena kamar Calista di kunci, namun diam, tidak mau mencari masalah dengan nya. Dia segera menutup pintu utama dan menguncinya, lalu masuk ke dalam kursi bagian depan mobil, duduk di samping Adi. Dia tidak ingin menjadi penonton melo drama di bangku belakang. Enggar sempat memelototinya namun tidak dia hiraukan. Selama perjalanan Calista sangat antusias bercerita tentang keadaannya dan perkembangan bayinya, namun Enggar tak peduli malah dengan sengaja bertanya kepada Yayu tentang kursusnya. Yayu merasa tidak enak pada Calista, namun dia tidak terintimidasi, karena dia tau Calista tidak sebaik yang dia pikir dan belum tau alasan dari perbuatannya. Yayu hanya menjawab pertanyaan Enggar sekenanya. Selebihnya hanya diam dan ngobrol ringan dengan Adi. *** 2 jam kemudian mereka sampai di rumah sakit. Perjalanan pagi ini cukup lancar. Mobil mereka di sambut oleh Saino di pintu utama rumah sakit.  Adi memarkirkan mobilnya. Yayu turun dan membuka bagasi untuk mengambil kursi roda Enggar. Calista turun terlebih dahulu tanpa mempedulikan Enggar dan berjalan memasuki rumah sakit. Enggar hanya diam dì dalam mobil, melihat sikap Calista, dan tak mau ambil pusing. Saino mendekati Yayu, mengangkat satu tangan dan menyapanya. "Selamat pagi?" sapanya semringah. "Selamat pagi Saino," jawab Yayu dengan menganggukkan kepalanya ringan. "Tolong! Bantu aku membawa bekal makan siang itu!" Tunjuk Yayu pada tas cantik bermotif bunga matahari yang dia gunakan untuk membungkus bekal makan siang mereka. Saino mengambil tas itu dan menjinjingnya, kemudian berjalan di samping Yayu yang mendorong kursi roda Enggar dan meneruskan obrolan mereka. "Gimana tinggal dirumah baru, krasan?" tanya Saino penasaran. Yayu sekali lagi mengangguk, lalu menyunggingkan senyum. "Iya, rumahnya nyaman banget, persis kayak di kampung." Yayu melajukan kursi roda ke samping mobil dengan cepat, dia sudah melihat Enggar bermuka masam. "Makasih ya No, udah jagain Mbak Tuti, dia seneng banget katanya kamu hari ini mau ngajak dia dinner ya?" selidik Yayu, hatinya berseri mendengar Mbak Tuti nya mendapat kekasih sebaik dr. Saino. Apalagi semalam Tuti mengabarkan kalau dia diantar pulang dengan selamat dan hari ini dia akan diajak Saino dinner di luar. Saino tersipu, mengulum seulas senyum lalu mengangguk membenarkan pertanyaan Yayu. "Iya, hust ... masih rahasia kita ya!" paparnya lirih, takut Enggar dan Adi mendengar, karena kini mereka sudah dekat dengan Adi dan Enggar. Yayu menganggukkan kepalanya lalu mengunci kursi roda Enggar tepat di samping pintu SUV yang sudah di buka oleh Adi. Dia dengan sigap membantu Enggar duduk ke atas kursi rodanya.  Enggar menatap Saino dengan tajam, sedang Adi buru-buru masuk ke dalam mobil setelah menyapa Saino dan berpamitan pada Yayu. Dia juga harus segera memulai pekerjaannya. Adi membawa mobil SUV itu ke basement bawah tanah. Saino tidak menyapa Enggar dan tetap tak menggubris tatapan Enggar yang semakin tajam, dia sengaja melakukannya. Ia sangat suka melihat ekspresi cemburu Enggar namun masih tetap tak mau mengakui rasa hatinya itu. Setiba di lobby rumah sakit Yayu menghentikan kursi roda Enggar di depan lift. Menyerahkan gagang kursi roda pada Saino, dia harus segera pergi ke tempat kursus sekarang, jika tak ingin terlambat. "Terima kasih Saino, aku tinggal dulu, nanti aku akan jemput ETO jam 3.00 ya!" ucap Yayu. "Oh ya jangan lupa dia biasa makan siang jam 1.20 menit, makasih ya." Dengan menangkupkan kedua tangannya dia kembali berterima kasih pada Saino. Yayu Mulai melangkahkan kakinya 3 langkah, namun harus dia hentikan. Enggar merasa kesal karena Yayu pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya. Diapun memanggil Yayu. "Tunggu!" suara Enggar terdengar dalam, raut mukanya terlihat masam. "Kemari!" perintahnya sekali lagi. Yayu merutuk dalam hati, dia lupa untuk berpamitan pada Enggar. Mengelus lembut keningnya, yang sebentar lagi pasti akan memerah terkena sentilan Enggar. Tanpa menunggu aba-aba ke dua kalinya Yayu mendekat dan berjongkok di depan Enggar. Memejamkan matanya dan mengerutkan keningnya, sembari berdo'a dalam hati semoga dahinya tidak sampai lecet.  Dia ingat beberapa waktu lalu, ketika Enggar memergoki dirinya, sedang berbincang-bincang ringan dan membagi tips pada seorang pasien laki-laki yang bertanya tentang perawatan tangannya karena kesleo,  meski mereka duduk berjauhan di ruang tunggu Fisiotheraphy, namun akibatnya tetap membuat Yayu ngeri, bibirnya sampai harus berdarah karena Enggar menciumnya dengan paksa lalu menggigit bibir bawahnya hingga lecet dan terluka. Yayu tidak tau jika Enggar sedang emosi namun tidak mau mengakui dan langsung melampiaskan dengan cara kasar. Enggar tidak suka melihat sikap Yayu yang ketakutan padanya, namun dia terlampau emosi, pasalnya Yayu melupakan poin ke-3 di surat kontrak pernikahan, padahal dirinya sudah memperingatkan berkali-kali. "Aku tinggal bentar ya kalo gitu, aku di panggil sama suster disana," sela Saino di tengah suasana penuh ketegangan yang terjadi di antara keduanya. "Kalian sebaiknya ngobrol dulu, aku bakal balik lagi dalam 10 menit," terang Saino yang sengaja memberi ruang pada mereka untuk berdua, dia tau sepupunya yang berkepala batu itu cemburu. Enggar hanya mengangkat tangannya lalu mengibaskan telapak tangannya, menyuruh Saino pergi, pandangannya tidak beralih dari tubuh mungil di depannya yang dia tau sudah mulai nerves, itu membuatnya semakin marah, dia ingin melihat ekspresi bahagia Yayu dan senyum semringahnya seperti yang dia tunjukkan pada Saino atau Adi. Namun sikap Enggar malah selalu membuat Yayu ketakutan.  Sementara Yayu tetap bergeming tidak berani membuka matanya. Dia mulai ketakutan dan menyatukan jemari kedua tangannya lalu meremasnya ringan. Dia membuka sedikit kelopak mata beloknya untuk melihat Enggar yang tidak melakukan apapun padahal dia sudah berjongkok cukup lama, secepat kilat dia kembali menutup matanya karena Enggar kembali bersuara dengan tatapan yang masih penuh amarah. "Apa ngintip-ngintip? Buka matamu kalo mau tau!" tukas Enggar dengan ketus, padahal dia sudah mencari nada yang terlembut, namun sekali lagi yang keluar adalah nada kerasnya. Yayu menggeleng tidak mau. Dan mengeratkan pejaman matanya. Enggar mengeram melihat wajah Yayu pias. "Aku bilang buka matamu! Jangan membuatku mengulangi perintahku sekali lagi jika kau masih mau sehat!" bentak Enggar lepas kontrol. Dia mengumpat dalam hati, lagi-lagi kehilangan kontrolnya di depan Yayu yang kini semakin mendelik takut. Dengan sedikit memaksakan dirinya Yayu membuka mata kemudian menatap Enggar dengan memelas. "Kana! Kamu tau kenapa aku marah?" tanya Enggar, kini nada suaranya lebih lunak namun ekspresinya masih sama. Yayu mengangguk. "Maaf, aku lupa." jawab Yayu lirih. "Aku janji gak akan mengulanginya lagi," lanjutnya berjanji. Ck. Enggar berdecak. "Mendekat kesini!" perintah Enggar lagi. Tanpa abc Yayu beringsut mendekat, tubuhnya kaku ketika tangan Enggar yang besar itu meraihnya lalu sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Enggar lalu membawa Yayu ke dalam pelukannya yang hangat. Kemudian berbisik," ingat! Jangan senang dulu, aku akan menghukummu ketika kita sudah sampai dirumah, biar kamu tidak lupa terus, sekali lagi kamu lupa maka saat itu juga aku akan memakanmu," ucap Enggar. Yayu kaget mendengar omongan Enggar dan berusaha melepaskan dirinya dan menjauh namun Enggar masih memeluk dengan kuat dan menahannya lebih lama. "Diam dulu, atau kamu mau aku tambahkan hukumanmu?" ancam Enggar kemudian. Kini Yayu hanya bisa pasrah, mengerucutkan bibirnya, dan membiarkan Enggar memeluknya, sebelum akhirnya dia lepas karena kedatangan Saino. Saino berdehem mendekati ke-2 manusia yang sedang asik berpelukan di depannya itu. Dia jadi sedikit iri dan teringat Tuti kekasih nya, dia membayangkan bisa memeluk Tuti dengan bebas seperti mereka. Dia tersenyum dengan pemikirannya sendiri. "Ya ampun ... udahan lah, masih pagi juga, sudah berpeluk-pelukan di tempat umum," sindir Saino dengan nada menggoda. Padahal dia merasakan ikut bahagia dengan sikap sepupunya yang mulai lebih leluasa menunjukkan rasa cemburu nya.  Namun bagi Enggar sikapnya itu hanya sebuah cara yang dia gunakan untuk membuktikan bahwa Yayu dan Calista adalah jenis makluk yang sama. Padahal dia tidak tau, semakin dia membuktikan kesamaan mereka, Enggar semakin menemukan perbedaan dari keduanya dan dia semakin jatuh cinta pada Yayu. Enggar menoleh pada Saino, merenggangkan pelukan tangannya dan mencebikkan bibirnya pada Saino. "Sirik lo, makanya cepetan nikah!" sindir Enggar. Sedang Saino memutar bola matanya kesal. Yayu yang mencoba menarik tubuhnya dari pelukan Enggar lagi-lagi harus pasrah, karena Enggar kembali memeluk Yayu dengan erat. "Diam! 2 menit lagi, atau kau tak usah pergi!" bentak Enggar.  Yayu mengumpat dalam hati. Di biarkannya Enggar memeluknya sekali lagi. Enggar berbisik lembut di telinga Yayu." Jangan sekali-kali tersenyum di depan orang lain atau hukumanmu aku perberat!" ancam Enggar. Yayu mengernyitkan dahinya tidak paham. "Mengerti? Jawab! jangan hanya mengangguk saja." Enggar Mengelus rambut Yayu yang sudah mulai memanjang. "Iya," jawab Yayu tegas, dia tak mau kembali mendapat amukan. Enggar mengurai pelukannya lalu kembali mendaratkan satu kecupan di kening Yayu, kemudian satu kecupan lembut di bibir. "Awas ... kalau kau mengelapnya aku akan memberimu ciuman lagi," ancamnya. Yayu yang sudah meletakkan punggung tangannya di atas bibir, dengan cepat menurunkan kembali. "Cepat pulang! Aku gak mau nunggu lama disini, bosan!" ucap Enggar merengek. "Iya," jawab Yayu cepat. Merasa tak ingin berdebat, dia segera menyetujui permintaan aneh Enggar. Yayu melambaikan tangan pada Saino dan Enggar yang kini sudah memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai yang mereka tuju. Sebuah senyuman miring tercetak dengan jelas pada sudut bibir seseorang yang sejak tadi mengamati interaksi mereka, bahkan ekspresinya selalu berubah ketika Enggar dan Yayu berpelukan dan berciuman. Tangannya dia kepalkan, meremas tas jinjingnya dan beberapa plastik obat-obatan. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN