Yayu dengan cepat menyelesaikan kursus mengemudinya, dan segera kembali ke rumah sakit. Dua pertemuan lagi Yayu bisa mengikuti ujian tes dan ujian praktek untuk mendapat SIM. Dia sangat senang dan tidak sabar menunggu, akhirnya dia bisa menyetir mobil dan sebentar lagi akan memiliki SIM.
Setelah sampai di lantai 20 rumah sakit, Yayu merasa sedikit heran. Pasalnya dia tidak menemukan Enggar di ruangan itu.
Dia mendial nomer Enggar dan mencoba menghubungi nya. Setelah tiga kali dia menelpon baru di angkat, namun suara empuk Saino yang terdengar mengudara. Tentu saja itu membuat Yayu sedikit khawatir dan bertanya-tanya.
Tanpa dia sadari hatinya yang dahulu memanas karena dendam itu sekarang sedikit melunak, lalu meleleh, dan menyemaikan benih baru yang mulai tumbuh subur.
Namun, karena egonya yang masih belum bisa memberi maaf dan menerima kematian ibunya, dia selalu menyangkal rasa yang tumbuh di hatinya.
"Hallo?"
"Hallo Yayu? Ini Saino, Kamu udah selesai kursusnya?"
"Iya, aku sekarang lagi di lantai 20, kalian dimana?"
"Datang segera ke UGD ya! Enggar jatuh."
"Apa?"
"Tenang, dia baik-baik saja."
"Baiklah. Makasih No, aku kesana sekarang."
Rasa khawatir itu kini berubah menjadi cemas dan panik. Dia tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu pada Enggar, lalu apa yang akan dia katakan pada mamanya atau bagaimana dengan nasibnya. Seharusnya dia bahagia bila Enggar terluka, namun tidak. Hatinya kini ikut merasakan rasa sakit yang Enggar alami.
Secepat kilat dia berlari menuju lift sambil membayangkan keadaan Enggar sekarang. Ketika lift berdenting, dia segera melangkah untuk masuk tanpa memperhatikan jika di dalam lift terdapat seseorang yang hendak keluar.
Akhirnya Yayu mengaduh kesakitan, kakinya terbentur sesuatu, dia tersadar dari lamunannya dan mendapati Saino tertawa lebar melihatnya kesakitan. Sedang Enggar hanya menatapnya lurus tanpa ekspresi kemudian tatapannya berubah tajam dan penuh amarah, ketika bersitatap dengan Yayu.
Yayu melihat beberapa luka lebam di pipi, hidung, dan rahang Enggar, sedangkan sudut bibirnya terluka dan terdapat sedikit noda darah di sana. Baju yang dia pakai pun kini kotor dengan noda darah. Ekspresi Enggar yang tidak bersahabat serta luka di wajahnya membuat Yayu takut sekaligus penasaran. Dia berpikir, apa salahnya kali ini, kenapa Enggar tampak sangat marah padanya.
Yayu ingin menyapa Saino dan bertanya namun suaranya tidak jadi dia keluarkan, karena melihat salah satu telunjuk Saino dia arahkan pada mulutnya. Yayu mengerti maksud Saino dan diapun diam, menunda pertanyaan di kepalanya itu.
Yayu memutar tubuhnya lalu membuka pintu kamar di lantai 20 itu. Saino mengikuti di belakang Yayu dengan mendorong kursi roda Enggar.
Yayu menata ranjang pasien yang baru kemaren mereka tinggal itu. Kemudian menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Menuangkan segelas orange jus untuk Saino. Kemudian membawanya ke ruang tamu. Yayu mempersilahkan Saino minum lalu mengambil botol air mineral kesukaan Enggar dan memberikan padanya.
Enggar hanya diam, dan terus memperhatikan kegiatan Yayu. Namun tidak segera mengambil air mineral yang disodorkan padanya.
"Gar gue pamit dulu ya, masih ada kerjaan yang harus gue check, ntar gue kembali kesini lagi, Yayu gue pergi ya, jaga dia baik-baik dan tolong obati lukanya!" ucap Saino undur diri setelah menandaskan orange jus nya, karena dia tau mereka akan butuh waktu untuk berdua. Dia yakin Enggar tidak akan menyakiti Yayu meskipun dia sedang marah saat ini.
Enggar hanya diam. Yayu mengangguk mengerti, dan mengantar Saino sampai ke depan pintu. Saino mengangkat ponselnya dan mengarahkan pada telinganya kemudian menggoyangkan pelan, mengisyaratkan pada Yayu agar dia menelponnya jika terjadi sesuatu.
Yayu mengangguk mengerti, lalu kembali menutup pintu setelah Saino masuk ke dalam lift. Kini dia kembali pada Enggar dan menyerahkan air mineral yang sejak tadi dalam genggamannya.
Lagi-lagi Enggar tidak mau menerima air mineral itu, dan hanya memandangnya . Yayu berpikir sejenak kemudian membuka tutup botol air mineral tersebut dan kembali menyodorkan pada Enggar, namun tetap tidak di terima. Dia bingung dan tidak tau apa kesalahannya. Dia membuka mulut untuk bertanya, namun terhenti karena Enggar menanyainya terlebih dulu.
"Siapa laki-laki itu," tanya Enggar ketus, tanpa basa-basi. Dia lupa jika Yayu tidak mengerti laki-laki yang dia maksud karena Yayu tidak ada disana.
Yayu mengernyitkan keningnya, kemudian memberanikan diri bertanya," laki-laki yang mana?" tuturnya lirih.
"Alah ... jangan sok muna, ngaku aja!" bentak Enggar.
Yayu semakin tidak paham dan tidak mengerti arah pembicaraan Enggar, karena selama ini dia merasa tidak pernah bertemu dengan laki-laki lain atau mengenal laki-laki selain Adi dan Saino.
Enggar tersenyum sinis. "Sudah berapa kali kamu janjian dengan nya?" Cerocosnya.
"Maksut kamu apa? Laki-laki siapa?" Yayu balik bertanya.
Enggar bahkan tidak memperdulikan pertanyaan Yayu dan terus bersuara. "Ingat hutangmu yang harus kau bayar jika kau melanggar kontrak kita," racau Enggar.
"Aku tidak tau apa yang kau maksud, kalau bicara yang jelas, jangan memotongnya menjadi beberapa bagian!" ucap Yayu dongkol, dengan cepat dia menenggak air minum yang dia pegang hingga setengahnya, dia tak peduli jika air minum itu membasahi baju atau lehernya. Dia merasa kesal dan panas karena Enggar kembali berulah dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Enggar menelan ludahnya melihat Yayu menenggak air minum, namun dia kembali bermuram durja. "Persetan! Dasar peselingkuh, berapa duit kamu terima darinya? Sudah berapa kali tubuhmu dia pakai?" hujat Enggar dengan nada sarkas.
Yayu mengeraskan rahangnya, merasa muak mendengar tuduhan dari Enggar, telinganya sudah memerah sejak tadi, dia ingin meninggalkan Enggar sendiri, namun sepertinya Enggar masih belum puas dengan kata-kata hinaannya. Hingga membuat tubuh Yayu terpaku dan kakinya seperti lemas tak bertenaga demi mendengar kata-kata Enggar berikutnya.
"Apa ibumu tidak pernah mengajarimu untuk menghormati dan melayani suami dengan baik?" teriak Enggar. "Apa ibumu tidak pernah memberi taumu jika berselingkuh itu perbuatan keji dan dosa?" tanya Enggar dengan nada murka. Dia lupa jika ibu Yayu telah tiada.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Enggar. Sudut bibirnya kembali berdarah. Yayu tidak memperdulikannya, hatinya kembali sakit, mendengar ibunya di jelek-jelekkan.
Enggar menyeringai, meludah darah di depan Yayu. Seolah kesurupan kembali menyuarakan kekesalan hatinya tanpa memikirkan perasaan Yayu. "Oh, Atau jangan-jangan ibumu, yang sudah mengajarimu untuk menjadi p*****r dan meraup keuntungan sebagai pemuas nafsu lelaki?" Napasnya terenggah-enggah menahan amarah dan juga rasa sakitnya hati. Membayangkan Yayu melakukan perbuatan keji itu.
Plak.
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Enggar. "Jangan sekali-kali kau menghina Ibuku, mulut manismu itu tak pantas ... " Yayu tergugu, kata-katanya tak mampu dia keluarkan, dadanya terasa nyeri.
Yayu sudah tidak tahan dengan segala tuduhan dan hinaan yang di tujukan pada ibunya itu. Dia membalik badannya untuk pergi namun aksinya terhenti karena Enggar mencengkram dengan erat pergelangan tangan nya.
Ada sedikit rasa bersalah pada hati Enggar, namun dia kembali murka ketika mengingat foto Yayu.
"Lepaskan!"
"Ternyata benar, kau tak ubahnya seperti Calista, yang rela menjajakan tubuhnya demi mendapatkan rupiah," kembali Enggar memaki.
Tangan Enggar menyentak pergelangan tangan Yayu hingga kaki Yayu yang lemas tak mampu menahan tarikan tangan Enggar. Lutut Yayu membentur lantai dengan keras dan menopang tubuhnya yang bergetar dengan hebat menahan tangis, emosinya meledak.
Enggar merebut botol air yang Yayu pegang lalu meminumnya sedikit, dia berkumur untuk menghilangkan rasa anyir darahnya. Tatapannya tidak lepas dari Yayu yang kini meneteskan air mata.
Dada Yayu terasa sesak, dia marah dan benci karena Enggar menghina Ibunya. Yayu ingin pergi dari sana saat itu juga namun pikirannya melarang dan mengingatkan jika nasib rumah dan sawahnya akan terancam. Dan kini pun dia kembali menangisi nasibnya serta kebodohannya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Andai saja dia bisa merelakan dan melepaskan rumah serta sawahnya, sayangnya kedua barang itu adalah satu-satunya peninggalan kedua orangtuanya yang menyimpan berbagai kenangan baginya, dan dia tak rela melepasnya.
Yayu mengangkat satu tangannya untuk mengusap air matanya yang sudah luruh sejak tadi, karena mengganggu pandangannya. Namun Enggar kembali mencekal tangan itu dan menyatukan kedua tangan Yayu, lalu menarik tubuh Yayu mendekatinya, Enggar mengangkat dagu Yayu agar tatapan mereka bertemu, namun Yayu sudah lebih dulu memejamkan matanya karena tak ingin melihat wajah Enggar. Dia sangat benci pada nya.
Enggar sudah tidak bisa menahan hasratnya yang sejak tadi ingin dia lampiaskan pada istri kontraknya itu. Dadanya perih dan darahnya berdesir memanas, dia cemburu dan tidak terimà jika Yayu bersama dengan laki-laki lain, apalagi bersentuhan dengan mereka.
Melihat Yayu memejamkan mata dan terlihat pasrah membuat Enggar semakin tergoda, dengan cepat dia melandaskan satu kecupan ringan di kening Yayu lalu turun ke bagian mata dan pipinya yang telah basah dengan air mata, memberi sedikit jilatan pada sisa-sisa genangan air mata Yayu. Enggar menjauhkan bibirnya dari wajah Yayu ketika mendengar Yayu menelan ludah dan mengeratkan pejaman matanya.
"Buka matamu!" perintah Enggar dengan suara beratnya.
Yayu dengan segera membuka matanya, karena dia tak mau lagi mendengar kata-kata hinaan keluar dari mulut itu. Dia marah pada Enggar namun tububnya pasrah dan bereaksi lain dengan perlakuannya, hingga dia hampir saja lepas kontrol dan mengeluarkan suara lenguhannya.
Mata Yayu yang merah penuh air mata menatap Enggar penuh kilatan kebencian. Giginya bergemeretuk dan hidungnya kembang kempis menahan tangis.
Enggar sangat menyesal dengan sikap dan emosinya hingga tanpa pikir panjang dia telah menyakiti hati Yayu. Enggar kembali mengelus pipi Yayu, sekali lagi mengecupnya pelan, dia takut Yayu akan murka dan kembali menamparnya, namun Yayu bergeming.
"Kana, sayang ... "
***
Bersambung ...