DENDAM 36

1171 Kata
Yayu POV~ Aku terbangun dari tidurku, karena sebuah suara klasik yang berasal dari perut mengganggu pendengaranku. Aku berfikir sejenak dan bertanya dalam hati apa aku tadi belum makan? Tapi hatiku menjawab, aku sudah makan bekal yang aku siapkan tadi pagi. Lalu siapa yang sedang lapar, kembali hatiku bertanya. Saat itu aku baru sadar, jika ETO belum sempat makan siang. Wah ... gawat, teriakku dalam hati. Aku mencoba membuka mata karena merasakan pipiku tengah dibelai dengan lembut, sebuah tangan yang kekar melingkar pada pinggangku. Aroma maskulin yang sangat akrab dengan indra penciumanku selama kurang lebih tiga bulan ini terasa sangat kuat, begitu nyaman dan menenangkan. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Umpatku dalam hati. Aroma ini, d**a bidang ini, ranjang ini dan kami? Ah ... aku meneriakkan kelegaan dalam hati, karena aku ingat, kami tidak melakukan apapun. Flassback on "Sayang ... bantu aku kembali ke ranjang ya!" rajuk ETO padaku. Aku mengurai pelukan kami. "Bekal mu sudah kamu makan?" tanyaku penasaran, karena aku melihat di dalam tas karton masih sangat berat. Aku marah dan membencinya, namun entah mengapa sikapku tak bisa mengacuhkannya. ETO menggeleng pelan lalu kembali mencium bibirku. Aku mendorong d**a ETO hingga dia melepaskan ciumannya. Dia memandangku dan mengeram ringan lalu mencoba menciumku kembali. Aku menjauhkan kepalaku dan menutup mulutku. "Kamu harus makan dulu!" kata-kata ku terdengar tidak jelas dibalik dekapan jemari tangan. ETO menyeringai kemudian mengangguk. Aku segera turun dari pangkuannya dan membantunya pindah ke ranjang. Membalik badanku hendak mengambil makan siangnya, namun ETO kembali mencekal tanganku dan membawaku duduk disampingnya. "Aku akan mengambil makan siang mu," kataku, mencoba membuatnya mengerti, dia tidak mengijinkanku dan kembali memelukku. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Seolah akan terjadi sesuatu yang lebih di antara kami. Otakku mengumumkan kata-kata peperangan namun siapa sangka tubuh dan hatiku bereaksi berbeda. Aku tidak boleh menanggapi sikapnya dengan serius. Batinku bersuara mendukung pergerakan dalam otakku. Namun tubuhku tetap berkhianat. ETO mengelus punggungku lalu membelai rambutku dengan lembut, membenamkan hidungnya pada ceruk leherku, menghirup aroma tubuhku dan mengeratkan pelukannya. Tubuhku menegang, menerima perlakuannya itu. ETO bersuara lirih," maafkan aku? Aku tak seharusnya marah, menghina mu , dan ibu mu," tuturnya pelan. "Aku memang jahat dan tak pantas untuk di maafkan, namun ijinkan aku untuk menunjukkan padamu bahwa aku menyesal dan bersungguh-sungguh meminta maaf padamu," lanjutnya kemudian dengan nada yang terdengar tulus. Sementara tangannya memainkan rambutku yang terurai. Aku hanya diam dan mendengarkan setiap ucapannya. Tubuhku tiba-tiba terasa lebih rileks, ada sedikit perasaan nyaman di hatiku dan tubuhku menikmati sensasi dalam pelukan dan belaian tangannya yang lembut hingga membuatku terhipnotis, di menit berikutnya aku terlelap dalam dekapan ETO, berkelana dalam alam mimpi. Flassback off "Kamu sudah bangun? Kita pulang yuk! Sudah sore," tanya ETO padaku. Suaranya yang dalam membangunkanku dari lamunan. Aku mendongakkan kepalaku, mendapati sebuah senyum manis yang tersungging di bibir ETO. Aku merasakan ETO kini memandangku dengan tatapan berbeda. "Kamu lapar?" kata pertama yang berhasil aku keluarkan, mengingat beberapa menit yang lalu aku mendengar perutnya berbunyi. ETO mengangguk. "Kita pulang, buatkan aku Banana Cake dan cumi goreng tepung!" Aku mengernyitkan keningku heran, tapi dengan cepat mengangguk. "Mmm, kita mampir ke supermarket dulu, sekarang sudah jam 4 kan? Kita harus bergegas agar tidak terjebak macet," kataku menambahkan. Setelah menengok jam dinding yang menempel di tembok. *** "Kana, sayang ...," panggil Enggar dengan lembut. Yayu yang masih berlutut mematung, mengedip-ngedipkan matanya, merasa pendengarannya bermasalah. "Sayang, maafin aku. Aku tak seharusnya marah padamu, aku tak seharusnya menuduhmu, aku seharusnya bertanya baik-baik padamu," ucap Enggar dengan nada suara menyesal. "Maafkan aku!" pintanya pada Yayu dengan penuh permohonan. Yayu tidak mengerti harus menjawab apa, karena dia sedang di liputi perasaan amarah pada laki-laki di depannya itu. Dia sangat heran, baru saja Enggar memakinya namun kini meminta maaf dan memanggilnya sayang. Apa mungkin dia bermimpi, namun hatinya terasa sakit dan sangat nyata, bahkan kata-kata hinaan itu masih dapat dia dengar dengan jelas. Kecupan dan jilatan di pipinya pun terasa sangat nyata, bahkan dia merasakan sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah karena amarah atau karena efek dari ciuman Enggar. Yayu terluka, dia tidak terima, ibunya tidak seharusnya mendapat hinaan dan cacian seperti itu, dia berusaha menarik pergelangan tangannya yang di cekal oleh Enggar, namun cengkraman tangan Enggar sangat kuat seolah tidak rela dan tidak akan membiarkan Yayu pergi darinya. "Lepaskan! Untuk apa kamu meminta maaf?" teriak Yayu. "Aku gak akan memaafkanmu, gak akan, gak akan pernah!" lanjutnya, suaranya keras penuh amarah dan penekanan pada setiap kata. Entahlah dia mendapat kekuatan dan keberanian dari mana hingga nekat membentak Enggar. Enggar yang tadinya melembut kini kembali bringas, demi mendengar jawaban Yayu, pikirannya kembali mendidih. Di raihnya tengkuk Yayu, dia mendekatkan wajahnya, di lumatnya mulut pintar Yayu tanpa permisi. Ciuman itu sangat menuntut, liar, dan penuh amarah, mulut Enggar seolah ingin memakan habis bibir Yayu, Enggar berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulut Yayu, namun tidak mendapatkan akses masuk, Yayu merapatkan mulutnya dan menolak memberikan yang Enggar mau. Enggar mengeram, mengeraskan pegangan tangan yang mencengkram Yayu hingga dia mendesis merasakan kesakitan. Akhirnya diapun membiarkan Enggar dengan leluasa memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya, menjelajahi setiap inci mulutnya, menyalurkan amarah, penyesalan, permintaan maaf, permohonan ampun, dan pengharapan pada Yayu untuk tidak meninggalkannya. Rasa sakit ditinggal dan di hianati membuat Enggar menutup hatinya dan menyangkal rasa cinta baru yang menghampirinya. Enggar melepaskan ciuman mereka setelah keduanya terasa kehabisan udara. Enggar menatap Yayu penuh gairah dan hasrat, sedang Yayu menghunuskan kilatan kebencian. Enggar meraih tubuh Yayu, mendudukkan di atas pangkuannya dan memeluknya dengan posesif. Lalu berkata," ingat! Sampai kapanpun kau hanya untuk ku," bisik nya lirih, mengklaim Yayu sebagai miliknya, namun dapat Yayu dengar dengan jelas. "Katakan bahwa kau hanya untuk ku, selamanya!" Yayu masih diam, mulutnya yang terasa berdenyut dan mulai melepuh terkunci rapat, dia tidak mau berjanji, karena memiliki Enggar sebagai suami, bukan menjadi prioritasnya saat ini. Apalagi hatinya kembali sakit dengan kelakuan Enggar barusan. Tidak mendapati jawaban Yayu, Enggar mengurai pelukan mereka, memandang wajah Yayu yang berantakan, pandangan Yayu menunduk, matanya sembab, bibirnya memerah dan rambutnya kucel. Enggar tersenyum dalam hati, melihat keadaan Yayu. Merasa tidak nyaman karena terus dipandangi, Yayu menatap Enggar tajam lalu memalingkan mukanya. Enggar menangkup pipi Yayu dengan kedua tangannya, mengembalikan posisi wajahnya ke tempat semula, sehingga kini mata mereka kembali bertemu. Enggar sempat gemas, pasalnya ketika dia menekan pipi Yayu, mulutnya mengerucut seperti ikan koi. Hingga membuat Enggar kembali mendaratkan sebuah ciuman ringan dan memberi sedikit gigitan di bibir bagian bawah. Yayu berusaha mengurai tangan Enggar di pipinya, namun Enggar kembali bertanya," katakan, bahwa kau hanya milikku dan kau tak akan meninggalkan ku!" pinta Enggar. Yayu terpaksa mengangguk, agar bisa terlepas. "Katakan! Aku gak mau kalau kamu cuma memberiku bahasa isyarat," tuturnya. "A-c-c-u h-a-n-a u-n-n-u-k-m-u," ucap Yayu terbata-bata tidak jelas. Enggar tersenyum senang, mengecup bibir itu kembali lalu melepaskan tangkupan tangannya setelah membersihkan sisa-sisa air matanya. Yayu mengurut pelan pipinya yang terasa kebas. Enggar sangat gemas dengan tingkah Yayu, menyentil hidung mancung Yayu. Kemudian kembali memeluknya. Hatinya merasakan kenyamanan, meskipun ada sedikit hal yang mengganjal. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN