Enggar POV ~
Hari ini jadwal pertamaku adalah Psycology kemudian di lanjutkan dengan Fisioteraphy. Setelah kurang lebih 45 menit mengikuti sesi Psycology aku keluar untuk beristirahat. Saino menjemputku tepat waktu. Seperti biasa, anak itu memang selalu tepat waktu dan bisa di andalkan.
Saino mendorong kursi rodaku ke ruang tunggu Fisioteraphy. Selang 15 menit kemudian seorang dokter memanggil namaku dan menyuruhku masuk. Saino mengantar dan menemaniku disana selama proses berlangsung. Dokter cantik itu selalu memuji perkembangan ku, dia bilang aku akan bisa cepat pulih dan secepatnya berjalan seperti semula bila aku terus bersemangat dan menjaga kondisi tubuh ku tetap fit seperti saat ini.
Aku hanya mengangguk menanggapi setiap komentar dan pujiannya, atau bisa di bilang dia terus memuji untuk mencari perhatianku.
"Hei ... anak muda, semangat ya!" sapa seorang laki-laki yang aku perkirakan usianya lebih dari 70 tahun. Rambutnya sudah memutih, bajunya terlihat bersih dan rapi. Tangannya memegang sebuah tongkat, dia berjalan dengan lambat di papah oleh seorang wanita yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya. Pak tua itu tersenyum ke arah ku kemudian duduk di dekat ku. Sedang wanita yang bersamanya pergi ke arah pintu keluar setelah bertegur sapa dengan ku.
Aku beristirahat setelah kelelahan menjalani terapi kejut listrik untuk selanjutnya menjalani terapi yang lain.
"Tumben sendirian, wanita cantik yang biasanya bersamamu itu kemana? Dia istrimu kan?" tanyanya ingin tau.
Aku menoleh padanya dengan mengernyitkan dahi. "Bapak kenal dia?" jawabku balik bertanya, ada rasa penasaran dalam hatiku. Siapa tau dia kenal dengan Kana dan dapat memberikan informasi yang ingin aku tau.
"Oh, jangan salah paham dulu. Aku tidak kenal dengan nya, tapi sepertinya dia gadis yang baik dan mencintaimu." Tawanya kemudian, seraya berkata," kau juga pasti sangat mencintainya hingga dia begitu setia padamu," pungkasnya.
Aku tersenyum miring dalam hati. "Ah, bapak bisa saja. Dia memang istri saya, dan seperti kata bapak, kami saling mencintai," kata ku berbohong. Mana mungkin kami terlihat begitu dekat dan saling mencinta, aku tersenyum dalam hati. Pandai juga wanita itu bersandiwara.
Dia tersenyum memamerkan gigi ompong nya." Kalian terlihat serasi dan sangat cocok, pasti anak kalian juga cantik dan tampan," tuturnya memuji.
"Terima kasih pak, aamiin ... do'a kan saja!" jawabku berbasa-basi, belum pernah terlintas dalam otak ku untuk memiliki keturunan. Padahal mama dan papa sudah sangat mengharapkan hadirnya seorang cucu.
"Ya ... ya ... aku bahagia menyaksikan pasangan muda yang begitu mesra dan saling mencintai," tuturnya. "Jaga dan sayangi dia dengan baik, bicaralah dengan baik-baik bila kalian ada masalah, jangan biarkan sebuah masalah menghancurkan kepercayaan kalian dan jangan biarkan orang ketiga memasuki bahtera mu, jangan sampai kau menyesal dan kehilangan dia!" nasehatnya padaku panjang lebar.
Aku mengangguk menanggapi, kemudian berkata," bapak dan ibu juga terlihat sangat serasi dan kompak," balasku memuji.
Pak tua itu menggeleng pelan, dia menyandarkan punggung rentanya pada kepala kursi, raut kesedihan menyelimuti wajahnya. "Kau salah," ujarnya. "Dia memang calon istriku, tapi dulu ... ," dia menghentikan ceritanya. Tatapannya menerawang seolah kembali ke masa lalu.
"Seandainya saja waktu dapat berputar kembali, tentu aku akan memilih bersamanya dan tetap melanjutkan pernikahan kami dan aku tak akan melepaskannya." Dia memutar-mutar tongkatnya dan memainkan gagangnya. "Akan ku pastikan kami hidup dengan bahagia bersama, dan memiliki anak-anak yang lucu." Helaan napasnya berat dan dalam, seakan masa lalu itu sebuah godam raksasa yang menghimpit dan telah berhasil menghancurkannya.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Bukankah kalian saling mencinta?" tanyaku kembali.
Pak tua itu terkekeh, menepuk bahuku. "Harta dan orang ketiga," ujarnya pendek, jelas dan penuh penekanan. Sementara aku semakin bingung dengan penjelasannya.
"Wayman?" tegur wanita tadi yang bersama dengan pak tua. Aku dan pak tua menoleh serempak, mengamati arah datangnya suara. Wanita itu berjalan mendekati tempat duduk kami. "Kita harus pulang sekarang!"ucapnya. "kau bisa kembali lagi hari jum'at dan kalian bisa ngobrol lagi." Ibu itu meraih tangan pak tua dan mengajaknya berdiri. "Maaf ya nak, pak tua ini harus pergi dulu, ngobrolnya kalian lanjutkan lain kali saja," jelasnya padaku seraya tersenyum manis.
Aku mengangguk mengiyakan. "Iya bu, gak apa-apa lain kali saja."
"Aku pergi dulu anak muda jangan lupa dengan pesan ku tadi!" Pak tua kembali mengingatkanku. "Oh, ya jangan lupa sampaikan salam ku pada istrimu, bilang makasih sama dia dari pak tua ya," ujarnya dengan semringah menatap padaku yang ternganga bingung dan penasaran mendengar nya.
Mereka melambaikan tangan padaku dan berjalan beriringan. Menuju pintu keluar. Aku masih tertegun di kursi ruang tunggu memandangi punggung mereka hingga pintu tertutup, sedang pikiranku sudah berkelana.
**
Sesi ke-2 Fisioteraphy ku sudah selesai. Aku kembali ke ruang tunggu menanti Saino. Dia baru saja menelpon memberitahukan bahwa dirinya sedikit terlambat.
Aku mengayuh kursi rodaku, mataku berkeliling menatap suasana disana, beberapa pasien dan suster bersliweran keluar masuk ruang rehabilitasi. Kali ini ruang tunggu tampak penuh, aku mencari tempat yang nyaman untuk memarkirkan kursi rodaku. Sebuah papan bergambar kursi roda tergantung pada tembok di sebelah jendela. Aku mendekatinya dan memarkirkan kursi rodaku disana. Beberapa kursi di sampingnya terlihat kosong.
Aku memutar tubuhku, pandanganku menatap lurus ke luar jendela, sebuah taman khusus untuk para lansia menjadi pemandangan ku. Mataku terarah kesana namun pikiranku tertuju ke arah lain. Yayu, aku merindukannya, ya, aku merindukannya. Aku merasa ada sesuatu yang hilang saat dirinya tidak di sampingku. Kenapa aku baru menyadarinya, atau kata-kata pak tua tadi membuatku tersadar. Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati, karena selama ini mengelak perasaan itu dan terus berupaya mencari kejelekannya.
Tiba-tiba pikiranku melayang ke masa tua dimana aku berjalan beriringan bersamanya menikmati suasana sore yang romantis atau sekedar jalan-jalan pagi dengan bergandeng tangan. Aku tersenyum lebar ketika lamunanku kembali mendapati sepasang lansia duduk menghadap kolam ikan dengan kepala saling menopang satu sama lain di bawah naungan pohon rindang.
Aku tak ingin kehilangan dirinya karena ego dan kebencianku pada seorang wanita. Iya, benar kata Saino, San, dan Pak tua itu, aku sudah jatuh cinta.
Apa kau baru sadar jika selama ini hatimu mengalunkan nama nya, apa kamu baru sadar jika hatimu sudah terjerat dengan cintanya? Suara hatiku bertanya. Dasar pengecut! Sudah tau jatuh cinta tapi tetap mengelak dan menyakiti hatinya, akui dan nyatakan perasaanmu sebelum kau benar-benar terlambat, bukankah katamu, tidak butuh waktu bagi kita untuk jatuh cinta. Suara jahatku memaki diriku sendiri dalam hati.
Kau benar, bagaimana aku lupa. Suara hatiku yang lain menjawab.
Dug.
Sebuah ponsel terjatuh di atas pangkuanku. Seorang laki-laki dengan wajah yang lumayan tampan membuang senyum kearahku. Kakinya terplaster dan dia berjalan tergopoh-gopoh dengan menopang dua tongkat di samping tubuhnya.
"Maaf, aku terburu-buru, namaku sudah dipanggil dari tadi."
"It's okey, lain kali lebih berhati-hatilah!"
Aku mengambil ponsel itu, hendak menyodorkan kepadanya namun gerakanku terhenti, foto seorang wanita cantik di ponselnya menarik perhatianku. Aku menarik kembali ponselnya, memandangi foto wanita itu. Aku seperti mengenalnya, dan ekspresi itu aku seperti tau. Tanpa sadar aku menggeser album di ponselnya dan foto seorang wanita yang benar ku kenal terlihat cantik.
"Terima kasih," ujarnya, membuatku memandang pada lelaki itu. Dia tersenyum menyeringai.
Dia mengulurkan tangannya, namun aku belum menyerahkan ponselnya. "Cantik?" tanyanya padaku. "Kamu tertarik?" ucapnya kemudian, melanjutkan pertanyaanya tadi. Tanganku yang satu sudah mengepal, menahan panasnya hati disana.
Aku menyeringai, menyerahkan ponsel di tanganku padanya. Dia menerima ponsel itu lalu duduk di kursi kosong sebelahku. "Care to share?" Aku menoleh padanya, bertanya dengan suara yang aku buat senatural mungkin. Meski aku menahan amarah.
Lelaki itu tidak menjawab pertanyaanku, dia membuka galeri fotonya yang lain dan memperlihatkan foto-foto wanita yang tak lain adalah istri kontrakku itu. Dia memiliki banyak fotonya, dari foto sendiri bahkan fotonya yang sedang berada dalam pelukan lelaki, dan yang membuatku semakin geram adalah fotonya yang terlihat berciuman disana.
Darah yang panas mengalir ke seluruh tubuhku, menjalar menuju kepala, tangan kananku mengepal dan terasa semakin memanas.
"Namanya Tata, wanita pelayan Blue Stone Bar, bukankah dia terlihat seksi, hanya dengan memandangnya saja aku ingin mengurungnya." Dia tersenyum penuh hasrat melihat foto Kana.
Aku mendengus. Dia sama sekali tak melihat reaksiku. Lalu meneruskan bicaranya. "Dia selalu menerima tips yang lumayan, bahkan para pengunjung mengidolakan dia," ceritanya. "Ah ya, satu lagi dia pandai memasak rupanya dan kue buatannya sangat enak, aku bahkan berencana membookingnya, kau mengerti kan maksudku, wanna join me?" ajak nya padaku. Aku meledak, amarahku yang sudah di ubun-ubun tak bisa lagi tertahan.
Dia yang masih menggeser album fotonya sontak kaget dan mendelik padaku, ponselnya kembali aku rebut.
"Hey bung, apa-apaan kau?" teriaknya padaku. "Come on, We can share, don't be gredy!" Selorohnya.
Dengan susah payah dia bangkit dari duduknya lalu berusaha merebut kembali ponsel yang aku pegang. Aku menyembunyikannya di balik jaketku.
"Hey, kembalikan ponsel ku!"
"Cih, jangan harap."
"Wah, kau seperti anak kecil bung. Jangan bercanda, aku pasti akan menghajarmu jika kau tak seperti itu," ejeknya padaku dengan mengamati ku. "Baiklah, kau bisa memiliki ponselku, tapi wanita itu akan menjadi milikku," ancamnya, dengan menudingkan jari tengahnya padaku.
Ku raih jari tengahnya dengan tangan kiriku lalu ku tarik kuat ke arahku. Dia meringis kesakitan, sementara tangan kananku yang sudah sejak tadi memanas dan terkepal dengan spontan mendarat dengan keras di wajahnya. Dia hampir saja terjatuh namun berhasil menyeimbangkan dirinya. Membalas pukulanku dengan satu pukulan di pipi dan kamipun saling adu jotos, sesaat kemudian para suster datang melerai, Saino yang tiba-tiba muncul menjauhkanku dari lelaki itu. Kami berdua dibawa ke UGD karena mengalami beberapa luka di wajah kami.
Saino terlihat berbicara pada laki-laki itu untuk sama-sama berdamai, kemudian Saino kembali padaku untuk mengambil ponsel lelaki itu. Aku menghapus semua foto dalam albumnya dan menyerahkannya pada Saino. Tepat saat ponselku berbunyi dan tertera nama Kana disana, aku melemparnya pada saino dengan tak acuh.
Saino mendorong kursi rodaku kembali ke lantai 20, aku diam membisu selama dalam lift. Pikiranku berkelana, berbagai pertanyaan memenuhinya.
Rasa rinduku yang baru saja muncul, berubah menjadi rasa cemburu, rasa ingin memiliki itu kembali berubah menjadi rasa takut kehilangan. Aku menopang kepalaku dengan kedua tanganku lalu meremas rambutku, frustasi.
Suara dentingan lift membuatku tersadar, sebelum Saino berhasil mendorong kursi rodaku keluar, seseorang menyelonong masuk begitu saja tanpa memperhatikan keadaan di dalam lift. Serta merta kakinya terantuk kursi rodaku. Dia mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat kami. Aku menatapnya dengan tatapan datar. Foto-foto itu masih mengganggu pikiranku.
***
Bersambung ...