Calista duduk bersandar pada sebuah sofa kulit mewah favoritnya. Pandangannya menerawang, memegang erat gelas wine di tangannya, dan memutar-mutarnya. Pikirannya sedang kalut seperti wine yang tengah berputar dalam gelasnya.
Terdengar suara kunci pintu dibuka. Dia menoleh ke arah pintu. Seorang lelaki tampan dengan pakaian serba hitam memasuki apartment. Membuka jaket kulitnya dengan sedikit kesusahan. Beberapa luka lebam menghiasi wajah tampannya. Mata sipitnya memandang Calista penuh amarah. Menyugar rambut kritingnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Calista tersentak kaget, meskipun dia sudah tau kedatangan orang itu. Menaruh gelas wine yang dia pegang, beranjak dari duduknya, buru-buru menghampiri pintu kamar mandi, mengetuk pintunya pelan. "Kak? Kakak gak apa-apa kan?" tanyanya dengan suara terbata, dia tau laki-laki itu sedang murka.
"Kak, buka pintunya kak!" teriak Calista sekali lagi.
Laki-laki itu masih tidak menjawab, membiarkan Calista terus berteriak menggedor pintu. Lima menit kemudian dia membuka pintu, wajahnya yang basah dan rambut kritingnya yang meneteskan air tak dia hiraukanan, tanpa memperdulikan keberadaan seseorang yang berdiri di depannya, dia berjalan lurus menuju sofa hitam yang baru saja diduduki Calista. Menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas sofa dan mendesah dengan kasar. Di raihnya gelas wine di atas meja dan diteguknya dalam sekali minum.
"s**t! b******k!" Dia melemparkan gelas wine di tangannya ke sembarang arah. Dan gelas itu pecah setelah jatuh menghantam tembok di dekat TV.
Calista terkaget, berlari dari dalam kamar mandi dengan membawa handuk putih di tangannya. "Kak Jero? Kakak kenapa? Kenapa bisa kayak gini kak?" Sembari membantu laki-laki itu mengeringkan wajahnya.
"Calista, kau harus segera bertindak sebelum kalah cepat!" laki-laki bernama Jero itu berstatement.
"Apa? Apa aku gak salah dengar kak, Maksud kakak apa?" Calista bersungut-sungut," aku gak mungkin kalah dari siapapun," bantah Calista. Sementara hatinya mulai gelisah, karena dia tau tadi pagi Enggar begitu posesif dan menginginkan Yayu, kemungkinan besar namanya sudah tak ada lagi di hatinya.
Jero tersenyum miring, memandang Calista yang tampak gusar. "Apa kamu yakin, laki-laki itu masih mencintai kamu, setelah semua yang kamu lakukan?" selorohnya kemudian.
Calista tidak menjawab, tatapannya bertumpu pada sebuah foto besar yang terpajang di dinding. "Aku yakin kita akan berhasil kak, kakak harus percaya padaku!" ujarnya tanpa menjawab pertanyaan Jero.
Ck. Berdecak. "Setelah semua penghianatan yang kamu lakukan padaku?" tanyanya geram, teringat kelicikan Calista padanya tiga tahun lalu. "Lakukan semua sesuai dengan rencanaku atau kau yang akan malu dan masuk penjara!" Mencengkram lengan Calista, dan memandangnya dengan penuh amarah.
Calista hanya diam, mengepalkan tangannya dan meremas dengan keras, dia tau kali ini Jero tak akan dengan mudah mempercayainya.
"Mana obat yang aku minta?" tanya Jero. Calista menunjuk plastik putih yang berjejer dengan tas tangannya di meja makan. Jero melepaskan cengkraman pada lengan Calista dan mengambil plastik itu. Memeriksanya dan tersenyum lebar.
"Lakukan rencana kita, secepatnya!" Sembari menyerahkan beberapa pil berwarna biru pada Calista. "Semakin cepat kau melaksanakannya semakin cepat kita berhasil, dan semakin cepat kau akan menjadi milikku." Sebuah senyum kemenangan yang belum terwujud tampak mengembang di sudut pipi Jero.
Calista menerima pil itu dan menaruhnya di atas meja. Jero terlihat serius dan marah.
***
"Kenapa kita lansung pulang?" tanya Yayu pada Enggar. Kini mereka sudah sampai di depan rumah mereka setelah 2 jam lebih duduk dalam taksi. "Bukannya kau pingin makan cumi goreng dan bolu pisang?" Yayu turun dari dalam taksi menuju bagasi mengambil kursi roda Enggar, setelah membayar biaya taksi mereka.
Yayu mendorong Enggar ke dalam halaman rumah setelah taksi yang mereka tumpangi pergi. Dua kardus besar bertumpuk di depan teras rumah. Yayu memandang Enggar dengan bingung.
"Antar aku ke kamar mandi dulu! Lalu bawa kardus itu ke dapur!"
"Mmm ... panggil aku jika kamu sudah selesai," jawab Yayu setelah membantu Enggar ke dalam kamar mandi.
Yayu segera mengambil kardus di teras dan membawanya ke dapur, dia mencoba mencari Calista tapi tak menemukan keberadaannya.
***
"Calista kemana?"
"Aku tak tau, cepat buka kardus itu dan mulailah bekerja, jangan banyak tanya!"
Yayu segera melaksanakan perintah Enggar. Matanya membola melihat bahan-bahan lengkap untuk membuat bolu pisang dan cumi goreng tepung pesanan Enggar.
"Wow, kamu pesan?" tanya Yayu penasaran.
"Mmm ..., ada yang bisa aku bantu?"
"Serius?"
Enggar tersenyum. Yayu menyerahkan pisang, sebuah pisau, dan baskom. "Kupas kulitnya lalu taruh ke dalam baskom!" perintahnya.
Enggar mengangkat jempolnya pada Yayu. Yayu dengan cekatan mengolah cumi-cumi sesuai keinginan Enggar.
"Selesai," teriak Enggar, setelah dia selesai mengupas kulit pisang tadi.
"Bagus!" puji Yayu dengan pekerjaan Enggar. Dia mengambil baskom dari tangan Enggar. "Pergilah ke wastafel dan cuci tanganmu," suruh Yayu kemudian.
"Ambilkan air untukku, " pinta Enggar.
Yayu menggeleng, sudah dia duga Enggar akan melakukannya. "Jangan manja! Cepat pergi, aku juga sudah lapar." Usir Yayu dengan menunjuk wastafel pada Enggar, menyibakkan rambutnya yang terurai dengan punggung tangannya yang berlumur tepung.
Enggar tersenyum simpul melihat pipi Yayu yang bertepung, lalu berlalu menuju ke wastafel. "Ah," teriak Enggar berpura-pura, dia menginginkan perhatian dari Yayu.
Yayu menoleh padanya dengan wajah penuh tanya. Enggar semakin berpura-pura. Yayu mendekatinya dan mencondongkan tubuhnya kearah Enggar. Enggar tersenyum dalam hati, merangkul pinggang Yayu dan mengurungnya dalam pangkuannya.
"Dasar pengganggu," umpat Yayu, satu pukulan kecil dia tujukan pada d**a bidang Enggar.
Enggar terkekeh. "Wajahmu penuh tepung, diamlah!"
Yayu memalingkan wajahnya. Enggar mengumpulkan rambut Yayu dan mengikatnya. Tubuh Yayu bergetar dan segera meloncat dari pangkuan Enggar, pipinya memerah dan berusaha dia sembunyikan.
Enggar membiarkan Yayu menyelesaikan pekerjaannya, pergi ke kamar mengambil sketch paper dan pensil gambarnya. Dia menggambar Yayu yang sedang sibuk dengan peralatan masaknya.
Jam 8.00 malam Yayu telah menyelesaikan kue bolu pisangnya, sedang cumi gorengnya telah Enggar habiskan sejak tadi. Dua seketsa cantik juga telah Enggar rampungkan, dia tinggal mengalihkannya ke dalam kanvas.
Yayu meninggalkan kue bolu pisang di atas meja makan agar dingin. Beranjak menuju ke kamar mandi, sedang Enggar kembali ke kamarnya menyembunyikan sketsa yang dia buat, suara keras hak tinggi memasuki rumah. Enggar tau jika itu adalah Calista.
***
"Calista, untuk siapa minuman itu?" tanya Yayu melihat Calista membuat dua gelas minuman dan dia yakin melihat Calista menaruh sesuatu ke dalam salah satu gelas itu.
Mengacuhkan pertanyaan Yayu Calista mengangkat nampan di depannya, namun Yayu mencegahnya. "Berhenti!" teriak Yayu. Dia bergegas menghadang Calista.
Calista memelotot tak terima, dia tidak suka dengan sikap Yayu yang ikut campur. "Jangan ikut campur!" semburnya.
Yayu tersenyum miring. Dia menertawakan dirinya yang spontan membela Enggar. "Aku gak akan ikut campur jika kau menaruh kembali minuman ini!" bantah Yayu tak kalah keras, tangannya memegang erat nampan yang berisi minuman, dia berharap Enggar datang dan mengetahui niat Calista.
"Minggir! Sudah kukatakan ini bukan urusanmu."
"Ini akan jadi urusanku karena kau berniat jahat disini."
"Apa, niat jahat. Periksa kata-katamu sebelum menuduh ku!"
"Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kau menaruh sesuatu dalam minuman ini, apa itu tidak cukup kuat sebagai bukti?"
"Huh, apa aku tidak salah dengar? Menjauhlah dan jangan ngeyel!"
"Gak akan, sebelum kamu menaruh kembali minuman ini dan menggantinya dengan yang baru."
Calista geram, membanting nampan yang dia pegang ke atas meja, namun tidak cukup kuat untuk membuat minuman itu tumpah. Calista menghunuskan pandangan mematikan pada Yayu dan mengumpat dalam hati, dia menoleh pada kue bolu pisang yang terdapat di atas meja.
"Oh, jadi kau berusaha menggoda Enggar dengan membuatkannya kue?" Calista tersenyum sinis. "Licik juga otakmu, melarangku membuatkan minuman untuk Enggar tapi kau sendiri membuatkan kue kesukaannya." Calista mengumpat. Tidak terima.
Enggar menahan amarah di balik dinding yang memisahkan dapur dan ruang makan. "Ya, aku memang licik, dan aku rasa kau lebih licik dariku."
Plak. "b******k!"
Suara tamparan dan umpatan datang secara bersama, Yayu mengelus pipinya yang berdenyut dan memerah. "Jangan samakan aku dengan mu, karena aku tak punya Ibu yang mengajariku untuk menjerat laki-laki demi mendapatkan uangnya," tuduh Calista.
Plak.
Kini giliran Calista yang mengelus pipi mulusnya. "Jangan sebut Ibuku dengan mulut licikmu, beliau tak ada hubungannya dengan ini semua," balas Yayu memaki Calista.
Calista hendak menampar Yayu untuk membalas kekesalan hatinya, namun aksinya dia tahan, kini dia berakting seperti seorang yang teraniaya, karena melihat Enggar muncul di depan pintu.
"HENTIKAN! Aku bilang HENTIKAN!" Teriak Enggar penuh penekanan disetiap katanya. Rahangnya mengeras menahan amarah.
Calista berlari ke arah Enggar, bergelayut manja mengapit salah satu lengannya. "Sayang, kau lihatkan, wanita itu menampar ku," adu Calista. "Aku membuatkanmu minuman, tapi wanita itu menuduhku berbuat jahat."
Enggar menatap Yayu yang berdiri di depan meja dapur dengan memegang pipinya. Tangannya dia kepalkan, matanya berkilat penuh amarah, Yayu menundukkan pandangannya, dia tau Enggar marah, tapi dia tidak tau jika Enggar marah bukan padanya.
"Kana, keluar dari sini dan masuk ke dalam kamar sekarang juga!" Engggar membentak Yayu. Calista tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
Yayu masih mematung ingin protes tapi Enggar kembali berteriak membuatnya terjengkit kaget. "CEPAT KELUAR KATAKU!"
Yayu menatap Enggar kecewa, dia tidak mau lagi protes, mengambil dua gelas di depannya dan menenggak habis ke dua orange juice itu. Kemudian berlari meninggalkan mereka berdua ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras. Yayu pikir Enggar telah berubah dan kata-kata yang dia ucapkan tadi siang adalah nyata, tapi ternyata semua itu hanya palsu dan belum genap 24 jam, Enggar sudah kembali membentak nya.
"Sayang? Makasih kau selalu membelaku." Sebuah kecupan ringan dia berikan pada pipi Enggar, namun segera di hapus dengan cepat oleh Enggar. Calista mengerucutkan bibirnya. Enggar tak peduli dengan sikap Calista.
Calista berjalan ke arah lemari es dan kembali mengambil orange jus disana, dia hendak menuangkan minuman itu ke dalam gelas. "Calista sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Enggar.
Calista menghentikan aktifitasnya,lalu bertanya,"apa maksudmu?"
"PERGI! AKU BILANG PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG!" Tatapannya nyalang.
***
Bersambung ...