Dua puluh menit berlalu, Enggar masih belum kembali ke dalam kamar. Yayu merasakan tubuhnya sangat aneh, dia merasa gelisah, panas dan daerah kewanitaannya tiba-tiba sangat sensitif, beberapa kali dia meracau, merapatkan kedua pahanya dan menggeseknya ringan, dia bahkan meremas dua gunung kembarnya sendiri, memegang daerah kewanitaannya. Dia ingat telah meminum orange juice bercampur obat itu dan kini tubuhnya seperti tidak bisa dia kendalikan, dia benci keadaannya sekarang, namun dia tak berhasil menghentikan reaksi itu. Dia yakin obat yang diberikan Calista adalah obat perangsang.
Kini dirinya menginginkan seseorang atau sesuatu yang bisa membantunya melampiaskan hasratnya. Dia merasa libidonya meningkat dan aliran darah ke jantung dan otaknya terpacu dengan cepat. Dia bergelung di atas lantai keramik dengan memeluk kakinya, menggigit bibir bawahnya beberapa kali.
Beberapa menit kemudian Enggar memasuki kamarnya dan tidak menemukan Yayu di sana, dia panik, takut, dan khawatir jika Yayu marah atas sikapnya dan pergi meninggalkannya. Dia mengacak rambutnya frustasi. Memutar kursi rodanya, keluar menuju dapur, memanggil nama Yayu namun tak mendapat respon.
Enggar mendekati meja makan dan mèmotong kue bolu pisang buatan Yayu. Tampilannya kini tidak begitu menarik, setelah Calista membantingnya tadi, dia menyuapkan satu suapan kecil ke dalam mulutnya, dan pada menit berikutnya dia telah menghabiskan setengah dari kue tersebut. Ada kelegaan di wajahnya sekaligus rasa khawatir secara bersama. Dia merasa lega karena telah menemukan rasa bolu pisang yang dia cari selama ini. Rasanya tak seenak bolu pisang di Cafe Melody, namun rasa inilah yang dia harapkan, kehangatan. Sebuah gelenyar aneh merasuki kalbunya, terasa nyaman dan menenangkan.
Pernah di masa dahulu, kue bolu itu menyelamatkannya, sekaligus membawanya pada cinta yang menyakitkan hatinya kini. Dia khawatir jika dia akan salah lagi dan kembali terluka. Rasanya membayangkannya saja sudah ngeri. Namun, dia memutuskan untuk tetap mencoba, meski dia tau resikonya. Apalagi banyak orang yang mendukungnya.
Enggar tergelak, teringat dengan Yayu yang belum dia temukan, rasa cemas menyelimuti hatinya, dia tak tau obat apa yang telah Calista bubuhkan di minumannya tadi. Sambil mengitari dapur dan kamar mandi, Enggar meneriakkan nama Yayu. "Kana? Kana? Kana ... " teriaknya.
Yayu yang sedang bergelung dibawah ranjang tanpa sengaja menendang bagian bawah nakas dengan keras hingga lampu diatasnya terjatuh. Enggar segera mengayuh kursi rodanya kedalam kamar. Dia sempat terkejut melihat Yayu dalam posisi meringkuk di bawah ranjang.
Enggar tau Yayu telah meminum obat yang di masukkan Calista ke dalam minumannya tadi. Dia tidak menyangka Calista setega itu untuk melakukannya dan berusaha menjebaknya atau mencelakainya, sayangnya sebelum dia mendengar cerita langsung dari Calista, dia sudah lebih dulu mengusirnya. Enggar tau cerita Calista dan latar belakangnya dari penyelidikan yang dia lakukan, namun dia juga ingin tau dari mulut si empunya secara langsung. Dan siapa sangka sebelum Enggar berhasil menemukan jawabannya, dia sudah mengusir Calista duluan. Namun Enggar tak begitu ambil pusing, apapun alasannya, yang terpenting baginya saat ini adalah Calista sudah berjanji tidak akan menganggunya lagi. Selama Calista mau berubah, Enggar rasa dia masih bisa menoleransi.
"SIAL." Umpat Enggar dalam hati, matanya membelalak menangkap tubuh Yayu yang menantang, posisinya membuatnya terangsang, namun dia ingat jika Yayu dalam pengaruh obat-obatan dan dia tidak mau jika sesudah sadar Yayu akan malah membencinya.
Enggar berusaha memalingkan wajahnya, akan tetapi posisi Yayu sangat mengundang kejantanannya. Bajunya sudah terlepas, tinggal menyisakan Celana dalam warna merah dan bra yang dia pakai, hal itu sangat menggoda Enggar. Lelaki normal mana yang akan tahan dengan pemandangan yang dapat melelehkan air liurnya tersaji di depan mata.Apalagi mereka berdua telah resmi menjadi suami istri. Dan tentunya akan menjadi pahala bagi keduanya.
Enggar terbilang sangat beruntung, karena dalam kecelakaan yang dia alami dia tidak sampai mengalami cedera yang serius,mengingat tubuhnya sempat terseret beberapa meter. Dia seperti di lindungi oleh peri baik hati. Bahkan semua tulang belakang, otot, saraf, otak, ingatan, dan persendiannya masih berfungsi dengan baik. Semua organ tubuhnya masih utuh, seperti tak tersentuh.Namun, dia mengalami luka benturan pada lutut yang menyebabkannya retak dan harus di operasi,lecet pipi, lecet pelipis dan beberapa lecet ringan.
Jika pada kecelakaan itu dia mengalami cord spinal injury atau cedera pada saraf tulang belakang, maka kemungkinan besar saat ini dia tidak akan bereaksi terhadap tubuh Yayu. Pasalnya tubuhnya akan mengalami kesulitan menerima sinyal dan rangsangan yang di timbulkan oleh otak m***m nya.
Enggar mengambil selimut dan menutupi tubuh Yayu, tapi Yayu menjauhkan selimut itu dari tubuhnya, dia kembali meracau dan tubuhnya kian menegang setelah sebuah sentuhan selimut mengelus kulitnya.
Matanya membeliak, melihat Enggar, hati dan pikirannya menolak, dia tidak mau Enggar kembali menghinanya apalagi Ibunya, sudah cukup baginya penghinaan itu dan dia tak akan sanggup menerima bila Enggar sekali lagi melontarkan hinaannya, tapi tubuhnya seperti kesetanan dan sangat menginginkannya.Detik berikutnya dia melompat kedalam pangkuan Enggar. Enggar yang tidak siap menjadi kikuk, apalagi barang miliknya kini telah mengembung di bawah sana, terangsang oleh tubuh Yayu dan pergerakan tiba-tibanya.
Yayu menangkup wajah Enggar dengan kedua tangannya. Tangan Enggar memegang pundak Yayu, berusaha menjauhkan tubuh Yayu dari pangkuannya, namun Yayu bersikukuh, menatap mata Enggar dengan penuh hasrat, sementara mata Enggar tidak fokus, memandang mata Yayu sebentar lalu berkeliling, mencuri pandang dua gunung kembar yang menantang di depan matanya. Hembusan nafas Yayu terasa berat dan panas, membuat jakun Enggar naik turun.
Yayu mendekatkan wajahnya, mencuri satu ciuman ringan di bibir Enggar. Enggar terdiam sesaat, tubuhnya menegang. Dia bertarung dalam dirinya, antara mengikuti keinginan Yayu atau menolaknya.
"Kana hentikan!" bentak Enggar. Posisi Yayu kini membuat Enggar kelabakan. Tangannya mendorong tubuh Yayu agar menjauh namun Yayu bergeming. Yayu mengaitkan lengannya pada tengkuk Enggar, bibirnya bergerilya menyusuri leher Enggar dan mengecupnya lembut.
Masih menggoyang-goyangkan pundak Yayu."Kana sadarlah! aku mohon sadarlah!" pekiknya.
Enggar berusaha mengelak, menjauhkan kepalanya ke belakang, namun malah membuat lehernya terbuka dan memudahkan Yayu memainkan lidahnya disana. Beberapa kali Enggar mendesis merasakan ciuman di lehernya dan tubuh Yayu yang panas membuatnya semakin gerah.
Enggar mengangkat kepala Yayu dan kini melihat kedua manik mata bundar itu. "Hentikan Kana! Aku bilang hentikan! Atau kau akan menyesal."
Yayu memajukan wajahnya berusaha mencium Enggar namun tertahan, tubuh bagian bawahnya sudah basah dan sedaritadi terus bergerak meminta di perhatikan.
"Aku menginginkanmu ETO, aku menginginkanmu," racaunya. Yayu tau sejak tadi, dirinya akan menyesali perbuatannya malam ini, namun dia tak sanggup lagi menahan hasratnya dibawah pengaruh obat itu. Obat yang dia kira racun tak taunya adalah obat perangsang.
"Bantu aku, bantu aku! Aku membutuhkanmu, aku membutuhkanmu, aku panas, panas ... ." racaunya. Tubuhnya semakin panas dan menggelinjang.
"Tidak Kana, tidak!" Enggar menolak sekuat tenaga, meski tubuh dan otaknya juga begitu menginginkannya. Dia sadar dia telah jatuh hati pada wanita itu dan tak mau menodainya.
Sementara Yayu dalam pengaruh obat j*****m itu, membutuhkan Enggar untuk menuntaskan hasrat yang menyerangnya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku melakukannya pada diriku sendiri," protesnya.
Yayu mengubah posisinya, kini dia membelakangi Enggar. Memejamkan matanya, meremas gunung kembarnya dengan sesekali memegang bagian disela-sela pahanya. Aksinya dapat Enggar lihat dengan jelas pada kaca besar di belakangnya. Yayu benar-benar seperti p*****r. Dia begitu pandai memainkan alat vitalnya dan bagian tubuh sensitifnya yang lain.
Enggar merasa iba, melihat Yayu yang membutuhkan pelampiasan tapi dia tak ingin mengambil kesempatan seperti ini. "Hentikan, aku akan memelukmu dan diamlah di sini!" Usulnya.
Kata-kata Enggar laksana angin lalu, tubuh Yayu yang semakin tak karuan, membuatnya terus menggesek area bokongnya pada paha Enggar dan mendesah ringan dengan permainannya sendiri di atas pangkuan Enggar. Tubuhnya yang di dekap Enggar kembali memberontak, kepalanya menoleh, mulutnya menggigit bahu Enggar dengan keras hingga Enggar melepaskan pelukannya.
Kini Yayu kembali mengubah posisinya menjadi menyamping, wajah Yayu mendekat tanpa aba-aba melumat bibir Enggar, namun Enggar masih belum bereaksi, bahunya terasa sakit, namun detik berikutnya dia membalas ciuman Yayu dengan intens. Mereka saling melumat, cecapan dan leguhan ringan terdengar di antara ciuman mereka yang penuh gairah.
Yayu membawa tangan Enggar ke area Miss-V nya yang kini telah basah dan sangat siap. "Ahh ... "Desahan ringan keluar dari mulut Yayu ketika tangan Enggar menyentuh area itu.
Yayu meremas ringan milik Enggar yang telah mengembung di balik celana."Berikan padaku!" pinta Yayu di sela ciuman panas mereka, seolah hal itulah yang sangat dia inginkan saat itu.
"Ssst ... "Enggar mendesis merasakan kenikmatan di area kejantanannya yang semakin terangsang. "Kau sungguh menginginkannya?"
Yayu seperti sudah hilang akal, dengan cepat dia mengangguk, menanggapi pertanyaan Enggar. Tubuhnya menuntut dirinya untuk memperoleh pelampiasan."Ahh ... " Yayu mendesah, kini lebih keras, sekali lagi tangan Enggar bermain diarea sensitif Yayu dan bibirnya menggigit bibir bawah Yayu ringan lalu mulutnya mulai merayap ke area lehernya lalu turun kebawah menjilat dan menyesap p****g Yayu yang kini tak tertutup.
Yayu semakin meremas milik Enggar, detik berikutnya keduanya beradu dalam cumbuan malam yang panas dan penuh gairah di bawah pengaruh obat, Yayu menyerahkan harta berharga miliknya hingga berdarah-darah kepada suami kontraknya.
***
Kumandang adzan yang menggema dengan keras membangunkan Yayu. Dia tercenung melihat posisinya saat ini. Masih belum berani bergerak, matanya memandang kaca di depannya yang menampilkan pantulan posisi mereka dan jam dinding di tembok belakang nya. Jam 4.00 pagi.
Posisinya sangat membuatnya tegang. Dia berada dalam pangkuan Enggar, punggungnya membelakangi Enggar, kepalanya dia sandarkan pada bahu Enggar yang tak berpakaian. Tubuhnya sendiri tak mengenakan sehelai benang pun, hanya selimut tipis menutupi bagian tubuhnya, sedang semua bajunya berserakan di sembarang tempat. Tangan Enggar melingkari perutnya dengan kuat, seolah takut Yayu akan menghilang bila pagi datang. Beberapa kiss mark terpampang di leher dan gunung kembarnya.
Tanpa dia sadar wajahnya memerah, dia teringat malam panas yang mereka lewati semalam. Bahkan Yayu tidak puas hanya dengan satu ronde pelepasan. Libidonya meningkat selain karena pengaruh obat juga karena dirinya yang baru merampungkan masa menstruasinya. Dia merasa malu dengan tingkahnya semalam. Dia sangat agresif, layaknya seorang p*****r yang begitu lihai dan sudah sering melakukannya.
Bahkan setiap kata yang dia ucapkan semalam, kini membuatnya ingin berlari sejauh mungkin.
Yayu merasakan rambutnya dibelai lembut oleh tangan Enggar. Ia menggerakkan tubuhnya ringan. Dia merasakan panas dan perih pada daerah kewanitaannya. Miliknya masih menyatu dengan milik Enggar. Setelah ronde terakhir dengan pelepasan yang dasyat mereka kelelahan dan tertidur dengan pulas.
Enggar membelai rambut lembut Yayu, pikirannya berandai-andai."Kana ... sayang ... ?" panggil Enggar.
Yayu mengurai pelukannya, memalingkan wajahnya, menatap wajah Enggar dengan perasaan bingung dan takut, berbagai pikiran negatif berkecamuk di kepalanya. Namun Enggar tidak memarahinya.
Yayu pikir dirinya sudah mati, atau kini dia sekarang sedang berada di alam mimpi. Dia tidak yakin dengan yang dia lihat, apalagi semalam Enggar sudah mengusir dan membentaknya.
Sebuah ciuman ringan mendarat di bibirnya. "Jangan terus membuatku menginginkanmu!" gumam Enggar, kemudian memasukkan kaos miliknya ke tubuh Yayu. Dan baru pada saat itulah Yayu sadar jika dia tidak bermimpi, bahkan miliknya yang masih menyatu di bawah semakin terasa perih.
Yayu merona, dia lupa dadanya masih terekspos. "Maaf,"
"Untuk?"
"Mmmm ... sem ..." suara Yayu terhenti. Bibir Enggar melumat bibir Yayu, panjang dan dalam.
Yayu melepaskan ciuman Enggar, menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Enggar tersenyum ringan melihat tingkah Yayu.
"Jangan meminta maaf untuk apapun, kapanpun kau menggodaku aku tak akan marah!" Enggar berujar. "Itunya sakit?" bisik Enggar lirih. Yayu mengangguk, dengan perlahan dia bangkit dari pangkuan Enggar, kembali wajahnya merona, melihat milik Enggar yang kini kembali membesar setelah terpisah dengan miliknya.
Yayu merasakan sakit, miliknya seakan robek bahkan dia merasa sulit untuk berjalan, dia tertatih hendak pergi ke kamar mandi tapi di cekal oleh Enggar, kini dia kembali berada di atas pangkuan Enggar. Enggar memeluknya dengan posesif, menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Yayu dan menghirupnya dalam-dalam.
"Yang ... boleh aku minta lagi?" ucap Enggar lirih.
Yayu memelotot, Enggar menahan tawanya. "Sakit banget ya?" tanyanya kemuďian.
Yayu bergeming, pandangannya menerawang. Enggar mencium pipinya lalu mencium bibirnya dengan lembut, dan Yayu menyambut ciuman itu.
Bagaimana tidak sakit? Milikmu dengan ukuran luar biasa seolah merobek milik ku dengan paksa. Batin Yayu berceloteh.
"Maafkan aku sayang ... aku tidak tau kamu masih perawan." Sebuah kecupan ringan dia berikan pada puncak kepala Yayu. "Kamu pasti sangat sakit, kenapa kamu tak bilang padaku sebelumnya?" Enggar kembali berbisik, dia tau Yayu pasti akan kesakitan mengingat betapa sulit miliknya memasuki milik Yayu padahal milik Yayu sudah sangat basah, dan ukuran miliknya yang terbilang besar membuatnya kewalahan. Namun hal itu pula yang membuat dia ketagihan.
Enggar harus mengenyahkan pikiran negatif itu untuk sekarang, dia mau Yayu istirahat. Dia tau pasti tubuhnya capek apalagi tidur dalam pangkuanya semalam. Dia sendiri juga kelelahan.
Enggar mengurai pelukannya. "Kita pindah ke ranjang yuk!" ajak Enggar.
Yayu memelotot. Enggar tersenyum, menyapit hidung Yayu. "Kita tidur lagi, kan capek tidur dengan posisi duduk," jelasnya.
Yayu menyetujui. "Kita mandi lalu sembahyang dulu ya?" usul Yayu.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Yayu. Mereka mandi lalu sembahyang dan kembali tidur, kini Yayu berada dalam dekapan Enggar di kamarnya.
***
Bersambung ...