DENDAM 40

2249 Kata
Drt ... drt ... drt ... Sebuah bunyi ponsel membangunkan Enggar. Dia menggeliat ringan, dengan mata yang masih tertutup meranggeh ponsel itu dan mendengarkan dengan seksama apa yang di bicarakan si penelpon tanpa berniat merubah posisi tidurnya. "Baiklah aku mengerti, aku pasti datang." Enggar mematikan ponselnya, menaruh kembali ke atas nakas. Kini pandangannya telah terbuka lebar, mengamati Yayu yang tertidur meringkuk di sampingnya. Anak rambutnya menutupi sebagian wajah, dia menyibakkan rambut itu, memandang wajah Yayu yang terlelap dengan tenang. Diapun menarik sudut bibirnya ke atas, telapak tangannya dia tempelkan pada pipi Yayu, lalu di elusnya penuh sayang. Wajahnya dia dekatkan pada wajah Yayu dan menciumnya ringan. Berasa ingin buang air kecil, Enggar bangun dari tidurnya, tak ingin membangunkan Yayu, diapun turun ke kursi roda dengan sangat pelan, namun pergerakannya membuat Yayu membuka matanya, dia sudah bangun dari tadi, tetapi enggan untuk bertatap langsung dengan wajah Enggar, dia masih merasa takut, apalagi semalam dia bertindak di luar nalar. Dia ingat dengan perbuatannya meskipun tidak semuanya. Yayu melirik angka pada jam yang menempel di dinding, jam 10.00 pagi. Dia tersentak kaget, lalu mengelus dadanya, dia ingat besok adalah hari terakhirnya kursus mengemudi dan bukan hari ini, lalu sorenya dia akan melakukan tes untuk memperoleh SIM. Bergegas dia bangun lalu merapikan rambut dan menguncirnya cepol. Setelah itu dia pergi ke dapur, dia sempat tertegun dengan keadaan dapur yang berantakan. Tanpa pikir panjang diapun membersihkan muka di wastafel, kemudian membersihkan semua kekacauan disana, lalu membuat sarapan tergampang, telur dadar dan roti bakar, serta kopi untuk tiga orang. Yayu belum tau kalau Calista sudah tidak ada di rumah itu lagi. Enggar kembali dari kamar mandi, setelah berbincang sebentar dengan mama dan papanya. Dia menceritakan semuanya pada mereka, tapi tentu saja tidak dengan malam panas yang dia lewati bersama Yayu semalam. Jika tidak, pasti sudah bisa dipastikan malam ini kedua orang tuanya akan muncul dengan tiba-tiba di rumah mereka, saking senangnya. Mamanya sampai sempat memarahinya kenapa masih saja melepaskan Calista, padahal dia sudah terbukti ingin mencelakai dirinya. Namun Enggar masih tetap bersikeras untuk memberinya satu kesempatan lagi. Enggar bergeming menatap punggung Yayu, pikirannya kembali teringat dengan peristiwa semalam. Senyumnya mengembang, otak mesumnya kembali beroprasi. Dia mengayuh kursi roda mendekati Yayu yang kini tengah mencuci tangannya di wastafel. Beberapa detik kemudian dia telah berada tepat di belakang tubuh mungil Yayu. Aroma shampoo yang menguar dari rambutnya bercampur aroma kopi yang terhidang di atas meja membuat Enggar lapar, namun dia lebih tertarik untuk memakan Yayu saat itu juga. Tepat pada saat Yayu membalik badan, dia kaget mendapati Enggar di belakangnya, dengan serta merta tubuhnya menubruk Enggar, tangan Yayu menempel pada d**a bidangnya, bibir mereka bertemu, mata keduanya melotot, detik berikutnya Enggar menyesap lembut bibir Yayu, menekan bibirnya dengan lebih kuat dan menambah ritme lumatan di bibir itu, berharap Yayu membalasnya. Mata Yayu terkatup, diapun tanpa sadar membalas ciuman Enggar dengan tak kalah kuat, keduanya saling menyesap, lidah merekapun melilit seolah bertarung dalam rongga mulut, sesekali mereka harus melepaskan ciuman mereka karena kehabisan napas. "Mmmm ... mmm ... mmmmcp ... mmmanis," gumam Enggar di sela ciuman mereka. Pada menit ke-5 Yayu baru tersadar jika dirinya belum sempat menggosok giginya. Dengan segera dia menjauhkan wajahnya dari jangkauan Enggar, Enggar mengerang , marah, ketika dia menikmati mengulum lidah Yayu dengan rasa kopi manis, Yayu malah melepaskannya begitu saja. Enggar membuka matanya, keningnya berkerut sesaat melihat Yayu telah menutupi bibirnya dengan punggung tangannya. Enggar pun tersenyum, melihat pipi Yayu yang sudah memerah. Dia menyeka bibir Yayu yang tampak lebih merah, satu kecupan di kening dia berikan kepada Yayu setelah dia menangkup wajah Yayu. Detik selanjutnya Yayu menjauh dari kursi roda Enggar dan berlari ke kamar mandi. "Calista masih belum bangun ya?" tanya Yayu setelah kembali dari kamar mandi. Pasalnya sejak tadi dia tidak melihat Calista, dan anehnya kenapa semalam Calista tidak mengganggu atau menggagalkan malam panas mereka. Dan tadi pagi dapur begitu berantakan, seolah semalam telah terjadi badai disana. Enggar duduk dengan santai di depan meja makan dan menikmati sarapan buatan Yayu. Dia menoleh, tersenyum melihat Yayu yang sedang menarik kursi di depan Enggar. "Dia tidak akan tinggal disini lagi," jawab Enggar. "Aku sudah mengusirnya tadi malam," pungkasnya menerangkan. Yayu membisu, mengernyitkan dahi, tidak percaya. Bagaimana mungkin Enggar melakukannya. Yayu memandang Enggar lekat-lekat. Enggar mengunyah roti di dalam mulutnya dengan santai, seolah pertanyaan Yayu mengenai Calista sangat tidak penting. " ... sayang, tadi Mama dan Papa telpon, mereka menanyakan kapan kita akan memberi mereka cucu, ?" Enggar memulai pembicaraannya. Yayu hampir saja tersedak oleh kopi yang dia minum. Menaruh cangkir kopinya di atas meja dan memandang Enggar dengan bingung. Deg. Jantung Yayu seolah berhenti berdetak. Dia sudah sering mendengar ayah dan ibu mertuanya mengutarakan hal tersebut padanya. Namun selama ini dia tidak begitu peduli, toh dia dan Enggar tidak pernah berhubungan layaknya suami istri, bahkan keduanya juga telah menandatangani kontrak enam bulan pernikahan, dan menyepakati semua point di dalamnya. Dan sejak awal tujuan Yayu adalah menyelamatkan peninggalan orang tuanya dan membalas dendamnya. Akan tetapi apa jadinya jika nanti dirinya benar-benar hamil, apalagi semalam mereka telah melakukannya tanpa menggunakan pengaman dan diapun tidak meminum pil kontrasepsi. Ah, Yayu benar-benar dilema. Setelah kejadian semalam, dia merasa bahwa Enggar semakin lembut dan manis padanya, sedang hatinya tak ingin goyah. Namun, benih cinta itu tak akan mungkin bisa lama dia pendam. Diapun tau Enggar tidak bersalah dalam kecelakaan ibunya, setelah informasi yang dia terima dari Mbak Tuti, dan dari pengakuan Calista sendiri. Dia kini menjadi takut. Takut Enggar tau, lalu membencinya, dia takut cintanya membuatnya menginginkan lebih dari pernikahan 6 bulannya. Kepalanya berdenyut, pikirannya ruwet, berbagai macam pemikiran negatif berjejal disana. Hening, Yayu bergeming. Mengalihkan tatapan matanya ke arah roti di tangannya, dia menyuapkan roti itu pada mulutnya, tak ingin menimpali kata-kata Enggar. Enggar sedikit kecewa dengan sikap Yayu. Padahal dia sedikit antusias dan berharap Yayu memberi respon yang baik. Dia sepertinya sudah lupa dengan semua kontrak dan perkataan Yayu semalam. *** Flassback "PERGI! AKU BILANG PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG!" Entah keberapa kali Enggar harus berteriak pada Calista dan mengusirnya. Calista tetap mematung, tidak mau meninggalkan Enggar dan bersikeras menangis dan meminta maaf. "Enggar sayang ... kenapa kamu ngusir aku? Kamu taukan perempuan itu yang mulai duluan, dia yang mencari perkara dengan ku. Kamu lihat kan pipi ku, sampai merah begini dia tampar." Calista mengusap pipinya yang memerah, dia mengadu dan tak terima Enggar mengusirnya. "Kenapa kamu malah membelanya dan mengusirku?" tanya Calista, yang masih tidak percaya dengan tundungan Enggar. "Sudahlah Ta, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga sebelum aku kehabisan kesabaran. Aku memang seharusnya mengusirmu dari dulu dan tak mengijinkanmu tinggal disini," papar Enggar. Dia teringat bagaimana Calista menyebutnya sebagai anjing piaraannya ketika berbicara dengan seseorang di telpon sebelum kejadian naas itu Calista tersenyum sumbang." Apa kamu lupa dengan janjimu? Dan sekarang kamu mau mangkir dari tanggung jawabmu?" protes Calista. "Tanggung jawab yang mana?" Calista mengelus perut buncitnya. "Kamu lupa sudah berjanji untuk menikahiku? Lalu kamu akan menceraikan istrimu itu, lebih tepatnya istri pilihan mamamu." Enggar menggeleng tidak percaya. "Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh Calista, apa kamu pikir aku tidak tau ...?" Kata-kata Enggar terhenti, mengamati Calista sejenak. Calista meremas tangannya dengan keras, dia benar-benar kesal, gara-gara Yayu dia harus gagal mendapatkan tubuh Enggar malam ini, dan otomatis rencananya juga kandas. "Maksud kamu?" " ..., jangan berpura-pura! aku tau kau tidak hamil, aku tau kau sudah keguguran beberapa bulan yang Lalu, tepatnya beberapa hari setelah aku masuk rumah sakit. Jangan bilang kau juga lupa, jika aku bukan ayah dari bayi yang telah gugur itu, atau kamu juga lupa bahwa kita sama sekali belum pernah berhubungan badan selama pacaran?" Enggar tetap menatap Calista dengan intens, matanya memerah penuh amarah, dia meyakini dan berharap Calista akan menyadari kesalahannya lalu meminta maaf padanya kemudian pergi untuk hidup lebih baik, tapi nyatanya harapannya tinggal sebuah harapan, bahkan kini Calista berusaha mencelakainya, meskipun dia tidak yakin dengan obat yang di masukkan Calista pada minumannya. Kepalanya berdenyut, dia teringat Yayu yang telah menenggak minuman itu, dia mulai panik dan khawatir. "Omong kosong, kamu sendiri juga tau, jika selama ini kamu adalah satu-satunya pacar aku dan semua orang tau itu, jadi mana mungkin aku hamil anak orang lain," elak Calista dengan ngotot. Bagaimanapun juga dia harus tetap menyakinkan Enggar agar dia mau memaafkannya dan menerimanya kembali, ibarat pepatah, terlanjur basah, mandi sekalian. Selain itu dia juga sudah memutuskan untuk meninggalkan kehidupan lamanya. Enggar mengeraskan rahangnya, dia tau Calista akan bersikukuh dengan pendiriannya. "Sejak kapan seseorang yang berpacaran tanpa berhubungan badan bisa hamil Ta? Dan sejak kapan jari tangan bisa membuat seseorang hamil?" teriak Enggar, geram. Selama ini mereka memang tidak pernah melakukan hubungan sampai jauh, namun mereka pun pernah melakukan hal lain yang bisa membuat mereka terpuaskan satu sama lain. Hening. Calista tak menjawab apapun. "Aku akui selama berpacaran dengan mu, kamu selalu menarik perhatianku dan selalu saja ada keinginan dalam diriku untuk bisa menyentuh bahkan mengaulimu layaknya suami istri, tapi aku selalu menjaga hal itu agar tidak sampai di luar batas, karena saat itu aku memang mencintaimu dan ingin meneruskan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, selain itu mama dan papa ku sendiri tidak pernah mengajariku untuk berbuat asusila." Enggar memutar kursi rodanya, mengayuhnya menuju ke arah kue bolu buatan Yayu. Enggar sendiri mengakui selama ini dia sangat terpesona dengan kecantikan Calista, tapi dia juga selalu menjaga kesucian wanita yang dia cintai. Itulah sebabnya Enggar memantapkan diri untuk memperkenalkan Calista pada kedua orang tuanya, tapi sepertinya Calista tidak tertarik sama sekali, Enggar sendiri tidak tau alasannya. Bahkan di awal hubungan Calista terlihat sangat canggung dan menghindari Enggar. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan, namun Calista akhirnya sedikit demi sedikit berubah dan mulai sedikit liar bagi Enggar. Calista mematung. Dia teringat kata-kata Jero, hatinya memanas. Dia mengumpat dalam hati menyalahkan Yayu yang selalu ikut campur urusannya. Dia menoleh, menatap Enggar yang memegang bolu pisang dan menghirup aromanya. Calista melangkah mendekati Enggar dan merebut kue itu. "Oh, jadi ini penyebabnya hingga kamu melupakanku dan tidak mempercayaiku bahkan menuduhku yang bukan-bukan. Apa kamu yakin, kue ini tidak beracun? Apa kamu yakin istrimu itu wanita baik-baik? Jangan bilang kamu sudah mengenalnya dengan baik." Calista melempar kue di tangannya ke arah wastafel, kue itu sempat hampir terjatuh ke tanah namun kembali lagi ke dalam loyang dan jatuh ke dalam wastafel, kue itu tidak kotor namun retak dan beberapa remah kue berceceran di lantai. Enggar sedikit lega melihat kue itu selamat, itu artinya dia masih bisa menikmati kue nya dan mencari tau rasa kue itu. Tatapannya nyalang dia arahkan kepada Calista. Mantan pacarnya ini benar-benar keras kepala dan tak mau mengalah sedikitpun. "Calista, hentikan! Jangan menuduh orang lain!" "Aku tidak pernah menuduh siapapun, karena ini memang nyata." "Hentikan! Pergilah aku sudah lelah. Aku tidak ingin lagi berdebat." Enggar mengayuh kursi rodanya menjauh dari hadapan Calista, namun Calista menghentikannya. "Sayang ... aku juga lelah harus bertengkar dengan kamu, kita baikan dan berdamai ya, kita ke kamar sekarang dan besok kita pasti akan lebih fresh," tawar Calista dengan suaranya yang dibuat sesensual mungkin, seolah Enggar adalah suaminya, yang akan dengan mudahnya tergoda. Mungkin Enggar yang lama ia, tapi tidak dengan yang baru, karena hatinya telah berpindah. Dan sepertinya dia tau, dia sudah salah mencintai. Enggar melepaskan pelukan Calista, namun Calista mengeratkannya. Dia berusaha mencium Enggar namun dengan cepat dia mendorong tubuhnya. "Sayang ... kamu kenapa sih, kamu itu pacar aku satu-satunya, kamu tau itu kan?" "Aku gak tau." "Enggar sayang ... kamu maukan maafin aku?" rengeknya. "Kamu kok gak percaya sih sama aku, kamu taukan semua orang tau kamu satu-satunya pacarku." protesnya lagi. "Sudahlah Calista, cepatlah berkemas! Aku lelah." "Enggar kenapa sih, kamu susah banget untuk percaya sama aku?" Huh, Enggar mendesah pelan. "Calista, aku tau semua orang melihat jika aku adalah pacarmu dan itu dulu, tapi aku juga tau jika orang lain dan aku sendiri bahkan tidak melihat siapa saja orang yang kamu kencani di belakangku."tuduh Enggar. Tatapan mata Enggar berkilat penuh amarah. Calista geram mendengar tuduhan itu, walaupun ada kebenarannya, tapi dia tentu tak mau mengakui. Tatapannya pun tak mau kalah, dia menghunuskan tatapan tajam, setajam Katana (pedang samurai jepang). "Calista jangan keras kepala, aku memang pernah mencintaimu dengan tulus, meskipun pada akhirnya aku tau aku salah, karena mencintaimu dan aku tak tau rasa cintamu padaku. Bukankah aku sudah pernah mengajakmu untuk berkenalan dengan mama dan papa tapi apa? Kamu selalu menolak dengan berbagai alasan. Cukup Calista, CUKUP! semuanya sudah berakhir!" "Aku mau Gar, aku mau kamu kenalkan pada orang tuamu." "Semua sudah berlalu, dan aku sudah menikah, Kana adalah istriku dan aku mencintainya." Mata Calista memelotot. Kata-kata yang tidak ingin dia tau dari Enggar, akhirnya terdengar juga. "Enggak ... gak mungkin, kamu pasti bo'ong." "Calista, semua ini nyata, dan aku tak berbohong." "Gak mungkin, aku tau kamu, dan kamu hanya mencintaiku Enggar, hanya aku!" Calista meyakinkan dirinya sendiri dan Enggar bahwa cintanya hanya untuk Calista. "Calista, kamu harus bisa menerima ini semua, kamu harus menerima jika aku juga sudah berubah seperti dirimu yang juga sudah berubah." "Enggak, aku gak percaya dengan semua kata-katamu." Calista berlari menuju kamarnya dan mengambil tas tangannya, tanpa memperdulikan koper dan baju-bajunya, dia hanya berniat keluar sebentar. "Tunggu! Jangan pernah kembali kesini lagi, aku akan menyuruh orang untuk mengirim barang mu yang lain." Calista meremas tas tangannya. Dia mendekati Enggar. "Ingat baik-baik Enggar! Bahwa istri mu itu tak sepolos yang kamu pikirkan, jangan pernah menyesal karena kamu telah mengusir ku dan memilih dia." Calista menjauh lalu keluar dari dalam rumah Enggar, dia melihat sebuah taksi berhenti di depan halaman rumah Enggar. Calista memasuki taksi, setelah sebelumnya melihat ke arah rumah mungil itu. Flasback off *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN