DENDAM 41

1176 Kata
Selesai sarapan Yayu mencuci piring dan gelas yang baru mereka gunakan. Sedang Enggar berada di halaman depan menerima telpon. Asan, sekertarisnya sedang melapor pada Enggar mengenai malam pembukaan wahana Miss Mermaid yang akan berlangsung dua minggu lagi, semua persiapan sudah mencapai 95 persen, sekaligus laporan-laporan penting lainnya yang wajib Enggar tau. Yayu telah selesai mencuci baju dan menjemurnya di halaman belakang, menyirami tanaman dan bunga hias di kebun kecilnya. Enggar mengayuh kursi rodanya menuju dapur, mengambil air minum dan menenggaknya hingga tandas. Tenggorokannya terasa kering setelah mengobrol ini itu dengan San kurang lebih selama 2 jam. Matanya berkeliling, mencari keberadaan Yayu, namun tak ada tanda-tanda Yayu disana. Dia menuju ke halaman belakang, bibirnya merekah melihat Yayu menyiangi rumput liar di kebun kecilnya. "Yayu, kesini sebentar!" panggil Enggar. Yayu menoleh, mengibaskan celananya, menuju ke kran air dan mencuci tangan, lau diapun mendekati Enggar. Peluh menetes di dahinya membuat Enggar kembali tersenyum. "Ada apa?" jawab Yayu, ketika dia sudah berada dekat dengan Enggar. Enggar masih diam, meski sudah mendengar pertanyaan Yayu, dia melambaikan tangannya, menyuruh Yayu mendekat. Yayu mengernyitkan dahinya tidak tau maksud Enggar, namun dia tetap menuruti kata-katanya. Enggar menunjuk pada bangku kecil di samping kursi rodanya. Menyuruh Yayu untuk duduk disana. Aneh. Pikir Yayu. Tanpa banyak protes diapun duduk, melepas topinya dan menata rambutnya yang telah lepek karena keringat. "Apa kamu butuh sesuatu?" kembali Yayu bertanya, wajahnya dia dongakkan. Kini menatap Enggar. Entah setan apa yang merasuki Enggar, melihat Yayu berkeringat, pipinya merona merah kehitaman terkena sengatan matahari, dan bau keringat tidak membuatnya jijik, hal itu malah membuatnya terpesona. Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Yayu, mata Yayu mengerjap beberapa kali, dengan cepat Enggar menangkup wajah Yayu dengan kedua tangannya agar tidak segera berpaling. Kemudian dia mencium keningnya lalu menyeka peluhnya. Yayu bergeming, jantungnya terasa melompat dari rongga dadanya, bingung dengan sikap Enggar. Enggar melepas tangkupan tangannya. "Bantu aku menyiapkan alat-alat lukisku!" perintah Enggar. "T-tapi kan, kita harus olahraga dulu," ucap Yayu. Setiap hari setidaknya selama satu jam Yayu menemani Enggar olahraga, meskipun jadwalnya tidak tetap, karena Enggar lebih banyak beralasan ini dan itu. "Ini kan masih jam 1.00 beri aku dua jam untuk melukis, setelah itu kita bisa olahraga," usul Enggar. Yayu mengangguk, mengikuti di belakang Enggar yang menjalankan kursi rodanya menuju ke kamar. Enggar mengambil sketsa pada sketch book nya semalam lalu memfotonya. Dia menyuruh Yayu mengambil semua peralatan dan menatanya dengan rapi. "Selesai," ucap Yayu di depan kanvas yang telah berdiri di atas easel kayu dengan anteng, di atas meja kecil dia letakkan cat minyak, kuas, palet, dan celemeknya. "Makasih," jawab Enggar. "Kamu siap-siap ya jam 4 sore kita pergi ke mall!" Ucapnya kemudian. Tak banyak tanya Yayu mengiyakan perintah Enggar lalu pergi dari sana. "Baiklah, kalo gitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu di belakang, dan kita bisa melakukan olahraga ringan sebelum kita keluar," terangnya. Yayu melangkah keluar meninggalkan Enggar dengan kanvas lukisnya. Enggar mengambil kuas lukisnya dan memulai membuat sketsa di atas kanvas nya sesuai dengan gambar yang telah dia buat. *** Tepat jam 5.00 sore taksi yang mereka tumpangi berhenti pada tempat parkir sebuah mall terbesar di kota itu. Tidak seperti di Jakarta, di setiap sudut kota berdiri mall dan plaza yang megah, di kota ini bahkan untuk bisa sampai pada mall saja perjalanan selama satu jam harus mereka tempuh. Selama dalam perjalanan mereka hanya diam membisu, seolah larut dalam pikiran masing-masing, keduanya mengamati lalu lalang kendaraan yang semakin padat. Meskipun tak banyak area perkantoran, namun mall di kota itu terletak di dekat alun-alun kota dan lapangan olahraga yang setiap harinya selalu padat dengan pengunjung. Yayu membantu Enggar untuk naik ke atas kursi rodanya, membayar biaya taksi kemudian mendorong Enggar memasuki mall. "Kita mau ngapain kesini?" Akhirnya Yayu memberanikan diri bertanya, setelah tadi hanya menebak-nebak. "Beli baju, besok malam kita akan menghadiri party." Enggar mengamati dengan seksama denah area mall untuk mencari toko yang dia perlukan. "Dorong aku kesana!" Sembari menunjuk ke arah dua orang resepsionis yang berdiri dengan cantik di belakang meja kerjanya. Kini mereka telah berada di sebuah toko baju cosplay yang menyediakan aneka baju pesta, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Setelah memberitahukan kepada penjaga toko dan membayar barang yang mereka beli, mereka keluar toko dan berkeliling mall. Enggar melihat papan reklame yang menampilkan sebuah adegan romantis seorang laki-laki dan perempuan. "Bawa aku ke Bioskop!" suara Enggar mengalihkan pandangan Yayu. "Hah, oh, Ok," jawabnya kemudian. Yayu mendorong Enggar ke gedung bioskop, Enggar membeli tiket film yang dia lihat di papan reklame. Film, baru akan di putar 10 menit lagi. Yayu membeli Dua gelas minuman bersoda dan pop corn sesuai dengan suruhan Enggar. Keduanya antri di depan pintu masuk. Menunggu bersama dengan para pengunjung yang akan melihat film yang sama. Sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan menghakimi Enggar. Lalu beberapa pasang mata yang lainnya memandang mereka dengan intens. Yayu memutar tubuhnya mengamati, siapa saja yang berbuat usil. Suara itu pun menghilang ketika Yayu mengedarkan pandangannya. Sur ... Sebuah gelas soda berukuran jumbo tergelerak di pangkuan Enggar. Sedangkan isinya telah kosong, berpindah ke celana Enggar yang kini basah, dan kaosnya pun bernoda warna orange. "Aaaa ...." pekikan seorang perempuan dengan keras, sehingga menjadi pusat perhatian. "Ops ... aduh-," matanya memelotot. "Aduh Mas ... maaf, maaf ya! aku fobia sama kursi roda, jadi tangan aku reflex pas lihat ada kursi roda di sini." Sambil mengipasi pipinya, berlagak ketakutan."Ini tissue," katanya. Sambil menyerahkan satu lembar tissue pada Enggar. "Cepetan deh Mas di lap! biar gak di kira ngompol. Lain kali kalo pakek kursi roda itu, mending di rumah aja deh Mas, biar gak ganggu para pengunjung disini." Sambil bergidik, ngeri. "Belum lagi, orang yang punya fobia kayak aku gini Mas, bikin jantungan tau! Lagian ya Mas, Mas tau gak sih? kursi roda itu nyempit-nyempitin tempat aja." Wnita itu memandang para pengunjung. Lalu bertanya,"Iya gak temen-temen?" Wanita itu mengibaskan rambut lurusnya, rok mini hitamnya yang super ketat seolah tak mampu membungkus bokongnya yang besar, body bongsornya dengan buah d**a yang besar pun seolah menyembul keluar, dan di bagian pinggangnya membentuk beberapa lipatan. Make-up tebal dan high hill enam centinya membuat tubuhnya tampak seperti raksasa. Ha ... Ha ... ha ... beberapa pengunjung tertawa menyaksikan mereka. Entah tertawa karena melihat Enggar yang basah atau tertawa karena wanita aneh itu. bilang kursi roda mempersempit jalam, tapi body dia sendiri makan tempat. Enggar masih terdiam, mengambil gelas kosong itu lalu membuangnya sembarangan, dia kesal dan ingin membalas. Tapi, dia juga harus jaga image. Sebagai publick figure, dulunya, tentu banyak orang yang mengenalnya meski dia tak lagi aktif tampil di depan camera. Bahkan tadi dia sempat mendengar beberapa ibu-ibu menyebut namanya. Diapun mengeraskan rahangnya, berfikir mencari cara yang efektif untuk menutupi kejadian itu. Supaya dia tak menjadi trending topik dengan tagar, 'Tersiram minuman bersoda, seorang mantan atlit murka, dan menghajar seorang perempuan di pintu bioskop', membayangkannya saja sudah ngeri. Apalagi dunia maya, beritanya seperti sulapan, tak tau mana yang benar atau salah tetap saja akan banyak di gemari bila aib seseorang jadi pembahasan. Yayu memelotot, memandang satu persatu wajah para pengunjung disana "Diam! ..." Yayu berteriak, sembari menudingkan telunjuknya. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN