DENDAM 42

1115 Kata
"Diam! ..." Yayu berteriak, sembari menudingkan telunjuknya. *** "Diam! Gak ada yang lucu tau?" kembali Yayu membentak dengan kesal. Heran, emang dasar orang zaman sekarang tak punya perasaan. Sudah tau orang lagi apes, bukanya di tolongin eh, malah di ketawain. Gumamnya dalam hati sembari geleng-geleng kepala. Kemudian melepas jaketnya dan menutupi kaki Enggar yang basah. "Dasar mulut ember, muka tembok!" teriak Yayu geram. Sedang wanita itu sudah jauh pergi. Awas kalau aku ketemu kamu lagi, akan ku balas kau. Batinnya. Sedang Enggar hanya diam saja melihat aksi Yayu. Hatinya berbunga-bunga, karena Yayu membelanya. Yayu beranjak pergi, hendak mengejar wanita itu. "Tunggu sebentar, akan ku balas wanita itu," bisik Yayu lirih di dekat telinga Enggar. Namun, pergerakannya terhenti.Tangan Enggar menarik pergelangan tangannya hingga tubuhnya mendarat di atas pangkuan Enggar. Suara siulan dan cuitan menggema di depan pintu bioskop. Beberapa suara tepuk tangan tak kalah ramai, bahkan remaja putri yang menyaksikan moment tersebut berteriak histeris dan mengabadikan moment romantis mereka dalam bentuk photo ataupun vidio. Sontak wajah Yayu memerah. Di pukulnya d**a Enggar lirih, namun malah dihadiahi sebuah kecupan ringan di pipinya. "Lepasin! Lepasin aku! Malu tau gak sih?" protes Yayu. Pipinya semakin merona, matanya memandang para pengunjung bioskop dengan jengah. "Diam gak! Kalo kamu masih memberontak, aku cium kamu di bibir, mau?" tantang Enggar. Yayu mendelik. "Apaan sih? Gak lucu tau." Kembali Yayu menghadiahi d**a Enggar dengan sebuah pukulan kecil. Detik berikutnya, sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Yayu. Mata Yayu memelotot, kemudian mengerjap beberapa kali. Sedang Enggar merasa gemas dan kembali menciumnya di bagian kening. Dengan segera Yayu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya lalu menempelkan pada d**a bidang Enggar. Sementara sorak sorai pengunjung semakin memanas. "Ah ... ,ah ...." "So ... sweet ..." "Lagi! Lagi! Lagi!" Suara dukungan dan histeris penonton mengundang para pengunjung mall yang lain untuk mendekat dan melihat apa yang terjadi. Yayu semakin menempelkan wajahnya ke d**a Enggar dan tidak bisa berkutik. Rasanya dia ingin menghilang saat itu juga. Niatnya dia ingin membantu Enggar agar tidak di bully, tapi sepertinya tanpa bantuannya pun Enggar sudah memiliki pesona yang akan membuat para gadis-gadis atau wanita dewasa memujanya. Seorang petugas bioskop melerai keramaian dan kegaduhan disana, menyusruh para pengunjung untuk memasuki ruangan, namun tidak berhasil. Enggar pun membantunya dan meminta para pengunjung untuk memasuki ruangan. Merekapun dengan teratur memasuki ruangan bioskop, namun beberapa di antara mereka meminta berfoto dengan Enggar ataupun sekedar berjabat tangan. Enggar mengecup puncak kepala Yayu." Udah tu, mereka udah pergi. Jangan nyusu terus," ucap Enggar usil. "Kan katanya tadi malu, atau kamu sebenarnya memancing aku ni, ketagihan kan sama yang kemarin malam?" bisiknya kemudian setengah menggoda di dekat telinga Yayu. Yayu bergidik ngeri, matanya memelotot, menjauhkan wajahnya dari d**a Enggar. Berusaha bangkit dari duduknya untuk membantu Enggar ke kamar mandi, namun dia batalkan niatnya demi mendengar suara Enggar. "Coba saja kalo berani, bibirmu akan jadi bayarannya!" gertaknya. Yayu mengerucutkan bibirnya, menatap Enggar dengan kesal. Enggar terkikik geli, melihat ekspresi kesal Yayu. Dia mengayuh kursi rodanya melewati para pengunjung yang sedang berjalan memasuki ruangan bioskop dengan sesekali memphoto dan berbisik kata-kata manis atau sekedar melambaikan tangan pada mereka. "Jangan kemana-mana sebelum aku kembali!" Perintah Yayu setelah membantu Enggar berganti pakaian yang baru saja mereka beli. Mendudukkan Enggar di atas toilet duduk, lalu membersihkan air tumpahan soda di kursi rodanya dan menunggunya hingga kering. "Kamu mau kemana?" tanya Enggar. "Ke kamar mandi, mau cuci muka sama buang air kecil." "Di sini aja kan bisa!" protesnya. Yayu mendelik, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Menunjuk toilet duduk tertutup yang kini di duduki Enggar. "Jangan lama-lama! Aku gak mau di tinggal sendirian," ucapnya penuh manja. "Iya." "Dasar gak adil." "Maksudnya?" Enggar mengedikkan bahunya, lalu terkekeh melihat ekspresi bingung Yayu. Yayu memencet tombol air pada toilet duduk yang baru saja dia gunakan selesai BAK. Yayu merapikan baju dan celananya sebelum keluar. Sebuah sepatu hak tinggi terdengar memasuki kamar toilet di sampingnya. Ketika Yayu ingin berjalan keluar, langkah kakinya terhenti, mendengar percakapan wanita di ruangan sebelahnya. "Iya kak beres. Semua sesuai dengan rencana. Mereka bahkan menjadi tontonan para pengunjung bioskop." ... "Siapa dulu dong? Dora gitu ..." ... "Iya kak, tenang saja gak bakal ada yang tau. BTW, makasih ya kak, uangnya sudah di transfer ke rekening aku. Lain kali kalau ada job yang mudah kek gini, hubungi aku aja ya kak!" ... "Iya, sip. Beres kak." ... "Da ... Kak Calista." Deg, tiba-tiba jantung Yayu bertalu. Calista, desisnya. Meremas kaosnya lalu keluar dari ruangan itu dan mencuci tangannya. Sedangkan perempuan tadi masih berada di dalam ruangan sebelah. Terdengar dari suaranya yang lebih kemayu, sedang ngobrol dengan seorang laki-laki. Yayu melihat karbol pembersih lantai tergeletak di pojok ruangan, bersamaan dengan ember air, alat pel-pelan, dan papan peringatan kuning (papan pemberitahuan toilet sedang di bersihkan). Dia mengambil papan peringatan kuning itu dan menaruhnya di depan pintu toilet wanita, mengisi ember dengan air sampai setengah penuh, menumpahkan karbol di depan ruangan perempuan itu. Yayu memasuki ruangan yang tadi dia gunakan, mengangkat ember itu dan menumpahkan isinya ke ruangan sebelah. Sesaat kemudian terdengar jeritan dari sana. Buru-buru Yayu berlari keluar dari toilet menuju toilet khusus difabel, tempat Enggar berada. Memasuki toilet itu setelah dia mengetuk pintu dan Enggar membuka kuncinya. Yayu tertawa terbahak-bahak dengan aksi jahilnya. Enggar mengerutkan keningnya bingung, mulutnya terkatup kembali ketika ingin bertanya dan Yayu menaruh telunjuk tangannya ke bibirnya. Sesaat kemudian kembali terdengar suara umpatan dan teriakan yang keras serta suara barang yang terjatuh ke lantai. "Heh ... sialan loe, kurang ajar! Kalo berani sini loe hadapi gue!" tantangnya. Suara teriakan minta tolong pun menggema di toilet wanita, terdengar suara beberapa langkah kaki memasuki toilet, keramaian mulai terdengar, suara panggilan-panggilan interkom memenuhi toilet wanita. Yayu membuka sedikit pintu toilet, dia melihat beberapa security dan petugas kesehatan berlari ke arah kamar mandi. "Ada apa sih? Rame banget?" tanya Enggar penasaran. "Rasain aja, emang enak jadi bahan ketawaan orang," gumam Yayu bengis. "Siapa sih?" "Orang yang tadi, sok fobia sama kursi roda," cerita Yayu. "Aku kerjai saja dia di kamar mandi, kamu tau? Dia adalah suruhan Calista, mantan mu tercinta." lanjutnya dengan nada tidak suka. Sikap Yayu malah membuat Enggar semakin senang. "Trus?" "Dia terpeleset dan harus di papah beberapa orang untuk bibawa ke rumah sakit." terangnya sembari menata kursi roda Enggar yang sudah kering. "Ayo kita ke tempat bioskop sebelum film nya habis! mereka sudah pergi deh kayaknya." "Gak jadi deh." "Hah?" "Kita pulang aja yah! Kita bisa lihat dilm nya di rumah kok." Hah. Yayu mendesah. "Ok." jawabnya tanpa banyak protes. Tapi kan sayang tiketnya padahal sudah di beli, gumamnya dalam hati. "Gak usah merasa sayang sama tiketnya, lagian kita juga sudah ketinggalan separuh cerita, lain kali aja kita nonton di bioskop." Yayu tercekat, karena Enggar menjawab pertanyaan dalam hatinya. Diapun mendorong Enggar keluar dari toilet. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN