DENDAM 43

2562 Kata
Yayu POV~ Aku berjalan mendorong kursi roda ETO memasuki pesta ulang tahun teman nya. Pesta ulang tahun yang lebih mirip pesta kostum itu menyuguhkan tema Bertabur Bintang, mengharuskan para undangan untuk memakai kostum bak bintang dunia. Berbagai karakter anime, avenger, tokoh-tokoh kartun dunia bahkan karakter aneh yang belum pernah ku tau muncul disana. Kami masih berada di pintu utama, ETO melarangku mendorongnya masuk. Ku amati suasana dalam pesta. Suara dentuman musik disco menulikan telinga. Para undangan berjoget ria mengikuti irama musik. Canda dan tawa memenuhi ruangan dengan orang-orang yang membentuk grup-grup mengobrol. Beberapa pelayan berlalu lalang membawa minuman. Sore tadi setelah aku kembali dari uji tes menyopir dan aku berhasil lulus serta mendapatkan SIM, ETO menjemputku bersama Asan, kemudian membawaku ke salon langganan mamanya dan melakukan make over pada penampilanku sesuai dengan baju yang dia beli kemarin. Malam ini aku di suruh memakai baju terusan selutut dengan atasan berwarna putih dan korset tali di bagian depan berwarna coklat, sedangkan bagian bawahnya berupa rok kotak-kotak warna merah tua dan hitam, jubah panjang berwarna merah tua di kaitkan dengan tali di bagian leher, lengkap dengan sepatu boot hitam selutut yang bikin panas, katanya sih ini kostum red riding hood versi ETO. Make up tebal dan bibir merah tebal yang membuat tidak nyaman. Sedang ETO sendiri memakai kaos dalaman warna putih dan kemeja merah hitam kotak-kotak. Dia menggunakan topeng yang hanya menutupi matanya dengan gambar serigala dan sarung tangan serigala. Seseorang berjalan menuju ke tempat kami berdiri. Dia mengenakan costume spiderman lengkap. Melambaikan tangannya dan di sambut oleh ETO. "Ale, happy birthday," ucap ETO sembari menyerahkan bungkusan kado yang sejak kemarin dia siapkan. "Enggar, thank's bro. Sudah lama? Ayo masuk! Ngapain disini? Acara hampir dimulai, aku kenalkan dengan beberapa kolega dan teman," ucapnya. Menerima bungkusan kado itu dan meletakkannya di meja penerima tamu. ETO mengangguk lalu menyuruhku mengikuti orang itu. Aku menuruti kemauannya dan terus mendorongnya kesana-kemari, sebelum akhirnya berhenti pada gerombolan anak yang lebih muda. "Hai guy's ETO disini," ucap nya pada empat orang lelaki yang sedang mengobrol dengan asik. Ke-4 nya menghentikan obrolan dan menoleh kepada kami. Wajah mereka tampak ceria menyambut ETO dengan suka cita, seperti lama tak berjumpa. Merekapun berbasa-basi sebentar dan mengenalkan pasangan masing-masing, istri ataupun partner mereka. Merekapun tampak terkejut dengan keadaan ETO yang kini duduk di atas kursi rodanya. Dan merasa prihatin dengan kelakuan Calista yang meninggalkan ETO. Rupanya mereka ber-5 adalah teman satu club ETO ketika masih aktif sebagai atlit nasional. Sehingga mereka juga kenal dengan Calista. Akupun tak yakin tau mereka pernah bertanding, karena aku hanya memperhatikan ETO dan saingannya yang licik itu. Mereka semua memandangku, karena ETO masih belum memperkenalkanku pada mereka. Aku mulai kikuk dan tak nyaman, dengan perhatian sepuluh pasang mata yang tertuju padaku. Apalagi dengan kostum dan make up yang menurutku aneh dan berlebihan. "Trus ini siapa?" tanya istri si empunya hajat. Wanita cantik berambut pirang, dengan costum wonder women itu bertanya dan tersenyum ke arah ku. ETO menoleh kearahku dan memperkenalkan diriku," namanya Kana," jawabnya pendek. "Hah ...."seorang memelotot dan menyungingkan senyum lalu tertawa terbahak. Kkkkkkk ... kkk ... "Serius loch ... GANYONG," pekiknya. "Nama loch beneran Kana? hhhh ... "lagi dia tertawa dengan senang. Sementara teman yang lainnya saling memandang tidak mengerti dengan sikap aneh nya. Enggar memutar bola matanya. Seperti tidak suka dengan sikap temannya yang belum ku tahu namanya itu. Mereka menjabat tanganku satu persatu lalu menyebutkan nama dan pekerjaan mereka dan dari situ kutahu laki-laki yang tertawa tiada henti dari tadi bernama Rio, dia adalah seorang Florish. Katanya, dia memiliki perkebunan bunga dan toko bunga yang biasa memasok bunga sampai ke istana negara bila mengadakan acara penting. Sementara temannya yang lainnya ada Ale si tuan rumah, pengusaha sekaligus pemilik salah satu plaza besar di Jakarta. Teo, pengusaha di bidang teknologi, sekaligus pemilik salah satu perusahaan komunikasi Teo Tech. Ido Sudirjo, seniman sekaligus pelukis handal. Dan satu lagi Gilian, pengusaha dan pemilik pabrik kelapa sawit di Kalimantan. "Sorry, bukan maksudku untuk menghina, aku hanya kaget aja, tapi beneran Kana adalah nama bunga yang cantik, bunga kana juga sangat hebat bisa tumbuh hanya dengan menaruh umbinya saja yang bisa langsung beranak pinak." Pandangannya dia edarkan menyusuri tubuhku . "Aku rasa bidadari ini juga sangat kuat dan cantik plus dengan mudah akan berkembang biak." Lanjutnya dengan mengulas senyum yang tak bisa kuartikan maknanya. Sial bener ni orang malah bilang aku akan dengan mudah berkembang biak. Emang aku ini hewan. Gerutuku dalam hati. Kesal. "Nih, coba kalian lihat!" Katanya dengan menyodorkan sebuah artikel di ponselnya . Sebuah bunga yang indah dengan berbagai macam fariasi warna dan di bawahnya terdapat sebuah umbi yang sangat familiar yang kukenal. Ganyong, ya ganyong seperti yang tadi dia ucapkan pertama kali. "Kalian lihatkan Kana adalah sebuah bunga yang cantik, masih keturunan dengan Lili trus yang lebih asik lagi, bunga Kana memiliki umbi yang unik dan sangat-sangat enak. Pokoknya kalau kalian belum pernah mencoba aku rekomendasikan kalian buat nyoba ganyong, rebus aja dech! kalian pasti ketagihan," ucapnya dengan menggigit bibir bawahnya seolah merasakan kenikmatan umbi ganyong. Sementara Rio menerangkan tentang bunga kana, teman yang lainnya memperhatikan dengan antusias. Aku hanya diam seolah tak peduli. Padahal aku merasa benar-benar kagum di balik namaku ternyata menyimpan banyak arti, pantas saja almarhum ayahku sangat suka memanggilku dengan nama Kana sewaktu aku kecil. Dan lagi kak Beno anak mak Ijah itu selalu memanggilku dengan nickname ganyong, satu hal yang sangat tidak aku sukai padahal aku sangat suka makan ganyong rebus, aku baru teringat hal itu sekarang. ETO memutar bola matanya beberapa kali, terlihat merasa dongkol dengan sikap temannya yang sangat antusias bercerita dan memandangku dengan tatapan penasaran. Atau cuma perasaanku saja. "Eh ... bro kok gak bilang-bilang kalo punya ponakan yang imut dan cantik seperti ini. Lain kali kan bisa di ajak jalan bareng kan? kita bisa klubing atau ke hotel biar lebih puas lihatnya dan bisa, lebih kenal dekat." celetuk Teo, pengusaha sukses sekaligus pemilik Teo Tech itu. "Iya bener," seloroh temannya yang lain. "Betul banget. Kana, lain kali jalan aja sama kita, having fun." Ucapan mereka mengagetkan ku. Ya maklum saja mereka mengira aku keponakannya, salah ETO sendiri gak bilang aku ini istrinya meskipun cuma sebatas kontrak tapi kan sah juga dimata agama dan negara. Suasana mulai agak canggung, apalagi aku tidak menjawab pertanyaan mereka, kemudian ETO berdehem, dan memulai bicara. "Bagaimana menurut mu Nyonya Pranoto? Apa kamu tertarik dengan tawaran mereka?" Seroloh ETO. Mataku memelotot, sedang suaraku tak bisa aku keluarkan. Demi apa ETO memanggilku dengan sebutan nyonya. "Siapa bilang dia ponakan gue," ucapnya ketus."Dia ini bini gue, istri, bojo!" Sambil meraih tanganku dan tangannya menunjukkan cincin pernikahan kami. Matanya berkilat seolah-olah membunuh, jika penglihatanku tidak salah. Semua temannya kaget mendengar berita itu, saling pandang kemudian mengucapkan selamat pada nya. "Wow ... sorry, aku gak tau kamu sudah married, dan kau sangat beruntung mendapatkan istri secantik dia, " komentar Teo. "Iya ni, married gak bilang-bilang," seloroh Rio. "Conggrat bro, gue ikut seneng mendengarnya," ucap Ale sembari menarik istrinya mendekat dan mengecup pipinya. Dan beberapa komentar ucapan selamat, maupun menggoda dari teman yang lainnya. "Tenang saja, kalian pasti aku undang ke pesta kami nanti, karena memang pernikahan kami belum di rayakan. Ingat kalian harus membawa kado yang bermutu dan mahal! atau kalian tak usah datang!" "Hu ... hu ...." teriakan teman-teman mereka serempak. Deg. Aku seperti tertohok, dadaku terasa sakit dan jantungku berdesir. Udara seperti menghilang dan waktu seolah mulai berhenti. Ada rasa sakit namun tidak seperti ketika aku terluka karena kehilangan, aku merasa sakit seperti semua beban ku selama ini terangkat lalu tiba-tiba menghilang. Ketika dia mengakui aku sebagai istrinya pertama kali di depan teman-temannya aku jadi tidak rela untuk meneruskan waktu dan ingin menghentikannya saat ini di moment ini. Seandainya itu benar yang dia katakan aku tentu sangat bahagia, namun aku tau dia pun hanya bercanda dan berpura-pura seperti yang selalu dia ucapkan. Pernikahan ini bukan kemauannya, dia tidak mencintaiku, dan dia tak akan pernah mengakui aku sebagai istrinya yang sebenarnya. Final tanpa koma. Aku tersenyum miring. Sejalan dengan kembalinya ingatanku dan aku merasakan paru-paruku terisi banyak udara. Aku mengusap dadaku memperbaiki arus napasku. Suasana tiba-tiba terasa aneh, dan hanya terdengar suara keras musik disana. Semua orang saling memandang dan menenggak minuman yang mereka pegang. Sesaat kemudian mereka kembali hidup karena kedatangan seorang wanita cantik dengan seorang laki-laki yang menggandeng tangannya, mesra. Namun, ada sedikit ketidak enakan pada wajah mereka. Gadis itu adalah Calista bersama seorang lagi teman mereka. Yang belum aku tau namanya keburu aku pergi mengejar ETO. ETO mengeraskan rahangnya. Membuang muka, memutar kursi rodanya lalu melaju menjahui kerumunan orang-orang yang sekarang ini tak mempedulikannya itu, karena sedang menyambut tamu baru mereka. Dia mengayuh kursi roda itu dengan cepat, hingga dia tidak tau jalan di depannya adalah tanjakan menurun ke arah kolam renang. Dia terus mengayuh tapi tak bisa menghentikan laju kursi rodanya yang sudah tak terkontrol. Aku yang mengejarnya dari tadi belum bisa menggapai kursi roda itu. Aku sudah agak lelah, namun kupaksakan berlari dengan lebih cepat dan berusaha menarik kursi roda itu. Dan untung saja aku berhasil menghentikan laju kursi roda itu tepat sebelum masuk ke dalam kolam renang. Sempat beberapa orang memandang aksi heroik ku dan spontan mereka berlari berhamburan ke arahku membantu, ada yang sebagian berteriak di tempatnya masing-masing. Aku lihat wajah ETO pias dan memutih. Dia benar-benar kaget, namun segera bisa dia kuasai, tentu dia akan pandai bersandiwara agar tak di cap lemah. Dia menarik ku agar mendekatkan telingaku lalu menyuruhku untuk membawanya ke toilet. Aku mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah membantu ETO, lalu pergi dengan mendorong kursi roda ETO yang terasa berat karena jalan menanjak. Dan sepertinya kakiku terkilir, aku berjalan dengan agak kesusahan karena terasa nyeri di kakiku, di tambah lagi malam ini aku memakai boot dengan high hill, lengkap sudah rasanya. Seandainya dia menggunakan kursi roda elektrik aku pasti gak akan secapek ini. Huft.. bener-bener gak ngerti dengan cogan yang super aneh satu ini.'Batinku protes tanpa terucap dalam kata. Setiba di toilet khusus difabel. Aku mendorong nya masuk, lalu mendekatkan kursi rodanya di samping toilet, mengunci ban kursi roda menarik pegangan di samping toilet. Mencari tissu dan mencoba membersihkan toilet. Ku pandangi wajah ETO yang menatapku dengan tatapan tajam penuh arti, yang belum pernah dia perlihatkan padaku sebelumnya. Ngapain coba dia memandangku dengan intens kayak gitu,apa dia tadi marah dengan godaan teman-teman nya atau ada hal yang menyinggungnya, atau dia cemburu? Mana mungkin.Suara batinku yang saling beradu argumen. Aku yang masih mematung dengan selembar tissue yang akan aku gunakan mengelap toilet itu tiba-tiba tersadar karena sebuah tangan besar menarikku dengan agak kasar. Aku yang tersadar dari lamunanku mendaratkan pantatku tepat diatas kedua kaki ETO. Aku kikuk, salah tingkah. Berusaha untuk bangun namun ETO memelukku dengan erat dan semakin mengeratkan pelukannya itu saat aku ingin mengurainya. Pasrah. Kemudian aku diam membiarkan dia memelukku, kurasakan napasnya begitu hangat menyapu kulit mukaku yang berjarak sangat dekat dengannya. Napasnya memburu, kilatan amarah terpancar dari matanya. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku dengan kasar, melumat, dan menggigit bibir bagian bawahku dengan kuat hingga mengeluarkan darah. Aku hanya diam dan tak membalas ciumannya. "Balas ciumanku!" perintahnya di sela ciumannya yang kasar dan menuntut. Spontan aku membalas ciuman ETO tak kalah kuat, hingga terdengar leguhan dan cecapan memenuhi toilet. Tangan ETO mulai bergerak meremas kedua gunung kembar ku, bibirnya kini turun dan bermain di area leherku, kepalaku mendongak kebelakang, memudahkan nya mengeksplor bagian leher ku, punggunggu melentik, dan desahan kenikmatan terdengar bersautan. Aku merasakan sesuatu yang mulai mengembung dan tidak sabar di bawah p****t ku. Aku tersadar dan menangkup kepala ETO, membawa kembali bibirnya ke atas dan menciumnya dengan lembut, kemudian melepaskan ciuman kami. "Jangan disini!" bisikku lirih. ETO menatapku, memohon. Aku menggeleng pelan. ETO kembali melumat bibirku dengan kuat kemudian memelankan ritme ciumannya, melepaskan bibirnya, menyeka bibirku dengan jempolnya dan membawa kepalaku ke dalam dekapannya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya lebih stabil. "Berikan padaku setelah sampai di rumah!" protesnya, sepertinya aku ini barang miliknya saja. Tak ada pilihan, aku mengangguk menyetujui. Dan dia semakin memelukku dengan erat. Setelah aku rasa dia lebih tenang aku berusaha bangun dari pangkuannya. Namun tubuhku limbung, kakiku mulai terasa sakit. Aku meringis menahan sakit. "Sini coba ku lihat!" "Gak apa-apa," bantahku. "Jangan rewel!" Aku menuruti permintaannya dan menunjukkan kakiku. Dia mencoba melepas boot itu, namun aku menjerit kesakitan. "Diam disini! Kita pulang sekarang!" ETO mendial nomor seseorang dan menyuruhnya datang. Aku pun hanya diam dan menuruti permintaannya. Sepuluh menit kemudian seorang berbadan tegap muncul di balik pintu yang aku buka setelah mendengar ketukan. Tersenyum dengan ramah dan menyapaku dengan lembut. "Antarkan kami pulang, San!" "Baik Pak." Asan dengan sigap membantu ETO dan mendorong kursi rodanya, sedangkan aku berjalan mengikuti di belakangnya. Dua jam kemudian kami tiba di rumah. Asan membantu ETO untuk mencuci muka dan membersihkan diri, dia tidak mengijinkanku untuk membantunya. Selesai berganti baju dan melepas sepatu boot ku aku mencuci muka dan menunggu ETO di kamarnya. Siapa tau jika dia nanti membutuhkan bantuanku. "San ... kamu menginap aja di sini, besok sekalian antar aku ke rumah sakit!" ujar ETO. "Ingat jangan ganggu kami!" pungkasnya memperingatkan Asan. Asan tersenyum ringan dan menjawab dengan cepat, "baik Pak, kalo begitu saya permisi dulu." Asan mengangguk padaku, lalu meninggalkan kamar ETO setelah menutup pintunya dan ETO menguncinya. "Trus aku harus tidur dimana?" tanyaku bingung. ETO tidak menjawab, dia mendekatkan kursi rodanya ke sebelah ranjang, lalu dengan sendirinya berpindah ke atasnya. Dia sudah bisa berdiri sendiri secara mandiri dan berpindah tempat, karena sebenarnya kaki nya yang satu tidak bermasalah, namun entah kenapa dia lebih suka menggunakan kursi roda dari pada tongkat penyangga. ETO menepuk kasur di sampingnya, akupun mendekat. "Taruh disini kakimu!" perintahnya. Aku mengalihkan posisi bokongku menjauhi ETO, dan menyodorkan kakiku padanya. Dia mengambil krim diatas nakas lalu mengoleskannya di kakiku dengan pelan. Kembali ETO menyuruhku mendekat, dia menarik ku dan membawaku ke dalam pelukannya. "Maaf." Aku bergeming, tak tau maksudnya. "Maafkan aku sudah membuatmu terluka," lanjutnya. Dia mencium puncak kepalaku dan mengeratkan pelukannya. "Berjanjilah kau akan menepati janjimu! Bahwa kau hanya milikku dan tak akan pernah meninggalkanku!" ujarnya lirih. Hening. Aku tak merespon apapun. ETO kembali berbicara," sayang ... berjanjilah kau akan selalu bersamaku dan berada di sampingku!" Dia mengurai pelukannya dan memandang wajahku lekat lalu menatap manik mataku dengan tajam berusaha mencari jawaban. Sementara aku memilih diam membisu. Memandangnya dengan ekspresi datar. Aku tak mau berjanji, apalagi perjanjian itu masih berlaku, aku gak mau semuanya sia-sia. Aku tak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba baik lalu marah lalu baik dan begitu posesif. Aku tau aku sudah jatuh cinta padanya, namun aku juga tau bahwa aku pernah mendendam dan berniat jahat padanya, meski belum pernah terlaksana. Aku tak mau berharap untuk mendapatkan cintanya, meski aku tau aku pasti akan sangat bahagia jika dia juga mencintaiku, namun aku juga takut dia akan membenciku jika dia tau tentang perasaan dendamku padanya dan tentang alasanku sebenarnya menikah dengannya. Aku tak tahu, apa dia tau cerita sebenarnya mengenai perjanjianku dengan ibunya tentang kematian ibuku, hutang ku, dan rumah ku. Aku tak mau menjadi serakah, lalu menginginkan semuanya menjadi milikku. Aku hanya mau perjanjian pernikahan dengan nya segera berakhir dan waktu satu bulan ini akan berlangsung dengan cepat, kemudian aku bisa pulang dan menyongsong masa depanku yang baru di desa. "Sayang ... kamu kok diam saja sih?" "Aku capek, seharian mengikuti tes mengemudi. Aku ingin tidur!" "Baiklah, kita tidur sekarang." *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN