Masalah

1108 Kata
Masakan Bi Ningsih memang tidak ada duanya. Baunya semerbak memenuhi seluruh dapur. Yono yang kebetulan lewat penasaran makanan apa yang Bi Ningsih buat. "Masak apa Bi?" "Oh ini soto untuk sarapan." "Wah, pantesan ambune wangi." Bi Ningsih mengaduk sayurnya sambil tersenyum, lalu tiba-tiba perutnya sakit. "Duh Yon, Bibi sakit perut." "Yah Bi." Ujar Yono menggaruk kepalanya bingung. "Tolong anterin makanan ini ke kamar Mba Dinna ya." "Njeh Bi." Yono naik dan mengetuk kamar Dinna. "Masuk." Ujar Dinna. Dinna kaget melihat yono masuk, "Mau apa dia ke sini?" dalam hati Dinna. "Mba, ini sarapannya. Tadi Bi Ningsih nyuruh saya antar ke Mba." "Yaudah taro aja disitu." Dinna terus memainkan handphonenya tanpa memperdulikan Yono. "Mbak," "Iya.." kini Yono dapat perhatian penuh olehnya, bagaimanapun dia tetap pegawainya yang harus ia perhatikan. "Maaf Mbak, saya benar-benar ndak tau Mbak yang punya rumah ini. Saya tau Mbak jadi gak nyaman karena ada saya, anggap saya dan Mbak gak kenal satu sama lain biar Mbaknya nyaman. Saya butuh kerjaan ini Mbak, saya minta maaf sebelumnya." Dinna hanya diam tanpa berkata apapun, dan kembali memainkan handphone. Yono yang tidak mendapat respon keluar dari kamar Dinna. Setelah Yono keluar Dinna meletakkan handphonenya, menghela napas. Dia juga bukan orang yang suka memecat orang seenaknya, dia masih punya perasaan untuk membantu orang lain. **** Dinna sedang melakukan adegan pertamanya bertemu dengan Sean, lawan mainnya. Kemampuan Dinna memang sudah tidak diragukan lagi, semua orang mengakuinya. Dia terlahir untuk menjadi artis. "Cut,.. ok. Hebat kamu Din." Seru Hendra semangat. "Pak, adegan yang ini bisa di ulang gak ya. Saya ngerasa kurang pas disini." Seru Dinna sambil menunjuk kertas sekenario yang ada di tangannya. "Oh boleh" Pak Hendra melihat krunya lalu teriak. "Semuanya kita ulang scene 3 yak." Ilham mengamati mereka dari jauh, syuting hari pertama ini lancar tanpa ada kendala. Beberapa kali Dinna mengulang adegan ketika monolog sendiri. Dia sadar terlihat canggung ketika melakukannya dan itu adalah kekurangan Dinna. "Bungkus, semuanya hari ini cukup sampai sini ya, kita akan ganti lokasi besok. Good job everyone." Seru Hendra Semua orang berterima kasih dan menyampaikan salam perpisahan. "Gimana, Hen?" Seru Ilham penasaran. "Baik, aktingnya memang bagus jadi gak sulit buat saya mengarahkan dia. Secara alami dia punya bakat yang luar biasa." Ilham hanya mengangguk sambil memerhatikan Dinna yang berada cukup jauh bersama manajer dan asistennya. Handphone Dinna berbunyi. Sudah lama dia tidak mendengar berita tentang Ibu dan Adiknya. "Halo kak," Suara Fendi terdengar gusar. "Hallo kenapa Fen?" "Ini kak ada orang di rumah, ngacak-ngacak rumah katanya mama suruh bayar hutangnya." "Mama dimana?" "Fendi gak tau kak, pas pulang mama udah gak ada." "Tunggu kaka disana." Dinna langsung menuju ke rumah Ibunya meninggalkan Ratna dan Yuni. Dia tidak mau mereka tau tentang masalah keluarganya terlalu dalam. Sesampainya disana Dinna tekejut, dia melihat seisi rumah dari ruang tamu sampai kamar berantakan. Di acak-acak oleh penagih hutang. "Apa-apaan ini?" "Kak" fendi langsung berlari ke arah kakakya. "Bayar hutang ibumu, dia berhutang sudah banyak sekali." "Siapa kalian?" "Kami dari PT AM, kalau kalian tidak bayar akan saya habisi kalian berdua." "Oke saya bayar, tapi kenapa harus mengacak-ngacak seperti ini. Gak begini caranya. Berapa hutang ibu saya?" "150 juta." "Hah?? Sebanyak itu?" Dinna tidak percaya begitu saja, dia menelpon ibunya beberapa kali tetapi tidak diangkat. "Kemana sih mama ini?" Dinna kesal "Oke saya bayar, tapi kasih saya waktu 2 minggu lagi." "Kami tidak bisa menunggu lagi." "Saya akan bayar, tapi saya tidak punya uang sebesar itu sekarang. Bank juga sudah tutup. Kalian tau siapa saya kan?" Dinna menatap penagih itu dengan kesal. "Baiklah, kami tunggu 3 hari lagi. Kalau tidak di bayar rumah ini akan hancur" Rahang Dinna mengeras, 3 hari. Sekarang dia harus putar otak, tabungannya sepertinya akan ludes untuk membayar hutang ini. Ibunya benar-benar keterlalauan. "Fen, kamu tidur di tempat kakak aja dulu ya." "Iya kak, mama kemana sih kak. Ngilang gitu aja." "Ga tau kaka juga pusing, udah siapin barang-barang kamu." Dinna dan Fendi pergi dari rumah itu, di mobil perut Dinna terasa sakit. Tetapi dia diam saja, dia menahan sakit sepajang jalan. Mungkin ini waktu tamu bulanannya datang, sampai rumah perut Dinna sudah sedikit enakan. Dia sangat lelah. Mencoba menghubungi Ibunya terus menerus tapi tidak ada hasil. Dinna melemparkan handphonenya ke atas sofa. "Tidak bertanggung jawab" Dinna menghempaskan tubuhnya pada sofa berwarna biru muda itu. Siapa lagi yang ia bisa hubungi selain Ratna, dia adalah penolong semua masalahnya. "Rat, maaf ganggu malem-malem." "Ada apa din?" "Tabungan gue ada berapa ya Rat. Lo inget ga?" Keuangan Dinna pun ia percayakan pada sahabat terbaiknya itu. "Kayaknya ada sekitar 300 juta Din, lo mau ambil duit?" "Tolong lo cairin 150 juta ya Rat. Gue butuh uang itu." "Buat apaan sebanyak itu?" "Buat, hhmmm beli jam tangan Rat. Orangnya minta cash." "Oohh jadi lo gangguin gue malem-malem gini cuma buat ngurusin kerjaan lo beli jam." "Hehe maaf ya Rat." "Kok aneh sih orangnya minta cash, lo yakin jamnya asli?" "Iya gue juga gak tau Rat tapi gue kenal orangnya kok." "Ohh yaudah, lagian ini kan uang lo juga. Besok gue ke bank deh." "Makasih ya Rat" Dinna menutup telponnya. "Au" Dinna meringis kesakitan memegangi perutnya.. "Kok sakit lagi ya, kayaknya ada obat nyeri di lemari." Dinna akhirnya berhasil menemukan obat nyeri dan langsung meminumnya lalu tertidur. "Ada berita apa pak?" Ucap Yono pada Pak Didit yang sedang asik membaca koran. "Ini sekarang lagi ngetrend investasi saham Yon, nih kita tinggal masukin 500 ribu terus bisa dapat berlipat ganda." "Ah yang bener Pak, memang mereka dukun?" "Hahahaah bukan Yon, main saham itu kita kasih modal sama perusahaan tertentu nah nanti kalau untung, kita bisa dapat berkali-kali lipat." "Masa sih pak bisa begitu?" "Ya bisa, nih udah ada buktinya. Mereka yang di foto ini sudah dapat untungnya. Tuh bisa beli rumah, mobil juga." "Wah enak dong kalau begitu." "Kamu tertarik?" Seru Pak Didit. "Iya pak siapa tau uang pesangon saya bisa jadi berlipat, kan lumayan buat beli tanah atau sawah buat orang tua di kampung." "Nah iya tuh Yon, kamu dapat pesangon ya? lumayan kalau berhasil saya juga kecepretan toh." "Tenang, kalau berhasil bapak mau apa saya traktir." Didit tersenyum lebar "Besok kamu telpon aja nomer ini." "Bapak ndak mau ikutan?" "Saya duit dari mana Yono, wong mangan aja masih ngutang. Semoga kamu berhasil ya Yon." "Njeh." Yono membayangkan, kalau dia berhasil, punya duit banyak. Dia bisa beli tanah, sawah, rumah dan mobil. Hidupnya sudah pasti uenak, dan Mba Dinna pasti mau sama dia. Yono senyum-seyum sendiri. "Heh." tepok Pak Didit. "Eh, njeh pak." "Senyum-senyum sendiri, Yon laper nih. Tolong bikinin mie dong." "Njeh pak saya bikinkan." "Pake cabe ya Yon." Teriak Pak Didit pada Yono yang langsung menuju dapur. Sebatang rokok yang tinggal seujung, kembali dihisap Pak Didit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN