Mulai Cemburu

1581 Kata
"Udah Din, gausah dipikirin!" seru Ratna yang mencoba menghibur temannya yang sudah kusut dari tadi "Ini udah ke tiga kalinya Mama bikin masalah begini. Gue pusing, sekarang masih bisa di tutupin tapi nanti? Gue bingung harus gimana lagi biar mama tuh ngerti. Apa gue kabur aja kali ya Rat ke mana gitu yang gak bisa di temuin. Atau gue buang aja tuh emak gue ke laut biar di makan hiu." "Haahhahah, lo emang gak punya otak ya Din." "Tunggu-tunggu hp gue bunyi nih," lanjut Ratna. Dinna hanya diam mengamati pembicaraan Ratna dengan entah siapa itu. "Ok Pak, jadi dua hari lagi ya syutingnya. Siap Pak. Ok selamat malam." "Kenapa rat?" Seru Dinna penasaran "Syuting film lo akan diadakan dua hari lagi." "Yah gue kira masih lama, gue mau nyantai-nyantai padahal." "Yee enak aja lo entar bisa-bisa gue di telen ama Mak lampir lo." "Eh iya kan katanya kita mau ketemu dia hari ini," seru Dinna "Oh iya mampus deh gue, siap-siap kuping lo panas besok." "Gue sih aman, lo tuh siap-siap pake sumpelan kuping." "Shit." seru Ratna yang baru sadar, dia yang akan kena masalah besar besok. Seorang laki-laki yang tidak di kenal tiba-tiba masuk ke rumah Dinna, Yono mencoba menghampirinya. Orang itu langsung masuk dan mengedipkan satu matanya pada Yono. Yono dibuat merinding geli oleh kedipan lelaki itu. "Siapa sih nih orang?" dalam hati Yono "Mas nyari siapa?" Tanyanya penasaran. "Saya temannya dinna," "Bu Dinnanya belum pulang." "Yaudah saya tunggu disini aja." Eric langsung duduk di sofa ruang tamu, Yono hanya bisa memiringkan kepalanya. Dinna kebetulan sampai di rumahnya. "Makasih Yun, Rat" "Istirahat Mba, besok akan jadi hari yang panjang." seru Yuni meledek. "Rese kamu." jawab Dinna. "Kita jalan ya Din." seru Ratna. Dinna melambaikan tangannya pada Yuni dan Ratna lalu masuk menuju ke rumahnya. Dia melihat yono cengar-cengir di hadapannya. Sepertinya ada yang salah sama otak satpamnya itu. Sesampainya di ruang tamu dinna melihat seorang laki-laki, "Itu siapa? " dalam hati Dinna. "Sia,..pa ?" "Hello lady.." "Oh my god Eriiccc," Dinna langsung menghampiri dan memeluk Eric. "Kapan lo balik? Kok ga ngomong?" "Baru tadi pagi sih, sengaja gue mau bikin surprise." "Waahh, makin keren aja lo. Gimana London?" "Biasalah, gak seasik di sini. Gaada lo sih." "Hahah, iyalah di sana gaada temen lo yang cantik nan baik ini. By the way lo bakal stay di Jakarta atau?" "Yess, im gonna stay." "Arrgghh, kangen gue ama lo." Yono masuk ke dalam rumah untuk mengambil air, dia melihat Dinna memiting kepala Eric. Yono hanya tersenyum melihatnya. Dinna benar-benar dekat dengan Eric. "Bi itu, siapanya mba Dinna?" "Oh itu, itu temannya Mba Dinna dari kecil. Dia baru kembali dari London, setau Bibi dia kerja disana. Dulu sering main waktu masih di Jakarta." "Oh, deket banget ya Bi?" "Mereka emang gitu udah kayak adik kakak." Yono menoleh kembali ke arah mereka. "Lo putus sama Carlos ?" "Gausah bahas dia males gue." "Kan gue udah bilang dia itu gak baik buat lo, mending lo ama gue." "Yee, si pe'a inget tuh udah berapa cewek yang lo pacarin." "Itu kan selingan, kalau lo mau ama gue nanti gue setia deh." "Sedeng lo hahaha." "Apa kabar Nyokap lo, kangen gue sama Tante." "Biasalah, dia bikin masalah mulu. Ini gue tadi abis ngurusin dia juga." "Hebat Tante, ntar gue mau ketemu ah." Eric menatap Dinna dalam, kenapa temannya ini semakin lama semakin cantik. Membuatnya ingin memiliki. "Oke Din, gue cabut dulu udah malem." "Yah, mau pulang??, lo ga mau makan dulu. Masakan Bi Ningsih enak tau." "Lain kali aja, nanti kita hang out lagi. Gue cuma pengen ngeliat lo doang. Masih idup ga?" "Sialan lo." "Yaudah bye." "Bye.." Yono menghampiri Dinna setelah melihat Eric pergi. "Mba, mau saya buatkan teh?" "Gausah, saya mau istirahat aja." Dinna masuk ke dalam kamarnya. "Akhirnya gue ketemu kasur juga," seru Dinna "Kasurku aku kangen banget sama kamu." sepertinya selain si satpam jawir itu, otaknya juga sudah tidak beres. Keesokan pagi "Pelan-pelan Mba makannya." "Iya Bi habis saya laper banget semalem langsung tidur padahal belum makan apa-apa." Nasi uduk, ayam goreng , tempe orek dan segelas air ludes di makan Dinna. Sepertinya habis ini dia harus diet. Ini menu makan siang seharusnya. "Bi gimana si Yono?" "Dia bagus kok Mba, baik. Mau bantu apa aja walau bukan kerjaan dia." Dinna mengangguk, "Bi Ningsih masak apa?" teriak Ratna dari luar, temannya itu kadang suka memalukan. "Berisik banget sih lo pagi-pagi." bentak Dinna "Laper gue." "Ada nasi uduk, ayam goreng sama tempe Mba." seru Bi Ningsih halus. "Mantap Bi, saya laper." Ratna langsung mengambil piring dan makananya. "Ngapain sih pagi-pagi ke rumah orang minta makan lagi, ganggu." "Sayangku Dinna, Mak Lampir lo dari tadi udah nelfonin gue. Hp lo kemana sih?" "Hp gue mati semalem hehe, gue lupa kita mau ketemu dia ya. Yah gue abis makan banyak lagi." "Mampus aja lo." Dinna menggelengkan kepalanya, temannya ini sama sekali tidak membantu. Yono tiba-tiba masuk untuk mengembalikan piring dan gelas bekasnya makan. Mata Ratna langsung mengikuti gerak-gerik Yono. "Satpam baru?" "Iye." "Lumayan juga, hot Din," dengan kulit coklat, badan tegap tinggi dan rambu hitam lebat. Yono memang tidak terlalu buruk. "Hush jangan sembarang lo. Masih lugu tuh orang." "Hahaha gue bercanda Din, gue masih setia kok sama Reza." Berangkatlah Dinna ke Sebuah Kantor di daerah Lebak Bulus. Tempat manajemennya berada dan tentu saja Mak Lampir yang sejak kemarin mereka bicarakan. "Yon sini." teriak Bi Ningsih "Iya Bi." "Tolong angkatin ini ke kamarnya Bu Dinna ya, ini baju-baju Bu Dinna yang habis di laundry." "Baik Bi." Masuklah Yono ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar tapi sangat bersih dan nyaman. Ada beberapa foto dan make up di atas meja rias. Foto Dinna dengan keluarganya terpajang rapi di sana. Mata Yono terus mengamati seisi ruangan, dia menemukan ruangan terpisah di sisi kamar tersebut. Satu tempat penuh berisi tas dan sepatu bertengger di dinding-dinding ruangan, ada juga rak kaca berisi jam tangan. Belum lagi lemari-lemari besar tempat pakaian yang menjulang tinggi. Sepertinya seisi Mall di pindahkan ke sana. Yono meletakkan baju yang dia bawa ke dalam rak. Mulutnya tidak bisa menutup melihat semua yang ada di sana, lehernya terasa pegal karena terus mendengak ke atas. "Wah, besar sekali, Bu Dinna benar-benar hebat." **** Dinna dan Ratna hanya bisa diam membeku melihat Bu Shinta di depan mereka yang sangat serius membaca sebuah file. Bu Shinta adalah Direktur di Manajemen Rossi tempat Dinna bernaung. Dia sangat terkenal tegas dan galak. "Maaf Bu, ada apa Ibu menyuruh kami ke sini?" Ratna memberanikan dirinya bicara. Tiba-tiba saja Bu Shinta menggebrak mejanya, membuat mereka kaget, "Selamat ya Dinna kamu di nobatkan sebagai artis terbaik." teriak Bu Shinta dengan senyum lebarnya. Dinna terkejut, dia kira Bu Shinta akan mengamuk pada mereka berdua. "Iya, terima kasih Bu." seru Dinna tersenyum tipis. Ratna menghela napasnya lega, kali ini dia lolos dari amukan Mak Lampir tua itu. "Bayaran kamu akan semakin naik Din, dan banyak sekali tawaran pekerjaan untukmu." "Iya Bu, tapi boleh saya minta istirahat setelah film ini. Saya capek sekali ingin berlibur." "Sayang loh Din, banyak tawaran besar yang masuk." "Iya Bu tapi saya selama setahun ini belum ada jeda sama sekali, saya ingin istirahat." Bu Shinta melirik tajam ke arah Ratna, Ratna yang sadar langsung menundukkan wajahnya. Bu Shinta lalu memejamkan matanya, "Oke baiklah kalau kamu mau istirahat, saya kasih kamu libur seminggu setelah film ini. Tapi kamu harus kembali dengan lebih baik ya." "Saya janji akan bawa project yang lebih besar lagi Bu." Bu Shinta tersenyum lebar, dia mengambil sebuah map dan menyodorkannya pada Dinna. "Itu tawaran dari Hollywood, coba kamu pertimbangkan. Mereka melihat beberapa film kamu dan ingin kamu ikut casting untuk film mereka." "Din, keren Din. Ambil." bisik Ratna membuat Dinna risih. Dinna tersenyum sumringah melihat map tersebut. "Wah sebuah kehormatan untuk saya. Nanti akan saya pertimbangkan." "Yasudah itu saja yang mau saya sampaikan." "Kami permisi kalau begitu Bu." Seru Ratna Bu Shinta mengangguk, Dinna berdiri dari bangku menuju pintu. "Oh ya Din,"Seru Bu Shinta. Dinna menoleh kembali ke arah Direktur tersebut. "Jaga image kamu, jangan suka upload sembarangan di Social Media. Jangan sampai karir kamu berantakan cuma karena tanganmu iseng. Atau saya yang terpaksa akan menjaga image kamu." Dinna menelan ludahnya, bulu kuduknya merinding mendengar itu. Ratna melihat temannya sedikit gentar kalau sudah menghadapi Mak Lampirnya itu. Kontrak Dinna dengan Rossi Manajemen masih tersisa sekitar 3 tahun lagi. Bu Shinta tau semuanya tentang Dinna termasuk keluarganya, kalau sesuatu terjadi yang di kejar bukan hanya Dinna. Tapi juga keluarganya. "Jaga teman kamu Rat." lanjut Bu Shinta "I... iya bu. Kami permisi." Seru Ratna gemetar. Lalu mereka keluar dari ruangan tersebut. "Lo gak apa-apa din?" "Gue gak papa Rat, jalan pak!" Seru Dinna agar mobilnya segera melaju. Dinna termenung menghadap kaca mobil. Pikirannya kembali pada kejadian 5 tahun lalu. Dinna bersimpuh memohon pada Bu Shinta untuk menolongnya. Karir Dinna sudah hampir hancur. Hutang keluarganya sudah menumpuk dan dengan pekerjaan yang hanya sedikit, sulit untuk Dinna membayar semuanya. Biaya hidupnya sudah besar di tambah lagi hutang keluarganya. "Baik saya akan bayar semua hutang keluarga kamu. Tapi apa jaminannya?" "Saya janji, saya akan nurutin semua kemauan Ibu. Saya akan bekerja keras tanpa henti, kalau dalam waktu 5 tahun saya tidak bisa membayar hutang saya. Saya siap untuk menerima hukumannya." Bu Shinta memicingkan matanya, "Oke,... saya pegang janji kamu. Tapi kontrak kamu akan saya perpanjang 3 tahun dan kamu jangan pernah macam-macam dengan saya." "Baik-baik saya akan lakukan semuanya." Waktu itu dinna masih sangat muda, dia tidak tau lagi harus kemana. Hanya ini yang terbersit di pikirannya dan mungkin ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN