Pertemuan Kedua

1308 Kata
Pukul 12 malam Dinna baru sampai rumah, jelas dia sangat lelah tapi inilah resiko dari profesi yang ia jalani. Dan dia sadar akan hal itu, dengan pendidikannya ia mungkin tidak akan bisa punya rumah mewah dan mobil dengan harga milyaran. Untungnya jadi artis tidak perlu ijazah tinggi-tinggi. "Mbak sudah dapet pengganti Mas Asep, besok dia sudah mulai kerja." dia terkejut melihat Bi Ningsih yang belum tidur jam segini. Biasanya ketika Dinna pulang, Bi Ningsih sudah tidur dan meninggalkan lauk di meja kalau-kalau dia lapar. "Loh Bibi belum tidur?" "Belum Mba, habis nonton film di tv, bagus filmya," "Oohh, dia udah tau kondisinya kan Bi?" "Sudah Mba, sudah Bibi jelaskan." "Oh yaudah, makasih ya Bi. Saya masuk dulu, capek. Bibi juga istirahat jangan kebanyakan nonton!" ledek Dinna "Iya Mba siap." Dinna melemparkan tas dan tubuhnya di atas kasur. Seperti biasa dia akan melihat instagramnya dulu sebelum tidur. Dan tidak ada yang menarik. Hal yang tidak bisa di lewatkan sebelum tidur adalah membersihkan wajah. Cream malam dan cleanser adalah wajib. "Duh muka gue udah mulai kering dan kusam, butuh perawatan kayaknya." seru Dinna dengan melihat dirinya sendiri di kaca. Kamar Dinna memang standar, tidak terlalu besar. Tapi sangat nyaman apalagi ada bantal kesayangannya. Pasti membuatnya susah bangun pagi. Nuansa serba putih dengan gaya minimalis eropa ada pilihan Dinna. Sangat tenang. Dinna terbangun menyadari sinar matahari sudah masuk ke dalam kamarnya. Matanya juga terganggu oleh sinar itu. Dia teringat ada syuting iklan produk handphone terbaru salah satu merk handphone terkenal. Dia meregangkan tubuhnya yang belum mau beranjak dari tempat tidur. Matanya masih setengah terbuka. Dia berusaha berdiri dan masuk ke kamar mandi. Badannya terasa sakit semua. Dinna sudah siap dengan kaos krem dan jaket kulitnya. Kali ini dia malas untuk make-up tebal-tebal. Wajahnya sudah terlalu sering terkena make-up. Tas biru channelnya tidak lupa dia bawa. Berada di depan pintu rumahnya, Dinna terkejut melihat seseorang yang sepertinya ia kenal mendekat ke arahnya. "Loh, kamu ngapain disini?" Tanya Dinna panik. Yono yang juga terkejut hanya diam tanpa berkata apapun, dia sama sekali tidak tau majikannya adalah Dinna Maherani. Bi Ningsih, yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Dinna, "Kenapa mba?" "Dia ngapain disini Bi?" "Oohh dia Yono penggantinya Mas Asep Mba." "Gantinya Asep? " Dinna bingung jangan-jangan dia sengaja ngikutin Dinna. Otak Dinna sudah tidak bekerja sekarang ini. "Iya Mba, saya gantinya Pak Asep" seru Yono terbata-bata, mata Dinna langsung melihat tajam ke arah Yono. Kali ini dia siap membunuh lelaki itu. "Ada apa Mba?" seru Bi Ningsih "Oh gak apa-apa Bi, saya mau bicara langsung sama dia." "Oh, yaudah Bibi masuk ya Mba." "Iya Bi." Setelah melihat Bi Ningsih masuk ke dalam, Dinna langsung menghampiri Yono. "Kamu kenapa bisa disini?" "Saya lihat ada lowongan Mba, jadi saya coba melamar. Saya ndak tau Mba yang punya rumah ini." "Bohong, jangan-jangan, kamu sengaja ya ngikutin saya, siapa yang nyuruh kamu? Dibayar berapa kamu?" Tandas Dinna judes "Weh Mba, ndak ada yang nyuruh saya. Saya juga gak tau ini rumahnya Mba bener." "Bohong kamu, ayok ngaku!" "Saya ndak bohong Mba, saya bener," "Din, udah siap?" Sapa Ratna yang sudah menunggu di luar memecah konsentrasi Dinna untuk mencecer Yono. Dia benar-benar tidak percaya, kenapa dia harus bertemu lagi dengan si jawir ini. Kalau sampai ada yang tau soal malam itu. Habislah dia. "Bentar Rat." teriak Dinna "Awas kamu ya." Dia mengancam yono dan langsung pergi, dia bisa terlambat kalau tidak segera pergi. Yono mengikuti Dinna dari belakang. Dinna seketika berhenti. "Ngapain sih ngikutin saya?" ujar Dinna marah. Baru Yono akan membuka mulutnya Dinna berbalik badan dan terus berjalan. Yono tetap mengikutinya. "Apaan?" Teriak dinna "Anu mba, harga bajunya masih nempel di kerah." Dinna langsung meraih kerah belakang bajunya. Ternyata benar bajunya sudah lama dia beli tapi baru di pakai sekarang. Betapa malunya dia. Tapi untung urat malunya sudah putus. Dia cuek saja melangkah menuju mobilnya. Yono masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi, kenapa dia dituduh mengikuti Dinna. Seketika ingatan Yono kembali ke malam itu, malam indah mereka berdua. Tapi Yono langsung tersadar, dia langsung menggelengkan kepalanya. **** "Hai Din, apa kabar?" Dinna yang sedang menghapalkan script langsung berdiri. Dinna lalu mengulurkan tangannya "Baik Pak, udah lama gak ketemu ya Pak?" "Kamu makin sukses aja, seneng saya liat kamu." Dinna tersenyum bangga "Ini kan berkat didikan Bapak juga," pak Toto ini yang dulu mengajari Dinna bagaimana akting yang baik dan bisa memberikan rasa pada penonton. Dinna berhutang banyak padanya. Disaat semua orang tidak percaya padanya. Pak Totolah yang memberikannya kepercayaan itu. Tiba-tiba seorang kru datang memberi tau bahwa semuanya sudah siap. Mereka tinggal naik ke studio. "Ok Din, saya duluan ya, oh ya salam buat Hendra" "Siap Pak." seru Dinna. Hendra adalah junior pak Toto. Dan itu berarti Pak Toto tau kalau Dinna sedang bekerja bersama hendra. Dinna melakukin syuting selama hampir 4 jam. Untungnya syuting iklan jadi adegannya tidak terlalu berat dan bisa cepat pulang. Dinna ingin sekali beristirahat menikmati kasur empuknya. "Cut, ok bungkus." seru pak Toto Dinna menghela nafas, akhirnya selesai juga. Yuni berlari tergesah-gesah ke arah Dinna. Napasnya tersengal-sengal, Dinna mengerutkan dahi melihatnya. "Mba telepon." Yuni menyodorkan teleponnya. "Hanya telepon kenapa dia sampai lari-lari begini?" ujar Dinna dalam hati. Dinna lalu mengambil telpon tersebut, "Hallo, apa? Baik saya akan segera kesana pak. Terima kasih." "Siapa Yun?" tanya Ratna berbisik pada yuni. "Kantor Polisi." ujar Yuni tanpa bersuara. "Ada apa din?" "Bener-bener deh, nyokap gue di tangkep polisi. Katanya dia ketangkep lagi judi. Pusing gue dia bikin masalah mulu." "Yaudah lo tenang, ayo kita langsung kesana." Sepertinya berguling-guling istirahat di kasur hanya akan menjadi angan-angan semata. **** Yono tertidur di dalam post satpam, ini hari pertamanya kerja tapi dia malah ketiduran. "Woy," seru pak Didit mengagetkan Yono. "Iya Pak, duh maaf saya ketiduran." "Bikin kopi gih, saya temenin kamu di sini biar gak ngantuk." Yono mengangguk dan langsung pergi membuat kopi. "Dua ya!" seru Pak Didit. Yono berusaha menyadarkan dirinya, lalu kembali bersama dua kopi panas. "Nih rokok," Pak Didit menyodorkannya pada Yono. "Makasih Pak." "Asalnya dari mana?" "Saya dari Purwokerto Pak." "Ohh, saya dari Brebes." "Oalah ngapak toh pak?" "Kepriben, hahahah." Mereka berdua tertawa. "Sudah punya pacar belum?" "Belum pak, mana ada yang mau sama saya. Kerja saja masih tidak tetap." "Sabar aja, Bu Dinna baik loh. Dia gak pelit orangnya. Tapi yah kalau sudah marah gak bisa berhenti. Namanya juga wanita." Yono hanya mengangguk, "Nih rokoknya buat nemenin kamu aja, saya mau kerja lagi." "Makasih e pak." "Jangan ketiduran lagi!" seru Pak Didit membuat Yono tersipu malu. **** Jam 8 malam Dinna akhirnya sampai di Kantor Polisi. Wajahnya pucat karena lelah dan belum makan apa-apa dari tadi. "Biar gue yang turun din, gue selesain lo disini aja." "Makasih ya Rat, lo the best deh." Beruntunglah dinna punya sahabat sekaligus manajer seperti Ratna. Ratna tersenyum dan masuk ke Kantor Polisi, setelah menunggu selama 2 jam akhirnya Bu Rena bisa keluar. Mereka langsung masuk ke dalam mobil. "Mama apa-apaan sih bisa ketangkep polisi?" "Maaf Din, mama gak tau polisi akan datang," "Mama harusnya tau cepat atau lambat, ini akan terjadi." Ibunya terkejut jadi selama ini Dinna mengetahui semuanya. "Kamu..." "Ya Dinna tau semuanya, nyesel Dinna ngasih uang ke mama." "Kok ngomongnya gitu sih, mama kan butuh hiburan juga lumayan lagi kalo menang kan." "Mama, hiburan kan bisa yang lain , jalan-jalan kek ke luar negeri arisan kek apa kek. Huft kalau kayak gini aku gak akan kasih uang lagi ke mama." "Hehe jangan gitu dong sayang, masa gak kasian sama mamanya?" "Bulan depan akan Dinna potong uang buat mama, biaya Fendi biar Dinna yang urus. Dinna capek ngeliat tingkah laku mama, dari dulu gak pernah berubah." "Bilang aja emang gamau ngasih uang. Udah gak usah ngasih uang, kamu lahir dari batu kali." Bu Rena keluar dari mobil dan memanggil taksi. Dinna memegang jidatnya, kepalanya pusing. Ini sudah ke 3 kalinya Ibu Dinna buat masalah. Entah harus bagaimana lagi, Dinna sudah kewalahan menangani tingkah Ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN