Pekerjaan Baru

1173 Kata
Siang itu terik matahari sangatlah menyengat, seperti biasa, Yono mencari pekerjaan kesana kemari, sangat sulit untuknya. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan dia mulai kelelahan. Akhirnya dia berhenti di Warung Nasi Padang untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan. Nasi dengan telur dadar dan es teh manis sudah cukup untuk mengisi energinya siang ini. Tas dan map coklat selalu setia menemani Yono yang akan mulai berkeliling lagi. Sampai akhirnya dia benar-benar hilang arah. Melihat kesana-kemari dia sama sekali tidak tau berada dimana. Yono tersasar. "Dimana ini ya? Aduh," ujarnya pada diri sendiri. Mata Yono terbuka lebar terkesima melihat rumah-rumah besar gedongan yang selama ini hanya dia lihat lewat tv. Benar-benar bagus dengan pagar yang sangat tinggi. "Rumahnya bagus-bagus banget, besar lagi. Wah kalau punya rumah begini nyapu dan ngepelnya saja sudah capek." Saat sedang berjalan, Yono membaca selebaran yang di tempel di pagar suatu rumah besar, bertuliskan butuh seorang satpam. Dan tanpa berpikir lagi Yono masuk dan mencoba melamar. **** Jadwal Dinna hari ini adalah rapat untuk project film selanjutnya, ini akan jadi film ke 5 dia selama menjadi seorang artis. Dinna membaca script dengan pemeran lainnya. Dinna benar-benar tidak suka dengan karakter di script itu, sangat naif. Orang boleh baik tapi tidak tertindas setiap saat seperti ini, ini b**o namanya. Dan sepertinya orang yang benar-benar baik sangat langka di dunia ini. "Saya gak suka karakternya, jangan terlalu baik ada gregetnya sedikit!" celetuk Dinna "Ini gregetnya ada kan, ya memang dia baik makanya semuanya jadi baik." jawab Pak Ilham sedikit tersinggung. "Pak Ilham, orang baik ada tapi tidak seperti ini. Ini mah b**o bukan baik, liat dianiaya mau aja diselingkuhin mau aja, ya kali, saya mau karakternya diubah sedikit, naskahnya juga. Gimana Indonesia mau maju kalo begini." Hendra yang melihat kejadian itu langsung berbisik pada Pak Ilham "Udah ikutin aja!" Pak Hendra adalah sutradara untuk film ini. "Ya nanti akan kita bahas lagi ya Mbak Dinna." Akhirnya Ilham mengalah, Dinna memang terkenal keras kalau masalah karakter yang ia perani. Dia bisa saja mengganti naskahnya kalau dirasa perlu. Dan itu selalu berhasil, semua orang mengakuinya. "Tolong ya Pak, supaya orang yang nonton pun bisa lebih merasakan dan di sini karena kita adalah kerja tim. Saya mohon pada semua untuk kerja samanya." seru Dinna sambil berdiri dan menunduk. "Dia paling tidak suka kalau peran yang ia mainkan tidak punya rasa dan makna. Dia ingin apa yang ia hasilkan berkualitas dan membantu orang banyak, karena itulah dia paling sensitive terhadap peran." ucap Ratna pada salah satu kru yang ada di sampingnya. "Pantes semua perannya sangat menarik." ujar kru tersebut. "Ya karena dia sendiri yang mengotak-ngatik peran tersebut supaya dapat memberikan rasa dan nyawa pada film." Setelah melakukan pembacaan naskah dengan semua pemain, rapat akhirnya selesai dan semua orang keluar dari ruang rapat. "Songong banget si Dinna itu, belagu banget mentang-mentang lagi naik daun." gerutu Ilham. "Udah ikutin aja dia emang gitu, dia terkenal sering andil dalam cerita yang dia mainkan tapi hasilnya kan bagus, makanya dia terkenal." "Kalau begitu dia aja yang nulis naskahnya, pengen tau gue sebagus apa nanti dia meranin ini," Ilham lalu pergi meninggalkan Hendra dengan melempar naskahnya. "Jangan gitu dong Ham, ham.. Ilham," hendra berusaha mengejar Ilham. Suara bising kamera dan lampu tiba-tiba menyorot ke arah Dinna. Menyialaukan mata indah coklatnya. Dan segerombolan orang langsung berlari ke arahnya. "Mbak Dinna gimana akan ambil project ini?" ujar salah satu wartawan swasta itu. "Insyallah akan saya ambil, semoga bisa cocok ya." jawab Dinna masih tenang. "Kapan akan mulai syuting Mba?" Seru wartawan satunya lagi. "Wah saya kurang tau kalau itu mungkin dalam waktu dekat kali ya, soalnya belum ada jadwalnya juga." "Mbak katanya Mba putus ya dari Mas Carlos?" Paling malas Dinna kalau sudah ditanya masalah pribadi. Bisa-bisa dia jadi Miss No Comment seperti seniornya Desy Sartika. "Maaf sudah cukup ya, sampai ketemu nanti." seru Ratna sambil menghadang para wartawan. Memang hanya Ratna yang mengerti harus berbuat apa di saat seperti ini. Dinna melemparkan senyum terakhirnya sebelum masuk ke dalam mobil. "Lo emang paling bisa gue andalkan Rat." "Dinna temen lo ini, yang udah berteman sama lo sejak SMA ini, tau persis karakter sahabatnya. Bibir lo udah mancung 5 centi kalau udah ngebahas Carlos." "Sembarangan lo." Dinna menghela nafas. "Kok mereka tau ya gue putus sama Carlos?" Lanjutnya, "Gimana gak tau instastory lu galau semua isinya, karena tadi sibuk aja gue gak sempet ngomong." "Masa sih ? iya juga ya. Ah bodo amat." "Nah ini nih, sebel banget gue sama kebodo amatan lo itu. Bikin gue sakit kepala." Dinna melihat ratna lalu tersenyum. "Hehe maaf deh, lo mau makan apa? Biar gue traktir," "Gak usah, gue sibuk." "Yang bener gak mau, nyesel loh ntar kepikiran ampe rumah." Dinna tau sekali temannya ini sangat gila makan walau badannya tetap saja kurus, membuatnya iri. Dia tidak akan menolak kalau ditraktir kecuali... "Tante lo minta ketemu hari ini, dia mau nyidang lo." "Hah si mak lampir? Kenapa lo ga ngomong sih. Haduh gue harus ngomong apa dong rat," "Tau." jawab Ratna singkat. "Aih lo mah gak nolongin gue, jahat." "Bodo amat." Sekarang Dinna yang kena batunya karena "bodo amat"nya itu. **** Yono duduk di depan Bi Ningsih yang sedang membaca resume lamaran miliknya. Tangan dan kaki Yono tidak bisa diam karena gugup. Dia meminum secangkir teh yang telah di sediakan untuk mengurangi kegugupannya. "Masnya mau melamar jadi satpam?" Tanya Bi Ningsih memecah kebisingan. "Iya Bu." "Sebelumnya kerja dimana?" "Sebelumnya saya bekerja sebagai valet parking service di PT Argo Jaya, pernah jadi satpam juga di tempat lain selama 6 bulan." "Oh, berarti sudah punya pengalaman ya?" "Njeh." "Disini kerjanya full Mas, gajinya mungkin gak kaya di PT dan kalau mau nginep disini boleh ada kamar. Bener Masnya mau kerja disini?" "Sangat mau Bu, saya kebetulan juga sedang butuh!" Bi ningsih memang sangat selektif ketika memilih orang yang akan bekerja pada majikannya. Dia sudah menganggap Dinna sebagai anaknya sendiri. Dulu Dinnalah yang menolong dia dan mengambilnya dari jalanan. Sejak tadi pagi sudah ada 3 orang yang melamar untuk bekerja, tapi tidak ada yang membuat Bi Ningsih cocok. "Kalau ternyata Bos saya orang jahat, mafia. Mas masih mau kerja disini?" Yono terdiam sejenak, "Saya masih mau." seru yono tanpa berpikir panjang. "Kalau ada orang yang datang dan mecari Bos saya tanpa janji, apa yang akan Mas lakukan?" "Tidak akan saya bolehkan masuk, kalau mereka memaksa saya akan hajar mereka sampai habis babak belur." seru Yono dengan gaya silat moboknya yang ngaco. Melihat gaya bicaranya yang lucu, Bi Ningsih langsung tertawa terbahak-bahak. Dia orang yang polos dan itu sangat terlihat jelas oleh Bi Ningsih. "Baik Mas, ini kontraknya silahkan di tanda tangani," "Saya di terima?" "Iya." seru Bi Ningsih tersenyum. Yono sangat gembira, dia tidak bisa menahan senyum lebarnya. Jantungnya berdegup kencang sampai mau copot. "Baca dulu atuh Mas, lihat Mas selama disini tidak boleh menceritakan apa pun yang terjadi disini kepada siapapun. Yang punya rumah ini artis Mas jadi ga bisa sembarangan. Gimana?" Ucapan bi ningsih menyadarkan Yono seketika. "Tenang Bu saya jago nyimpen rahasia, saya janji ndak ada yang akan bocor." Yono menandatangani perjanjian dan akan mulai bekerja besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN