"Mau ke mana?" Gibran meraih lengan sang istri, baru saja melipat mukena serta menaruh ke lemari. Aliza mengerutkan kening. Dia heran melihat suaminya seakan mencegah pergi, padahal mereka butuh sarapan, dan tidak mungkin menyuruh suaminya memasak. Dia cukup tahu diri kalau Gibran harus banyak istirahat setelah kurang tidur sampai terlihat cekungan hitam di bawah mata, apalagi nanti harus ke kantor. "Apa Kakak lupa kalau udah berapa? Ya akan masak, emang enggak mau sarapan apa?" Gibran mengusap wajah, dia menyentuh bahu sang istri menyuruh duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu sudah mandi subuh-subuh, suara shower yang membangunkan sang istri. "Kamu masih sakit," ujar Gibran perhatian melihat wajah istrinya masih agak pucat, tenaganya belum pulih. "Bibi akan datang sebentar lagi, mas

