"Kak?" Aliza mengusap-usap kerongkongan sebagai kode. Gibran mengembuskan napas panjang, menaruh bubur yang masih sisa setengah ke meja, Aliza menolak menelan lagi. Jadi Gibran meraih segelas air putih dan menyodorkan ke sang istri. Bola mata Aliza berputar selagi meneguk isi gelas perlahan, mengintip suami yang masih konsisten duduk di tempat semula. Pakaian kantor sudah lengkap, dasi hitam, kemeja putih, dilapisi jas navy. Harusnya sudah berangkat ke kantor, bukan duduk di hadapan orang sakit. "Kakak nanti telat, lho," cicitnya merasa tak enak pada karyawan lain membuat bosnya tertahan di rumah. Gibran melirik ke jendela yang sudah terbuka, cahaya matahari menerobos masuk. Di luar sudah terang dan sialnya dia memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Tapi, menunda beberapa jam mu

