Gibran menggeram kesal teleponnya belum juga diangkat sampai panggilan ketiga. Padahal ia buru-buru memasuki ruangan setelah pekerjaan menyebalkan menyita waktu seharian penuh. Sebelah tangan melonggarkan dasi motif garis-garis, berjalan mendekati jendela lebar di ruangannya. Mengetuk-ngetuk ujung sepatu mengkilapnya ke lantai. "Ke mana anak itu?" Ia mendesah sambil mengurut alis. "Apa sedang membuat kue?" tebak Gibran yang entah kenapa dilanda rindu berlebihan. Gibran menatap pemandangan luar dengan pikiran melalang buana. Ia membayangkan Aliza sedang mengenakan apron bergambar panda, ada sedikit bekas tepung di pipi yang menggemaskan, dan pasti antusias menunggu kue-kue kering yang dicetak lucu keluar oven. Atau bisa saja Aliza sedang menekuri piring melahap berbagai makanan lezat tan

