Pukul tujuh malam, Aliza sedang duduk bersila di depan layar televisi menyala menayangkan sinetron kesukaan Feli. Dia ikut-ikutan nonton daripada jenuh di kamar. Tangannya memegang satu bungkus keripik, satunya menjejalkan keripik bertabur bumbu balado ke mulut. Suara bel terdengar memaksanya menepuk-nepuk tangan membersihkan sisa-sisa bumbu, kalau ada Gibran pasti mendapat bonus omelan berdurasi panjang. Dengan malas-malasan, Aliza melangkah gontai ke ruang depan. Raut wajahnya langsung berubah kaget begitu mendapati sang kakak berdiri di depan pintu, menenteng paper bag besar di tangan kanan. "Kakak udah pulang?" Zelina tersenyum lebar, ia baru saja pulang pemotretan di luar kota. Terpaksa melewatkan perkembangan hubungan Aliza selama tiga hari. Tekadnya memiliki Gibran dan memisahk

