"Berhentilah berputar-putar di depan cermin. Aku tidak tertarik dengan anak kecil," komentar Gibran mendapati Aliza berdiri di depan cermin mengenakan oversize t-shirt dilapisi overall model celana. "Kamu juga menyemprotkan satu botol parfum, norak sekali?" Ia mengibaskan tangan seakan aroma melon favorit Aliza serupa bau kembang kamboja di kuburan. Aliza menahan napas agar kewarasannya terjaga. Tadi Reyhan sudah mengirim pesan akan menemui ke rumah. Mengingat kesepakatan kemarin malam, Aliza tidak keberatan memberikan alamat Gibran. Lagi pula ia rindu mengobrol banyak dengan laki-laki yang selalu antusias menanggapinya. Aliza rindu melihat mata segaris Reyhan kalau tertawa, belum lagi pipi bolong yang suka ditusuk lambut dengan jari-jarinya. Membayangkan saja Aliza sudah senyum-senyum.

