Mengintai Istri

1142 Kata

Gibran menatap sang istri yang sejak Reyhan pulang menekuk wajah, tak lupa memboyong stoples keripik kentang bertabur bumbu barbeque ke sofa depan televisi. "Kamu masih marah?" Aliza hanya menoleh dan memberi Gibran tatapan tajam. Gibran berdecak. "Lagian apa bagusnya bocah itu, badan kerempeng kayak kekurangan gizi." Ia duduk persis di sebelah istrinya serta menggapai remote untuk mengganti channel, sejak tadi televisi yang menayangkan adegan romantis sinteron terabaikan. "Kakak kenapa, sih? Harus banget menghina Reyhan begitu. Padahal Kakak nggak ada apa-apanya daripada kak Reyhan." Aliza mendelik kesal mengingat mulut pedas Gibran pada laki-laki yang masih dikaguminya. Reyhan tergolong tampan dengan bulu alis lebat seperti ulat, iris mata kecokelatan yang memikat. Hidung lancip,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN