"Harusnya Kakak tuh bisa adil. Kalo aku enggak mencampuri urusan pribadi Kakak, kenapa harus bersikap begitu di depan kak Reyhan?" Aliza melirik suaminya yang baru memasuki perumahan elit setelah mendiamkan selama setengah jam. Aliza merasa percuma bungkam sebagai aksi protes agar suaminya introspeksi diri serta meminta maaf. Tapi, kayaknya hati Gibran terbuat dari batu neraka. "Memang kenapa?" Gibran membalas santai seakan tindakan barusan bisa dimaklumi. Kepekaan Gibran terlampau minim atau benar-benar sengaja menguji kesabaran Aliza yang kian lama stoknya menipis. Aliza mengalihkan pandangan ke jalanan yang biasa dilewati sehari-hari. Sementara pikirannya sudah terbang ke mana-mana. Mengingat pengakuan Reyhan yang sudah dinanti-nanti sejak lama. Ia memiliki jawaban yang sudah dipen

