Kembalinya Zelina

1256 Kata
Aliza menempelkan pipi ke meja, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan sampai menimbulkan bunyi. Pekerjaan rumah kelar dari urusan debu sampai remah-remah sebesar biji jagung minggat. Dia juga sudah tidur siang, makan cemilan, menonton telivisi, rasanya matahari tidak kunjung bergeser. Ah, lebih baik bikin kue. Aliza itu suka membuat kue-kue, dulu mamanya pernah membuka toko kue yang bertahan satu tahun lantaran kalah saing dengan toko besar. Kondisi keuangannya sulit sampai datang pria seumuran almarhum ayahnya yaitu Seno. Berhubung persediaan telur dan maizena menipis. Ia berpikir keluar sebentar. Toh, tidak membutuhkan waktu satu jam membeli bahan-bahan di supermarket terdekat. Gadis berambut sebahu itu turun dari taksi, masuk dengan troli mengelilingi rak-rak bahan makanan. Tangan Aliza meraih berbagai kebutuhan membuat kue, tepung, margarin, dan telur. Lalu memasukkan ke troli. "Sekalian belanja isi kulkas kali ya," gumam Aliza selagi mengingat kebutuhan lain. Dia mendorong troli ke rak berisi minuman kaleng. Tepung, telur, soft drink sudah masuk ke troli. Sekalian ia memasukkan tomat, cabai, sawi, dan bahan-bahan dapur yang menipis. Setelah dirasa cukup, saatnya Aliza menuju cemilan kesukaan. "Aliza." Sontak dia menggerakkan kepala untuk melihat orang yang menggumamkan namanya. Saat itu juga tangannya gemetar hampir melepaskan troli. Darahnya seakan berhenti. Kepalanya menggeleng cepat memastikan dirinya tidak halusinasi. Tidak salah lagi. Wanita dengan balutan mantel kotak-kotak berpadu heels hitam sangat dikenalnya. Iris mata kecoklatan dihias bulu mata lentik. Siapa lagi kalau bukan kakak tirinya, Zelina. "K-kakak?" "Al, belanja di sini. Kakak baru saja pulang mau kasih kejutan," kekeh Zelina. Setelah pekerjaan di New York selesai, dia mengambil penerbangan paling cepat untuk menjelaskan pada Gibran. Zelina yakin Gibran masih mau memahami, mengingat secinta apa Gibran padanya. Dia sudah bersalah meninggalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari. Mau bagaimana lagi, mimpi sebagai model masih di urutan pertama prioritasnya. "Tadi Kakak mampir kelupaan belum beli cokelat soalnya di sana Kakak sibuk, oleh-oleh hanya baju buat Aliza," lanjut Zelina melirik ke troli yang penuh. "Belanja banyak banget, apa papa makan di rumah terus?" Selama ini keduanya sama-sama tahu papanya suka makan di luar jika salah satu anaknya pergi. Meja makan terasa sepi diisi dua orang, begitu kata Seno. "E-enggak," jawab Aliza gugup. Semua di luar prediksi, ternyata dia belum siap bertemu sang kakak. Seketika isi kepalanya dijejali dugaan-dugaan buruk kalau sang kakak akan membencinya. "Al, kenapa bengong?" Zelina melambaikan tangan ke depan wajah Aliza yang telah terdiam cukup lama. "Kakak ke kasir dulu, apa mau bareng pulangnya?" tawar Zelina. Aliza makin was-was. Bagaimana kalau sang kakak tahu fakta sebenarnya. Dia tidak akan bersikap semanis ini. Setahu Aliza, kakaknya pernah bilang tidak akan membiarkan perempuan manapun merebut Gibran. Dulu, kakaknya bercerita banyak sekali perempuan centil menggoda calon suaminya. Tapi Aliza melakukan semua demi sang papa, juga Zelina sendiri agar tidak mendapat kemarahan Gibran yang berimbas pada karirnya. "Kakak duluan saja, soalnya Aliza masih banyak yang mau dibeli." Zelina menekuk alis menyadari troli Aliza hampir penuh. "Mau beli apalagi, Kakak tunggu, deh. Lagian kita satu arah soalnya Kakak juga mau pulang." Tawaran menggiurkan, Aliza sangat merindukan masa-masa bersama sang kakak. Dia rindu bersandar dan mengeluh aktivitas selama sang kakak tiada. Lebih parahnya memutus semua kontak dengan keluarga. Tapi ia meringis saat ingat dirinya sudah menjadi istri Gibran. "Nggak, aku mau mampir ke tempat lain." "Ke mana?" Tanggapan Zelina terlalu cepat, dia mengerutkan alis heran. Lama tidak berinteraksi membuat Zelina melewatkan berita penting. Dia menghilang tanpa kabar selama enam bulan sampai adik kesayangan terlihat canggung. "Kamu sudah kuliah, ya. Apa tinggal di dekat kampus. Baiklah Kakak ke kasir dulu, nanti Kakak main, ya." Zelina memeluk singkat adiknya, alih-alih senang justru Aliza merasa gelisah. Kuliah? Harusnya dia merasakan masa-masa itu. Namun, impiannya kandas setelah menikah. Gibran berjanji akan memberi segala kebutuhan Aliza. Menjamin masa depan gadis itu, tetapi satu hal yang Aliza sesali. Dia kehilangan mimpinya. Aliza menggeleng cepat. Berusaha mengenyahkan pikiran yang sudah bercabang ke mana-mana. Ia segera mencari buah-buahan dan segera mendorong troli ke kasir. *** Mata Aliza menyipit begitu melihat mobil mewah keluaran Eropa milik Gibran sudah parkir di halaman rumah. Dia masuk sambil membawa tentengan belanjaan. "Kenapa di sini? Bukankah banyak pekerjaan?" tanya Aliza begitu mendapati suaminya duduk di ruang tengah sambil menyilangkan lengan. "Kamu tidak izin akan ke supermarket," tegas Gibran melirik ke kantong belanjaan di tangan mungil Aliza. Aliza hanya meringis. Dia tidak menyangka Gibran akan pulang dan memergokinya keluar tanpa izin. "Aku bosan dan ingin membuat kue, tapi bahan-bahan di dapur menipis," kilah Aliza tetap berjalan melewati suaminya menuju ke kulkas. "Banyak alasan," cibir Gibran, entah kenapa ingin mengekor istrinya. Dia mengamati gadis kecil, rambut sebahu, tangannya pendek karena tingginya pun tidak mencapai 155 cm. Tapi terlihat cekatan memindahkan bahan-bahan ke kulkas. "Kenapa pulang?" tanya Aliza setelah menoleh dan bersandar di meja. Dia menyeka keringat di dahi akibat lelah menenteng belanjaan usai turun dari taksi. Pertanyaan itu belum mendapat jawaban. Tidak biasanya Gibran pulang cepat. Dia selalu di rumah saat larut malam atau pagi buta. Aliza sampai hafal kebiasaan sang suami. Jika pulang cepat pasti ada sesuatu penting. "Memastikan kamu tidak membuat ulah." Gadis itu hanya mendengus sebal. Selalu dianggap gemar membuat ulah. Padahal ia selalu menurut. "Sebentar lagi Maya datang." Kali ini mata Aliza melebar. Baru saja menetralkan rasa gugup. Sudah harus menghadapi pacar Gibran yang lain. Aliza ingat kalau perempuan berpakaian modis, rambut panjang, dan sering mencibirnya bernama Maya. Gibran memang keterlaluan, dia terang-terangan membiarkan salah satu pacarnya bolak-balik ke rumah. Tuhan, kenapa hidupku penuh masalah? sesal Aliza. Dia masih terlalu dini untuk menghadapi perkara orang dewasa yang membuat kepala berdenyut. 'Kak Lina, jangan marah sama Al,' batin Aliza saat teringat pertemuan di supermarket. Aliza menghela napas pelan, mengalihkan pandangan ke tembok kaca sebelah kiri yang langsung memperlihatkan keindahan taman. "Ingat, jangan membuat Maya kesal. Buatkan dia jus atau buah yang sudah dipotong-potong." Gibran mengingatkan entah keberapa ratus kali sejak menikah. "Iya," jawab Aliza malas-malasan. Belum sempat melanjutkan obrolan lebih lama. Suara bel sudah terdengar. Siapa lagi kalau bukan Maya jelmaan Kunti. Aliza segera bangkit dari sofa hendak membuka pintu. Namun, tangannya dicekal Gibran. "Biar aku saja." "Eh." Aliza mengerjap. "Iya." Gadis kecil itu membuntuti langkah Gibran yang menuju pintu dan disuguhi yang tak seharusnya Aliza lihat. Dia menatap kesal pada keduanya karena tidak punya malu berpelukan serta cium-cium pipi. "Baby, apa kamu menunggu lama?" tanya Maya bernada manja. Aliza menatap jijik pada keduanya, apalagi saat tangan Gibran meraih pinggang ramping perempuan yang mengenakan heels setinggi sepuluh senti. Setiap hari Aliza berusaha meyakinkan diri kalau dia baik-baik saja. Toh, selama tidak melibatkan cinta semua tidak rumit. Bodo amat berapa puluh perempuan dikencani suaminya, asalkan hidup kakak kesayangan dan papa tirinya tidak dihancurkan. Kembalinya Zelina membuat ia sadar, benarkah baik-baik saja? Di balik sikap menyebalkan Gibran bukanlah dia tetap suaminya? Dia tahu tidak berhak marah pada sang kakak, terjebak dengan pernikahan tanpa cinta sudah pilihannya sendiri. "Cepat, ya, aku mau potongan buah apel, naga, dan kiwi." Mulut perempuan itu sudah memerintah, seakan menganggap Aliza benar-benar babu. Dia sendiri bergelayut manja di tangan Gibran dan duduk di sofa. Sementara Aliza masih berdiri di samping pintu depan pertanyaan muncul di kepala. Benarkah ia rela membiarkan puluhan perempuan jatuh ke pelukan Gibran? Aliza tahu, dia melihat sendiri kebaikan Gibran sewaktu masih menjalin hubungan dengan Zelina. Gibran bukan tipe laki-laki yang gemar bergonta-ganti pasangan. Saat ini, sisa luka kehilangan Zelina masih membekas jelas. "Kamu tidak dengar pacar saya bilang?" Gibran tertawa mengejek. "Kamu tidak tuli?" Aliza mencebik. "Oh, aku sibuk mau membuat kue. Kalau mau buah-buahan, sudah untung aku belikan tadi di supermarket. Tinggal potong sendiri," jawabnya ketus. Maya menatap tak suka, dia menggerutu sebal. Sebaliknya sudut bibir Gibran terangkat, entah kenapa, dia suka Aliza mulai menolak meladeni pacar-pacarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN