Pengkhianatan yang Terbongkar

1005 Kata
Aliza menata kue-kue kering berbentuk kepala panda ke beberapa stoples kecil, lalu memasukkan ke kabinet untuk persediaan kalau lapar dan membutuhkan makanan secara cepat. Dia ingin langsung rebahan ke kamar mengingat cuaca di luar mendung, pasti nyaman sekali bergelung dengan selimut. Namun, suara tawa perempuan yang masih bertahan di ruang tengah sangat mengganggu. Seolah-olah tidak menganggap keberadaan dirinya yang berstatus istri Gibran. "Kamu sudah kelar membuat kue?" Gibran muncul dari arah belakang, membuat Aliza yang baru saja duduk di bar stoll menoleh ke sumber suara. Aliza hanya mengangkat alis, turun dari kursi menuju kulkas mencari soft drink yang bisa mendinginkan kepala. Dia sudah membiarkan suaminya bebas pacaran di ruang tengah, merelakan buah-buahan yang baru ditenteng susah payah dari supermarket masuk menjejali perut perempuan ular yang mulutnya tidak pernah disekolahkan. Jadi dia malas meladeni ucapan Gibran. "Buatkan kami jus," ujar Gibran setengah dongkol, melihat Aliza berjalan melewatinya dengan santai lalu kembali duduk sambil meneguk soft drink yang baru diambilnya. "Ada di kulkas," balas Aliza teringat jus mangga yang dibelinya sekalian saat ke supermarket. Gibran mengamati sang istri, lalu menghela napas panjang. "Maya mau jus yang fresh, cepat buatkan sekarang." Aliza mengangguk-angguk, melirik suaminya sekilas lalu bergumam pelan. "Oh." Jawaban cuek dari gadis delapan belas tahun mengundang kemarahan Gibran, kedua tangannya bersedekap, lalu menatap istrinya tajam. "Kamu dengar apa perintahnya?" "Buahnya ada di kulkas, tinggal diblender sendiri." Aliza bangkit dari kursi dengan hati-hati, setelah menghabiskan satu kaleng soft drink dan membuangnya. Dia bergerak membuka kabinet serta memeluk stoples kue kering berbentuk kepala panda untuk dibawa ke kamar. Gibran menyerah dengan perdebatan. Dia mengusap wajah secara kasar dan mengayunkan langkah ke ruang tengah untuk meminta Maya pulang. Tujuan utama hanya membuat Aliza tersiksa menjadi istrinya, kalau tidak memberi efek apa-apa. Tidak ada gunanya berlama-lama meladeni perempuan manja yang hobi menguras isi dompet. *** Aliza keluar dari kamar satu jam usai Maya pulang. Dia sudah menghabiskan setengah stoples kue kering, melahap rakus demi melampiaskan rasa geramnya pada kelakuan Gibran. Kemudian pandangan Aliza terarah pada pria yang sedang menempelkan benda pipih ke daun telinga, sedangkan mulutnya terus mengomel dan rahangnya kaku. "Buat apa perempuan itu kembali?" Hanya itu yang didengar Aliza saat melewati sang suami. Gadis itu berjalan ke pantri mengembalikan stoples sisa setengah, kemudian kembali membawa buah apel yang sudah dipotong kecil-kecil. Tanpa merasa canggung mengambil posisi duduk bersila di samping Gibran, sebelah tangannya terulur meraih remote untuk menyalakan televisi. Gibran yang sudah menurunkan ponsel serta meletakkan ke meja hanya melirik sekilas. Pikirannya sudah kacau dan sedang tidak berselera berdebat dengan sang istri. Jadi membiarkan Aliza bertingkah semaunya. Tidak ada perbincangan, hanya suara berisik dari tayangan televisi yang mendominasi. Aliza sibuk menonton sinetron sambil menjejalkan buah apel ke mulut, sedangkan Gibran mengurut pelipis karena kepalanya hampir meledak memikirkan kabar kepulangan Zelina. "Apa kamu tahu kalau Zelina kembali?" Akhirnya Gibran membuka pembicaraan, dia penasaran apakah Zelina masih punya muka muncul di hadapan keluarga. Aliza melirik sekilas, menghentikan kesibukannya menghabiskan potongan buah apel. Dia hanya berdehem sebentar, lalu menjawab terlalu singkat. "Iya." "Jadi kamu sudah bertemu? Kenapa tidak bilang?" Gibran sudah menatap tajam, matanya melotot lebar sampai Aliza yakin bola matanya siap menggelinding kapan saja. Aliza menyipitkan mata, lalu tertawa mengejek. "Lho, buat apa bilang sama Kakak?" Gadis itu balas menatap, karena selisih tinggi cukup jauh membuat Aliza harus mendongak. "Memang masih penting?" Sebelum Gibran menyahut dengan nada galak seperti biasa. Suara pintu terbuka menginterupsi, muncul perempuan cantik yang mengenakan dress salem sebatas lutut. Dia terdiam cukup lama terlihat sedang mencari jawaban, sedangkan ekspresinya tampak kaget. "A-aliza kamu ...." Gibran tipe orang yang tidak keberatan memberi kunci cadangan pada orang terdekat, sehingga Zelina bisa masuk kapan saja tanpa menunggu dibukakan pintu. "Kakak," gumam Aliza belum sempat menghindar. Dia menunduk mendapat tatapan penuh tuntutan dari sang kakak. Aliza hendak bangkit, tetapi Gibran menahannya. Alih-alih menenangkan Zelina yang mulai kesulitan mengatur napas, tangan Gibran justru melingkar ke pundak gadis di sebelahnya. Zelina mendekat tanpa mengatakan apa-apa, memegangi d**a yang terasa sesak. Lalu semaksimal mungkin berusaha menetralkan napas. Menatap sepasang suami-istri di depannya dengan penuh penghakiman. "Bagus kamu cepat datang, jadi kami tidak perlu repot-repot menjelaskan." Gibran mengatakan dengan santai, sementara genangan air sudah membasahi pipi perempuan yang pernah memenuhi ruang hatinya, bahkan sampai sekarang. Zelina menggeleng pelan, Aliza hendak membuka mulut sebelum merasakan tangan Gibran makin posesif mendekapnya. "Kenapa tidak menunggu?" Suara Zelina bergetar saat mengatakan. "Bisa-bisanya aku nggak tau apa-apa." Gibran memasang wajah muak, rasa bencinya telah melampaui batas. "Bukankah ini pilihan kamu." "Enggak begitu." Kepalanya menggeleng cepat, terkesan tidak terima. "Kamu tega lakukan ini sama Kakak, Aliza?" Zelina menatap tak percaya. Air matanya makin deras mengalir, sungguh dia pikir akan memeluk Gibran dan dihujani kalimat rindu. Lalu memilih melupakan masalah yang berlalu serta menjalin hubungan kembali. Aliza menunduk. "Maafkan aku, tapi---" "Tidak perlu meminta maaf," potong Gibran, meraih dagu sang istri untuk menghadap ke arahnya. Wajah Zelina memerah, jelas sekali menahan amarah melihat cara Gibran menatap adiknya. Tanpa menunggu lama, langkahnya terayun keluar. Setengah dunianya sudah hancur. Tadinya Zelina heran melihat Seno melarang agar tidak menemui Gibran. Dia pura-pura mengiyakan sampai papanya pergi bertemu klien di kafe terdekat, barulah Zelina mengeluarkan lagi mobilnya untuk melesat ke perumahan elit yang dihuni Gibran. Siapa sangka akan mendapat kejutan yang tidak pernah ada di kepalanya. Bagaimana mungkin Gibran memilih menikahi orang lain, yang lebih mengejutkan bahwa gadis yang merebut posisinya adalah Aliza. Beberapa detik kemudian, setelah suara pintu terdengar dibanting keras. Aliza sadar bahwa kemarahan sang kakak berada di puncak. Tubuh Aliza sedikit limbung sampai Gibran menatap cemas. "Kamu enggak apa-apa?" Gibran memegang bahu sang istri. Aliza justru mendecih, lalu pandangan beralih ke arah lain. "Kamu menyesal?" Gibran memastikan. Aliza menahan diri agar tidak mencekik leher pria yang terpaksa diakui suami. Dia memejamkan mata sebentar, lalu mengerjap bersamaan derai air mata yang meluncur bebas. Ada rasa bersalah mendominasi melihat sang kakak terluka, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena Gibran terus mendekap tubuhnya erat. "Ingat, ya. Perjanjian awal akan pura-pura mesra di depan Zelina." Gibran tersenyum miring memaksa Aliza menatap ke arahnya. Aliza mengerang kesal, dia menatap tajam ke arah suaminya. "Kakak memang tega!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN