Saat ini Zelina berada di kafe, duduk di dekat dinding kaca menghadap ke satu sloki espresso yang baru diantar ke meja. Sendirian dibawah cahaya lampu, tanpa ada Gibran di sampingnya. Sementara kursi lain rata-rata diisi sepasang kekasih.
Obrolan penghuni meja sebelah terdengar samar, si perempuan antusias membahas rencana pertunangan. Dari nadanya saja terdengar riang, bersemangat, persis seperti dirinya saat merancang masa depan bersama Gibran.
Zelina menghela napas lelah, pasrah menerima nasib buruknya ditinggalkan orang yang dicintai. Padahal bukan pertama kali egois demi ambisinya sebagai model, tapi baru kali ini Gibran tidak mau memaklumi.
"Oh, kalau dia memang secinta itu mana mungkin menikahi adikku," gumamnya sebelum meneguk isi sloki dan memanggil waiters untuk mengisi lagi.
Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah. Penampilannya kacau sekali, persis seperti hatinya yang sedang patah.
Sepulang dari rumah mewah bercat kuning gading, bangunan yang setiap sudut mengingatkan kenangan bersama Gibran. Dengan tangan gemetar Zelina melajukan mobilnya ke kafe terdekat, se-desperate apa pun tidak akan bertindak bodoh mengakhiri diri.
Dia yakin Gibran hanya menjadikan Aliza pelarian. Masih banyak cara merebut Gibran kembali, lalu memiliki suami sang adik sepenuhnya.
Awalnya Zelina tidak percaya pada penglihatan sendiri. Berharap kalau Aliza kebetulan ada di rumah Gibran, mungkin mengantar makanan disuruh sang papa, tapi sikap Gibran seolah menunjukkan hubungan keduanya.
Zelina merogoh ponsel di tas clutch putih, menimbang-nimbang akan menghubungi Gibran. Lalu dihirupnya napas dalam-dalam sebelum mencari kontak Gibran dan nekat menuntut penjelasan. Hanya enam bulan pergi, dia sudah kehilangan orang yang dicintai.
Suara berat di ujung telepon langsung menyapa telinga. "Ada apa?"
"Gibran, aku ingin minta maaf." Zelina memejamkan mata sebentar, tangannya sedikit gemetar memegang ponsel.
Ada jeda satu menit, Gibran tidak memberi jawaban apa-apa. Padahal Zelina berharap Gibran akan mengungkapkan patah hati sama dalamnya, atau bilang menyesal sudah menikahi Aliza yang jelas-jelas bukan seleranya.
"Kalau hanya mau mengucapkan maaf, tidak perlu mengganggu waktuku dengan Aliza!"
Zelina meremas ujung dress, pelupuk matanya sudah basah. Dia pikir tidak akan menangisi Gibran sebodoh ini, bukankah sejak dulu Gibran lebih mencintainya?
"Tolong jangan begini." Bibir Zelina bergetar saat mengatakan.
Terdengar embusan napas berat dari seberang. Lalu sambungan telepon diputus tanpa salam perpisahan. Zelina menurunkan ponsel dan meletakkan ke meja dengan kasar sampai orang di meja sebelah menoleh heran.
Zelina menunduk dan bahunya berguncang. Tidak peduli penilaian pengunjung kafe yang menatap dengan kening berkerut-kerut.
***
"Papa, apa kak Lina belum pulang?" Aliza panik hanya menemukan papanya duduk di kursi rotan depan rumah, ada secangkir teh di meja bundar. "Apa ada di kamar?"
Seno menggeleng, menatap anaknya heran. "Lho, Papa baru saja pulang. Zelina ke rumah Gibran?"
Aliza menggigit bibir bawahnya, tanpa menjawab pun Seno sudah menebak masalah besar yang terjadi. Cepat atau lambat anak gadisnya akan tahu pernikahan Gibran. Seno berdiri mengusap-usap kepala Aliza dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Tapi, Pa." Aliza mendesah pelan, mengecek pergelangan tangan. Sudah lewat dua jam, seharusnya Zelina sampai di rumah sejak tadi. Lalu mengecek layar ponsel kesekian kali. "Chat Al nggak dibalas, Pa."
"Mending masuk dulu biar bicara di dalam." Seno menatap Aliza, ikut merasa bersalah melibatkan anak bungsunya.
Aliza baru memikirkan tawaran papanya untuk mencari jalan keluar sambil duduk di dalam, tapi layar ponselnya menyala,
muncul satu notifikasi dari Zelina.
Zelina : Kakak tunggu di kafe dekat rumah Gibran, kamu tahu kan?
Aliza tergesa pamit menemui sang kakak. Bahkan menolak tawaran Seno yang memaksa mengantar, Aliza bilang harus bicara berdua. Mau tak mau, Seno menghargai keputusan Aliza dan membiarkan anaknya menyelesaikan masalah.
Begitu tiba di kafe, Aliza menemukan sang kakak duduk di sebelah dinding kaca, yang sekarang menoleh ke arahnya.
"Kak," panggilnya canggung.
Zelina menatap Aliza sebentar, lalu menghela napas panjang. "Duduk."
Aliza menarik kursi di hadapan Zelina sebelum mengambil posisi duduk, dia tidak mengatakan apa-apa. Sibuk menyusun kalimat paling pas agar tidak melukai kakaknya, meskipun mau sehalus apa pun akan tetap menorehkan luka.
"Selama ini Kakak salah menilai kamu, Al." Zelina mendorong cokelat panas yang baru diantar, sengaja memesankan untuk Aliza. Tadinya sempat ada pikiran menumpahkan air panas ke wajah sok polos Aliza. "Ternyata kamu enggak tahu diri berani merebut orang yang Kakak cintai. Sadar enggak kamu siapa, menumpang di rumah Papa sejak dulu. Jadi ini balasannya?"
Aliza menggeleng cepat, tubuhnya kaku mendengar hal yang selama ini belum pernah dibahas. "Kakak, aku minta maaf."
Suara Aliza terdengar parau. Zelina tersenyum kecut, memalingkan wajah ke arah lain demi menahan tangis yang terus mendesak keluar. Padahal matanya sudah sembab, dia pikir stok air matanya hampir habis.
"Kamu pasti berharap Kakak enggak akan pulang. Tidak perlu munafik, mana mungkin kamu menolak Gibran yang mendekati sempurna." Zelina kembali menatap Aliza penuh kebencian, kali ini melupakan kasih sayang berlebihan yang pernah diberikan untuk adik satu-satunya. "Coba jujur apa selama ini kamu diam-diam menyukai Gibran? Kalau enggak mana mungkin mengiyakan diajak menikah, tanpa memberi tahu apa-apa. Aku tuh kayak orang bodoh, ya."
"Al enggak pernah suka kak Gibran," ujarnya membela diri, memeluk cokelat hangatnya dengan telapak tangan.
Zelina tertawa sumbang. "Oke, kalau begitu tinggalkan Gibran. Kamu bersedia?"
Aliza terkesiap, dia tersenyum kaku mencoba menghindari tatapan menghakimi dari kakaknya. Gadis itu tidak berkata apa-apa, tidak mencoba menjelaskan hubungan sebenarnya dengan Gibran yang seperti neraka. Kalimat yang telah disusun selama perjalanan tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Bahkan menelan ludah pun kesulitan.
"Jawab Aliza!" tuntut Zelina mulai tak sabar.
Sementara itu ponselnya berdering mengharuskan Aliza merogoh tas, barangkali ada telepon penting. Menatap Zelina sebentar dijawab kedikkan bahu, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Suara Gibran terdengar marah di seberang, mengancam akan menghancurkan bisnis papanya kalau Aliza berani mengadu pada Zelina.
"Gimana?" tanya Zelina melihat adiknya menurunkan ponsel serta meletakkan ke meja.
"Kami sudah menikah, Kak. Enggak mungkin disuruh cerai," jawab Aliza dengan hati-hati.
Melihat respon dari adiknya. Zelina benar-benar marah, dia bangkit dari kursi serta mengambil segelas cokelat hangat untuk menumpahkan pada kemeja peach Aliza.
Gadis itu terlonjak kaget saat gelas di hadapannya direbut, lalu merasakan hangat di bagian depan tubuhnya.
Zelina pergi tanpa mengatakan apa-apa. Tapi jelas sangat marah, bahkan tidak peduli baju adiknya kotor atau mendapat tatapan iba dari pengunjung lain
Layar ponsel yang tergeletak di meja kembali menyala, muncul satu notifikasi masuk. Pesan dari Gibran yang memintanya pulang.
Gibran : Aku tunggu di rumah sekarang.