Kenyang Cemburu

1442 Kata
"Ayo kita dinner di luar." Seorang pria menyambut Aliza setibanya di rumah. Gibran sudah mengenakan jas semi formal krem, dan rambutnya disisir rapi. "Kemarin aku udah janji." "Nggak ada gunanya Kakak sok baik." Aliza memasuki ruang tamu, melempar tas ke punggung sofa sampai menggelinding ke bawah. Kemudian menghempaskan tubuh lelah sebentar, sebelah tangan mengurut pelipis yang berdenyut. Gibran menggeram kesal. Pria itu bukan tipe orang yang mau menerima penolakan. Kemarin malam sudah diabaikan, sekalipun sudah berbaik hati membebaskan istri kecilnya dari tugas memasak. Kemudian ia melirik pergelangan tangan, pukul tujuh malam bisa dipastikan Aliza belum makan apa-apa akibat sibuk mengurusi Zelina. "Sekali saja jangan membuat kesal, kita lupakan soal Zelina dan kita makan malam di luar." Gibran melipat lengan, menatap istrinya yang masih betah duduk di sofa putih. Aliza tersenyum sangat manis. "Oh, jadi Kakak lapar? Kalau aku enggak gimana?" Tidak berselang lama, Gibran berhasil memaksa istrinya berganti baju dan dinner di restoran bernuansa Eropa. Duduk di bangku kayu paling pojok, menatap furniture kayu yang disusun secara apik. Mereka duduk di bawah lampu gantung mini yang ada di setiap meja. Suasananya sedikit temaram membuat makan malam layaknya di Prancis. Aliza sibuk membolak-balik menu, sedangkan Gibran menatap dengan kening berkerut. "Mau makan apa?" "Terserah!" "Kamu pikir aku peramal bisa baca pikiran, tinggal pilih menu bukan jawab terserah ujungnya nggak suka." Aliza membuang napas kasar, sedikit heran mendengar kebawelan suaminya. Terpaksa jari-jarinya menelusuri buku menu untuk memilih makanan yang kira-kira pas di lidah. Gibran tak sabar menunggu Aliza memilih menu dalam durasi lama, jadinya menarik bukunya serta menyebut set menu mulai dari appetizer, main course hingga dessert pada pramusaji. Kalau sudah begitu, Aliza mendengus sebal. Toh, ujung-ujungnya Gibran yang mengambil keputusan dari hal sepele memilih menu. Lalu buat apa meminta pendapatnya? "Kamu suka tempatnya?" Gibran penasaran komentar Aliza yang tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Aliza menoleh, lalu mengangkat kedua bahu. "Suka atau enggak juga tetep makan di sini." Jawaban yang diucapkan dengan nada santai membuat gerakan tangan Gibran mengepal di bawah meja. Entah kenapa, dia berharap Aliza akan menyukai tempat pilihannya dan melupakan sejenak ketegangan soal kembalinya Zelina. Aliza mengalihkan pandangan ke pintu restoran, menemukan sosok yang dikenal. Matanya langsung membulat sempurna, lalu memasang ekspresi panik. Tangannya menggapai tas berharap bisa menutupi wajah. "Kenapa?" Gibran mengerutkan alis heran. Aliza berdehem berkali-kali. Malang tak bisa ditolak, laki-laki sekitar sembilan belas tahun menghampiri. Memastikan kalau dirinya tidak salah lihat. "Aliza." Gibran memandang penuh penilaian pada laki-laki yang mengenakan kemeja hitam polos, berhenti di dekat mejanya serta menyapa sang istri. Aliza menurunkan tas, tersenyum kaku. "Hai, Kak Rey." Dari sinar lampu temaram, Aliza melihat Reyhan, laki-laki yang pernah dekat dengannya sewaktu masih sama-sama duduk di bangku SMA. Kakak kelas yang sering mengobrol di kantin saat jam istirahat sedang menatapnya dengan ekspresi heran. "Pacar kamu?" Gibran baru saja akan membuka mulut, namun Aliza cepat-cepat menggeleng, memberi kode dengan tangan melambai ke udara. "Bukan," ujarnya meringis. "Masa iya aku pacaran sama om-om," lanjutnya dengan tawa dibuat-buat. Mendengar istrinya menyembunyikan status apalagi terang-terangan menyebut om-om. Gibran naik darah, rahangnya mengeras, dan giginya saling beradu. Rasanya ingin menarik kerah kemeja bocah di hadapannya dan memperingati agar tidak mendekati sang istri. Reyhan tidak tahu kalau Aliza menikah, memang beritanya belum tersebar dan hanya diketahui sahabatnya saja. Laki-laki itu mengangguk. Reyhan menatap Gibran sopan. "Maaf, Om." Gibran makin naik pitam. Dia menggebrak meja sampai menimbulkan suara keras, baik Aliza atau Reyhan sama-sama terlonjak kaget. "Pulang!" perintah Gibran sudah bangkit dari kursi. Aliza buru-buru menetralkan suasana agar tidak menegang. Tersenyum manis ke arah Reyhan sampai Gibran ingin menyeretnya keluar sekarang. "Maaf, ya. Om aku suka galak kalau ada laki-laki. Kakak datang sama siapa?" Aliza menganggap Gibran makhluk tak kasat mata, tetap mengabaikan perintahnya sampai pramusaji datang menata makanan ke meja. Reyhan menatap Aliza dengan lembut. "Sama keluarga Mas Hendra. Ya sudah, aku balik ke mereka dulu udah ditunggu." Aliza mengangguk, keduanya saling menatap sampai stok kesabaran Gibran lenyap. Dengan kasar menarik lengan Aliza meninggalkan restoran, mengabaikan banyak makanan yang menggoda di meja. *** Sepanjang perjalanan pulang, Gibran hanya mendengarkan Aliza mengomeli panjang lebar. Istrinya kesal dipaksa makan malam keluar, ujungnya meninggalkan banyak makanan tanpa sempat mencicipi. Apalagi saat Gibran mengatakan mau makan nasi goreng buatannya saja di rumah. Tak henti-hentinya Aliza mengeluarkan unek-unek, suaranya berisik sampai Gibran menambah volume tip mobil berharap bisa meredam suara bawel Aliza. "Kakak ini selalu begitu." Aliza menoleh, menatap Gibran yang fokus mengemudikan mobil. "Berapa kali aku bilang malas keluar, Kakak dari tadi maksa. Ujungnya begini, 'kan?" "Hem." "Kakak bisa pakai kepala dingin atau setidaknya makanannya dibungkus biar aku nggak cape-cape masak. Emang kalau mood hancur begini masih sanggup pegang teflon?" Aliza menaikkan nada bicaranya supaya mengalahkan alunan lagu yang memenuhi mobil. Gibran melewati gerbang hitam setinggi dua meter, akhirnya sampai di rumah setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam. Selama itu pula telinganya harus mendengar ocehan panjang sang istri. "Turun!" Meskipun kesal, Aliza tetap mengikuti ucapan Gibran untuk turun dari mobil dan memasuki rumah. Nanti akan menolak memasak biar saja Gibran memesan makanan lewat aplikasi online. "Lain kali aku nggak mau lagi diajak dinner keluar, ujungnya mau dikerjain begini." Aliza mengulangi entah keberapa. "Kakak beli saja makanan di luar, aku enggak mau masak apa-apa. Lagian bibi udah pulang." Gibran memang mempekerjakan satu asisten rumah tangga untuk meringankan tugas sang istri. Tidak, bukan meringankan karena hampir semua tugas perbabuan dengan list sepanjang kereta dibebankan pada Aliza. Setidaknya ada orang lain yang diminta tolong mengerjakan hal remeh seperti mengoreksi hasil kerja Aliza. Awalnya perempuan berusia 45 tahun itu menolak, namun Gibran mengancam akan memecat sehingga terpaksa membiarkan Aliza kelelahan sendiri. "Dan aku hanya membeli satu porsi," balas Gibran melepas jas semi formal dan menaruh ke punggung sofa. Aliza berdecak, lalu mendengus sebal. Gadis itu sempat-sempatnya mengambil ikat rambut yang tertinggal di meja, mengangkat kedua tangan untuk mengikat rambut lurusnya tinggi-tinggi sampai Gibran mengalihkan pandangan ke sembarang arah gara-gara tergoda leher mulus sang istri. Lima belas menit berlalu, Aliza sudah mengganti dress putihnya dengan kaus bergambar beruang cute yang paling nyaman dibawa tidur. Dalam tiga jam, sudah berapa kali berganti baju, mulai dari kemeja peach yang terkena cokelat hangat. Ajaibnya Gibran tidak penasaran atau sekadar bertanya kenapa kemejanya basah. Tingkat kepekaan Gibran memang menipis seperti kertas. Aliza bergerak ke pantri untuk mengambil air minum, lalu duduk di bar stool. "Sudah pesan makan?" Dia melirik ke arah Gibran yang sedang menggulir gawainya. "Hem." Gibran tetep fokus menggeser layar smartphone membuat Aliza penasaran dan mendekat, wajahnya melongok ke ponsel suaminya. "Udah nasi goreng saja, nggak ribet," komentar Aliza seraya meletakkan gelas kosong ke meja. Gibran melirik sekilas. "Kalau nasi goreng mending kamu yang bikin." Kalau dipikir-pikir istrinya lebih galak dari prediksi. Rencana balas dendam belum membuahkan hasil, justru dibuat pusing dengan kelakuan Aliza. Bukan menciptakan neraka serta menjajah adik kesayangan Zelina habis-habisan, malahan menyulitkan diri sendiri. "Ogah! Tanganku pegal banget, tau nggak tenaga udah menipis!" Aliza merentangkan otot-otot yang memang benar-benar lelah. "Aliza!" "Hem." Aliza memandang ke arah Gibran, menatap dengan kening berkerut. "Kenapa lagi?" Aliza berderap ke kulkas mengambil buah-buahan untuk mengganjal perut, ia kembali duduk di hadapan Gibran yang sepertinya sudah memesan makanan berat di aplikasi online. "Pesan apa jadinya?" tanya Aliza sambil mengigit buah pir yang sudah dicuci. "Sate kambing." "Oh!" Aliza mengangguk-angguk. Gibran tiba-tiba teringat laki-laki yang bertemu di restoran dan menatap penuh damba ke sang istri. Sebagai laki-laki, Gibran paham bedanya menatap penuh kekaguman serta sebatas teman lama. "Tadi yang di restoran ... mantan kamu?" Kunyahan Aliza berhenti, lalu mendongak demi melihat wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya. "Oh, dia Kakak kelas aku. Bukan mantan sih, cuma, ya, gimana." Gibran berdehem sebentar. Mendadak udara ruangan berubah panas, padahal AC sudah menyala. Jadinya Gibran butuh segelas air putih. "Kak pokoknya temanku nggak boleh tahu kalau aku sudah menikah," pinta Aliza serius, menatap lurus suaminya yang baru kembali duduk serta meneguk segelas air putih. Kali ini Gibran merasa kalau segelas air putih belum cukup mendinginkan, udara panas sekali sampai gerah. "Kamu suka sama dia?" Pipi Aliza merona, lalu senyum-senyum sendiri teringat kebersamaan dengan Reyhan. Hanya saja belum ada kata jadian, mungkin menunggu sama-sama dewasa, memasuki dunia kerja serta siap membangun rumah tangga. Lagi pula pernikahan dengan Gibran hanya di atas kertas, siap-siap dicerai kapan saja. "Kelihatan banget, ya?" Aliza menyentuh pipinya. Tidak malu mengakui di depan Gibran, toh suaminya juga sering mengakui perempuan lain sebagai pacar. Tiba-tiba Gibran merasa sesak. Lalu mengambil lagi air putih dan meneguk di tempat. Aliza yang menatap kaget selagi Gibran meneguk lagi dan lagi. "Nanti kembung, lho. Apa selapar itu? Padahal sebentar lagi makanan juga sampai." "Aku sudah kenyang!" Gibran berjalan menjauhi pantri, membuat Aliza mendengus sebal. Pada akhirnya ia yang membayar sate kambing dengan jatah bulanan yang harusnya ditabung untuk biaya kuliah kelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN