"Mau pergi ke mana?" Gibran mengerutkan kening mendapati istrinya sudah rapi dibalut rok desain lipit sebatas lutut dipadu blus putih. Tak lupa mengenakan jepit rambut mutiara yang manis.
Aliza memasukkan ponsel ke tas warna pastel, lalu menoleh ke arah Gibran. "Mau ke rumah kak Zelina."
Gibran melotot ke istrinya seraya melempar jas kasar ke ranjang. Sensitif sekali kalau mendengar nama Zelina. "Buat apa? Apa kamu lupa pekerjaan rumah banyak!"
Aliza mendesah kesal, dia menenteng tas terkesan tidak peduli amarah Gibran. Pekerjaan rumah bisa dibereskan nanti-nanti, sekarang Aliza harus ke rumah sebelum papanya berangkat bekerja. Apalagi semalam di telepon sang papa terdengar cemas.
"Oh, tenang saja nanti malam beres. Terus aku udah bikin sarapan, udah siap di meja makan, dan nanti bisa bibi yang beresin."
Pagi-pagi sekali Aliza sudah membuat roti lapis berisi daging dan sayuran. Lalu menata di meja makan untuk sarapan suami galaknya. Dia sudah berpesan pada ART-nya agar tidak mengerjakan tugas perbabuan daripada mendapat omelan Gibran. Aliza berjanji akan pulang sebelum sore.
"Kamu nekat pergi!" geram Gibran.
Aliza tidak menjawab sudah hafal dengan kebiasaan suaminya. Pasti akan marah-marah dan mengancam bertubi-tubi, Aliza keluar kamar usai mendekati meja rias untuk menyemprotkan parfum aroma melon ke tubuhnya.
Gibran makin dikuasai emosi, berniat mencekal tangan Aliza untuk memberi pelajaran. Namun, gadis itu lebih sigap mengambil ancang-ancang lari.
Mau tak mau, kali ini Gibran membiarkan Aliza bertindak sesukanya. Nanti malam akan memberi hukuman berat. Gibran terus ngedumel selama menuruni anak tangga hendak ke meja makan dan disambut aroma daging.
Sementara Aliza sibuk menetralkan napas yang ngos-ngosan karena berlari sampai menemukan taksi. Dia sempat-sempatnya menghitung umur pernikahan yang hampir memasuki bulan ke tujuh. Hidupnya berubah drastis, setiap hari diisi perdebatan dengan suami.
Aliza mengembuskan napas perlahan. Jadi begini rasanya menikah tanpa dicintai. Tidak seperti papa Seno yang setiap hari berkata manis pada mamanya dulu.
Dia menoleh ke jendela mobil, terus memikirkan berbagai prasangka buruk. Di luar, para pejalan kaki terlihat buru-buru melangkah. Motor-motor berdesakan mencari celah untuk melaju lebih dulu.
Suara bising dari kendaraan menemani paginya sampai kepalanya berdenyut. Aliza tidak menyukai suasana sepi, tapi sekarang ia membutuhkan ruang untuk memikirkan masa depannya. Tentang pernikahan yang kapan saja berakhir.
"Buat apa kamu pulang?" sapaan pertama yang didengar saat menjejakkan kaki di lantai marmer rumahnya. Dia baru saja tiba dan berpapasan dengan kakaknya yang menatap penuh kebencian.
Aliza tersenyum. "Aku kangen sama Kakak. Udah enam bulan nggak ketemu."
"Jadi kamu masih punya muka setelah merebut calon suami Kakak?" Zelina menggeleng.
Bibi Hanum, wanita setengah baya yang sudah bekerja lima tahun paham situasi sekarang. Dia berinisiatif memanggil Seno untuk mencegah pertengkaran.
"Kak ...." Aliza menggeleng, hendak meraih tangan sang kakak yang langsung mendapat penolakan kasar.
"Jangan sentuh aku, kamu cuma adik tiri yang dikasihani." Zelina tertawa mengejek, menatap penampilan Aliza yang dibalut baju branded. "Keluar dari sini, untung ada yang mungut. Jadi gembel kamu kalo dicerai sama Gibran."
Ucapan Zelina membuat adiknya membeku. Lima detik belum menemukan jawaban, ia membenarkan ucapan sang kakak. Kalau bukan belas kasihan ayah dan kakaknya, mana mungkin Aliza bisa hidup layak sampai lulus sekolah.
"Zelina!" Suara itu terdengar dari kejauhan. Zelina menoleh, sedangkan Aliza sibuk meremas ujung blusnya.
Seno menghampiri, menatap anak sulungnya dengan ekspresi marah. Namun, Zelina tertawa serta balik menatap sang papa. "Kenapa? Papa mau bela anak ini?" Dia menunjuk ke arah Aliza yang sekarang menunduk.
"Duduk, kita bicara baik-baik. Papa mau menjelaskan dan kamu tidak mau mendengar dari kemarin."
Zelina mengangkat tangan ke udara. Dia tidak menghiraukan papanya, telanjur dikuasai emosi. Lalu bergegas menuju ambang pintu serta membantingnya keras-keras.
Aliza akan mengejar sang kakak, tapi Seno melarang. Menurutnya Zelina membutuhkan waktu untuk berpikir. "Ayo duduk, Papa sangat merindukan kamu."
Kalimat itu membuat Aliza mendongak, menatap ketulusan dari sorot mata papanya. Aliza menurut bergerak ke sofa merah marun yang ada di ruang tamu. Melesakkan tubuh lelah ke sandaran sofa.
"Maafkan Zelina, Sayang. Padahal kamu sudah berkorban banyak, sejak awal Papa sudah melarang kamu menerima tawaran Gibran."
Mata Aliza berkaca-kaca, satu tetes air matanya jatuh dan langsung dihapus dengan punggung tangan. Dia hanya punya sang ayah, satu-satunya yang mencintai secara tulus. "Al nggak apa-apa, Papa jangan cemas. Gimana kesehatan Papa, apa makanan terjaga dengan baik?"
Seno memiliki riwayat penyakit diabetes, makanan yang masuk tidak boleh sembarang. Dulu Zelina dan Aliza sama-sama bawel mengingatkan papanya agar tidak makan sembarang.
"Kamu jangan khawatir keadaan Papa, justru harusnya Papa yang tanya. Apa Gibran memperlakukan kamu dengan baik?"
Ada jeda waktu cukup lama sampai papanya kembali bersuara.
"Papa udah salah, ya. Menyerahkan putri cantik Papa ke orang yang tidak tepat. Kamu tidak bahagia?" Ada nada menyesal saat mengatakannya.
Sebelum Aliza membalas ucapannya, pria setengah baya itu kembali berujar, "Papa minta maaf, ya. Gagal menjaga Al seperti amanah mama kamu, Papa tidak bisa melindungi Al."
Aliza menggeleng pelan, cepat-cepat menggenggam tangan papanya. "Pa, menikah sama kak Gibran udah jadi keputusan Al. Papa nggak perlu khawatir, kami memang belum saling mencintai. Tapi kak Gibran memperlakukan Al dengan baik. Al merasa bahagia seperti punya laki-laki yang melindungi persis seperti Papa."
Ucapan Aliza terakhir membuat Seno melepas kacamata sebentar, lalu menghapus sudut matanya yang basah. Dia tidak menginginkan kedua anaknya berada di situasi sulit.
Aliza mencoba terlihat kuat di depan papanya. "Papa mau ke kantor?" Tangannya mengusap-usap jas sang Papa, lalu merapikan seperti biasa.
"Nggak jadi, kerjaan bisa kapan saja. Kamu jarang sekali ke rumah sejak menikah."
Aliza tersenyum pahit. Enam bulan bisa dihitung jari Aliza menginjakkan kaki ke rumah sang papa. Semua gara-gara aturan Gibran yang panjangnya melebihi struk belanja.
Maka, Aliza langsung memeluk papanya. Bersandar manja seperti dulu, bedanya dia sudah tanggung jawab pria lain. Sementara tangan Seno mengusap-usap lembut rambut sang anak.
"Ayo temani Papa makan, kamu pasti belum sarapan pagi-pagi ke sini." Seno mengajak anaknya bangkit dari kursi dengan hati-hati. Aliza menurut, lagi pula sangat rindu sup ayam buatan bibi yang rasanya selalu memanjakan lidah.
Seno tersenyum senang, menggeser mangkuk yang sudah diisi sup ayam pada anaknya, lalu menatap lekat anaknya yang mulai menyuapkan satu sendok sup ke mulut. "Kalo Gibran nyakitin kamu, bilang sama Papa."
Aliza mengangkat wajah, bingung menanggapi ucapan papanya. Jadi dia hanya mengulas senyum.
"Kamu ingat masih punya Papa, masalah Zelina biar Papa jelaskan pelan-pelan kalau emosinya sudah stabil. Aliza tahu sendiri kakak kamu kalau sudah diliputi emosi bisa berhari-hari meredanya."
Dari semua kesedihan yang dilewati, Aliza merasa beruntung diberi pria super baik yang menjaga seperti anak kandung. Tak henti-henti Aliza mengucap syukur bertemu pria di hadapannya.
"Papa, aku bahagia sama kak Gibran. Papa jangan kepikiran begini, nanti aku malah nggak tenang."
Lalu papanya tertawa, entah kenapa memberi kekuatan yang selalu sampai padanya.