Di kafe berkonsep monokrom dengan nuansa hitam putih, Aliza memindai pandangan ke sekeliling. Tadi Feli langsung mengajak bertemu sewaktu tahu Aliza sedang di rumah papanya. Jarang sekali Aliza memiliki waktu keluar rumah, seakan-akan terpenjara di istana milik Gibran.
Gadis berambut sebahu, mengenakan dress berenda pink melambaikan tangan. Feli sudah memesan milkshake lebih dulu, dan mengaduk dengan sedotan saat menunggu Aliza datang.
"Udah dari tadi, ya?" Aliza mengambil posisi duduk, lalu memesan cokelat hangat.
Feli meraih paper bag yang sengaja diletakkan di meja sebelah. Lalu menaruh ke meja serta mendorong ke arah Aliza. Tatapannya penuh selidik seakan-akan mengendus aroma perselingkuhan. "Bilang sama aku, kamu ada main api sama kak Reyhan?"
Aliza mengintip paper bag, lalu memandang heran. "Aku belum ulang tahun, apa ini?"
"Harusnya aku yang tanya Al. Pagi-pagi kak Reyhan ke rumah nitip buat kamu."
Di antara lainnya memang cuma nomor Feli yang disimpan Reyhan. Sementara Aliza sendiri ganti SIM card usai menikah dipaksa suami menyebalkan.
Aliza memutar bola matanya ke atas untuk berpikir tujuan laki-laki yang pernah dikagumi memberi hadiah, lalu membuka isi paper bag berisi dress putih imut. Seketika senyuman di bibirnya terbit seolah ada kupu-kupu berterbangan.
"Kalian ada hubungan, kak Reyhan nanya-nanya, terus mau ajak kamu dinner. Asli gemetar aku disuruh bohong, dosa tahu Al." Feli mengomel, kemudian meraih sedotan untuk menyesap milkshake vanila di gelasnya.
Segelas cokelat hangat pesanan Aliza datang, gadis itu langsung memeluk gelasnya dengan telapak tangan. Sementara pikirannya melalang buana. Apa Reyhan akan menyatakan cinta? Kenapa harus ada kemajuan setelah statusnya berubah ... dan kemungkinan bersatu mengecil. Reyhan terlalu tampan, masih muda, masa depan panjang, sayang kalau menghabiskan waktu dengan calon janda.
"Kalian selingkuh? Kurang apa coba kak Gibran. Ganteng begitu, ya walaupun segitu sayangnya sampai melarang kamu keluar. Tahu enggak lihat kak Gibran dari radius satu meter saja rasanya deg-degan." Feli memuji suami orang di depan istrinya, membuat lamunan Aliza buyar.
"Sembarangan!" Andai saja bisa melempar gelas ke kening sahabatnya supaya sedikit waras. Bisa digantung kalau Aliza nekat menjalin hubungan dengan pria lain selagi proses cerai belum ditetapkan. "Semalam enggak sengaja ketemu pas lagi dinner sama kak Gibran."
Feli menyengir lebar. "Ya bisa saja, secara kalian pernah dekat, tapi pacaran enggak. Telat banget kalau kak Reyhan mau maju sekarang, lelet dari dulu."
Aliza hanya tertawa pahit.
"Tapi hubungan sama suami baik-baik saja, 'kan?" Feli mencondongkan wajah, mengamati ekspresi temannya yang sedikit salah tingkah.
Kalau bisa, sih, Aliza cerita masalah rumah tangganya. Dia ingin sekali meminta pendapat orang-orang terdekat, tapi menurut orang-orang masalah rumah tangga tidak boleh diumbar. Ibaratnya suami pakaian buat istri, begitu sebaliknya.
"Ya jelas baik-baik aja, gimana enggak happy coba punya suami super ganteng, kaya, terus perhatian." Aliza ingin muntah saat memuji-muji suaminya. Padahal semua yang dikatakan bohong, Gibran tidak ada manis-manisnya. Kalau untuk ganteng Aliza jujur mengakui lekukan wajah Gibran mendekati sempurna. Ibarat pahatan itu mahakarya luar biasa. Rahangnya tegas, ditambah hidung lancip, mata lebar sekalipun kalau melotot seakan siap meloncat dari tempatnya. Bagian utama bibir penuh menggoda, semua gara-gara Feli. Namun, setampan apapun Gibran tetap om-om yang tidak memenuhi kriteria Aliza.
Feli mengangguk-angguk. "Pasti, ya. Enggak bayangin disentuh pria segagah kak Gibran." Ekspresi Feli terlihat berlebihan.
Memang sahabatnya satu ini memberi saran sesat agar Aliza belajar merayu suami dengan genit. Feli mulutnya saja suka asal, tapi sendirinya bersentuhan tangan sama cowok langsung gemetaran. Feli belum pernah pacaran sama sekali.
Aliza menyengir. Tidak mau memupuk dosa terus berbohong. Ya, walaupun catatan dosanya makin menggunung gara-gara berani melawan Gibran. Tapi mau mengalah nanti ditindas, dijajah sesuka hati.
Ah ... Aliza ingin menjerit sepuasnya. Gara-gara kehadiran Gibran catatan amal buruknya tiap hari bertambah. Dosa pada suami, bohong sama orang-orang.
Aliza sedikit bergidik membayangkan disentuh oleh Gibran. Dia masih imut-imut ogah menyerahkan diri sama om-om. Hidupnya lebih tragis dari novel yang dibaca.
"Tapi kamu masih amatir, bisa mengimbangi enggak?" Sekalipun Feli menurunkan volume terdengar setengah berbisik, tetap saja penghuni meja sebelah menoleh dengan tatapan tak suka.
Percakapan makin tak karuan membuat Aliza berpikir mengakhiri obrolan. Dia harus pulang mengingat sederet list tugas perbabuan harus kelar sebelum monster yang sialnya berstatus suami pulang dari kantor.
Aliza pura-pura melirik pergelangan tangan. "Duh, aku harus pulang, nih. Maklum nggak bisa keluar lama-lama."
Saat Aliza bangkit, bibir Feli mengerucut sebal. "Bayarin cokelatnya, ya," pinta Aliza tanpa rasa bersalah.
"Astaga, udah nggak dapat berita apa-apa, harus bayarin lagi. Apa nggak ada kasihan secuil pun, bahkan suami kamu bisa beli pabrik cokelat." Feli ngedumel, tapi tangannya merogoh ke tas mengambil uang pas.
***
Aliza melangkah terburu-buru memasuki rumah bercat kuning gading, meletakkan tas mungil ke meja dan cepat-cepat bergegas ke dapur. Dia bertemu ART-nya yang menyuguhkan senyuman hangat.
"Bibi udah beresin, Nggak akan bilang-bilang." Perempuan itu selalu iba melihat gadis semuda Aliza harus menanggung beban berat.
Aliza meringis. "Aduh, Bi. Harusnya nggak perlu. Nanti Bibi kena omel kalau ketahuan."
ART-nya menghela napas panjang. "Semoga tidak ketahuan, ya, Non. Tinggal cucian piring yang belum."
Mau bagaimana lagi, Aliza paham maksud ART-nya baik. Tapi dia juga memahami mata Gibran ada di mana-mana sampai Aliza berpikir setiap sudut ada sisi tv tersembunyi, mau menarik napas saja kelihatan.
"Ya sudah Al mau cuci piring dulu, ya." Aliza tersenyum, sekalipun hatinya diliputi cemas menebak hukuman yang akan diberikan suami galaknya. Pertama nekat ke rumah papanya tanpa mengantongi izin, kedua melalaikan pekerjaan rumah yang menumpuk, ketiga ... Aliza melirik paper bag di tangannya, kira-kira Gibran tersinggung tidak melihatnya dibelikan dress orang lain. Kalau cemburu sama sekali tidak melintas di benak Aliza, justru dia takut suami yang hobi menyombongkan harta akan merasa terhina lantaran istrinya dibelikan dress oleh Reyhan.
Setelah bibi mengangguk, Aliza menuju wastafel melihat cucian piring yang menumpuk. Mangkuk masih bersih turun semua ke wastafel, juga gelas-gelas yang harusnya ada di kabinet. Belum lagi teflon serta teman-temannya. Gibran adalah orang paling menyebalkan di dunia.
Aliza mendengus sebal, dia melipat lengan sebatas siku, lalu mengikat rambut tinggi-tinggi sebelum menghampiri cucian piring yang harusnya tidak perlu berada di wastafel.
"Dasar om-om tidak berperasaan, aku tahu banget dia sengaja biar tanganku pegal. Segitunya banget mau balas dendam." Aliza tidak berhenti menggerutu selagi tangannya penuh busa sabun, membersihkan piring satu per satu lalu membilasnya. "Begini, kan. Udah cape enggak dapat pahala ngeluh, mau ikhlas susah banget, ya. Andai nikahnya sama kak Reyhan."