Zelina memilih datang ke kantor Gibran usai makan siang. Dia malas berdebat dengan papanya yang hari ini tidak masuk demi melepas rindu bersama Aliza. Zelina masuk, melewati resepsionis yang menyapa, perempuan itu sering ke kantor. Orang-orang mengenal Zelina, juga tahu hubungannya dengan Gibran sekarang hanya ipar.
"Aku mau ketemu Gibran."
Perempuan berambut ikal yang berada di meja resepsionis berniat melarang. "Biar saya hubungi pak Gibran dulu."
Zelina mengangkat tangan ke udara, mengibaskan di depan resepsionis serta berjalan cepat menuju lift untuk mengantar ke lantai dua. Sementara si resepsionis langsung melapor pada Herlina.
"Gibran di ruangan?" Zelina merapikan rambut panjang yang dibiarkan tergerai, dia baru tiba di lantai dua.
Herlina, sekretaris Gibran langsung berdiri dan bersiap mencegah Zelina masuk. Apalagi sejak pagi Gibran marah-marah serta membatalkan meeting.
"Ada, tapi kamu tidak bisa bertemu."
Zelina tersenyum sinis. "Kamu lupa aku siapa? Bahkan aku bebas keluar masuk ruangan Gibran!"
Tidak mau berdebat panjang, Zelina berjalan ke ruangan Gibran. Dia melihat pria tampan yang tampak berkarisma sedang berdiri di samping jendela, memegang ponsel dengan ekspresi kesal.
"Sayang, sekretaris kamu beraninya melarang aku masuk." Zelina melirik ke arah Herlina yang mengikutinya, berniat mencegah masuk ke ruangan Gibran.
"Saya sudah berusaha mencegahnya, Pak." Herlina berusaha menekankan kata mencegah supaya Gibran tidak menyalahkan.
Gibran memberi kode dengan gerakan dagu agar Herlina keluar. Dia merasa harus memberi peringatan keras pada Zelina apa posisinya sekarang. Perempuan itu bukan lagi calon Nyonya Gibran yang bisa seenaknya masuk. Bahkan Aliza saja tidak pernah diizinkan berkunjung ke kantor.
"Ngapain kamu ke sini? Aku rasa penjelasan kemarin cukup buat kamu sadar diri siapa perempuan yang aku pilih." Gibran menatap tajam, mendekat ke arah Zelina.
Zelina marasa kaget, selama ini Gibran tidak pernah menampilkan ekspresi galak di hadapannya. Gibran merupakan sosok pria perhatian yang dingin di depan orang lain, tapi selalu lembut padanya.
"Bilang sama aku kalau kamu nggak serius menikahi Aliza." Zelina mundur dua langkah.
Gibran bergerak menekan tombol sampai tirai otomatis menutupi jendela. Dia tidak mau kedatangan Zelina mengundang perhatian karyawan.
"Aku enggak pernah main-main menikahi perempuan, begitu juga saat melamar kamu." Gibran mendekat, buru-buru mencengkeram lengan Zelina kasar. Perempuan itu meronta minta dilepaskan. "Oh, kamu berpikir aku akan hancur ditinggalkan? Kamu salah ... aku enggak secinta itu. Kamu sudah egois mementingkan ambisi sebagai model, lalu meninggalkan pernikahan kita. Sekarang kamu punya muka datang ke sini?"
Zelina terdiam, sedikit gemetar merasakan cengkraman Gibran.
"Kenapa diam?"
"Aku kira kamu akan menunggu, bukan menikahi Aliza!" Zelina berteriak putus asa, lalu terisak.
Gibran melepaskan cengkraman dengan kasar, kemudian mengusap wajah berkali-kali.
"Harusnya kamu sabar, aku pasti kembali sama kamu. Bukankah kita berjanji akan terus saling mencintai. Aku sedang mengejar impian sejak dulu, tawaran di New York mana mungkin aku buang begitu saja. Kamu paling tahu gimana aku mendambakan itu, kenapa tidak menunggu sebentar saja?" Suara Zelina terdengar serak, makin lama melemah.
Gibran tertawa, mengamati Zelina dari kaki sampai kepala yang entah kenapa selalu menggoda. Tubuhnya masih seindah dulu dibalut dress kotak-kotak. Kecantikannya tidak memudar, bahkan makin memesona. Gibran menghela napas kasar, menahan diri agar tidak terpengaruh. "Sekarang impian kamu tercapai? Terus kenapa masih memohon agar kembali, bukankah kamu memilih mengejar impian daripada pernikahan kita. Jalani saja pilihan masing-masing, lagi pula aku merasa beruntung menikahi Aliza daripada kamu."
Zelina membeku, rasanya seperti dilempar dari lantai lima mendengar kata-kata Gibran. Air matanya berjatuhan, tidak pernah menyangka Gibran akan membandingkan dengan Aliza yang bukan apa-apanya. Gadis 18 tahun itu, tidak memiliki tubuh indah, belum tentu bisa membedakan pensil alis atau eyeliner. Terlebih belum berpengalaman menyenangkan laki-laki.
"Sekarang kamu pergi, masih ingat pintunya di mana?" Gibran duduk ke sofa, bersedekap mengamati Zelina yang menangis. Ada rasa iba, ingin sekali mengusap pipi perempuan yang mengacaukan dunianya. Tapi, sisi lainnya Gibran merasa puas melihat Zelina menyesal berani main-main.
Zelina menggeleng, justru mendekat ke arah Gibran. Dia percaya masih ada sisa cinta yang bisa dipupuk kembali. "Enggak, mata kamu enggak bisa bohong, Gibran. Kamu masih mencintai aku, bukan gadis tidak tahu diri itu!"
Entah kenapa, Gibran merasa tidak rela mendengar istrinya direndahkan. Dia mengepalkan tangan, menatap Zelina dengan emosi. "Keluar dari sini atau mau aku seret sekarang?"
Zelina tertawa miris, ternyata tiga tahun sia-sia bersama Gibran. Semua telah berakhir, "Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu ingatkan kalau aku enggak akan menyerah."
Setelah Zelina bergegas menuju pintu. Gibran hanya memijat kening, rasanya kepala mau meledak memikirkan Zelina yang jujur masih menempati posisi istimewa. Dia menatap punggung Zelina sampai hilang melewati pintu, hatinya kembali patah. Dunianya kacau sejak kepergian model tersebut.
***
Aliza merebahkan tubuh ke ranjang ukuran king yang empuk, setelah kelar mencuci piring, mengganti blusnya dengan kaus gambar panda. Ia memandang langit-langit kamar berwarna putih.
Smartphone yang berada di dekatnya berdering, Aliza hanya melongok sebentar, mengabaikan sampai berbunyi empat kali. Dia mendengus, akhirnya menyerah serta mengambil benda pipih di sebelah.
Aliza masih rebahan, menggeser layar, kemudian menempelkan ke telinga. "Ada apa?" tanyanya jutek, sama sekali tidak mencerminkan istri berbakti.
"Kamu ke mana saja? Masih di luar? Berapa kali aku menelepon, sengaja kamu, hah?" omel suara di seberang membuat Aliza menjauhkan ponsel dari telinga, menggerutu dengan sebal yang bisa didengar si penelepon. "Aliza!"
"Iya, udah di rumah, Kak." Aliza mulai melembut, takut didoakan jelek-jelek sama suami.
"Bagus, aku akan segera pulang. Segera masak yang enak-enak."
Aliza langsung duduk, menoleh ke jam dinding. Tidak biasanya Gibran pulang cepat membuat Aliza cemas akan segera dihukum. "Tapi---"
Sambungan telepon diputus sepihak, tanpa kalimat i love you, atau kalimat manis layaknya suami-istri. Aliza mengerucutkan bibir menuding-nuding ponselnya dengan telunjuk. "Selalu semaunya, bagus banget kelakuannya udah telepon terus bikin berisik, main matiin saja."
Baru saja Aliza berniat melempar ponsel dengan sisa tenaga ke kasur, layar ponselnya berkedip-kedip, menampilkan nama Feli.
"Halo." Aliza cepat-cepat menggeser layar.
"Aliza?"
"Iya, ada apa?"
"Gimana nih, aku kayak diteror Reyhan tahu. Dia mau minta nomor kamu, terus ngancem mau ke rumah kamu kalo enggak dikasih." Suara Feli terdengar panik.
Sejak dulu Aliza melarang Reyhan menemui ke rumah dengan alasan papa Seno tidak suka. Padahal Aliza cuma tak mau diledek sang kakak sekaligus papanya kalau mulai dekat sama laki-laki. Namun, sekarang lain cerita. Jadi Aliza ikut panik.
"Duh, terus gimana?"
"Makanya aku bilang jujur, Al. Begini dosa terus bohong lagi, susah banget deh dibilangin." Feli mengomel seakan emak sedang memarahi anaknya. "Aku malas banget nih kebawa-bawa."
Andai semudah itu, dia akan mengakui statusnya pada Reyhan. Tapi pernikahan tanpa cinta yang kapan saja berakhir, tidak diketahui banyak orang. Dia ingin membagi kegelisahan ... tapi masalah rumah tangganya sulit dimengerti orang-orang.
"Terus gimana?" Aliza jadi menggigit kuku-kukunya, menatap langit-langit kamar.
"Ya udah gini saja, aku kasih nomor kamu. Daripada ketemu om Seno urusan panjang. Tapi ingat jangan main api!" Feli memperingati entah keberapa puluh kali.