Gibran menatap jalanan padat kendaraan di depannya, mobil-mobil pribadi mendominasi, berjejer panjang menunggu lampu berubah hijau. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi seraya mendongak ke langit-langit mobil dengan wajah kusut.
"Kenapa kamu bisa meninggalkan pernikahan kita, Zelina!" Dia mengusap wajah berkali-kali.
Terdengar suara klakson saling bersahutan dari mobil-mobil di belakang. Gibran melirik lampu sudah menyala hijau, memilih melajukan mobil pelan berdesakan dengan kendaraan lain. Motor-motor menyelinap lewat sela-sela mobil, bahkan ada yang nyaris menyentuh spion miliknya, membuat Gibran mengumpat kesal.
"Sial!" Gibran mencengkeram setir kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih tidak bisa menstabilkan emosi efek bertemu Zelina.
Gibran mendesah pelan mengingat kenangan bersama Zelina berjejalan di kepala. Senyum Zelina yang antusias setiap membahas sesuatu, sentuhan hangat tangannya setiap jalan bersama. Ternyata nama Zelina belum bergeser di bagian terdalam.
Gibran pun masih mendamba setiap inci wajah perempuan itu. Mata bulat yang dibingkai maskara, bibir penuh dipulas lipstik merah terang selalu berhasil mengacaukan pikiran, dia mengingat manisnya sentuhan bibir sang mantan. Dan tubuhnya masih indah dibalut dress ketat.
Pukul lima sore, Gibran baru tiba di kawasan elit, memasuki gerbang hitam setinggi dua meter dan memarkir mobilnya dengan sempurna. Tujuan utama adalah mandi demi mendinginkan kepala dengan guyuran air. Barangkali cara tersebut ampuh mengenyahkan Zelina dari kepala.
Namun, begitu memasuki kamar justru menghentikan langkah di samping ranjang mendapati gadis dibalut kaus bergambar panda sudah terbaring di sana.
Gibran melipat lengan, matanya sibuk mengamati sang istri yang terlelap dengan napas teratur. Rambut lurus yang dibiarkan panjang melewati bahu, tidak pernah berganti warna atau model rambut seperti Zelina. Hidung mungil dan bibir tipis tanpa polesan lipstik. Kalau Zelina suka memulas bibir dengan warna terang. Mata Aliza tidak sebulat milik Zelina. Lagi-lagi Gibran membandingkan dengan mantan tunangannya.
Pria itu membuang napas kasar sebelum duduk di tepi ranjang. Jari-jarinya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah sang istri.
Aliza bergerak pelan. Dengan mata terpejam tangannya menarik kaus seakan kepanasan, sampai Gibran bisa melihat sesuatu mengintip keluar. Gadis itu tidak sadar berada di zona berbahaya.
Buru-buru Gibran mengalihkan pandangan ke AC yang menempel di dinding. Lalu berdecak. "Gimana bisa dia kepanasan, bikin orang gerah saja."
Gibran memutuskan bergegas ke kamar mandi daripada pikiran liarnya mengambil alih. Bagaimanapun ia masih normal, laki-laki dewasa yang tergoda melihat pemandangan menggiurkan di depannya.
Aliza membuka mata pelan, berat sekali seakan-akan ada beban puluhan kilogram di kelopak mata. Dia mengucek-ucek mata sebelum menatap jam yang menempel di dinding.
"Ya ampun, aku ketiduran!" pekiknya kaget, segera berjingkat dari ranjang ukuran king.
Dia menepuk kening lupa belum masak apa-apa. Tadi sibuk menerima telepon Reyhan yang mengajak makan malam mengenakan dress model Sabrina.
Kalau saja status Aliza masih single pasti akan langsung mengiyakan. Dia sudah lulus SMA, tidak masalah mulai menjalani hubungan serius dengan laki-laki.
Sudah dibilang semenjak menikah catatan amal buruk Aliza terus bertambah, memupuk dosa dengan menciptakan kebohongan baru. Ia menolak ajakan Reyhan secara halus beralasan akan makan malam di luar bersama Zelina yang baru pulang dari New York.
"Duh harus cepat-cepat," gumamnya mulai merapikan seprai warna putih polos, kemudian menepuk-nepuk bantal sebelum menumpuknya. Dia mendengar suara shower dari kamar mandi menandakan Gibran sudah di rumah.
"Gawat si galak sudah pulang." Aliza meringis takut suaminya mengamuk.
"Oh, jadi begitu bisa enak-enakan tidur!" Suara yang diucapkan dengan nada tinggi terdengar usai pintu kamar mandi terbuka. Aliza ingin bersembunyi ke lubang semut mau bisa.
Secara refleks ia menoleh, menatap suaminya dibalut handuk saja. Buru-buru Aliza menutup wajah dengan telapak tangan melihat otot-otot perut yang membuat merinding. "Kakak pakai bajunya!" pekik Aliza sampai Gibran gemas.
"Kenapa kamu tutupi?" Gibran tersenyum miring, mendekat ke arah Aliza.
Dia mengambil paksa tangan istrinya dan menempelkan ke perut lalu ke atas. "Kamu mau raba-raba juga boleh."
'Ih banyak bulu,' batinnya geli mendapati bulu-bulu halus teraba telapak tangannya. Cepat-cepat dia menarik tangan.
"Kamu!" Gibran geram baru kali ini ditolak perempuan. Biasanya banyak wanita siap menyerahkan diri, mendamba tubuh atletisnya. Namun, mereka hanya gigit jari karena Gibran tidak mengizinkan perempuan lain menyentuh kecuali Zelina.
Aliza menerobos lengan Gibran untuk kabur. "Aku mau masak!" teriaknya selagi menuju pintu.
Gibran memukul ranjang dengan kepalan tangan sebelum memberi peringatan pada istrinya bandelnya. "Ingat malam ini kami tidak akan lolos dari hukuman."
Aliza meringis. Dia tidak mau menoleh ke belakang, memilih mempercepat langkah untuk mengecek bahan-bahan di kulkas yang kira-kira mau dimasak sekarang.
Gibran berjalan ke lemari mengambil kaus di tumpukan paling atas. Bajunya tertata rapi dan sudah disetrika semua. Dia mengenakan kaus hitam, lalu melirik ke arah paper bag di meja rias.
"Dia beli apa? Tumben banget."
Selama ini Gibran yang menyuruh sekretarisnya mencari baju-baju mahal untuk Aliza. Dia risih melihat baju sederhana yang dikenakan sang istri. Kaus bergambar panda, beruang, dan hewan-hewan imut selalu dilihat setiap hari.
Gibran membuka paper bag cokelat, menemukan dress satin warna putih dengan aksen pita dan kerut bagian perut. "Bagus juga."
***
"Awas saja kalo enggak enak!" Gibran sudah duduk di hadapan meja makan bundar, bersikap menyantap nasi bersama tumis brokoli bercampur daging. Aliza berdiri di samping, menghitung mundur siap-siap terkena omelan. Dia mengamati dengan cermat saat Gibran menyendok makanan.
Daging sudah empuk tadi, terus garam secukupnya. Dia juga mencicipi rasanya enak. Daging berwarna cokelat matang sempurna.
"Tetap berdiri dan angkat kaki, jangan lupa jewer telinga," perintah Gibran sebelum menyuap makanan ke mulut.
Aliza mendengus sebal, baru permulaan hukuman paling ringan yang pasti akan meningkat lebih berat. Mau tak mau, Aliza mengangkat kaki, menjewer telinga seperti anak sekolah diberi hukuman.
Baru satu suap, Gibran langsung menyambar air putih dengan ekspresi berlebihan seakan siap melepehkan kembali nasi bercampur tumis dari mulut. "Apa-apaan. Kamu sengaja kasih garam banyak, hah?"
Gibran marah-marah lagi usai meneguk setengah gelas air putih. Matanya merah menatap Aliza seperti siap menerkam mangsa.
Keterlaluan! Aliza yakin rasa masakannya pas. Dia memasukkan bumbu dengan takaran seperti biasa di rumah, terbukti selalu menuai pujian papanya.
Kalau boleh Aliza ingin menimpuk kepala Gibran dengan piring. Tapi berusaha ditahan, dosaa!
"Masa sih, aku masukkan garam udah pas, kok."
Gibran berdiri. "Terus kamu bilang lidahku salah?"
Aliza mengedikkan bahu. "Mungkin."
Masa bodo dengan hukuman yang akan diterima. Sudah biasa, pernah Aliza disuruh menghitung beras per butir sampai pegal, disuruh membersihkan kolam tengah malam, dipaksa naik ke genteng memeriksa ada yang bocor padahal akal-akalan Gibran saja, dihukum lari mengelilingi rumah luas dan besar sebanyak 10 kali.
Mata Gibran menajam, tidak suka mendengar jawaban sang istri. "Cepat buatkan teh!"
"Oke." Aliza sedang malas berdebat. Dia bergegas mengambil cangkir, menuang satu sendok gula, memasukkan teh.
Tidak berselang lama sudah kembali ke meja makan menyodorkan secangkir teh hangat. Dia menahan napas saat Gibran mengangkat cangkir seraya menyesap pelan.
"Apaan, kamu sengaja menaruh banyak gula, hah?" Dia menyemburkan tehnya ke meja.
Oke, harus tenang menghadapi pria super menyebalkan supaya otaknya tetap waras. Aliza segera melangkah ke arah pantri hendak membuat yang baru tanpa disuruh.
"Aliza, aku mau kopi."
"Banyak maunya emang, sekalian saja minta es cendol," gerutunya selagi berjalan ke dapur.
"Jangan ngedumel aku masih dengar!" teriak Gibran membuat Aliza ingin menaruh sianida di kopi nanti. Namun, akal warasnya masih berjalan mengingat mendekam di penjara lebih menyeramkan daripada menghadapi Gibran.
Aliza mengambil bubuk kopi di kabinet, menakar sesuai aturan Gibran. "Dasar om-om menyebalkan! Sengaja dia biar aku dongkol."
"Cepat! Gitu doang lelet banget!"
Padahal Aliza belum ada lima menit, seakan-akan sudah berkutat dengan bubuk kopi selama puluhan jam. "Orang kalo marah terus cepat tua, udah om-om suka emosi bisa-bisa berasa punya suami aki-aki!"
"Aliza, awas kalo kepahitan!" teriak Gibran lagi.
"Kalo ini salah lagi akan aku tumpahkan ke muka galaknya!" gerutu Aliza selagi membawa ke hadapan Gibran.
Aliza mengambil posisi duduk di hadapan suami, menunggunya mengangkat cangkir serta menyesap pelan-pelan. Satu menit berlalu, Aliza menghitung dalam hati, belum juga cangkir diangkat dari tempat semula, justru tangan Gibran hanya menyentuh permukaan dengan tatapan lurus ke arahnya. "Kamu tahu salahnya apa?"
"Hem!"
"Hukuman pertama kamu joget di depanku," perintah Gibran dengan nada santai, sedangkan Aliza melongo. "Ayo cepat, aku butuh hiburan."
"Aku enggak bisa!"
Gibran melotot lebar. "Oh, kamu mau menghindar dari hukuman ... atau mau hukuman manis nanti malam kita---"
"Oke!" teriak Aliza paham arah pembicaraan Gibran. Dia masih imut-imut ogah disentuh om-om, apalagi mengingat bulu-bulu halus, seketika Aliza merinding.
Aliza berdiri meliuk-liukan tubuh dengan kaku, kaki dan tangan terus mengikuti arahan Gibran. Masa bodo dengan rasa malu seakan sudah lenyap ditelan bumi, sedangkan Gibran berusaha mati-matian menahan tawa.
"Jangan berhenti, ayo dong goyang dikit!"
Gadis itu bergerak seperti ular melata di depan Gibran, bergerak ke kanan kiri, dan tangan ke atas, pinggulnya bergoyang semampunya. Terus menari sampai suami pendendam puas. Berhenti meminta aneh-aneh yang lama-lama menyedot habis energi.
Gibran mengusap-usap dagu, secangkir kopi di meja mulai mendingin tidak disentuh selama Aliza meliuk-liukan tubuh. Sudah melebihi sepuluh menit, namun belum juga dibolehkan berhenti.
"Habis berjoget kamu hitung jumlah daun di taman, ingat tanpa dilewatkan!" perintah Gibran selagi bangkit mendorong kursi ke belakang.
Lagi-lagi Aliza melongo mengingat taman luas ditumbuhi berbagai tanaman hias di samping rumah. Ada mawar, bugenvil, aster, dan masih banyak lagi jenis tanaman. Asli! Aliza benar-benar menebak otak Gibran sudah bergeser, apa tidak takut istri yang imut-imut diculik kunti harus berurusan dengan tanaman menjelang magrib.
"Aku enggak mau, Kakak saja sendiri," tantang Aliza tanpa rasa takut.
Gibran tersenyum devil. "Oh, jadi kamu mau hukuman menyenangkan?" Dia melangkah ke arah sang istri, membuat Aliza mundur beberapa langkah sampai batas tembok.
"Kakak mau ngapain!" teriak Aliza mendorong tubuh suaminya yang tidak bergerak sedikitpun.
"Bawel sekali!" gumam Gibran menatap sang istri dari jarak dekat, pandangannya bergerak ke bibir merah jambu alami yang menggoda. Dia semakin mendekat dan memiringkan kepala.
"Astaghfirullah, Mama enggak lihat!" teriak suara dari arah belakang tiba-tiba masuk. Keduanya kompak menoleh ke sumber suara, melihat perempuan setengah baya menutup wajah serta mengintip dari sela-sela jari. Aliza merasa malu, tapi bernapas lega karena ciuman pertamanya belum diambil pria menyebalkan. Kalau Gibran sudah mengumpat dalam hati.