Kalila, mamanya Gibran duduk di sofa ruang tengah usai salat Magrib. Wanita itu sengaja mampir untuk menengok menantu sekalian menumpang salat. Kalila baru saja pulang dari rumah teman lamanya tak jauh dari kawasan elit tempat tinggal Gibran.
"Duh, Mama menyesal ke sini, harusnya enggak ganggu biar kalian cepat punya bayi." Mamanya menatap penuh harap dengan ekspresi berlebihan.
Ya ampun ... anaknya baru akan ciuman saja gagal. Boro-boro membuat anak bersama Aliza yang baru disentuh seujung kuku sudah gemetar.
"Boleh nggak Aliza meminta toleransi, Ma," ujar Aliza dengan wajah memelas. "Kayaknya belum siap kalo merawat bayi."
"Loh enggak apa-apa, kamu hamil ada suami nggak masalah, delapan belas tahun udah boleh." Kalila, mertuanya terus berharap dengan mata bersinar.
Aliza meringis membayangkan harus melewati malam menyeramkan dengan Gibran untuk membuat bayi, lalu perut datarnya akan membuncit. Ketahuan deh sama teman-teman kalau sudah menikah atau malah dikira hamil duluan.
"Ya udah gimana baiknya saja," balas Aliza bohong mana rela disentuh om-om. "Oh, ya, Mama mau enggak makan di sini kebetulan Al udah masak tinggal dihangatkan." Aliza melirik ke Gibran, melihat suaminya melotot Aliza sengaja memancing emosi. "tapi sayang katanya asin dan enggak enak, Mama mau coba?"
Kalila tersenyum senang. "Tentu mau, Sayang."
Fiuh! Aliza merasa lega topik seputar cucu bisa dialihkan ke makanan.
Makan malam yang hangat, ada orang lain bisa diajak cerita daripada berdua bersama Gibran. Kalila terus memuji masakan menantunya sangat lezat dan rasanya pas di lidah, sedangkan Aliza sengaja menyindir Gibran yang dipaksa ikut duduk tanpa makan sesuap pun terlanjur menghina tumis daging bercampur brokoli buatan istrinya tidak enak.
Kalila banyak bercerita masa kecil Gibran beserta dua adik laki-lakinya yang masih kuliah. Aliza tertawa mendengar kelakuan Gibran kecil seperti, "Gibran tuh suka ngitung kancing Mama kalau mau tidur, pokoknya Mama wajib pakai baju berkancing."
"Gibran paling susah disuruh lepas dot, sampai mau masuk TK baru deh mau buang dotnya."
"Gibran takut sama kodok pernah sampai pingsan pas SD."
Aliza antusias menanggapi sampai tertawa puas, keduanya menganggap Gibran makhluk gaib tidak terlihat di sebelah. Kalau Gibran jelas sedang mati-matian menahan emosi karena tidak mungkin mengomeli mamanya seperti ke Aliza. Ya, kecuali mau dikutuk menjadi batu. Paling-paling hanya mendesah. "Mama, nggak perlu dibahas lagi."
"Loh, sama istri sendiri malu, ya?" Kalila meledek.
"Benar tuh biar aku juga tahu kalau Kak Gibran ternyata ...." Aliza terkekeh sambil pura-pura menutup mulut dengan telapak tangan.
Awas ya, Aliza. Akan aku tambah hukuman nanti.
Setelah selesai makan malam, Aliza sibuk mengangkat piring-piring kotor serta membawa ke wastafel. Gibran mengamati dari kejauhan mamanya memaksa ikut membilas piring. Perempuan beda generasi itu tampak akrab mencuci piring sambil mengobrol, kadang tertawa sampai Gibran heran anaknya dia atau Aliza.
Gibran memutuskan ke kamar menatap jendela basah yang terkena percikan air hujan. Kalau begini mamanya akan menginap tidak mungkin dibiarkan pulang menempuh perjalanan satu jam lebih. Gibran yakin Aliza akan tertawa mendapatkan pembelaan Kalila. Kadang-kadang Gibran heran keduanya cepat akrab seperti ibu dan anak, sedangkan pada Zelina biasa saja.
Smartphone yang berada di genggaman Gibran menyala, muncul satu notifikasi masuk dari nomor yang disimpan kembali, setelah enam bulan lalu sempat dihapus. Ternyata Zelina mengaktifkan lagi nomornya usai menapakkan kaki kembali di Indonesia.
Tatapan Gibran tertuju pada isi chat yang masuk, sementara tangan satunya memijat kening.
Zelina : Kamu ingat tanggal 15 besok hari apa? Harusnya kita merayakan hari jadian ketiga, kan?
Salah Zelina sendiri. Kalau dia tidak memilih ambisinya sebagai model. Pasti sekarang sudah merancang ingin berapa anak, bolak-balik liburan ke luar negeri seperti permintaan Zelina, bermesraan setia saat atau tertawa bersama-sama.
Gibran sudah berjanji akan membuang Zelina jauh-jauh dari hidupnya, tapi tidak mudah mengabaikan perempuan yang pernah dicintai setengah mati.
Pintu kamar terbuka pukul delapan malam. Sementara Gibran hanya melirik sebentar, lalu fokus lagi ke smartphone di tangan. Masih menatap pesan yang terakhir muncul tanpa berniat membalas.
"Kak, Mama sudah aku siapkan kamar, terus aku suruh istirahat." Aliza sekadar memberi informasi, tidak mau membahas hal lain karena badannya benar-benar lelah.
Tidak ada sahutan dari sang suami dan Aliza sudah kebal bicara dengan patung. Dia bergerak ke lemari mengambil piyama marun berbahan satin, lalu memasuki kamar mandi.
Setelah Aliza keluar mengenakan piyama, Gibran baru teringat isi paper bag yang sempat dilihat. "Aliza."
Panggilan itu membuat Aliza menoleh. "Apalagi, Kak? Mau kasih hukuman atau minta dibuatkan sesuatu? Serius aku cape banget mau salat terus tidur."
Gibran berdecak, secuil pun tidak ada hal-hal baik dalam dirinya melekat di benak sang istri. "Dengerin dulu baru komentar, bisa?"
Mau tak mau, Aliza duduk di tepi ranjang memandang Gibran yang sudah duduk di sofa. "Iya, iya."
"Kamu mau ke mana beli dress, ada acara sama siapa?" Enam bulan Gibran cukup mengenal Aliza kurang suka menghamburkan uang untuk membeli baju yang akan jarang dipakai.
Aliza menjulurkan tangan ke nakas mengambil ikat rambut hitam, kemudian mengangkat kedua tangan untuk mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. "Oh, itu."
Gibran melotot mendengar jawaban terlalu singkat, padat, dan tidak jelas. "Mau ke mana? Kamu dengar pertanyaannya?"
"Hemm." Aliza bergumam cukup lama, menimbang-nimbang akan mengatakan jujur atau menyembunyikan dari suami. "Enggak beli, itu dikasih teman."
Gibran menegakkan punggung tanpa sadar. "Dari siapa?" responnya terlalu cepat, sehingga Aliza mengerutkan kening. Sejak kapan Gibran akan peduli pada hidupnya, mengurusi siapa saja teman-temannya.
"Hmm ... memang Kakak harus tahu? Yang penting aku tidak mencuri, 'kan?" Aliza menatap heran.
"Tinggal sebut nama apa susahnya!" Gibran menggeram kesal, entah kenapa penasaran orang yang membeli dress cantik untuk istrinya. "Lagian dress begitu aku bisa beli sampai tokonya, kenapa harus meminta sama orang. Mau bikin malu biar dikira suaminya pelit, hah?"
Sudah Aliza duga kalau suaminya tidak ada setitik pun kebaikan di hatinya. Selalu dipenuhi prasangka buruk dan menyombongkan diri mentang-mentang kaya bisa beli semua.
"Aku enggak minta, kok. Orang dikasih buat apa minta-minta kayak pengemis." Aliza mendengus sebal.
"Iya siapa yang kasih, apa enggak tahu kalau suaminya sanggup membeli ratusan dress seperti itu?" Gibran makin penasaran.
"Itu dari ...." Entah kenapa suara Aliza melambat seakan sengaja memancing emosi Gibran.
Pria itu mengumpat kesal, membuat Aliza makin muak dengan sederet list kelakuan buruk suaminya.
"Siapa Aliza?" Kali ini Gibran sudah berdiri, meletakkan ponsel ke meja.
Aliza mengerutkan kening. "Penting banget, ya, Kak?"
"Kamu sengaja mengetes kesabaran!"
Sabar dari mana? Secuil pun tidak ada kesabaran dalam diri Gibran. Aliza mengasihani diri sendiri dinikahi pria bossy dan hobi marah-marah. Setiap hari akan melihat mata melotot siap menggelinding kapan saja.
Tapi Aliza harus memupuk kesabaran bertubi-tubi, tidak boleh ikut marah-marah yang bisa menyebabkan kerutan halus timbul di wajah. Ogah banget muka imut-imutnya menua gara-gara dinikahi om galak.
"Dari teman, Kak. Ya ampun penting banget apa? Itu dari kak Reyhan tadi."
Reyhan? Bocah itu lagi mau apa memberi dress untuk istri orang. Gigi-giginya beradu dengan rahang mengeras mengingat laki-laki bau kencur yang pernah bertemu di restoran tempo hari. "Kembalikan ke orangnya, besok kita ke mal aku belikan lebih banyak."
"Tapi, Kak." Aliza mendongak, menatap Gibran yang mengibaskan tangan ke udara berniat keluar. "Mau ke mana, Kak?"
"Mau renang!" Gibran menarik-narik kaus seakan kegerahan selagi berjalan menuju ambang pintu.
Lalu Aliza melirik ke jendela basah yang gordennya belum ditutup, hawa dingin masih terasa sisa hujan yang baru mereda sepuluh menit. "Om-om aneh," gumamnya.