Semalam Gibran tidur pukul satu dini hari, berenang selama dua jam belum juga mendinginkan kepala. Akhirnya dia pergi ke bar sekadar nongkrong tanpa sepengetahuan istri atau Kalila. Bisa panjang urusan kalau Kalila yang bawelnya melebihi emak-emak di pasar saat menawar sayur memergoki anaknya pulang dari bar. Jadilah Gibran mengendap-endap memasuki kamar serta melihat istrinya tertidur pulas. Lalu memandang ke paper bag di meja rias dengan perasaan tak rela.
Setelah pagi-pagi mamanya pulang dijemput laki-laki berperawakan tinggi, kulitnya bersih, memiliki mata sipit. Dia adalah Irham, anak bungsu dari keluarga Ferdinand yang masih kuliah.
Gibran langsung memaksa istrinya berganti baju lebih modis supaya pantas digandeng, lalu mengajaknya ke pusat perbelanjaan memilih baju-baju baru.
Senyum kecil Gibran mengembang ketika melihat Aliza hanya dibalut t-shirt berpadu celana jeans, dan sepatu flat warna krem. Tatapannya menilai serta memberikan nilai sembilan. Memang tidak seperti Zelina yang selalu mengenakan pakaian glamor. Namun, entah kenapa istrinya terlihat manis apalagi bibirnya dipoles lip cream peach.
Mereka berjalan mengelilingi mal serta Aliza dipaksa merelakan tangannya digandeng. Aliza pikir suaminya sedang kerasukan tiba-tiba menggenggam tangan secara posesif. Dia tidak tahu saja kalau Aliza gemetar sampai keringat dingin.
"Kamu harus terbiasa." Begitu komentar Gibran merasa tangan yang digenggam berkeringat, dia menoleh sebentar. "Anggap saja belajar tidak kaku kalau nanti ada acara keluarga. Kita harus mesra terus."
Pencitraan, dasar om-om.
Beberapa toko dilewati begitu saja. Aliza hanya menghela napas lelah berakhir pasrah. Memang dia bisa apa? Mau berontak minta balik berujung hukuman-hukuman baru.
"Kita mau beli apa?" Aliza tidak tahan bertanya mengingat toko-toko baju sudah dilewati
"Baju," balas Gibran singkat terus melangkah ke toko yang biasa didatangi bersama Zelina. "Kita ke sana," ujar Gibran menunjuk toko paling besar di antara deretan sebelahnya.
Ratusan baju dengan berbagai model mulai dari gaun, baju kerja, dress santai, dan pakaian renang menyambut ketika menginjak lantai toko. Gibran berjalan ke deretan baju perempuan serta meminta Aliza memilih sesukanya. "Ambil semua yang kamu suka, tidak perlu menerima satu dress dari bocah itu!"
Dasar pendendam.
Aliza menarik napas dalam-dalam, menahan omelan agar tetap di ujung lidah. Berusaha tidak memancing emosi Gibran di tempat umum yang bisa mengundang perhatian pengunjung lain. Sejak menikah dengan pria menyebalkan rasanya harus memiliki stok sabar berlebih kalau mau kewarasannya terjaga.
"Cepat pilih!" perintah Gibran dengan menggerakkan dagu ke deretan baju-baju perempuan.
Dengan malas-malasan Aliza maju sekadar melihat bandrol harga sepotong baju, kemudian mata bulatnya sukses melotot lebar seakan siap melompat dari tempatnya. Hanya membeli satu baju harus mengeluarkan uang berjuta-juta.
"Ngapain sih beli baju, di rumah masih bagus-bagus yang dibawakan sekretaris Kakak." Aliza merasa sayang uangnya bisa ditabung, syukur-syukur Gibran mau berbaik hati mengizinkan kuliah agar cita-citanya menjadi desainer ternama bisa terwujud.
Gibran berdecak. "Jadi kamu lebih memilih dress putih yang jelek itu?"
"Ya enggak." Aliza menyangga sekalipun ingin sekali melindungi hadiah pemberian laki-laki yang dicintai.
Tidak ada jawaban, mereka masih mencerna pikiran masing-masing. Gibran menebak kalau Aliza suka menerima hadiah murahan dari Reyhan, padahal memang tebakannya benar. Tapi dress butik ternama bukan murahan seperti yang diucapkan Gibran dengan aura dendam. Sementara Aliza menduga suami sombongnya tidak mau disaingi soal uang.
Ada hening cukup lama, hanya terdengar suara pengunjung lain yang sedang memilih-milih baju di deretan sebelah. Aliza pura-pura melihat baju satu per satu, sedangkan Gibran hanya mengamati.
Sepuluh menit berlalu Aliza belum menjatuhkan pilihan ke baju-baju mahal di sekeliling. Dia hanya mengedarkan pandangan ke seisi toko yang didominasi orang-orang berkelas. Aliza bisa menilai dari pakaian mahal yang melekat di tubuh pengunjung lain, heels tinggi, dan menjinjing tas branded. Lalu si pria mengenakan kemeja rapi seperti Gibran. Pengunjung toko ini didominasi oleh orang-orang berdompet tebal, ada beberapa orang berpakaian sederhana masuk hanya melihat-lihat dan langsung syok membaca bandrolnya.
"Kamu nggak tau mana baju yang bagus?" sindir Gibran jengkel, iris mata cokelat terangnya menatap tajam. Baru kali ini kesulitan menangani perempuan, tidak seperti Zelina yang akan antusias memilih baju-baju berkelas atau Maya yang akan menyambar dress mahal kalau diajak belanja. "Minggir! Biar aku saja yang pilih."
Aliza mendengus, lalu menggeser posisi dua langkah membiarkan Gibran bertindak sesukanya.
Oke, Gibran bukan memilih satu-satu seperti orang normal belanja. Namun, ia mengambil hampir puluhan dress serta membawa ke kasir untuk membayar lunas. Aliza hanya melongo heran, geleng-geleng melihat kelakuan suaminya. Memang dia mau menyumbang ke panti asuhan membeli baju sebanyak itu?
"Kenapa harus dibeli semua?" protes Aliza yang kerepotan membawa banyak tas belanja berisi baju-baju mahal. "Aturan beli satu saja."
Senyuman angkuh di wajah Gibran terlihat membuat Aliza ingin melempar sepatu ke wajah menyebalkan di hadapannya.
Satu menit setelahnya, mereka keluar dari toko, bergerak mengikuti langkah Gibran yang berpikir akan mencari makanan demi menenangkan penghuni perut yang meronta-ronta. Gibran belum sarapan apa-apa sejak pagi lantaran dongkol dengan Aliza menerima pemberian laki-laki lain.
"Kenapa, sih, harus menghamburkan uang, apa Kakak nggak tahu kalau boros temannya setaaan," sindir Aliza terus menggerutu sepanjang jalan sampai memasuki lift. Dia melirik ke arah suami yang memiliki kepekaan terlampau tipis. Lalu mendengus pelan. "Oh, aku lupa kalau Kakak setannya."
"Aliza!" Iris mata cokelatnya menyala-nyala, menatap Aliza tajam. Aliza terkekeh di sebelah melihat Gibran akhirnya membuka mulut. Saat akan mengomel panjang lebar, pintu lift terbuka sehingga memaksa cepat-cepat keluar menunda omelannya pada Aliza.
Gibran melangkah lebar-lebar secara cepat, membuat napas Aliza terengah-engah berusaha tidak tertinggal jauh. Apalagi tangannya penuh tas belanjaan.
"Kakak! Jalannya pelan-pelan, dong." Aliza kesusahan menyamakan langkah Gibran, dia mengikuti suaminya yang berbelok menuju restoran, jauh-jauh ke lantai paling atas tanpa menaruh rasa iba pada istrinya menenteng banyak belanjaan. Untung isinya baju bukan batu-batu akik lima ton.
Gibran mengajak duduk ke kursi paling ujung, dekat jendela kaca yang membatasi ruang itu dengan area pusat perbelanjaan. Mereka duduk berhadapan di bangku yang bisa diduduki empat orang. Kursi-kursi sebelah tidak terlalu ramai hanya diisi beberapa pengunjung. Jadinya Aliza membuang napas panjang seraya meletakkan tas belanja ke sebelahnya.
Aliza mengeluarkan ponsel dari tas mungil, menggulir layar untuk membalas pesan-pesan yang masuk cukup banyak dari teman-temannya mengajak kumpul. Lalu fokusnya berhenti pada pesan Reyhan.
Reyhan : Kamu ada waktu luang? Apa kita bisa bertemu sore ini?
Dia mengetuk-ngetuk jari ke meja, menimbang-nimbang akan menemui Reyhan atau tidak, mengabaikan pertanyaan Gibran yang sedang membuka-buka menu. "Kamu chat sama siapa?"
"Teman." Jari-jari Aliza bergerak mengetik balasan, merasa berat mengabaikan pesan dari orang yang membuat desiran aneh di dalam sana.
Aliza : Lihat nanti, ya, Kak.
Reyhan : Oke, kabarin saja. Aku harap kita bisa bertemu lagi mengobrol seperti dulu.
Aliza mengigit bibir bawahnya membaca balasan dari Reyhan.
"Mau makan apa?" Gibran mengerutkan kening melihat Aliza sibuk berbalas pesan.
"Terserah," jawab Aliza singkat tanpa menatap orangnya membuat gerakan tangan Gibran mengepal siap memukul meja.
"Eh, itu Aliza sama Kak Gibran, 'kan?"
"Iya, kebetulan banget ketemu," sahut yang lain. Suara dari gadis-gadis yang dikenali Aliza membuat ia dan suami menoleh, Ana menyengir lebar mendekat diikuti dua perempuan di belakang.
Gibran mengumpat dalam hati ada saja yang menggangu.