"Kamu justru melibatkan Aliza dalam masalah. Seharusnya dia bisa menikmati masa-masa kuliah, bisa main ke mana saja, dan belum saatnya menjalani rumah tangga. Dia melakukan semua demi kita, paham?" Kalimat terakhir papanya sebelum ia pergi berputar di kepala. Salahnya sendiri meninggalkan Gibran mendekati hari pernikahan, menghancurkan rencana masa depan yang sudah disusun matang. Dia pikir akan mudah meluluhkan Gibran dengan mengemis maaf, siapa sangka waktu enam bulan bisa mengikis perasaan Gibran. Zelina duduk di meja paling dekat pintu masuk, menoleh ke arah pria yang mengenakan kaus hitam polos dilapisi jaket kulit. Dia ingat membelinya sepulang liburan dari Paris dan sengaja meletakkan di mobil buat jaga-jaga kalau dibutuhkan mendesak. Bibir yang dipulas lipstik merah tersenyum tip

