Gibran menyusul ke kamarnya yang sepi, tidak ada Aliza meringkuk di ranjang sambil tersedu-sedu, meremas-remas seprai dengan pipi basah air mata. Namun, terdengar suara shower dari kamar mandi, menandakan istri kecilnya berada di sana mengguyur tubuh yang lengket seharian atau malah membersihkan jejaknya yang tertinggal. Dia merasa tindakan Aliza barusan berlebihan. Gibran tidak menyangka akan mendapat respons semacam itu, bahkan bekas tamparan keras dari tangan istrinya masih terasa panas. Tak habis pikir seakan-akan Gibran akan melecehkan anak di bawah umur. Seolah ia sudah melepaskan satu per satu kain yang membalut tubuh anak remaja. Gibran memandang pintu kamar mandi dengan geram mengingat kelakuan sang istri. Padahal hanya menyentuh bibir yang biasa dilakukan orang pacaran, bahkan

