Brak! Pintu kayu berwarna putih dibanting keras, membunyikan gema amarah dari empu kamar. Kedua tangan meraup udara, mengetat kala ia tekan ujung jarinya, buat liukan urat bertonjolan di sekitar pergelangan tangan. "Gina sialan!" Giginya bergelamatuk, terdengar nada yang menyimpan amarah. "Awas aja lo. Setelah ini hidup lo bakal habis!" Dadanya kembang-kempis, udara yang masuk ke dalam hidung bagai api yang membakar benaknya. Alisnya menukik, menahan gerombolan amarah yang memberondongi benak. Bola mata memendarkan kebencian begitu kuat, kepada insan yang bahkan tidak melakukan apapun padanya. "Pokoknya lo harus pergi dari rumah ini, lo enggak pantes jadi Nyonya Abigail. Cuma gue yang pantes." Di depan pintu kamar yang telah tertutup rapat, dia bolak-balik selagi isi kepala memutar men

