"KA ESA!"
"Ka Mahesa!!!"
"Ka Mahesa berhenti sebentar dong! Capek tau kejar-kejar kakak terus dari tadi!" Itu adalah teriakan nyaring Mecca yang berusaha mengejar langkah kaki Mehesa bersama teman-temannya.
Langkah kaki Mecca sangat kecil untuk bisa mengejar gerombolan Mahesa yang sudah berjalan jauh di depannya, maka nya Mecca mengeluarkan suara teriakannya untuk memberhentikan Mahesa.
Mahesa Maximiliano Dirgantara. Cowok bertubuh tinggi, kulit putih, bermuka datar namun sangat berdamage. Dia, leader generasi kedua sebuah geng motor yang terkenal di Amerta school dengan nama Araster. Mahesa terkenal kejam pada musuh-musuhnya, ia bukan lawan yang remeh jika kalian sampai ingin menantang Mehasa.
Di sekolah, Mahesa terkenal bukan hanya karena ia adalah sebuah ketua dari geng motor. Tapi, Mahesa juga terkenal karena ia masuk ke dalam jajaran murid cerdas, serta jago dalam bidang olahraga salah satunya Basket, dan yang paling wow lagi dari
Mahesa, dia adalah si sulung kaya raya sering dijuluki sebagai sultan Amerta. Mahesa memiliki sikap sangat dingin dan sulit di tebak,Mahesa sangat benci jika hidupnya di usik. Sama seperti 2 minggu belakangan ini, seorang adik kelas dengan beraninya ingin masuk ke dalam dunia Mahesa.
Dia adalah Queensha Mecca Veddira.
Mahesa menghela nafas kasar saat mendengar teriakan melengking itu. Mahesa kemudian memberhentikan langkah kakinya, Membuat Abimanyu Gunner atau kerap di panggil Bayu, dan Arya adimarta atau kerap di panggil Arya yang berjalan di belakang Mahesa harus menabrak punggung cowok itu karena langkah kaki Mahesa yang berhenti secara tiba-tiba.
"Aduh--" Ucap Bayu yang menabrak punggung Mahesa.
Sudut bibir Mecca terangkat saat melihat Mahesa berhenti di ujung lorong, Mecca pun kemudian mempercepat langkah kakinya untuk mendekati Mahesa.
"Ahkirya Ka Esa berhenti juga!" Ucap Mecca girang.
Sekali lagi Mahesa membuang nafas panjang, lalu membalikkan badannya. Mahesa menatap Mecca dengan jenah, sedangkan Mecca sudah menyengir sambil memperlihatkan deretan gigi gadis itu.
Mahesa mengangkat sebelah alisnya dengan wajah yang tetap sama datarnya, seolah bertanya 'apa?' pada Mecca.
"Ke Mekdi beli burger."
"Cakep," sahut Bayu.
"Hai ka Mahesa, can i get your number?"
"Weh, bisa pantun juga nih bocil bos," kata Bayu.
"Bisa dong, kan Ecca belajar dari Tik-tok," jawab Mecca bangga.
"Eh, lo punya tik-tok juga?" Tanya Bayu.
Mecca mengangguk.
"Boleh dong lo follow tik-tok gue, username nya Bayu love you."
"Iya Ecca follow nanti, tapi kasih dulu dong nomor handphone ka Esa."
"Iya gue ka-----" belum juga Bayu menyelesaikan ucapannya, Mahesa sudah memotongnya lebih dulu.
"Gak!" Jawab Mahesa ketus.
"Ih-----Ka Esa kok gitu sih?" Gerutu Mecca.
"Jangan ganggu gue lagi,sadar gak sih lo kalo berisik!" Kata Mahesa tidak kalah datar dari sebelumnya lalu berjalan pergi.
"Eh---tunggu-tunggu sa!" Ujar Arya mengejar Mahesa.
Sedangkan Bayu masih berdiri di samping Mecca, demi 1 followers tik-tok ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini.
1 followers juga sangat berarti kan?
Bayu menepuk pundak Mecca, "Sabar ya dek, entar gue kasih nomor si bos tapi janji ya follow tik-tok gue," kata Bayu.
Mendengar itu, seketika mata Mecca berbinar. "IYA SETUJU KA!" jawabnya penuh antusias.
"BAYU!!!" Teriak Mahesa.
"Eh iya bos bentaran," jawab Bayu. "Nanti kita bahas tentang kerjasamanya lagi ya dek, takut si bos marah bay," pamit Bayu pada Mecca lalu berlari menyusul Mahesa dan Arya yang sudah berjalan di depan.
Ahkirya sedikit lagi Mecca bisa mendapatkan nomor Mahesa.
"ECCA!" Panggil Teresa.
Mecca pun berbalik arah dan melihat Teresa yang berjalan menyusul ke arahnya.
"Apa Tete?"ujar Mecca dengan nada manja.
"Tere ca, bukan Tete!" Tekan Teresa geram, karena sahabatnya satu ini selalu memodifikasi nama panggilannya menjadi lebih abstrut.
"Sama aja, malah lebih mudah Tete. Tinggal pengulangan huruf."
"Sarah deh ca, serah. Nanti nanges lo!"
"Tete kanapa kejar Ecca lari-lari gitu?" Tanya Mecca balik pada topik awal, emang topik awalnya tadi apa?
"Harusnya gue yang nanya, lo dari mana aja?! Ke kantin malah gue yang di tinggalin sendirian, sedih banget ya kayaknya jadi gue dari dulu lo lupain Mulu?!"
"Enggak gitu Tete, tadi Ecca itu ketemu ka Esa," mata Mecca tampak berbinar menyebutkan nama itu.
"Ketemu, apa lo yang ngejar-ngejar dia?" Tanya Teresa.
Mecca menyengir, "hehehe, Ecca yang kejar ka Esa. Tapi intinya kan sama aja Ecca ketemu sama ka Esa."
"Ca," Panggil Teresa, tapi kali ini nada bicaranya sedikit berubah. Lebih ingin mengajak Mecca untuk berbicara lebih serius.
"Iya Tete?"
"Lo sebenarnya percaya gak sih sama sumpah Medina waktu itu?"
Raut wajah Mecca seketika berubah masam jika membahas soal itu. "Emm Ecca juga enggak tau Tete, Ecca juga bingung."
"Gue cuma takut kalo itu terjadi Ca. Buktinya setelah dari sekolah lo di putusin gitu aja sama Dimas, terus Dimas selingkuh lagi secara terang-terangan di depan lo, gak biasanya itu terjadi sama lo Ca. Dan yang paling parah udah gak ada lagi cowok yang deketin lo kayak dulu, malahan sekarang lo yang kejar-kejar si kulkas berjalan itu."
"Maksud Tete ka Mahesa?" Teresa mengangguk.
"Udah ah, jangan bahas itu. Ecca yakin kok ka Mehasa juga suka sama Ecca Tete. Yaudah kalo gitu Ecca mau ke kantin bentar ya beli minum, tenggorokan Ecca kering buat teriak-teriak terus," Mecca menyentuh bahu Teresa lalu pergi ke arah kantin.
Makannya jangan teriak-teriak terus Mecca!