"Ku punya pacar," senandung Bayu di depan layar ponselnya.
"Hilih bicit," sahut Nakula.
"Lo ya kul, emang gak bisa lihat gue bahagia,dasar temen laknat."
"Halah tukang halu, Mending noh pacaran sama mbak Siti, kasihan tiap hari 24 jam sendirian di atas pohon. Kalo ada lo kan itung-itung ada temen ngedate," kekeh Nakula, tapi jangan sampai mbak Siti dengar bisa-bisa nanti malam ia dihantui, hantu cewek itu.
Rumornya dulu mbak Siti adalah salah satu siswa di Amerta school yang cintanya di tolak oleh pujaan hatinya dan berujung tragis dengan gantung diri di salah satu pohon dekat perpustakaan.
"Sialan emang lo! Gue yakin tiap hari Dewa pasti kena mental punya kakak modelan kayak lo!"
Ya, Nakula bhalendra atau kerap di panggil Kula dan Sadewa Bhalendra atau kerap di panggil Dewa adalah suara kembar. Kalo kata upin-ipin cuma beda lima menit tau.
"Harusnya mah si Dewa bersyukur punya kakak kayak gue ini,udah muka foto copy dari muka gue lagi. Emang dasar adek Plagiat!"
Dewa yang tadinya tenang-tenang saja sambil memakan semangkuk Soto ayam berwujud mie, ahkirya menoleh ke arah Nakula dan Bayu yang Sendari tadi cukup berisik apalagi kini ikut membawa namanya juga.
"Dosa apa gue,punya Abang satu kelakuannya gak bener," ucap Dewa menatap ke arah Nakula.
Mendengar itu, Bayu tertawa terbahak-bahak. Akan asik nih jika kedua saudara kembar itu berantem, lumayan ada tontonan gratis.
"Eh, jaga omongan lo ya.gini-gini gue yang lahir duluan dari perut mami!" Pungkas Nakula yang kini melayangkan tatapan sengit pada Sadewa.
"Lahir duluan bangga,lo kalo gak gue bantu tendang dari dalam juga gak bakal keluar.lah gue mandiri keluarnya,lo udah keluar duluan gak inget bantuan gue lagi!"
"Kalo bukuan karena copyright muka gue, lo juga gak bakalan punya muka ganteng kayak gitu Bambang!"
Bayu semakin bahagia melihat tontonan gratis di depannya, terlebih kini ia mengambil alih mie soto ayam yang di tinggalkan oleh Dewa. Lumayankan untuk mengganjal perutnya yang mulai lapar.
Emang kurang ajar si Bayu
"Ayo Dewa,Ayo kula!" Serunya sambil mengangkat sendok dan garpu di tangan kiri dan kanannya.
"DIEM LO!!!" Bentak Nakula dan Dewa bersamaan.
Mampus dah lo Bayu.
?✨✨
Sedangkan di tempat lain,Mahesa saat ini sedang berjalan bersama dengan Arya.
Keduanya baru saja keluar dari ruang guru, karena tadi Bu Ina meminta bantuan mereka untuk membawakan tumpukan buku paket yang lumayan banyak.
"Gimana bos?" Tanya Arya.
"Gimana apanya?" Tanya balik Mahesa yang tidak paham akan maksud Arya.
"Gimana pendapat lo soal itu adek kelas yang kejar-kejar lo bos?"
Mahesa mengerutkan keningnya, "siapa?"
"Banyak bener yang kejar-kejar lo bos sampai gak inget," Biasalah orang ganteng! "Itu bos,si Ecca. Queensha Mecca Veddira anak kelas 10."
Hafal banget si Arya
"Oh, cewek itu."
"Cantik gak bos? Imut gitu mukanya. Ya kan?" Tanya Arya menggoda Mahesa.
"Gak!" Jawab Mahesa dengan wajah datarnya.
"Lo serius bos gak suka sama dia? Lo juga lagi jomblo kan bos?" Tanya Arya lagi.
"Gak!"
Arya berdecak, Mahesa ini emang seperti patung hidup,terlalu monoton hidupnya,
"Gak, gak mulu lo bos! Gue sumpahin Kemakan omongan sendiri jadi demen mapus lo bos!"
Arya ini kurang ajar sekali berani menyumpahi ketuanya sendiri. Emang dasar anggota lacnut,eh laknat maksudnya.
Mahesa sedikit menghela nafas sambil terus berjalan dengan wajah datarnya. Tatapannya begitu lurus dan datar, sama sekali tidak memperhatikan banyaknya siswa yang menatapnya dengan tatapan kagum.
Berbeda dengan Arya, ia justru menyempatkan tebar-tebar pesona. Arya juga heran dengan ketuanya itu, dilihat dari muka jangan di ragukan lagi bagaimana demage dan karisma yang dimiliki Mehesa. Dilihat dari isi dompet, kalo ini sih idaman banget dompet Mahesa tebal dengan uang cuy, wajarlah karena Mahesa itu definisi si sulung kaya raya. Tapi masalahnya kenapa Mahesa masih saja jomblo sampai sekarang, apa jangan-jangan Mahesa gay lagi? Aduh, amit-amit kalo itu sampai benar terjadi.
Jika berbicara tentang Mecca. Mecca itu memiliki sikap 360⁰ bedanya dengan Mahesa. Lihat saja, Mehesa yang pendiam seperti patung hidup, sedangkan Mecca yang cerewet seperti burung beo.
Astaghfirullah, bukan idaman Mahesa banget deh pokoknya.
Langkah kaki Mehesa terhenti saat ia sampai di depan markas.
"Aduh," cetus Arya saat wajahnya bertubrukan dengan kepala Mahesa. Mahesa ini emang hobi banget ya berhenti tiba-tiba, untung disini coba kalo di jalan raya udah berasa uji coba meninggoy kali.
Mahesa menatap kondisi markas yang acak-acakan, dengan tiga curut di dalamnya. Siapa lagi kalo bukan Bayu, kula, dan Dewa.
Mahesa menatap ke tiganya bergantian,
"Siapa yang udah buat berantakan semua itu?! Tanya Mahesa dengan tatapan sengitnya.
"Mereka berdua ini bos," tunjuk Bayu pada si copyright.
Mendengar itu Dewa tidak akan terima begitu saja, "Enak aja lu, gak sa.ini ulah si Bayu sama kula!"
Kini giliran Nakula menyuarakan tuduhannya, "Dasar adik durhaka enak aja lo salahin gue. Ulah Bayu sama dewa ni bos!"
"Enak aja bukan gue juga!"
"Lo ya, itu gara-gara Lo!!
"Elo!"
"Lo!"
"Itu salah lo!"
Mereka bertiga ribut saling menyalakan satu sama lain.
Karena geram. Ahkirya Mahesa menggebrak meja sambil melayangkan tatapan tajamnya, "LO BERTIGA BERSIHIN INI SEMUA!!!" Bentak Mahesa.
Ketiganya masih saling menatap sambil menyenggol badan satu sama lain, mengisyaratkan jika mereka masih menyalahkan satu sama lain.
"LO RIBUT LAGI, GUE TAMBAH HUKUMAN!!"
Mampus kan lo pada!
"I-iya.iya bos," jawab ketiganya bersamaan.
Kasihan Dewa jadi korban, udah mie sotonya di lahap Bayu. Emang dasar si Bayu!!!
Arya yang berdiri di belakang Mahesa hanya cengengesan sendiri melihat ketiga sobatnya itu dihukum.
Mahesa mengusap wajah kasar lalu pergi begitu saja, mungkin ia akan pergi ke perpustakaan karena ini masih jam istirahat, angan-angannya untuk beristirahat di dalam markas sudah gagal total karena ulah ketiganya!
"Hahaha kasihan jadi babu," ledek Arya. Sepeninggal Mahesa.
Bayu sudah siap melayangkan sebuah sapu dari tangannya untuk Arya, Arya lalu lari meninggalkan ketiganya. Lebih enak juga di kantin makan.
[Muka Mahesa kalo mau marah, gimana-gimana juga tetep ganteng parah valid no debat]
???
Ecca melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dua menit lagi bel pulang sekolah akan berdering. Ecca lantas segera memasukkan buku dan alas tulisnya ke dalam tas.
Sedangkan di depan sana, Bu Susi masih saja mengoceh menerangkan pelajaran. Ecca berdecak kesal, memang guru suka korupsi waktu pulang!
Bel Berdering dengan lantangnya,sebuah senyuman terbit dari bibir Ecca. Ia lalu mengangkat tas ranselnya dan berlari keluar kelas.
"Burung irian, burung cendrawasih, Cukup sekian dan terimakasih. Wassalamu'alaikum," ucap Ecca sambil lari terbirit-b***t keluar dari kelas.
Salah siapa sudah bel pulang sekolah masih di suruh belajar. Semua teman sekelasnya geleng-geleng melihat ulah Ecca hari ini, terlebih Tete, eh maksudnya Tere.
Emang dasar si Ecca, gak bisa seharian aja gak bikin ulah!
"ECCA! IBU BELUM SELESAI MENERANGKAN!!!" Teriak Bu Susi terlihat marah, habis sudah riwayat Ecca Minggu depan.
"DASAR KAMU YA EMANG BENDEL!!!"
Saat Bu Susi mengganti tatapannya pada murid-murid yang masih berada di dalam kelas, ternyata mereka juga mengikuti jejak Ecca.
"Bu kami izin pulang ya, udah bel soalnya," pamit siswa laki-laki yang Mecca sering Panggil Jaja.
Jaja keluar dari kelas dan diikuti siswa lainnya.
"Eh-eh saya belum selesai!"
Ucapan Bu Susi tidak mereka respon sama sekali.
"AWAS YA KALIAN, MINGGU DEPAN SATU KELAS SAYA HUKUM MERANGKUM DUA BAB!!!" Murka Bu Susi.
Sampai di parkiran sekolah, masih sangat sepi. Lagi-lagi Ecca tersenyum bahagia melihat motor yang ia cari masih terparkir rapi disana.
Motor Ninja hitam, berplat nomor
B 3473 SA
Tanpa menunggu lama lagi,Ecca lalu berdiri di samping motor itu.