Gara-gara Mahesa

1102 Kata
Mahesa menghabiskan jam terakhir pelajaran dengan berada di perpustakaan hingga bel pulang sekolah berdering, ia baru kembali ke kelasnya untuk mengambil tas. Sebelum pulang, Mahesa menyempatkan dirinya untuk pergi ke markas sebentar. Lihat saja jika markas masih berantakan seperti kapal pecah,ia akan menambah hukuman untuk tiga curut itu. Sampai di depan markas, ternyata ketiga curut itu sedang duduk di kursi luar. Bayu dan Nakula duduk bersebelahan menatap layar ponsel Bayu sambil cekikikan tidak jelas,emang dasarnya mereka sudah tidak pernah jelas jadi tidak perlu heran. "Eh, anjir, anjir, anjir!" Celetuk Bayu, menatap layar ponselnya. "Lanjut Bay," suruh Nakula. "Berdosa sakali dirimu.tapi..." Bayu terlihat sok berfikir. "ya sudahlah mari kita lanjutkan," timpal Bayu dengan cekikikan. "Gue makin kesini, makin yakin deh kalo Jarjit suka sama Susanti. Tapi kasihan cuma di ghosting," ucap Nakula. Sedangkan Dewa duduk sambil memegang sobekan kardus untuk ia gunakan sebagi kipas. "Gimana?" Tanya Mahesa. "Aman sa, udah bersih semuanya. Tinggal si Bayu buang sampahnya," jawab Dewa sambil menunjuk kantung kresek hitam berisikan sampah hasil kerja keras mereka bertiga. "Eh, anjir.enak aja,gue dah banting tulang sapu markas masih di suruh buang sampah. Gak,gak mau gue!" Tolak Bayu sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku. "Gua juga ogah, tadi gue dah rapiin kursi sama meja," Tambah Nakula. Dewa menyahut tak terima, "Yang sapu markas gue ya, lo cuma sapu teras doang," koreksi Dewa. "Ya sama aja, gue tetep udah nyapu!" Kekeh Bayu tidak mau kalah. "Lo aja yang buang!" "Enak aja,gamau gue!" "Lo!!" "Lo aja curut!" "Lo aja, jadi adek sesekali berbakti!" "Lo!" "Elo!" Mahesa mengusap wajahnya kasar, sangat malas rasanya meladeni mereka bertiga lagi. Emang dasarnya mereka suka memuat Mahesa emosi, untung Arya tidak ikut juga, kalo sampai itu terjadi makin pusing Mahesa meladeni empat curut sekaligus. Mahesa menendang kaleng minuman kosong di depannya dan tepat mengenai jidat Bayu. Biar tau rasa si Bayu sekali-kali. Dug "Aduh,sakit atuh bos," lirihnya sambil memegangi jidat. "Mau gue hukum lagi lo?! Cepet buang!" Pintanya tegas lalu pergi begitu saja. Mahesa merogoh saku celananya karena merasakan ponselnya bergetar. Mama Bang langsung pulang jangan mampir dulu, Nara minta di antar pergi ke mall. Mahesa y abng lsng plng. [Definisi irit ngomong dan irit ngetik] Mahesa memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, lalu berjalan menuju tempat parkir.Dari kejauhan Mahesa bisa melihat siapa yang tengah berdiri di samping motornya itu, "CK,dia lagi!" Gumam Mahesa malas. Sabar Mahesa, sabar, habis ini pulang. "Minggir," ucap Mahesa menyuruhnya menyingkir dari dekat motor hitam kesayangannya. Mecca menggeleng, "gak,gamau!" "Gue mau pulang!" Mecca menyengir antusias, "yaudah yuk!" "Siapa yang mau nganterin lo?" "Ka Mahesa," jawabnya cepat. "Gak." "Ka Mahesa ih.gak,gak,mulu. Ecca udah nungguin ka Mehesa dari tadi loh." Ucap Mecca sambil mengulum bibirnya. "Gue gak nyuruh lo nungguin gue!" "Tapi Ecca yang mau, mau pulang sama ka Mahesa makanya Ecca tungguin!" "Emang lo siapa gue minta diantar pulang? Pacar aja bukan!" "Kalo gitu yuk pacaran!" "Mimpi!" Tandas Mahesa. "Gue banyak urusan mending lo pergi!" Usir mahesa ke sekian kali. Mecca menggeleng, "enggak!" Tekannya. "Bacot. Minggir!" Ucap Mahesa penuh penekanan di setiap kata sambil menyingkirkan Mecca dari sisi motornya lalu memakai helm. Ecca menekuk wajahnya, sia-sia saja ia keluar begitu saja dari pelajaran Bu Susi tadi. Tapi sekali-kali ga papa lah ya? "Yaudah,kalo hari ini ka mahen gamau antar Ecca pulang.kapan Ka Mahesa mau antar Ecca?" "Gak,gak akan pernah terjadi!" Mahesa segera menghidupkan mesin motornya untuk lekas pergi. "TAPI ECCA YAKIN BESOK KA MAHEN PASTI ANTERIN ECCA PULANG!!!" teriak Ecca tak tau malu seperti toa masjid, udah cempreng lagi suaranya. ??? "BUNDA ,ECCA PULANG!!!" Teriak Ecca saat memasuki rumah. "Gak usah teriak-teriak Ca,suara kamu itu cempreng kayak kaleng rombeng!" Omel Mira dari arah dapur. Sudah berulang kali, Mira menasehati putrinya itu agar tidak teriak-teriak tapi namanya juga Ecca, suka ngeyel kalo dikasih tau. Untung Mira orangnya sabar punya anak modelan toa masjid. Ecca langsung menyusul Mira ke dapur dan melingkarkan tangannya ke pinggang Mira yang sedang masak. Sepertinya Bundanya itu baru saja pulang dari butik. "Bunda nya Ecca masak apa nih?" Tanya Ecca. "Masak kamu!" "Ih---bunda dosa tau, masa anak sendiri secantik Lisa black pink ini mau dimasak?" "Lisa black pink dari mana,kayak mini peri iya. udah lihat lagi tumis brokoli masih tanya lagi.sana ganti baju,bau tau gak? Malah nempel kayak gini!!" Usir Mira. "Iya, Bunda Ecca sayang.ini Ecca ganti baju." Cup Sebelum pergi, Ecca sempatkan mencium pipi kiri Mira. "Jangan lupa baju kotornya di taruh kantung plastik nanti sore kita ke laundry," peringat Mira, karena Ecca itu suka lupaan orangnya padahal masih muda. Karena hanya tinggal berdua tanpa pembantu rumah tangga, dan Mira yang harus bekerja. Pekerjaan rumah seperti mencuci baju dan menyetelika Mira serahkan pada laundry. Itung-itung mengurangi bebannya dirumah. Setelah mandi dan makan di bawah bersama Mira, Ecca memilih merebahkan tubuhnya ke atas kasur sambil mengemut permen pendekar biru kesukaannya. Bukan maksud endors, tapi Mecca memang menyukai merek itu. Mecca mengambil handphone yang ia taruh di atas bantal lalu memutar lagu sambil mengisi ke gabutannya. Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu Selalu peluh pun menetes setiap dekat kamu Kenapa salah tingkah tiap kau tatap aku Mecca menyanyikan lagu I Heart You dari sm#sh. Siapa yang disini masih kenal sm#sh angkat kaki, eh maksudnya angkat tangan. Suka typo deh. Ngomong-ngomong soal lirik lagu, Ecca tiba-tiba jadi inget Mahesa deh. Sekarang Mahesa lagi apa ya? Apa Mahesa sudah Mandi? Apa Mahesa sudah Makan? Apa Mahesa juga sedang memikirkannya? Kalo ini sih jawabannya sudah pasti tidak, meski Ecca sangat berharap sebaliknya. Ecca merubah posisinya yang awalnya terlentang menjadi tengkurap. Ia membuka aplikasi Instagramnya, mengecek apakah Mahesa sudah mengkonfirmasi akunya agar bisa menjelajahi foto Instragram milih Mahesa. Dan ternyata belum, Mahesa belum mengkonfirmasi akunya. Padahal Ecca sangat kepo dengan isi foto di i********: Mahesa. Mecca sedikit merasa kecewa. Tapi detik berikutnya ia kembali menyengir mengingat bentuk wajah Mahesa yang nyaris sempurna, apalagi sikapnya yang sok dingin itu bikin Ecca semakin gemas untuk jadi pacar Mahesa. "Apa jangan-jangan ka Mahesa oplas ya bisa ganteng banget kayak artis Korea cha Eun wo?" "Gak, gak mungkinlah. tapi---aduh ka Mahesa bisa gak sih gak muncul di otak Ecca. Ecca bisa makin lancar nih halunya!!!" Ecca meletakkan handphonenya yang masih memutar musik, ia menopang pipinya dengan kedua tangannya sambil berimajinasi gila membayangkan Mahesa. Ecca membayangkan saat Mahesa melamar dan mengucapkan akad nikah. "Saya terima nikahnya Queensha Mecca Veddira binti," Ecca menjeda sebentar lamunannya. Binti siapa ya? Ah gak penting yang penting lanjut. "Dengan maskawin motor ninja hitam kesayangan saya dibayar tunai." Sah? SAH!!!! Ecca saat ini sudah senyum-senyum sendiri seperti orang gila. "Aaa--ka Mahesa. Ecca mau dong di culik di ajak nikah, sekarang juga mau. Mau banget malahan!!! jeritnya ngelantur. Gila. Lama-lama Ecca jadi gila, Semua ini karena gara-gara Mahesa!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN