Lia membuka matanya ketika
hari sudah mulai berganti malam.
Lama sekali tidurnya. Lia turun
dari ranjang, tidak melihat
siapapun.
"Kemana Niko?" pikir Lia.
Lia memutuskan untuk mandi
terlebih dahulu. Semua kebutuhan
mandi sudah tersedia di kamar
mandi. Lia melakukan ritual
mandinya cukup lama, dia mencuci
rambutnya karena beberapa hari
ini menjadi pasien rumah sakit.
Lia ingin menangis karena begitu
merindukan sang adik. Menyesal?
Mungkin iya. Akan tetapi dia
melakukannya untuk
Menyelamatkan nyawa adiknya kala itu dan tidak ada pilihan
lainnya semoga ibunya suatu saat
nanti bisa memaafkannya.
Lia begitu lelah menangis
beberapa hari ini. Dia harus
melanjutkan hidupnya dan
mencari pekerjaan. Bagaimana
dengan sekolahnya mungkin dia
akan mengajukan cuti saja, tidak
mungkin dia pergi kesekolah
dimana ada Nayra. Lia yakin
sekarang Nayra pasti
membencinya.
Lia sudah selesai ritual mandinya
dan sudah mengganti pakaiannya
dengan pakaian yang ada dalam
ranselnya, pakaian miliknya
sendiri dengan uang yang dia
hasilkan dari cara yang halal.
Lia keluar dari kamar, dia
celingak-celinguk
melihat
kesekelilingnya tidak ada siapa.
Dia langsung menuju kearah
dapur, betapa Lia terkejut ada
seorang wanita sudah berumur
paruh baya sedang berkutat
dengan alat-alat dapur. Menyadari
ada seseorang datang si mbok
membalikan badannya dengan
memasang senyum ramah.
"Nona Lia anda sudah bangun?"
ucap Si mbok dengan sopan.
"Nona duduk dulu mbok sudah
buatkan makan malam. Tadi tuan
Niko bilang pulang kerumah
kemungkinan akan menginap di
rumah besar kata tuan ada sesuatu
yang harus tuan selesaikan,"
imbuh si mbok menyampaikan
pesan yang tadi majikannya
katakan
Lia hanya mengangguk, dia juga
gak tau harus bilang apa.
"Mbok biar Lia bantu," Lia
mendekati si mbok.
"Gak usah non semua sudah
selesai," sahut si mbok. Lia
memang melihat ada beraneka
ragam makanan diatas meja
tinggal dipindahkan ke meja
makan.
Si mbok sedang mencuci peralatan
yang habis di pakai. Lia menata
makanan itu di atas meja makan,
padahal si mbok sudah
melarangnya. Lia sudah biasa
melakukan hal seperti ini
dirumahnya bahkan dia yang
menyiapkan makanan untuk ibu
dan adiknya, karena ibunya lelah
datang dari bekerja padahal Lia
juga bekerja paruh waktu di cafe
Lia melihat makanan diatas meja
makan, dia jadi teringat sama
adiknya, apakah adiknya sudah
makan mengingat sang ibu paling
tidak pernah masak dan ibunya
juga sering pulang malam hari kata
ibunya lembur. Saat itu Deon
masih sehat dia bisa membuat nasi
goreng sendiri atau buat mie
instan tapi sekarang Deon duduk
belum bisa berjalan. Tanpa terasa
air matanya kembali mengalir
keluar dari pelupuk matanya.
"Kenapa menangis?" tanya Niko
yang sudah ada di ruang makan.
Lia terdiam, Niko langsung
menghampirinya memeluk
gadisnya.
"Katakan, kamu
mikirin apa?" tanya Niko sembari
mengusap lembut punggungnya.
"Deon?" Lia tak kuasa
menahannya dia menceritakan
semuanya.
Niko mengambil ponselnya di saku
celananya mengirim pesan ke
Bram.
~Cek kondisi Deon. Jika hidupnya
tidak layak bawa dia ke
apartemen.~
Niko memasukan ponselnya lagi
kedalam saku celana.
"Bram akan mengecek keadaan
Deon," ucap Niko menenangkan
Lia
"Makasih,sudah peduli
sama kami," ucap Lia.
"aku mencintai kamu. aku
pasti akan melakukan hal yang
terbaik untuk kamu," sahut Niko,
entah kenapa hati Lia menjadi
berbunga-bunga, apakah dirinya
jatuh cinta kepada pria dewasa ini,
bahkan umur mereka terpaut 23
tahun. seusia umur orang tuanya
"Lia sayang kita makan malam
dulu ya. Sambil menunggu kabar
dari Bram," ajak Niko. Hati Lia
menjadi lebih tenang.
Lia duduk disamping Niko dan
mengambilkan makanan untuk
laki-laki dewasa itu. Terlihat
seperti sepasang suami istri.
"Jangan terlalu banyak sayang."
"kamu takut gemuk ya kan
tiap hari bekerja jadi makannya
harus banyak biar ada tenaga,"
ucap Lia seperti emak-emak saja.
Niko malah senang merasa
mendapat perhatian seperti ini,
tidak seperti tadi dirumahnya yang
penuh dengan pertengahan. Otak
Nayra dan ibunya sudah di cuci
oleh Zara wanita licik itu.
*
"Bu, Deon laper masak dari tadi
siang ibu gak masak," keluh Deon
yang duduk di kursi roda.
Kamu tau sendiri ibu paling gak
suka masak. Kamu tau ibu lagi
pusing gak sudah gak kerja,
kakakmu bikin masalah, ayahmu
itu gak bertanggungjawab sama
sekali," teriak Nuri dengan kesal.
Sebulan ini kehidupannya di
rumah sakit begitu nyaman tingal
telpon makanan sudah datang
tanpa harus mengeluarkan uang.
Uang yang di kasih oleh Nayra
sudah diberikan oleh Lia kepada
ibunya.
"Sekarang aku mesti makan apa
Bu?" tanya Deon yang duduk di
kursi roda.
"Masak Mie sendiri," ujar sang ibu.
"Gimana Deon bisa masak Mie.
Deon blom bisa berdiri Bu," sahut
Deon.
Siapa suruh kamu kurang
hati-hati jadinya kecelakaan kayak
gini. Sudah ngabisin uang banyak
ngerepotin," omel ibunya sampai
yang berada di luar pintu
rumahnya bisa mendengarkan
semuanya.
"Itu kan bukan salah aku ibu. Aku
menyebrang jalan waktu jalan
sudah sepi tapi mobil itu_"
"Sudah jangan banyak protes ibu
mau keluar sudah ada janji sama
temen," potong ibunya yang sedari
tadi sibuk dengan ponselnya.
Nuri sudah terlihat cantik, dia
sudah ada janji dengan seseorang
yang akan menjemputnya
kemungkinan besar akan
menginap.
"Ibu mungkin gak akan pulang
beberapa hari kamu makan yang
ada dirumah saja," seru ibunya.
Deon begitu sedih biasanya
kakaknya yang selalu ada
untuknya. Dia tidak tau apa yang
akan dia lakukan dengan kondisi
seperti ini.
Terdengar pintu di ketuk oleh
seorang dari luar, Nuri berfikir
yang mengetuk pintunya orang
yang dia tunggu.
CLEKKK
"Sa_" Lidah Nuri langsung kaku
melihat sosok yang berdiri didepan
pintu. Sosok yang tidak dia
harapkan.
Tak berselang beberapa detik
turun seorang pria buncit
mendekati mereka
" Kamu sudah siap sayang."
Bram mengerutkan keningnya. Ibu
Nuri seakan kebingungan.
Laki-laki berperut buncit itu
melihat kearah Bram. Tentunya
wajah Bram tidak asing bagi kaum
pembisnis.
"Bukankah Anda pak Bram, asisten
pak Niko," seru laki-laki itu begitu
bahagia bisa bertemu dengan
sosok asisten elit itu. Bram tidak
mau meladeni laki-laki itu, dia
fokus dengan tugasnya.
"Saya akan membawa Deon. Saya
sudah mendengar semuanya."
ucap Bram dingin.
"Anda tidak bisa membawanya
Deon putra saya," sahutnya dengan
berani. Laki-laki tua itu tidak
mengerti apa yang terjadi
" Masih bisa menyebut diri sebagai
orang tua. Saya bisa melaporkan
anda atas penelantaran," ancam
Bram yang langsung membuat
Nuri ketakutan.
"Anda tidak punya bukti," tantang
Nuri meski dia ketakutan.
"Mau dengar buktinya saya bisa
merendengarkan rekamannya
kepada anda," sahut Bram dingin
mbuat Nuri langsung bungkam.
Bram langsung masuk kedalam,
betapa sedihnya Bram melihat
Deon yang sedang duduk di kursi
roda dengan mangkok di
pangkuannya meremas mie instan
mengisinya dengan air panas.
Makanan yang mestinya harus
direbus dan tidak cocok untuk
kondisi kesehatan Bram yang baru
pulang dari rumah sakit. Bram
tidak memiliki seorang adik dan
dia begitu berharap memiliki
seorang adik. Ayahnya meninggal
sakit sewaktu dia kecil, ibunya
pasti senang jika Bram membawa
Deon kerumahnya, ibu Bram
sangat penyayang.
"Deon ikut kakak, kita makan
diluar," Bram mengambil
mangkuk dipangkuan Deon
meletakkannya sembarangan.
"Besok kak Bram akan bawa kamu
menemui kakakmu Lia," ucap
Bram yang tentunya membuat
Deon senang.
*
Niko berada di kamar tamu
bersama Lia sambil menonton
televisi sedang Niko sibuk dengan
laptopnya. Niko seorang
workaholic selama ini makanya
perusahaan sang ayah berkembang
pesat di bawah kepemimpinannya
dan menjadikan perusahaan itu
mengurita sampai keluar negeri.
Sedangkan Lia masih memikirkan
keadaan adiknya.
Ponsel Niko berbunyi, panggilan
yang berasal dari asistennya. Niko
mengangkatnya mendengarkan
semua cerita dari asistennya.
Cukup terkejut Niko
mendengarkannya. Niko menjadi
tenang setelah mendengar Deon
ada dirumah Bram bersama ibu
Bram yang Niko tau sangat
menyayangi anak-anak. Deon akan
aman disana. Niko tentunya akan
menanggung semua biayanya.
"Ada apa ?" tanya Lia
penasaran.
Niko meletakkan ponselnya dan
laptopnya terlebih dahulu di atas
meja. Niko menepuk-nepuk sofa
disebelahnya meminta Lia lebih
mendekat.
"Lia, apa kamu tau ibumu
memiliki hubungan dengan
seseorang dan tidak pernah
memberikan perhatian kepada
Deon," ucap Niko yang tentunya
membuat Lia begitu terkejut
"Ibu memang sering pulang malam
bahkan beberapa kali menginap,
itu karena tugas dari kantor,"
sahut Lia polos.
Niko menceritakan semuanya yang
dia dengar dari Bram bahkan detik
itu Bram langsung menyelidiki
semuanya dan fakta sudah jelas
jika ibu Lia memiliki pekerjaan
sampingan. Lia begitu terkejut
dengan fakta yang Niko beberkan.
Niko menghapus air matanya.
Semakin besar keinginan Niko
melindungi Lia dan juga adiknya.
Untuk sementara Deon akan
dititipkan Bram agar proses
kesembuhan Deon tak tertunda.
"Lia, aku akan menikahi kamu
dalam waktu dekat ini, setelah
penandatangan proyek baru ini,
setelah itu biar Bram yang urus
kedepannya," ucap Niko dengan
penuh keyakinan.
"Menikah?" Lia kebingungan.
"Iya sayang. Kita akan menikah,"
tegas Niko .
"Tapi Nayra?"
Lia kebingungan. Bagaimana
dengan sahabatnya. Haruskah dia
menghancurkan mimpi sahabat
karibnya. Lia tidak menjawab,
pikirannya kacau. Haruskah dia
menjadi penyebab renggangnya
hubungan ayah dan anak?.