Menikah

1381 Kata
Lia membuka matanya ketika hari sudah mulai berganti malam. Lama sekali tidurnya. Lia turun dari ranjang, tidak melihat siapapun. "Kemana Niko?" pikir Lia. Lia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Semua kebutuhan mandi sudah tersedia di kamar mandi. Lia melakukan ritual mandinya cukup lama, dia mencuci rambutnya karena beberapa hari ini menjadi pasien rumah sakit. Lia ingin menangis karena begitu merindukan sang adik. Menyesal? Mungkin iya. Akan tetapi dia melakukannya untuk Menyelamatkan nyawa adiknya kala itu dan tidak ada pilihan lainnya semoga ibunya suatu saat nanti bisa memaafkannya. Lia begitu lelah menangis beberapa hari ini. Dia harus melanjutkan hidupnya dan mencari pekerjaan. Bagaimana dengan sekolahnya mungkin dia akan mengajukan cuti saja, tidak mungkin dia pergi kesekolah dimana ada Nayra. Lia yakin sekarang Nayra pasti membencinya. Lia sudah selesai ritual mandinya dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ada dalam ranselnya, pakaian miliknya sendiri dengan uang yang dia hasilkan dari cara yang halal. Lia keluar dari kamar, dia celingak-celinguk melihat kesekelilingnya tidak ada siapa. Dia langsung menuju kearah dapur, betapa Lia terkejut ada seorang wanita sudah berumur paruh baya sedang berkutat dengan alat-alat dapur. Menyadari ada seseorang datang si mbok membalikan badannya dengan memasang senyum ramah. "Nona Lia anda sudah bangun?" ucap Si mbok dengan sopan. "Nona duduk dulu mbok sudah buatkan makan malam. Tadi tuan Niko bilang pulang kerumah kemungkinan akan menginap di rumah besar kata tuan ada sesuatu yang harus tuan selesaikan," imbuh si mbok menyampaikan pesan yang tadi majikannya katakan Lia hanya mengangguk, dia juga gak tau harus bilang apa. "Mbok biar Lia bantu," Lia mendekati si mbok. "Gak usah non semua sudah selesai," sahut si mbok. Lia memang melihat ada beraneka ragam makanan diatas meja tinggal dipindahkan ke meja makan. Si mbok sedang mencuci peralatan yang habis di pakai. Lia menata makanan itu di atas meja makan, padahal si mbok sudah melarangnya. Lia sudah biasa melakukan hal seperti ini dirumahnya bahkan dia yang menyiapkan makanan untuk ibu dan adiknya, karena ibunya lelah datang dari bekerja padahal Lia juga bekerja paruh waktu di cafe Lia melihat makanan diatas meja makan, dia jadi teringat sama adiknya, apakah adiknya sudah makan mengingat sang ibu paling tidak pernah masak dan ibunya juga sering pulang malam hari kata ibunya lembur. Saat itu Deon masih sehat dia bisa membuat nasi goreng sendiri atau buat mie instan tapi sekarang Deon duduk belum bisa berjalan. Tanpa terasa air matanya kembali mengalir keluar dari pelupuk matanya. "Kenapa menangis?" tanya Niko yang sudah ada di ruang makan. Lia terdiam, Niko langsung menghampirinya memeluk gadisnya. "Katakan, kamu mikirin apa?" tanya Niko sembari mengusap lembut punggungnya. "Deon?" Lia tak kuasa menahannya dia menceritakan semuanya. Niko mengambil ponselnya di saku celananya mengirim pesan ke Bram. ~Cek kondisi Deon. Jika hidupnya tidak layak bawa dia ke apartemen.~ Niko memasukan ponselnya lagi kedalam saku celana. "Bram akan mengecek keadaan Deon," ucap Niko menenangkan Lia "Makasih,sudah peduli sama kami," ucap Lia. "aku mencintai kamu. aku pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk kamu," sahut Niko, entah kenapa hati Lia menjadi berbunga-bunga, apakah dirinya jatuh cinta kepada pria dewasa ini, bahkan umur mereka terpaut 23 tahun. seusia umur orang tuanya "Lia sayang kita makan malam dulu ya. Sambil menunggu kabar dari Bram," ajak Niko. Hati Lia menjadi lebih tenang. Lia duduk disamping Niko dan mengambilkan makanan untuk laki-laki dewasa itu. Terlihat seperti sepasang suami istri. "Jangan terlalu banyak sayang." "kamu takut gemuk ya kan tiap hari bekerja jadi makannya harus banyak biar ada tenaga," ucap Lia seperti emak-emak saja. Niko malah senang merasa mendapat perhatian seperti ini, tidak seperti tadi dirumahnya yang penuh dengan pertengahan. Otak Nayra dan ibunya sudah di cuci oleh Zara wanita licik itu. * "Bu, Deon laper masak dari tadi siang ibu gak masak," keluh Deon yang duduk di kursi roda. Kamu tau sendiri ibu paling gak suka masak. Kamu tau ibu lagi pusing gak sudah gak kerja, kakakmu bikin masalah, ayahmu itu gak bertanggungjawab sama sekali," teriak Nuri dengan kesal. Sebulan ini kehidupannya di rumah sakit begitu nyaman tingal telpon makanan sudah datang tanpa harus mengeluarkan uang. Uang yang di kasih oleh Nayra sudah diberikan oleh Lia kepada ibunya. "Sekarang aku mesti makan apa Bu?" tanya Deon yang duduk di kursi roda. "Masak Mie sendiri," ujar sang ibu. "Gimana Deon bisa masak Mie. Deon blom bisa berdiri Bu," sahut Deon. Siapa suruh kamu kurang hati-hati jadinya kecelakaan kayak gini. Sudah ngabisin uang banyak ngerepotin," omel ibunya sampai yang berada di luar pintu rumahnya bisa mendengarkan semuanya. "Itu kan bukan salah aku ibu. Aku menyebrang jalan waktu jalan sudah sepi tapi mobil itu_" "Sudah jangan banyak protes ibu mau keluar sudah ada janji sama temen," potong ibunya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Nuri sudah terlihat cantik, dia sudah ada janji dengan seseorang yang akan menjemputnya kemungkinan besar akan menginap. "Ibu mungkin gak akan pulang beberapa hari kamu makan yang ada dirumah saja," seru ibunya. Deon begitu sedih biasanya kakaknya yang selalu ada untuknya. Dia tidak tau apa yang akan dia lakukan dengan kondisi seperti ini. Terdengar pintu di ketuk oleh seorang dari luar, Nuri berfikir yang mengetuk pintunya orang yang dia tunggu. CLEKKK "Sa_" Lidah Nuri langsung kaku melihat sosok yang berdiri didepan pintu. Sosok yang tidak dia harapkan. Tak berselang beberapa detik turun seorang pria buncit mendekati mereka " Kamu sudah siap sayang." Bram mengerutkan keningnya. Ibu Nuri seakan kebingungan. Laki-laki berperut buncit itu melihat kearah Bram. Tentunya wajah Bram tidak asing bagi kaum pembisnis. "Bukankah Anda pak Bram, asisten pak Niko," seru laki-laki itu begitu bahagia bisa bertemu dengan sosok asisten elit itu. Bram tidak mau meladeni laki-laki itu, dia fokus dengan tugasnya. "Saya akan membawa Deon. Saya sudah mendengar semuanya." ucap Bram dingin. "Anda tidak bisa membawanya Deon putra saya," sahutnya dengan berani. Laki-laki tua itu tidak mengerti apa yang terjadi " Masih bisa menyebut diri sebagai orang tua. Saya bisa melaporkan anda atas penelantaran," ancam Bram yang langsung membuat Nuri ketakutan. "Anda tidak punya bukti," tantang Nuri meski dia ketakutan. "Mau dengar buktinya saya bisa merendengarkan rekamannya kepada anda," sahut Bram dingin mbuat Nuri langsung bungkam. Bram langsung masuk kedalam, betapa sedihnya Bram melihat Deon yang sedang duduk di kursi roda dengan mangkok di pangkuannya meremas mie instan mengisinya dengan air panas. Makanan yang mestinya harus direbus dan tidak cocok untuk kondisi kesehatan Bram yang baru pulang dari rumah sakit. Bram tidak memiliki seorang adik dan dia begitu berharap memiliki seorang adik. Ayahnya meninggal sakit sewaktu dia kecil, ibunya pasti senang jika Bram membawa Deon kerumahnya, ibu Bram sangat penyayang. "Deon ikut kakak, kita makan diluar," Bram mengambil mangkuk dipangkuan Deon meletakkannya sembarangan. "Besok kak Bram akan bawa kamu menemui kakakmu Lia," ucap Bram yang tentunya membuat Deon senang. * Niko berada di kamar tamu bersama Lia sambil menonton televisi sedang Niko sibuk dengan laptopnya. Niko seorang workaholic selama ini makanya perusahaan sang ayah berkembang pesat di bawah kepemimpinannya dan menjadikan perusahaan itu mengurita sampai keluar negeri. Sedangkan Lia masih memikirkan keadaan adiknya. Ponsel Niko berbunyi, panggilan yang berasal dari asistennya. Niko mengangkatnya mendengarkan semua cerita dari asistennya. Cukup terkejut Niko mendengarkannya. Niko menjadi tenang setelah mendengar Deon ada dirumah Bram bersama ibu Bram yang Niko tau sangat menyayangi anak-anak. Deon akan aman disana. Niko tentunya akan menanggung semua biayanya. "Ada apa ?" tanya Lia penasaran. Niko meletakkan ponselnya dan laptopnya terlebih dahulu di atas meja. Niko menepuk-nepuk sofa disebelahnya meminta Lia lebih mendekat. "Lia, apa kamu tau ibumu memiliki hubungan dengan seseorang dan tidak pernah memberikan perhatian kepada Deon," ucap Niko yang tentunya membuat Lia begitu terkejut "Ibu memang sering pulang malam bahkan beberapa kali menginap, itu karena tugas dari kantor," sahut Lia polos. Niko menceritakan semuanya yang dia dengar dari Bram bahkan detik itu Bram langsung menyelidiki semuanya dan fakta sudah jelas jika ibu Lia memiliki pekerjaan sampingan. Lia begitu terkejut dengan fakta yang Niko beberkan. Niko menghapus air matanya. Semakin besar keinginan Niko melindungi Lia dan juga adiknya. Untuk sementara Deon akan dititipkan Bram agar proses kesembuhan Deon tak tertunda. "Lia, aku akan menikahi kamu dalam waktu dekat ini, setelah penandatangan proyek baru ini, setelah itu biar Bram yang urus kedepannya," ucap Niko dengan penuh keyakinan. "Menikah?" Lia kebingungan. "Iya sayang. Kita akan menikah," tegas Niko . "Tapi Nayra?" Lia kebingungan. Bagaimana dengan sahabatnya. Haruskah dia menghancurkan mimpi sahabat karibnya. Lia tidak menjawab, pikirannya kacau. Haruskah dia menjadi penyebab renggangnya hubungan ayah dan anak?.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN