Lia menjadi lebih tenang setelah
bertemu dengan adiknya di rumah
Bram. Deon diperlakukan sangat baik
oleh ibunya Bram, Deon yang
sangat pengertian dan tidak ingin
merepotkan kakaknya untuk
sementara mau tinggal di tempat
Bram. Niko akan membiayai hidup
Deon dan pengobatannya sampai
tuntas. Awalnya Lia tidak setuju,
setelah melihat ibunya Bram
memperlakukan adiknya dengan
baik terlebih daddy Niko begitu
mempercayai keluarga itu.
Lia berkali-kali menghubungi
ibunya namun tidak ada jawaban
dari sang ibu. Lia juga
menghubungi ayahnya tetapi yang
mengangkatnya adalah ibu tirinya.
Mereka tidak mau menerima Deon
dan juga Lia. Miris banget
kehidupan dua anak ini.
"Sayang, percaya sama aku
Deon akan bahagia tinggal
bersama Bram dan ibunya. Kamu
bisa liatkan tadi bagaimana
mereka memperlakukan Deon.
Disana Deon akan lebih terurus
apalagi Bram ingin sekali memiliki
seorang adik," ucap Niko
yang baru saja mengantar Lia
menemui Deon di rumah Bram.
"Jadi apa yang kamu sedihkan
lagi?" tanya Niko lagi.
"Lia sedih kenapa ibu sama
bapak tidak menginginkan kami."
Niko menarik Lia kedalam
pelukannya. "Tapi aku
menginginkanmu, jangan bersedih
lagi. aku akan
membahagiakanmu," ucap Niko
lembut.
"Nanti kita hadapi semua masalah
yang akan menghampiri kita
bersama," Niko membelai
rambut Lia.
Lia masih tidak yakin, dia masih
ragu apa keputusan menikah
dengan Niko itu benar. Bagaimana
dengan Nayra?
"Lia sayang, kamu kenapa?" tanya
Niko melihat Lia melamun.
"Kamu tidur dulu, bentar lagi
aku susul. aku harus
selesaikan ini dulu," Lia beranjak
dari tempat duduknya, menuju
kekamarnya. Lia memang cukup
lelah menanti Deon seharian di
rumahnya Bram.
Dengan cepat Lia terlelap. Waktu
sudah menunjukan pukul sebelas
malam, Niko baru menyelesaikan
pekerjaannya, dia begitu
merindukan Lia. Niko pergi
kekamar, Lia sudah tertidur lelap.
Niko memutuskan untuk mandi
terlebih dahulu.
Selesai mandi, Niko naik keatas
ranjang, mengamati betapa
cantiknya wajah Lia. Niko
mengelus pipinya membuat tidur
Lia terusik. Lia membuka
matanya, sosok tampan Niko begitu
dekat dengannya, kedua netra
mereka saling mengunci.
"Lia, Apa boleh
menyentuhmu?" tanya Niko yang
tidak ingin memaksakan
kehendaknya.
Cukup lama Lia tidak menjawab,
pada akhirnya dia mengangguk
juga.
"aku begitu merindukan kamu."
Niko langsung menarik
tengkuk Lia lalu menyatukan
bibirnya melumat bibir ranum
yang begitu manis dia rasakan.
Lidah Niko yang sudah expert
menari-nari didalam rongga mulut
Lia. Lidah mereka saling
membelit dan saling bertukar
saliva, decakan begitu jelas
terdengar.
Bibir panas Niko menuruni leher
putih Lia, meningalkan jejak
kepemilikan di sana. Lia
merinding, dia yang minim
pengalaman tentu saja tidak bisa
menguasai dirinya. Apalagi tangan
Niko sudah melepaskan pakaian
yang dia kenakan dan
membuangnya kesembarang
tempat yang hanya tersisa Bra dan
Celana yang menutupi bagian
intinya. Sepersekian detik Bra itu
sudah melayang entah kemana.
"...." Desahan Lia mulai
terdengar ditelinga Niko. Desahan
yang begitu dia rindukan beberapa
hari ini.
Niko seperti seorang bayi
kelaparan, dia terus bermain pada
puncak berwarna pick milik Lia,
kadang menggigit kecil pada
bagian ini membuat pemiliknya
meringis, sakit bercampur nikmat.
"Aoughhh ," lirihnya.
Tangan Niko terus meremas dan
lidahnya terus bermain di bagian
gundukan kenyal membuat Lia
yang berada di bawah kuasa Niko
terus mendesah. Lia bisa
merasakan ada bagian dari tubuh
laki-laki dewasa diatasnya
mengeras, tentu saja Lia
mengetahui bagian itu. Bagian itu
sudah beberapa memasuki bagian
intinya.
Lidah Niko kembali menjelajahi
bagian sensitif Lia mulai turun
kebawah menari-nari di bagian
perutnya, lalu terus kebawah
sampai ke ujung kaki dan jari
jemarinya. Wajah Lia bersemi
merah antara malu atau tidak lagi
bisa menahan hasratnya.
"Lia, kamu suka permainan
ini" tanyanya parau, Niko juga
sudah tidak bisa mengendalikan
dirinya, namun dia ingin
memberikan kepuasan terlebih
dahulu untuk gadisnya yang lugu
tapi membuatnya sangat
bergairah.
"oughhh.…....'
Tangan Lia mencengkram rambut
Niko, namun Niko sama sekali tidak
merasakan sakit justru dia
semakin menggoda bagian inti
Lia dengan lidahnya yang panas,
tangan Niko terus menusuk-nusuk
bagian tersebut.
Niko tersenyum dibawah sana
mendengar gadisnya terus
mendesah dan memanggil
namanya disaat mendapatkan
pelepasannya.
" Niko... Lia gak kuat lagi,
berhenti Lia mau keluar,"
racau Lia terus menerus.
"Keluarkan saja baby!!"
Niko mensejajarkan wajah mereka
menatap lekat wajah gadisnya yang
sudah mendapatkan pelepasannya
berkali-kali.
"Mau manjain punya aku seperti
yang aku lakukan."
Lia yang minim pengalaman tidak
mengerti caranya.
"Lia gak ngerti " Niko
menyunggingkan senyumannya,
begitu polos banget calon istrinya
ini.
Niko meraih tangan Lia lalu
memintanya melakukan pijitan
pada miliknya yang sudah berdiri
tegak dengan ukuran big size,
mirip ular piton.
"Sayang, pakai bibirmu, lakukan
seperti kamu menikmati permen
lollipop," Niko mengajari calon
istrinya dengan sabar.
Lia gadis yang sangat pintar.
Tentu saja dia langsung bisa
mengerti.
"Lia sayang, enak banget aku
suka, terus lakukan," racau Niko
menikmati servis bibir yang Lia
lakukan pada miliknya.
Cukup lama Lia melakukannya,
membuat Niko tidak tahan lagi
untuk penyatuan mereka.
Niko mengangkat kedua kaki Lia
dan menutun miliknya yang
sebesar ular piton masuki bagian
inti yang masih begitu sempit
milik Lia.
"auugh..." pekik Lia begitu
bagian intinya dipenuhi milik Niko.
"Sakit sayang?" tanya Niko
sebelum memulai tarian erotisnya.
"Udah gak ."
Niko mulai mengerjakan
pinggulnya, dia penari yang sangat
sudah berpengalaman. Niko
kembali menautkan bibir mereka
tanpa berhenti memompa milik
Lia di bawah sana.
Suara desahan dan erangan
memenuhi ruangan itu. Ruangan
itu jadi saksi bisu percintaan panas
mereka. Berkali-kali Lia
mendapatkan puncaknya yang
menguras tenaganya, Niko terus
mengajarkan banyak gaya kepada
Lia, Niko begitu gagah. Walaupun
usianya 43 tahun tetap tidak kalah
dengan usia anak muda. Kalo dari
segi ketampanan Niko tidak kalah
dari para model.
Mereka berdua terus menggapai
surga dunia bersama. Niko
semakin menambah kecepatannya,
temponya semakin naik.
"Lia sayang aku mau keluar,"
erangan Niko begitu gagahnya.
Niko mempercepat gerakannya
sampai cairan hangat keluar Ndari
tubuhnya memenuhi bagian inti
Lia yang lembab.
Niko ambruk diatas tubuh Lia.
Mereka saling berpelukan,
menyalurkan rasa yang mereka
rasa.
"Aku Cinta kamu," ucap Lia.
Niko yang mendengar pernyataan
Lia begitu terkejut sekaligus
senang. Akhirnya cintanya terbalas
juga.
Niko mengangkat tubuhnya,
matanya menatap lekat gadis yang
berada dibawah kumkumannya,
mengamati wajah gadis itu
mencari kejujurannya.
"Ulangi lagi sayang," pinta Niko
yang belum mempercayai
sepenuhnya pendengarannya.
"Ulangi yang mana ?" tanya
Lia dengan lugunya.
"Kata yang terakhir sayang," pinta
Niko lagi.
Wajah Lia bersemu merah dia
begitu malu mengulanginya lagi.
"Lia malu ."
"Please...
"Lia cinta kamu," ucapnya kali ini
begitu penuh keyakinan.
Niko yang begitu bahagia
menciumi wajah Lia . Dia begitu
sangat bahagia.
Besok Pak Niko banyak sekali
jadwal padat sampai seminggu
kedepan," lapor seseorang pada
majikannya siapa lagi kalo bukan
Zara.
Zara tersenyum puas, tidak
percuma dia mengeluarkan uang
banyak.
"Niko , aku memilih kartu matimu,
aku yakin bisa dapetin kamu," Zara
menyesap winenya sembari
tersenyum.
"Niko , silahkan kalian
bersenang-senang dulu.
Ketenangan sebelum badai
datang."
"Putri kamu sendiri yang akan
bertindak. Aku hanya menekan
remote saja. Nayra pasti akan
mengikuti semua yang aku
inginkan.
Zara tertawa sendirian di
rumahnya, dia begitu yakin dengan
rencananya.
"Tak akan lama lagi!!"