Ketenangan Sebelum Badai Datang

1109 Kata
Lia menjadi lebih tenang setelah bertemu dengan adiknya di rumah Bram. Deon diperlakukan sangat baik oleh ibunya Bram, Deon yang sangat pengertian dan tidak ingin merepotkan kakaknya untuk sementara mau tinggal di tempat Bram. Niko akan membiayai hidup Deon dan pengobatannya sampai tuntas. Awalnya Lia tidak setuju, setelah melihat ibunya Bram memperlakukan adiknya dengan baik terlebih daddy Niko begitu mempercayai keluarga itu. Lia berkali-kali menghubungi ibunya namun tidak ada jawaban dari sang ibu. Lia juga menghubungi ayahnya tetapi yang mengangkatnya adalah ibu tirinya. Mereka tidak mau menerima Deon dan juga Lia. Miris banget kehidupan dua anak ini. "Sayang, percaya sama aku Deon akan bahagia tinggal bersama Bram dan ibunya. Kamu bisa liatkan tadi bagaimana mereka memperlakukan Deon. Disana Deon akan lebih terurus apalagi Bram ingin sekali memiliki seorang adik," ucap Niko yang baru saja mengantar Lia menemui Deon di rumah Bram. "Jadi apa yang kamu sedihkan lagi?" tanya Niko lagi. "Lia sedih kenapa ibu sama bapak tidak menginginkan kami." Niko menarik Lia kedalam pelukannya. "Tapi aku menginginkanmu, jangan bersedih lagi. aku akan membahagiakanmu," ucap Niko lembut. "Nanti kita hadapi semua masalah yang akan menghampiri kita bersama," Niko membelai rambut Lia. Lia masih tidak yakin, dia masih ragu apa keputusan menikah dengan Niko itu benar. Bagaimana dengan Nayra? "Lia sayang, kamu kenapa?" tanya Niko melihat Lia melamun. "Kamu tidur dulu, bentar lagi aku susul. aku harus selesaikan ini dulu," Lia beranjak dari tempat duduknya, menuju kekamarnya. Lia memang cukup lelah menanti Deon seharian di rumahnya Bram. Dengan cepat Lia terlelap. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, Niko baru menyelesaikan pekerjaannya, dia begitu merindukan Lia. Niko pergi kekamar, Lia sudah tertidur lelap. Niko memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, Niko naik keatas ranjang, mengamati betapa cantiknya wajah Lia. Niko mengelus pipinya membuat tidur Lia terusik. Lia membuka matanya, sosok tampan Niko begitu dekat dengannya, kedua netra mereka saling mengunci. "Lia, Apa boleh menyentuhmu?" tanya Niko yang tidak ingin memaksakan kehendaknya. Cukup lama Lia tidak menjawab, pada akhirnya dia mengangguk juga. "aku begitu merindukan kamu." Niko langsung menarik tengkuk Lia lalu menyatukan bibirnya melumat bibir ranum yang begitu manis dia rasakan. Lidah Niko yang sudah expert menari-nari didalam rongga mulut Lia. Lidah mereka saling membelit dan saling bertukar saliva, decakan begitu jelas terdengar. Bibir panas Niko menuruni leher putih Lia, meningalkan jejak kepemilikan di sana. Lia merinding, dia yang minim pengalaman tentu saja tidak bisa menguasai dirinya. Apalagi tangan Niko sudah melepaskan pakaian yang dia kenakan dan membuangnya kesembarang tempat yang hanya tersisa Bra dan Celana yang menutupi bagian intinya. Sepersekian detik Bra itu sudah melayang entah kemana. "...." Desahan Lia mulai terdengar ditelinga Niko. Desahan yang begitu dia rindukan beberapa hari ini. Niko seperti seorang bayi kelaparan, dia terus bermain pada puncak berwarna pick milik Lia, kadang menggigit kecil pada bagian ini membuat pemiliknya meringis, sakit bercampur nikmat. "Aoughhh ," lirihnya. Tangan Niko terus meremas dan lidahnya terus bermain di bagian gundukan kenyal membuat Lia yang berada di bawah kuasa Niko terus mendesah. Lia bisa merasakan ada bagian dari tubuh laki-laki dewasa diatasnya mengeras, tentu saja Lia mengetahui bagian itu. Bagian itu sudah beberapa memasuki bagian intinya. Lidah Niko kembali menjelajahi bagian sensitif Lia mulai turun kebawah menari-nari di bagian perutnya, lalu terus kebawah sampai ke ujung kaki dan jari jemarinya. Wajah Lia bersemi merah antara malu atau tidak lagi bisa menahan hasratnya. "Lia, kamu suka permainan ini" tanyanya parau, Niko juga sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, namun dia ingin memberikan kepuasan terlebih dahulu untuk gadisnya yang lugu tapi membuatnya sangat bergairah. "oughhh.…....' Tangan Lia mencengkram rambut Niko, namun Niko sama sekali tidak merasakan sakit justru dia semakin menggoda bagian inti Lia dengan lidahnya yang panas, tangan Niko terus menusuk-nusuk bagian tersebut. Niko tersenyum dibawah sana mendengar gadisnya terus mendesah dan memanggil namanya disaat mendapatkan pelepasannya. " Niko... Lia gak kuat lagi, berhenti Lia mau keluar," racau Lia terus menerus. "Keluarkan saja baby!!" Niko mensejajarkan wajah mereka menatap lekat wajah gadisnya yang sudah mendapatkan pelepasannya berkali-kali. "Mau manjain punya aku seperti yang aku lakukan." Lia yang minim pengalaman tidak mengerti caranya. "Lia gak ngerti " Niko menyunggingkan senyumannya, begitu polos banget calon istrinya ini. Niko meraih tangan Lia lalu memintanya melakukan pijitan pada miliknya yang sudah berdiri tegak dengan ukuran big size, mirip ular piton. "Sayang, pakai bibirmu, lakukan seperti kamu menikmati permen lollipop," Niko mengajari calon istrinya dengan sabar. Lia gadis yang sangat pintar. Tentu saja dia langsung bisa mengerti. "Lia sayang, enak banget aku suka, terus lakukan," racau Niko menikmati servis bibir yang Lia lakukan pada miliknya. Cukup lama Lia melakukannya, membuat Niko tidak tahan lagi untuk penyatuan mereka. Niko mengangkat kedua kaki Lia dan menutun miliknya yang sebesar ular piton masuki bagian inti yang masih begitu sempit milik Lia. "auugh..." pekik Lia begitu bagian intinya dipenuhi milik Niko. "Sakit sayang?" tanya Niko sebelum memulai tarian erotisnya. "Udah gak ." Niko mulai mengerjakan pinggulnya, dia penari yang sangat sudah berpengalaman. Niko kembali menautkan bibir mereka tanpa berhenti memompa milik Lia di bawah sana. Suara desahan dan erangan memenuhi ruangan itu. Ruangan itu jadi saksi bisu percintaan panas mereka. Berkali-kali Lia mendapatkan puncaknya yang menguras tenaganya, Niko terus mengajarkan banyak gaya kepada Lia, Niko begitu gagah. Walaupun usianya 43 tahun tetap tidak kalah dengan usia anak muda. Kalo dari segi ketampanan Niko tidak kalah dari para model. Mereka berdua terus menggapai surga dunia bersama. Niko semakin menambah kecepatannya, temponya semakin naik. "Lia sayang aku mau keluar," erangan Niko begitu gagahnya. Niko mempercepat gerakannya sampai cairan hangat keluar Ndari tubuhnya memenuhi bagian inti Lia yang lembab. Niko ambruk diatas tubuh Lia. Mereka saling berpelukan, menyalurkan rasa yang mereka rasa. "Aku Cinta kamu," ucap Lia. Niko yang mendengar pernyataan Lia begitu terkejut sekaligus senang. Akhirnya cintanya terbalas juga. Niko mengangkat tubuhnya, matanya menatap lekat gadis yang berada dibawah kumkumannya, mengamati wajah gadis itu mencari kejujurannya. "Ulangi lagi sayang," pinta Niko yang belum mempercayai sepenuhnya pendengarannya. "Ulangi yang mana ?" tanya Lia dengan lugunya. "Kata yang terakhir sayang," pinta Niko lagi. Wajah Lia bersemu merah dia begitu malu mengulanginya lagi. "Lia malu ." "Please... "Lia cinta kamu," ucapnya kali ini begitu penuh keyakinan. Niko yang begitu bahagia menciumi wajah Lia . Dia begitu sangat bahagia. Besok Pak Niko banyak sekali jadwal padat sampai seminggu kedepan," lapor seseorang pada majikannya siapa lagi kalo bukan Zara. Zara tersenyum puas, tidak percuma dia mengeluarkan uang banyak. "Niko , aku memilih kartu matimu, aku yakin bisa dapetin kamu," Zara menyesap winenya sembari tersenyum. "Niko , silahkan kalian bersenang-senang dulu. Ketenangan sebelum badai datang." "Putri kamu sendiri yang akan bertindak. Aku hanya menekan remote saja. Nayra pasti akan mengikuti semua yang aku inginkan. Zara tertawa sendirian di rumahnya, dia begitu yakin dengan rencananya. "Tak akan lama lagi!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN