Niko sudah terbangun sekitar jam
4 pagi. Dia mengamati wajah polos
calon istrinya yang begitu cantik,
bibirnya mengulas senyum. Niko
mendekatkan wajahnya lagi lalu
melumat bibir Lia yang begitu
menggodanya. Lia yang
merasakan ada lumatan pada
bibirnya langsung membuka
matanya. Tubuh kekar laki-laki
dewasa itu sudah berada diatasnya.
"ko..." lirih Lia saat Niko
melepaskan lumatannya.
"Sayang, pingin satu ronde
lagi ya, biar aku semangat
kerjanya."
Niko mulai menciumi lehernya
yang masih banyak tanda jejak
kepemilikannya yang kemarin dia
buat.
"ko....," leguh Lia. Dia juga
menginginkan laki-laki dewasa itu,
laki-laki yang memberikan rasa
aman dan nyaman yang tidak
pernah dia dapat dari siapapun.
Lia pasrah di bawah kendali Niko
yang memberikan sejuta
kenikmatan. Apalagi disaat Niko
memasukkan miliknya lagi
kedalam intinya.
Lia mengalungkan kedua
tangannya di leher Niko. Niko terus
mengerakan pinggangnya di bawah
sana menikmati enaknya bagian
inti Lia yang masih sempit. Niko
seakan tidak percaya kehabisan
tenaga terus memompa tubuh
Lia. Tubuh yang sudah
membuatnya kecanduan jika
hari ini tidak ada rapat penting
Niko akan memilih tinggal di
apartemen bersama dengan Lia.
"Lia, aku pulangnya malam.
Kamu di apartemen saja jangan
kemana-mana," perintah Niko.
Selama beberapa hari ini Lia juga
tidak pernah keluar dari
apartemen bahkan dia tidak pergi
kekampusnya.
"Iya " jawab Lia sembari
menyesap s**u hangat yang Niko
buatkan untuknya.
Sarapan pagi yang sangat simple,
roti bakar, karena si mbok tidak
bekerja hari ini karena ada acara
keluarga.
"Nanti butuh apa-apa kamu telpon
saja," pesan Niko
sebelum meninggalkan membuka
pintu apartemen.
Lia mengantar Niko sampai depan
pintu. Sebelum pergi Niko
mengecup bibir Lia lalu
mengusap rambutnya lembut, Lia
membalas Niko dengan senyuman
lembut dibibirnya.
Lia memperhatikan tubuh kekar
Niko sampai masuk ke dalam lift.
Niko melambaikan tangannya
sebelum pintu lift tertutup rapat.
Lia akan masuk kembali ke dalam
apartemen, namun sebuah tangan
mencengram lengannya dengan
kuat.
"Jadi ini alasan kamu menolak
balik sama aku Lia," seru Rey, Lia
begitu terkejut melihat Rey.
Lepaskan aku," bentak Lia
dengan tatapan tajamnya.
"Jadi kamu lebih suka ditiduri
laki-laki tua seperti tadi dari pada
aku," ejek Rey tanpa mau
melepaskan cengkeramannya di
tangan Lia.
"Bukan urusan kamu, kita sudah
putus. Jangan ikut campur
urusanku," sahut Lia galak. Dia
begitu benci dengan Rey.
Lia berusaha melepaskan diri
namun Rey menghimpitnya
didinding membuat Lia tidak bisa
bergerak.
"Apa milik laki-laki tua itu hebat
sampai kamu lebih memilihnya
dari aku," Rey tidak terima jika
dirinya harus dijalankan oleh
laki-laki yang seumuran ayahnya.
Rey memang tidak melihat wajah
laki-laki itu dengan jelas. Tentu
saja ego Rey terluka, selama ini
tidak ada yang bisa
mengalahkannya dari segi
ketampanan dan kekayaan, orang
tuanya termasuk pengusaha hebat
di kota ini.
"Iya, dia lebih hebat dari kamu Rey
bahkan dia jauh lebih baik dari
kamu," sembur Lia yang hatinya
begitu terluka.
Rey, begitu sakit hati mendengar
kata-kata Lia yang begitu melukai
harga dirinya. Dengan kemarahan
Rey langsung menarik Lia masuk
kedalam apartemen Niko.
"Lepaskan aku," Lia berusaha
mendorong tubuh Rey yang sudah
menindihnya dilantai
Rey sudah seperti orang kesetanan,
dia tidak terima sekaligus
cemburu, Rey dari dulu
menginginkan Lia, dia sangat
mencintai Lia makanya dia tidak
menyentuh Lia memilih
melampiaskan hasratnya dengan
wanita lain termasuk wanita yang
Lia liat di apartemen itu. Rey
tidak serius dengan wanita itu.
Lia terus berontak
mempertahankan tubuhnya. Dia
hanya ingin Niko seorang yang
menyentuh tubuhnya, tidak orang
lain termasuk Rey.
Lia terus berontak dan berteriak
meminta tolong namun tidak ada
yang mendengarnya.
Rey mulai menciumi lehernya. Rey
mengunci kedua tangan Lia diatas
kepalanya. Lia terus berteriak
mempertahankan dirinya.
"Lia, akan aku buktikan kalo aku
lebih kuat dari laki-laki tua itu.
Kamu pasti menyukai
permainanku."
Rey, kembali melanjutkan aksinya
Lia terus mengeleng-gelengkan
kepalanya menandakan
penolakannya namun Rey tidak
peduli. Yang Rey inginkan
sekarang menyentuh Lia dia tidak
peduli Lia sudah dijamah laki-laki
lain.
Tangan Rey merobek pakaian yang
Lia gunakan sehingga
menampakkan tubuh mulus Lia.
Rey menelan salivanya, sekaligus
begitu marah melihat tubuh mulus
Lia begitu banyak jejak
kepemilikannya laki-laki lain. Lia
terus berteriak meminta Rey
berhenti bahkan Lia menangis
tapi Rey tidak peduli. Dirinya
sudah dikuasai oleh hasratnya.
Brakkkkkk
Tubuh Rey terpental cukup jauh
karena tendangan Niko. Niko tidak
bisa menahan dirinya untuk tidak
menghajar Rey sampai darah
keluar dari sudut bibirnya. Betapa
terkejutnya Niko melihat kejadian
ini dimana terlihat jelas laki-laki
itu ingin memperkosa Lia. Niko
kembali karena ponselnya
tertinggal.
Niko melepaskan Jasnya menutupi
tubuh Lia yang sudah hampir
polos itu. Lia menangis dipelukan
Niko , dia begitu ketakutan.
"Jangan takut aku bersamamu,"
Niko memeluk dan menepuk
lembut punggung Lia.
Tatapan Niko tertuju pada laki-laki
muda dihadapannya yang masih
menahan sakit.
"Lia, jadi dia kekasihmu?
Aku tidak menyangka kamu
mengkhianati Nayra juga. Aku kira
kamu wanita yang berbeda dari
wanita lainnya. Munafik," ujar Rey
menahan rasa sakitnya sambil
menatap Lia yang berada dalam
pelukan laki-laki yang dia tau
adalah ayah dari Nayra.
"Tindakan kamu sangat berani
sekali ingin mengganggu calon istri
saya. Apa ini didikan yang ayahmu
berikan," balas Niko.
"Tutup mulut anda. Sikap anda
jauh lebih tidak terpuji dari saya,
jangan pernah menghina ayah
saya," ujar Rey lagi yang berusaha
bangun.
"Saya seorang duda, hubungan
saya dan Lia tidak salah," sahut
Niko
"Memacari anak yang pantasnya
menjadi putri anda, itu yang anda
katakan tidak salah," balas Rey.
"Tentu saja. Lia sudah berumur
17 tahun itu sudah cukup umur.
Apalagi kami berhubungan setelah
kalian putus," sahut Niko membuat
Rey langsung tertawa
terbahak-bahak.
"Jadi Anda tau hubungan kami.
Apa anda tidak berfikir kalo anda
hanya pelarian Lia saja," ucap Rey
sambil tertawa.
"Jika Lia menganggap saya
sebagai pelarian kenapa dia
menyerahkan semuanya pada saya
dan tidak pada kamu. Nyatanya
tadi Lia begitu menolak kamu
sentuh itu sudah membuktikan
jika Lia tidak menjadikan saya
sebagai pelarian," balas Niko .
"Kamu punya dua pilihan pergi
dari sini dan jangan ganggu calon
istri saya lagi atau saya akan
pelaporan kamu kekantor polisi,"
ancam Niko.
Rey masih berfikir waras, dia tau
sedang berhadapan dengan siapa
saat ini, bahkan ayahnya sendiri
tidak memiliki kuasa melawan
sosok seorang Niko .
Sebelum pergi Rey melihat kearah
Lia yang masih menangis didada
bidang laki-laki itu. Sakit itu yang
Rey rasakan saat ini, wanita yang
begitu dia cintai berada dalam
pelukan laki-laki lain.
Menyesal kata itu sudah terlambat,
seandainya malam itu dia tidak
menghianati Lia dia tidak akan
kehilangannya. Rey menitihkan air
matanya sebelum pergi
meninggalkan apartemen itu. Niko
melihat ada cinta yang kuat dalam
mata Rey, itu Kenapa dia tidak
melaporkan Rey ke kantor polisi.
Rey melangkah keluar dari
apartemen itu. Rey tidak pernah
menyangka akan bertemu Lia
disana. Padahal Rey berniat
mengunjungi sepupunya.
"Lia, kenapa begitu cepat kamu
melupakan tentang kita. Aku
sangat mencintai kamu. Malam itu
memang salahku telah
mengkhianatimu," sesal Rey.
Mobil Rey akan bergerak mundur
namun kaca mobilnya di ketuk
oleh seseorang.
"Kamu..."
"Kamu mencintai Lia kan.
Gimana kalo kita bekerjasama."