Hadiah pertama

1145 Kata
Karena kejadian itu Niko memutuskan membawa Lia pergi bersamanya kekantor. Wajah Lia masih terlihat shock karena kejadian tadi. Niko memeluknya selama perjalanan menuju kekantor. Niko tidak mau mengambil resiko meninggalkan Lia sendirian di Apartemen. "Sayang, kamu istirahat dulu di sini ya. Jangan keluar ruangan ini," pesan Niko yang masih begitu khawatir dengan keadaan Lia. "Lia takut," lirihnya. Ingatan akan kejadian tadi masih membekas dalam ingatannya. Niko berfikir sebentar, dia juga mengkhawatirkan keadaan Lia, tapi meeting hari ini juga begitu penting. "Ikut aku" Niko memutuskan mengajak Lia ikut meeting bersamanya. Lia yang masih ketakutan mengikuti laki-laki itu, untuk saat ini dia tidak berani sendirian. Bram mengikuti mereka menuju keruang meeting dimana Niko sudah terlambat dua jam karena kejadian tadi dan ini pertama kalinya Niko datang terlambat. Semua orang melihat kearah Lia, yang berjalan disamping Niko dengan tangannya digandeng oleh pemilik perusahaan. Apalagi Lia dikenal sebagai sahabat putrinya, tatapan curiga dengan hubungan mereka begitu jelas diwajah orang -orang yang melihatnya namun mereka tidak berani bertanya karena privasi majikan mereka. Niko duduk di kursi pemimpin rapat, sedangkan Lia duduk di pojok, khusus disiapkan oleh Bram. Lia mengamati rapat dari tempat duduknya, betapa berkarismanya sosok dewasa itu. Tanpa terasa Lia menyunggikan senyum dibibirnya, wajah merona merah mengingat betapa gagahnya laki-laki itu diatas tubuhnya. Kejadian tadi seketika menghilang dari pikirannya digantikan dengan sosok yang tidak pernah Lia sangka masuk kedalam hidupnya. Selama tiga jam, Lia dengan sabar menunggu Niko meeting. Dia baru sadar bagaimana sibuknya dan seriusnya laki-laki itu bekerja, pantesan Nayra sering mengeluh ayahnya jarang pulang. LIa mengingat bagaimana dekatnya hubungannya dengan Nayra, bahkan Nayra tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan Nayra selalu curhat masalahnya dan juga mimpinya dalam hidupnya. Hati Lia merasa semakin bersalah kepada sahabatnya. Betapa jahatnya dia menjadi sahabatnya yang sudah merebut kebahagiaannya dan juga mimpinya. "Lia sayang..." panggil Niko beberapa kali namun Lia sibuk dengan lamunannya sampai Niko harus menyentuh bahunya. "Lia kamu mikirin apa?" tanya Niko lagi yang terlihat begitu cemas. "G_Gak da hanya_" "Sudah gak usah di jawab. Sekarang kita makan dulu," ucap Niko yang berfikir Lia masih memikirkan kejadian tadi dan dia tidak mau mengungkitnya. Niko mengulurkan tangannya, Lia menyunggikan senyuman lembut dibibirnya menerima tangan laki-laki itu. Uluran tangan itulah yang membuatnya selama ini walaupun dia harus membayarnya dengan tubuhnya dan putusnya persahabatannya dengan Nayra. Niko menggandeng tangan Lia meninggalkan ruangan rapat diikuti oleh Bram. Setelah mereka menghilang ,para karyawan lain banyak berkasak-kusuk dengan hubungan mereka yang terlihat sangat berbeda. Niko memilih menyetir sendiri, dia ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Lia, gadis yang dia cintai. Dia tidak peduli dengan pemikiran orang lain tentang hubungan mereka, yang dia tahu gadis ini bisa membuat rasa yang sudah mati dalam hatinya bisa hidup lagi. Lia melabuhkan kepalanya di bahu Niko selama didalam mobil layaknya pasang kekasih. Rasa nyaman yang niko berikan belum pernah dia rasakan selama ini dari siapapun. Niko begitu bahagia melihat Lia begitu manja belakang ini dengannya. Selama dua bulan ini Niko begitu bahagia karena kehadiran Lia, hidupnya lebih berwarna tidak seperti sebelumnya hanya bekerja dan melakukan one night stand untuk menghibur dirinya. Hubungannya dengan Lia memberi warna tersendiri dalam hidupnya meski hubungannya dengan sang anak menjadi renggang tetapi Niko yakin bisa membuat putrinya bisa menerima Lia menjadi ibu sambungnya kelak. Niko mengarahkan mobilnya menuju kepusat perbelanjaan.terbesar di kota itu. Tujuan Niko tidak hanya makan namun dia ingin membelikan sesuatu untuk calon istrinya. Lia selama menjalin hubungan dengannya tidak pernah menuntut apapun, blackcard yang Niko berikan tidak di gunakan sama sekali. Kemunculan mereka di pusat perbelanjaan itu tentunya menjadi pusat perhatian semua orang. Siapa yang tidak mengenal Niko Hot duda yang paling banyak diminati kaum hawa disamping tampan dia juga kaya raya. Kehidupan malamnya juga terkenal dimana-mana. Sekarang yang menjadi pusat perhatian mereka adalah wanita muda yang tangannya digandeng. Lia dan ini pertama kalinya Niko terlihat membawa wanita di depan selain putrinya. Niko mengajak Lia masuk ke toko perhiasan mahal. Lia yang sedari tadi tidak enak menjadi pusat perhatian hanya bisa jalan tertunduk karena malu, apalagi tangan Niko terus melingkar di pinggangnya seolah menegaskan mereka memiliki hubungan spesial. " mau ngapain kesini? Bukankah tadi pingin makan," ucap Lia yang masih terlihat kebingungan. "aku mau beli cincin untuk kamu sekalian pesan cincin pernikahan kita," jawab Niko dengan senyuman lembut dibibirnya. Wajah Lia merona merah, laki-laki disampingnya ini ternyata serius ingin menikahinya. Wajah Lia seketika berubah sedih mengingat Nayra sahabatnya. Sedangkan Niko masih sibuk memilih hadiah pertamanya untuk calon istri kecilnya. "Perfect...." Lia begitu terkejut, sebuah kalung berliontin hati bertahtakan berlian kini menempel di lehernya. "Kamu suka gak pilihanku?" tanya Niko sembari memeluk tubuh Lia dari belakang sambil berkaca di depan cermin. Pose mereka membuat para pengunjung lain menelan salivanya, bagaimana tidak Hot duda itu begitu mempesona. Begitu banyak yang iri melihat LIA yang diperlakukan sangat spesial oleh sosok itu. "Kenapa diam sayang jawab," ucap Niko sembari mengecup pangkal rambut Lia. Dia tidak peduli sekarang mereka sedang berada dimana, tidak peduli orang-orang memperhatikan mereka. Kebahagiaan Niko berbanding terbalik dengan Nayra dan Rianti yang melihat kiriman foto oleh orang yang mereka sewa untuk membuntuti mereka. Nayra semakin geram dan semakin membenci sahabatnya sendiri yang sudah merebut kebahagiaannya. "Nayra, maaf Tante sudah tidak kuat lagi. Tante menyerah, ini sudah tidak ada harapan lagi," Zara pura-pura mengeluarkan air matanya. "Tante Zara jangan ngomong gitu," Nayra mendekati Zara dan memeluknya "Tante, aku akan menemui Lia dan mengusirnya dari kehidupan ayah. Apapun caranya Aku akan singkirkan Lia dari hidup ayah," hibur Lia. "Itu pasti akan membuat ayahmu marah sama kamu Nay. Kamu bisa lihat bagaimana sahabatmu itu sudah memikat ayahmu," kata Zara sambil menangis. "Zara kamu tenang saja, Mommy gak akan biarkan p*****r kecil itu menang. Nayra dan Mommy tetaplah keluarganya. Mommy yakin Niko pasti lebih memilih Nayra daripada p*****r itu," timpal Mommy Rianti yang begitu geram melihat hasil foto itu. Mommy Rianti tentu saja semakin membenci Lia yang dianggap sedang memplototi putranya, dari gambar itu sudah terlihat harga kalung yang menempel di leher Lia karena mata Mommy Rianti sangat jeli dengan perhiasan. "Mommy, Zara denger mereka Niko akan menikahi lia dalam waktu dekat ini," adu Zara dengan memasang mimik wajah sedih. "Tante aku sama Oma tidak akan pernah membiarkan pernikahan itu terjadi Tante tenang saja ya," ucap Nayra yang sudah begitu geram. Nayra sudah tidak bisa lagi berdiam diri seperti ini. Dia hanya berbicara sama Ayahnya dan juga Lia. Kali ini ayahnya harus menentukan pilihannya wanita itu atau dirinya. Zara menyunggikan senyuman puas dibibirnya, senjatanya sudah sangat tepat Nayra. Semarah-marahnya Niko dia tetap tidak bisa menghukum putrinya sendiri, apalagi Niko begitu menyanyangi sang putri melebihi apapun. Sampai dia harus mengeluarkan uang yang banyak untuk mendapatkan hak asuh Nayra dari mantan istrinya. "Niko, aku akan mendapatkanmu, kamu tidak akan bisa lepas dari aku semudah itu. Usahaku selama bertahun-tahun tidak akan aku biarkan dirusak oleh anak kecil itu. Apalagi sekutuku kartu As kamu sendiri," Zara tertawa dalam hatinya begitu geli melihat Rianti dan Nayra yang begitu bodoh dan begitu mudah diperalat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN