Karena kejadian itu Niko
memutuskan membawa Lia pergi
bersamanya kekantor. Wajah Lia
masih terlihat shock karena
kejadian tadi. Niko memeluknya
selama perjalanan menuju
kekantor. Niko tidak mau
mengambil resiko meninggalkan
Lia sendirian di Apartemen.
"Sayang, kamu istirahat dulu di
sini ya. Jangan keluar ruangan ini,"
pesan Niko yang masih
begitu khawatir dengan keadaan
Lia.
"Lia takut," lirihnya. Ingatan
akan kejadian tadi masih
membekas dalam ingatannya.
Niko berfikir sebentar, dia juga
mengkhawatirkan keadaan Lia,
tapi meeting hari ini juga begitu
penting.
"Ikut aku" Niko memutuskan
mengajak Lia ikut meeting
bersamanya.
Lia yang masih ketakutan
mengikuti laki-laki itu, untuk saat
ini dia tidak berani sendirian.
Bram mengikuti mereka menuju
keruang meeting dimana Niko
sudah terlambat dua jam karena
kejadian tadi dan ini pertama
kalinya Niko datang terlambat.
Semua orang melihat kearah Lia,
yang berjalan disamping Niko
dengan tangannya digandeng oleh
pemilik perusahaan. Apalagi Lia
dikenal sebagai sahabat putrinya,
tatapan curiga dengan hubungan
mereka begitu jelas diwajah orang
-orang yang melihatnya namun
mereka tidak berani bertanya
karena privasi majikan mereka.
Niko duduk di kursi pemimpin
rapat, sedangkan Lia duduk di
pojok, khusus disiapkan oleh
Bram.
Lia mengamati rapat dari tempat
duduknya, betapa berkarismanya
sosok dewasa itu. Tanpa terasa
Lia menyunggikan senyum
dibibirnya, wajah merona merah
mengingat betapa gagahnya
laki-laki itu diatas tubuhnya.
Kejadian tadi seketika menghilang
dari pikirannya digantikan dengan
sosok yang tidak pernah Lia
sangka masuk kedalam hidupnya.
Selama tiga jam, Lia dengan sabar
menunggu Niko meeting. Dia baru
sadar bagaimana sibuknya dan
seriusnya laki-laki itu bekerja,
pantesan Nayra sering mengeluh
ayahnya jarang pulang.
LIa mengingat bagaimana
dekatnya hubungannya dengan
Nayra, bahkan Nayra tidak pernah
menyembunyikan sesuatu darinya.
Bahkan Nayra selalu curhat
masalahnya dan juga mimpinya
dalam hidupnya.
Hati Lia merasa semakin bersalah
kepada sahabatnya. Betapa
jahatnya dia menjadi sahabatnya
yang sudah merebut
kebahagiaannya dan juga
mimpinya.
"Lia sayang..." panggil Niko
beberapa kali namun Lia sibuk
dengan lamunannya sampai Niko
harus menyentuh bahunya.
"Lia kamu mikirin apa?" tanya
Niko lagi yang terlihat begitu
cemas.
"G_Gak da hanya_"
"Sudah gak usah di jawab.
Sekarang kita makan dulu," ucap
Niko yang berfikir Lia masih
memikirkan kejadian tadi dan dia
tidak mau mengungkitnya.
Niko mengulurkan tangannya, Lia
menyunggikan senyuman lembut
dibibirnya menerima tangan
laki-laki itu. Uluran tangan itulah
yang membuatnya selama ini
walaupun dia harus membayarnya
dengan tubuhnya dan putusnya
persahabatannya dengan Nayra.
Niko menggandeng tangan Lia
meninggalkan ruangan rapat
diikuti oleh Bram. Setelah mereka
menghilang ,para karyawan lain
banyak berkasak-kusuk dengan
hubungan mereka yang terlihat
sangat berbeda.
Niko memilih menyetir sendiri, dia
ingin menghabiskan waktunya
berdua dengan Lia, gadis yang dia
cintai. Dia tidak peduli dengan
pemikiran orang lain tentang
hubungan mereka, yang dia tahu
gadis ini bisa membuat rasa yang
sudah mati dalam hatinya bisa
hidup lagi.
Lia melabuhkan kepalanya di
bahu Niko selama didalam mobil
layaknya pasang kekasih. Rasa
nyaman yang niko berikan belum
pernah dia rasakan selama ini dari
siapapun. Niko begitu bahagia
melihat Lia begitu manja
belakang ini dengannya.
Selama dua bulan ini Niko begitu
bahagia karena kehadiran Lia,
hidupnya lebih berwarna tidak
seperti sebelumnya hanya bekerja
dan melakukan one night stand
untuk menghibur dirinya.
Hubungannya dengan Lia memberi
warna tersendiri dalam hidupnya
meski hubungannya dengan sang
anak menjadi renggang tetapi Niko
yakin bisa membuat putrinya bisa
menerima Lia menjadi ibu
sambungnya kelak.
Niko mengarahkan mobilnya
menuju kepusat
perbelanjaan.terbesar di kota itu.
Tujuan Niko tidak hanya makan
namun dia ingin membelikan
sesuatu untuk calon istrinya. Lia
selama menjalin hubungan
dengannya tidak pernah menuntut
apapun, blackcard yang Niko
berikan tidak di gunakan sama
sekali.
Kemunculan mereka di pusat
perbelanjaan itu tentunya menjadi
pusat perhatian semua orang.
Siapa yang tidak mengenal Niko
Hot duda yang paling banyak
diminati kaum hawa disamping
tampan dia juga kaya raya.
Kehidupan malamnya juga
terkenal dimana-mana.
Sekarang yang menjadi pusat
perhatian mereka adalah wanita
muda yang tangannya digandeng.
Lia dan ini pertama kalinya
Niko terlihat membawa wanita di
depan selain putrinya.
Niko mengajak Lia masuk ke toko
perhiasan mahal. Lia yang sedari
tadi tidak enak menjadi pusat
perhatian hanya bisa jalan
tertunduk karena malu, apalagi
tangan Niko terus melingkar di
pinggangnya seolah menegaskan
mereka memiliki hubungan
spesial.
" mau ngapain kesini?
Bukankah tadi pingin
makan," ucap Lia yang masih
terlihat kebingungan.
"aku mau beli cincin untuk
kamu sekalian pesan cincin
pernikahan kita," jawab Niko
dengan senyuman lembut
dibibirnya.
Wajah Lia merona merah,
laki-laki disampingnya ini ternyata
serius ingin menikahinya. Wajah
Lia seketika berubah sedih
mengingat Nayra sahabatnya.
Sedangkan Niko masih sibuk
memilih hadiah pertamanya untuk
calon istri kecilnya.
"Perfect...."
Lia begitu terkejut, sebuah kalung
berliontin hati bertahtakan berlian
kini menempel di lehernya.
"Kamu suka gak pilihanku?"
tanya Niko sembari memeluk
tubuh Lia dari belakang sambil
berkaca di depan cermin.
Pose mereka membuat para
pengunjung lain menelan
salivanya, bagaimana tidak Hot
duda itu begitu mempesona.
Begitu banyak yang iri melihat
LIA yang diperlakukan sangat
spesial oleh sosok itu.
"Kenapa diam sayang jawab," ucap Niko sembari
mengecup pangkal rambut Lia.
Dia tidak peduli sekarang mereka
sedang berada dimana, tidak
peduli orang-orang
memperhatikan mereka.
Kebahagiaan Niko berbanding
terbalik dengan Nayra dan Rianti
yang melihat kiriman foto oleh
orang yang mereka sewa untuk
membuntuti mereka. Nayra
semakin geram dan semakin
membenci sahabatnya sendiri yang
sudah merebut kebahagiaannya.
"Nayra, maaf Tante sudah tidak
kuat lagi. Tante menyerah, ini
sudah tidak ada harapan lagi," Zara
pura-pura mengeluarkan air
matanya.
"Tante Zara jangan ngomong gitu,"
Nayra mendekati Zara dan
memeluknya
"Tante, aku akan menemui Lia
dan mengusirnya dari kehidupan
ayah. Apapun caranya Aku akan
singkirkan Lia dari hidup ayah,"
hibur Lia.
"Itu pasti akan membuat ayahmu
marah sama kamu Nay. Kamu bisa
lihat bagaimana sahabatmu itu
sudah memikat ayahmu," kata
Zara sambil menangis.
"Zara kamu tenang saja, Mommy
gak akan biarkan p*****r kecil itu
menang. Nayra dan Mommy
tetaplah keluarganya. Mommy
yakin Niko pasti lebih memilih
Nayra daripada p*****r itu,"
timpal Mommy Rianti yang begitu
geram melihat hasil foto itu.
Mommy Rianti tentu saja semakin
membenci Lia yang dianggap
sedang memplototi putranya, dari
gambar itu sudah terlihat harga
kalung yang menempel di leher
Lia karena mata Mommy Rianti
sangat jeli dengan perhiasan.
"Mommy, Zara denger mereka
Niko akan menikahi lia dalam
waktu dekat ini," adu Zara dengan
memasang mimik wajah sedih.
"Tante aku sama Oma tidak akan
pernah membiarkan pernikahan
itu terjadi Tante tenang saja ya,"
ucap Nayra yang sudah begitu
geram.
Nayra sudah tidak bisa lagi
berdiam diri seperti ini. Dia hanya
berbicara sama Ayahnya dan juga
Lia. Kali ini ayahnya harus
menentukan pilihannya wanita itu
atau dirinya.
Zara menyunggikan senyuman
puas dibibirnya, senjatanya sudah
sangat tepat Nayra.
Semarah-marahnya Niko dia tetap
tidak bisa menghukum putrinya
sendiri, apalagi Niko begitu
menyanyangi sang putri melebihi
apapun. Sampai dia harus
mengeluarkan uang yang banyak
untuk mendapatkan hak asuh
Nayra dari mantan istrinya.
"Niko, aku akan mendapatkanmu,
kamu tidak akan bisa lepas dari
aku semudah itu. Usahaku selama
bertahun-tahun tidak akan aku
biarkan dirusak oleh anak kecil itu.
Apalagi sekutuku kartu As kamu
sendiri," Zara tertawa dalam
hatinya begitu geli melihat Rianti
dan Nayra yang begitu bodoh dan
begitu mudah diperalat.