Tinggalkan Ayah ku

1132 Kata
"niko bangun, ponsel kamu dari tadi terus bunyi," Lia menggoncang-goncangkan tubuh kekar Niko yang masih bertelanjang d**a berbaring disampingnya. "ko...," panggil Lia terus sampai Niko membuka matanya. " ponsel kamu bunyi terus." Niko mengambil ponselnya, nomer rumahnya terpampang pada layar ponsel. Niko langsung mengambilnya. "Tuan, Nyonya besar kena serangan jantung. Sekarang di bawa kerumah sakit internasional sama sopir sedang Nona Nayra tidak ada dirumah beberapa hari ini," suara salah satu pelayan di rumahnya terdengar begitu panik. Niko langsung turun dari ranjang mengambil pakaiannya dan memakainya. "ada apa?" tanya Lia kebingungan. "Mommy kena serangan jantung." "Lia kamu ikut aku, aku tidak tenang kamu sendirian diapartemen," ajak niko. LIA sebenarnya keberatan akan tetapi dia tidak ingin laki-laki itu kepikiran, apalagi Lia masih takut sendirian. "Nanti, biar Bram yang jemput kamu kerumah sakit, nanti kamu nginap di rumah Bram untuk sementara waktu," kata Niko membuat Lia hampir menangis haru, betapa laki-laki itu begitu memperdulikannya sampai di saat seperti ini laki-laki itu masih memikirkannya. Entah kenapa Lia semakin mencintai sosok dewasa yang pantasnya jadi ayahnya. Lia mengganti pakaiannya, dia tidak ingin Niko menunggunya lebih lama lagi. Niko menggandeng tangan Lia menuju parkir mobil. "Lia sayang, jangan takut ya ada aku disampingmu," tegas Niko sambil menautkan tangan mereka memberi kekuatan untuk wanitanya. Lia menganggukan kepalanya akan tetapi hatinya merasa tidak tenang. Mereka sampai di rumah sakit. Mereka bergandengan tangan menuju ruang tempat Mommy Rianti dirawat. " Lia tunggu diluar aja," Lia menghentikan langkahnya. Tidak mungkin dia ikut masuk kedalam takut membahayakan kondisi pasien. Lia, langsung masuk kedalam melihat keadaan ibunya, Lia menunggunya cukup lama didepan ruangan sampai seseorang wanita mendekatinya. "Bakat banget ya kamu jadi pelacur," cibir Nayra yang sudah berdiri tepat dihadapan Lia. Lia begitu terkejut, dia langsung berdiri dari duduknya "Nayra maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu," jelasnya. Lia melihat ada sesuatu yang beda pada diri Nayra. Bau alkohol menyeruak dari bibirnya. "Nayra kamu minum sekarang?" Lia ingin menyentuh tangan sahabatnya namun dengan cepat Nayra tepis. "Kalo iya apa pedulimu. Kamu sudah menghancurkan hidupku dan mimpiku. Kamu rebut ayahku sampai ayahku tidak menyayangiku lagi. Dia lebih memilihmu. Kamu memang hebat Lia," Nayra bertepuk tangan untuk sahabatnya. "Nayra, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku sama kamu?" Lia tidak kuat melihat sahabatnya hancur seperti ini. Nayra yang dulu ceria dan berpenampilan elegan kini terlihat urakan dengan pakaiannya yang minim. "Tinggalkan ayahku hanya itu yang bisa menebus kesalahanmu." "Nayra," bentak ayahnya yang mendengar keributan dari luar. "Kenapa ayah, tidak terima aku menghina kekasihmu ini," sahut Nayra dengan beraninya. Niko tidak menyangka putrinya ini sekarang mabuk-mabukan dan penampilan putrinya percis pekerjaan club malam. Niko begitu malu melihat penampilan putrinya langsung dia membuka jaketnya mengenakannya ditubuh putrinya. Nayra melemparkan jaket ayahnya tidak sudi menerimanya. "Nayra kamu keterlaluan, lihat penampilanmu sekarang," ucap Niko marah mencengkram lengan putrinya. Bukanya takut namun Nayra malah menatap sang ayah dengan tatapan kebencian. "ayah suka kan sama p**acur ayah. Aku juga ingin merasakan jadi seorang p**acur" kata Nayra dengan beraninya. "Nayra..." bentar Niko. Lia semakin merasa bersalah melihat sahabatnya seperti ini, apalagi melihat pertengkaran ayah dan anak itu. Nayra tidak kalah kerasnya dengan sang ayah. "ayah sudah membuat keputusan, sama sekarang aku juga sudah membuat keputusanku. Silahkan ayah menikahinya tapi ayah juga akan melihat kehancuranku. Mulai sekarang aku akan berhenti sekolah, aku akan menghabiskan waktuku di club malam mencari sasaran ku. Kamu bukan lagi ayahku dan p*lacur ini bukan sahabatku. Kita jalani hidup kita masing-masing mulai detik ini," Nayra tidak mempedulikan ayahnya lagi dia menarik lengannya langsung berjalan melewati mereka berdua. Nayra membalikan badannya. "Kalian berdua tidak pedulikan sama aku. Mulai hari ini aku bukan lagi putrimu . Sekarang aku hanya anak yatim-piatu yang akan menghidupi diriku sendiri dengan jalan yang kamu tunjukkan sama aku Lia. Mungkin kalian bisa menikah dan bahagia tetapi semakin kalian bahagia kalian akan mengingat kehancuranku karena ulah kalian berdua, terutama kamu Lia," lanjut Nayra langsung melemparkan kunci mobilnya tepat di depan sang ayah. Niko mengusap kasar wajahnya. Dia begitu hapal sifat putrinya yang keras kepala itu. Pengaruh buruk Zara sudah terlalu kuat menguasai putrinya. Hanya Astrid yang bisa membantunya saat ini. Namun setelah perceraian mereka Astrid entah menghilangkan kemana. Mungkin karena saking kecewanya Astrid pada dirinya karena tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi, maklum waktu itu Niko masih sangat muda dan emosinya dan egonya masih kuat menguasai dirinya. Sekarang Niko dihadapkan dalam situasi yang sulit antara putrinya dan wanita yang dia cintai. Lia bisa melihat betapa laki-laki dewasa itu terguncang dengan pernyataan Nayra. Lia juga khawatir jika sahabatnya melakukan ancamannya, Lia sangat menyayangi Nayra dia tidak mungkin mau menjadi penyebab kehancuran sahabatnya sendiri. Bram datang menjemput Lia atas perintah dari Niko. Untuk sementara dia harus bisa mengendalikan situasinya terutama putrinya. "Lia, maafkan tadi sikap Nayra," Niko memeluk Lia "Nayra gak salah Lia yang salah," sahutnya sedih. "Tidak ada yang salah dalam hal ini. Semua sudah jadi takdir kita," sahut Niko dengan pikiran bijaksananya. "Untuk sementara kamu tinggal dulu di rumah Bram temenin Deon.aku minta waktu mengurus masalah ini dan Nayra." "Iya, Lia mengerti situasi Niko Tapi kamu jangan telat makan ya, nanti kamu sakit," ucap Lia lembut penuh dengan perhatian membuat hati Niko lega. "Bram, saya titip Lia sama Deon. Semua kebutuhan mereka saya yang tanggung. Saya tidak tenang meninggalkan Lia tinggal sendirian di apartemen," pesan Niko "Tuan jangan khawatir, saya akan menjaga Lia dan Deon seperti adik saya sendiri," tegas Bram. Niko memeluk tubuh Lia, sebenarnya dia tidak sanggup berpisah dengan Lia, namun situasi yang membuatnya harus menitipkan Lia kepada asistennya. Karena dengan dirumah asistennya Lia akan aman dia tinggal mengendalikan putrinya yang sudah mulai kehilangan arah. Setelah mengantar Lia sampai parkiran, niko kembali masuk kedalam ruang perawatan ibunya. Niko melihat seorang dokter sedang menenangkan ibunya yang melihat penampilan cucunya. Niko menarik tangan putrinya mengajaknya keluar dari ruangan itu agar ibunya tidak mendengar perbincangan mereka takut malah memperburuk situasinya sekarang. "Sudah cukup membuat ulah," tegur Niko kepada putrinya. Nayra terlihat santai tidak takut sedikitpun dengan sang ayah yang dulu begitu dia hormati. "Gak salah ayah bilang aku yang membuat ulah," cibir Nayra dengan tatapan berani. "ayah tau semua berawal dari ayah. ayah jatuh cita dengan sahabatmu tolong kamu mengerti itu Nayra," Niko berbicara lembut dengan putrinya, dia ingin memberikan pengertian kepada putranya "Menjijikkan sekarang. Aku tidak peduli dengan apa yang ayah jelaskan ke aku. Yang pasti ayah hanya memiliki dua pilihan Aku atau dia. Kalo ayah pilih dia berarti ayah bukan ayahku lagi. Kita tidak ada hubungan dan aku bebas jalani kehidupanku sesuai jalan yang kalian tunjukkan kepadaku," ujar Nayra dengan mengancam ayahnya. "Kamu salah Nayra. Semua yang kamu lakukan itu salah nak," Niko masih berusaha menasehati putrinya. "Jika aku salah apakah ayah sama Lia benar. Aku malas berdebat sama ayah. Hanya ada pilihan aku putri ayah apa dia kekasih ayah!!" Pilihan yang begitu sulit membuat kepala menjadi sakit. Dia tidak ingin kehilangan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN