"niko bangun, ponsel kamu dari
tadi terus bunyi," Lia
menggoncang-goncangkan tubuh
kekar Niko yang masih
bertelanjang d**a berbaring
disampingnya.
"ko...," panggil Lia terus
sampai Niko membuka matanya.
" ponsel kamu bunyi terus."
Niko mengambil ponselnya, nomer
rumahnya terpampang pada layar
ponsel. Niko langsung
mengambilnya.
"Tuan, Nyonya besar kena
serangan jantung. Sekarang di
bawa kerumah sakit internasional
sama sopir sedang Nona Nayra
tidak ada dirumah beberapa hari
ini," suara salah satu pelayan di
rumahnya terdengar begitu panik.
Niko langsung turun dari ranjang
mengambil pakaiannya dan
memakainya.
"ada apa?" tanya Lia
kebingungan.
"Mommy kena serangan jantung."
"Lia kamu ikut aku, aku
tidak tenang kamu sendirian
diapartemen," ajak niko.
LIA sebenarnya keberatan akan
tetapi dia tidak ingin laki-laki itu
kepikiran, apalagi Lia masih takut
sendirian.
"Nanti, biar Bram yang jemput
kamu kerumah sakit, nanti kamu
nginap di rumah Bram untuk
sementara waktu," kata Niko
membuat Lia hampir menangis
haru, betapa laki-laki itu begitu
memperdulikannya sampai di saat
seperti ini laki-laki itu masih
memikirkannya.
Entah kenapa Lia semakin
mencintai sosok dewasa yang
pantasnya jadi ayahnya.
Lia mengganti pakaiannya, dia
tidak ingin Niko menunggunya
lebih lama lagi. Niko menggandeng
tangan Lia menuju parkir mobil.
"Lia sayang, jangan takut ya ada
aku disampingmu," tegas Niko
sambil menautkan tangan mereka
memberi kekuatan untuk
wanitanya. Lia menganggukan
kepalanya akan tetapi hatinya
merasa tidak tenang.
Mereka sampai di rumah sakit.
Mereka bergandengan tangan
menuju ruang tempat Mommy
Rianti dirawat.
" Lia tunggu diluar aja,"
Lia menghentikan langkahnya.
Tidak mungkin dia ikut masuk
kedalam takut membahayakan
kondisi pasien.
Lia, langsung masuk kedalam
melihat keadaan ibunya, Lia
menunggunya cukup lama didepan
ruangan sampai seseorang wanita
mendekatinya.
"Bakat banget ya kamu jadi
pelacur," cibir Nayra yang sudah
berdiri tepat dihadapan Lia.
Lia begitu terkejut, dia langsung
berdiri dari duduknya "Nayra maafkan aku, aku tidak
bermaksud seperti itu," jelasnya.
Lia melihat ada sesuatu yang
beda pada diri Nayra. Bau alkohol
menyeruak dari bibirnya.
"Nayra kamu minum sekarang?"
Lia ingin menyentuh tangan
sahabatnya namun dengan cepat
Nayra tepis.
"Kalo iya apa pedulimu. Kamu
sudah menghancurkan hidupku
dan mimpiku. Kamu rebut
ayahku sampai ayahku tidak
menyayangiku lagi. Dia lebih
memilihmu. Kamu memang hebat
Lia," Nayra bertepuk tangan
untuk sahabatnya.
"Nayra, apa yang bisa aku lakukan
untuk menebus kesalahanku sama
kamu?" Lia tidak kuat melihat
sahabatnya hancur seperti ini.
Nayra yang dulu ceria dan
berpenampilan elegan kini terlihat
urakan dengan pakaiannya yang
minim.
"Tinggalkan ayahku hanya itu
yang bisa menebus kesalahanmu."
"Nayra," bentak ayahnya yang
mendengar keributan dari luar.
"Kenapa ayah, tidak terima aku
menghina kekasihmu ini,"
sahut Nayra dengan beraninya.
Niko tidak menyangka putrinya ini
sekarang mabuk-mabukan dan
penampilan putrinya percis
pekerjaan club malam. Niko begitu
malu melihat penampilan putrinya
langsung dia membuka jaketnya
mengenakannya ditubuh putrinya.
Nayra melemparkan jaket ayahnya
tidak sudi menerimanya.
"Nayra kamu keterlaluan, lihat
penampilanmu sekarang," ucap
Niko marah mencengkram lengan
putrinya.
Bukanya takut namun Nayra
malah menatap sang ayah dengan
tatapan kebencian.
"ayah suka kan sama p**acur
ayah. Aku juga ingin merasakan
jadi seorang p**acur" kata
Nayra dengan beraninya.
"Nayra..." bentar Niko. Lia
semakin merasa bersalah melihat
sahabatnya seperti ini, apalagi
melihat pertengkaran ayah dan
anak itu. Nayra tidak kalah
kerasnya dengan sang ayah.
"ayah sudah membuat
keputusan, sama sekarang aku
juga sudah membuat keputusanku.
Silahkan ayah menikahinya tapi
ayah juga akan melihat
kehancuranku. Mulai sekarang aku
akan berhenti sekolah, aku akan
menghabiskan waktuku di club
malam mencari sasaran ku. Kamu
bukan lagi ayahku dan p*lacur ini
bukan sahabatku. Kita jalani hidup
kita masing-masing mulai detik
ini," Nayra tidak mempedulikan
ayahnya lagi dia menarik
lengannya langsung berjalan
melewati mereka berdua.
Nayra membalikan badannya.
"Kalian berdua tidak pedulikan
sama aku. Mulai hari ini aku bukan
lagi putrimu . Sekarang aku
hanya anak yatim-piatu yang akan
menghidupi diriku sendiri dengan
jalan yang kamu tunjukkan sama
aku Lia. Mungkin kalian bisa
menikah dan bahagia tetapi
semakin kalian bahagia kalian
akan mengingat kehancuranku
karena ulah kalian berdua,
terutama kamu Lia," lanjut Nayra
langsung melemparkan kunci
mobilnya tepat di depan sang ayah.
Niko mengusap kasar wajahnya.
Dia begitu hapal sifat putrinya
yang keras kepala itu. Pengaruh
buruk Zara sudah terlalu kuat
menguasai putrinya. Hanya Astrid
yang bisa membantunya saat ini.
Namun setelah perceraian mereka
Astrid entah menghilangkan
kemana. Mungkin karena saking
kecewanya Astrid pada dirinya
karena tidak memberinya
kesempatan untuk menjelaskan
apa yang terjadi, maklum waktu
itu Niko masih sangat muda dan
emosinya dan egonya masih kuat
menguasai dirinya.
Sekarang Niko dihadapkan
dalam situasi yang sulit antara
putrinya dan wanita yang dia
cintai. Lia bisa melihat betapa
laki-laki dewasa itu terguncang
dengan pernyataan Nayra. Lia
juga khawatir jika sahabatnya
melakukan ancamannya, Lia
sangat menyayangi Nayra dia tidak
mungkin mau menjadi penyebab
kehancuran sahabatnya sendiri.
Bram datang menjemput Lia atas
perintah dari Niko. Untuk
sementara dia harus bisa
mengendalikan situasinya
terutama putrinya.
"Lia, maafkan tadi sikap Nayra,"
Niko memeluk Lia
"Nayra gak salah Lia yang
salah," sahutnya sedih.
"Tidak ada yang salah dalam hal
ini. Semua sudah jadi takdir kita,"
sahut Niko dengan pikiran
bijaksananya.
"Untuk sementara kamu tinggal
dulu di rumah Bram temenin
Deon.aku minta waktu
mengurus masalah ini dan Nayra."
"Iya, Lia mengerti situasi
Niko Tapi kamu jangan telat
makan ya, nanti kamu sakit," ucap
Lia lembut penuh dengan
perhatian membuat hati Niko lega.
"Bram, saya titip Lia sama Deon.
Semua kebutuhan mereka saya
yang tanggung. Saya tidak tenang
meninggalkan Lia tinggal
sendirian di apartemen," pesan
Niko
"Tuan jangan khawatir, saya akan
menjaga Lia dan Deon seperti
adik saya sendiri," tegas Bram.
Niko memeluk tubuh Lia,
sebenarnya dia tidak sanggup
berpisah dengan Lia, namun
situasi yang membuatnya harus
menitipkan Lia kepada
asistennya. Karena dengan dirumah
asistennya Lia akan aman dia
tinggal mengendalikan putrinya
yang sudah mulai kehilangan arah.
Setelah mengantar Lia sampai
parkiran, niko kembali masuk
kedalam ruang perawatan ibunya.
Niko melihat seorang dokter
sedang menenangkan ibunya yang
melihat penampilan cucunya.
Niko menarik tangan putrinya
mengajaknya keluar dari ruangan
itu agar ibunya tidak mendengar
perbincangan mereka takut malah
memperburuk situasinya sekarang.
"Sudah cukup membuat ulah,"
tegur Niko kepada putrinya.
Nayra terlihat santai tidak takut
sedikitpun dengan sang ayah yang
dulu begitu dia hormati.
"Gak salah ayah bilang aku yang
membuat ulah," cibir Nayra
dengan tatapan berani.
"ayah tau semua berawal dari
ayah. ayah jatuh cita dengan
sahabatmu tolong kamu mengerti
itu Nayra," Niko berbicara lembut
dengan putrinya, dia ingin
memberikan pengertian kepada
putranya
"Menjijikkan sekarang. Aku tidak
peduli dengan apa yang ayah
jelaskan ke aku. Yang pasti ayah
hanya memiliki dua pilihan Aku
atau dia. Kalo ayah pilih dia
berarti ayah bukan ayahku lagi.
Kita tidak ada hubungan dan aku
bebas jalani kehidupanku sesuai
jalan yang kalian tunjukkan
kepadaku," ujar Nayra dengan
mengancam ayahnya.
"Kamu salah Nayra. Semua yang
kamu lakukan itu salah nak," Niko
masih berusaha menasehati
putrinya.
"Jika aku salah apakah ayah
sama Lia benar. Aku malas
berdebat sama ayah. Hanya ada
pilihan aku putri ayah apa dia
kekasih ayah!!" Pilihan yang
begitu sulit membuat kepala menjadi sakit. Dia tidak ingin
kehilangan mereka berdua.